The Borders

The Borders
Bagian 111 – Adik Kashel



.


.


.


"Ada yang mematai-matai kita." Ucap pria berjubah hitam itu menatap ke arah tempat sebelumnya roh pelindung Rai berada.


"Apa kau tahu siapa dia?" tanya seorang pria di dalam kegelapan.


"Seharusnya kemampuannya tidak akan sampai pada penggunanya, karena makhluk yang menjadi mata-mata itu telah dihancurkan sebelum kembali pada pemiliknya." Orang berjubah itu tidak mengira bahwa kemampuan Rai adalah membagi penglihatannya.


"Setidaknya dengan dihancurkannya mata-mata itu, ia akan menerima rasa sakit yang setimpal, karena telah berani-beraninya ingin menantang kegelapan." Ujar pria berjubah hitam itu.


"Kau benar tuan, tidak ada yang bisa menandingi kekuatan kegelapan di dunia ini, bahkan Guardian sekalipun." Ucap pria dalam kegelapan yang bersama pria berjubah hitam itu.


.


.


.


Karena kejadian itu Rai terpaksa mengenakan kacamata hitam untuk menutupi matanya yang terluka. Sembari memulihkannya.


Ia harus segera memberitahu Kashel dan Guardian tentang hal ini, tapi Rai masih tidak ingin mengganggu keinginan Kashel yang akan segera menikah, bisa-bisa kekacauan besar akan terjadi, karena Guardian pasti akan marah besar jika mengetahui siapa yang menjadi musuh dalam selimut sebenarnya.


Jadi Rai memilih untuk memberitahukan Kashel semuanya setelah ia melaksanakan acara pernikahannya. Ia juga akan mencari bukti-bukti lain yang harus menguatkan tuduhannya, karena biar bagaimanapun ia baru melihatnya sekilas, bisa saja apa yang Rai lihat adalah sebuah ancaman terhadap keluarganya. Rai tidak bisa berbuat apa-apa saat ini karena hanya punya sedikit bukti.


.


.


.


"Rai matamu kenapa?" tanya Aqilla memasuki ruangan kerja Rai.


"Aku sedang sakit mata." Ujar Rai langsung menerima laporan pekerjaan yang diberikan oleh Aqilla.


"Kenapa kau menatapiku begitu, apa ada yang mau kau bicarakan?" tanya Aqilla ia sadar sedang ditatap oleh Rai.


"Tidak apa-apa lanjutkan saja pekerjaanmu." Ujar Rai duduk kembali di kursi kerjanya.


"Baiklah," Aqilla keluar dari ruangan kerja Rai.


Apa yang terjadi jika dia tahu ayahnya bekerja sama dengan kegelapan, apakah dia tahu. Batin Rai berpikir.


"Agh! Tidak ada orang yang bisa kupercayai di tempat ini, aku ingin bercerita pada seseorang, tolong." Gumam Rai frustasi.


"Yo! Kakak kenapa, apa yang membuat kakak sebegitu frustasinya, lalu memakai kacamata hitam seperti itu." Adik Kashel masuk ke ruangan kerja Rai, pemuda yang masih duduk di akademi spiritual itu sering sekali kabur dari asrama dan mendatangi Rai ke kantornya.


"Kau kabur lagi?" Rai langsung bertanya tentang perihal kaburnya sepupunya itu dari akademi sihir. Tidak ingin menjelaskan mengapa ia menggunakan kacamata hitam.


"Jangan membuat kekacauan Karel, kau tidak tahu kalau seperti ini ayahmu akan marah lagi padamu dan menghukummu. Aku tidak bisa melindungi dirimu terus." Ujar Rai menceramahi Karel.


"Aku tidak perduli, lagi pula sepertinya Kakak butuh teman di sini, aku datang untuk menghiburmu yang sedang frustasi." Ucapnya malah bermain permainan di ponselnya.


"Alangkah enaknya kalau aku bersekolah di sekolah anak biasa, tidak memikirkan cara bertarung dan bertarung terus." Ujar Karel membaringkan dirinya di sofa, di Akademi Spiritual tidak ada sinyal internet jadi hal itu membuat Karel sering kabur dari akademinya.


"Hah Kakak asli, aku hanya punya kau dan kak Aqilla. Tapi kak Aqilla terlalu cuek banget, seandainya aku memang punya Kakak asli aku akan menempel padanya saja daripada Ayah dan Ibu." Ujar Karel tampak berpikir, orang tuanya terlalu keras padanya, ia tidak suka dan biasanya melawan mereka.


"Jika kau benar-benar punya kakak, apa kau tidak membencinya karena sudah meninggalkanmu bahkan kau tidak mengetahuinya?" Rai malah nampak tertarik.


"Aku tidak masalah, wajar saja saudaraku pergi jika punya orang tua seperti Ayah dan Ibu." Ucap Karel.


"Aku akan balas dendam padanya dengan terus mengganggunya saja, sampai dia kesal padaku." Ucap Karel tampak berbinar memikirkannya.


"Tapi apa aku memang punya kakak?" Karel diam lagi, ia tidak pernah tahu, bahkan di daftar nama keluarganya ia adalah putra satu-satunya dari ayahnya. Tapi, Karel tidak sebodoh itu jika ia anak pertama ia pasti akan jadi salah satu kandidat pemimpin organisasi, karena ia adalah darah murni dari keturunan Kendrick dan anak pertama.


"Aku akan menghajar Kakak bodoh itu lebih dulu jika dia laki-laki. Ketika aku bertemu dengannya." Karel akhirnya sadar akan sesuatu, ia menyadari bahwa ia punya saudara setelah mendengar kata-kata Rai.


"Kau tidak membencinyakan?" Rai nampak khawatir.


"Tentu saja tidak, aku hanya akan memberi salam sebagai sesama saudara." Ujarnya lagi Rai ingin tertawa karenanya.


"Kau mau ikut ke acara pernikahan kenalanku besok tidak?" tanya Rai malah, ingin mempertemukan kakak beradik itu. Setidaknya Rai sudah tahu, Karel tidak membenci Kashel sama sekali.


Biasanya Kashel selalu menolak jika Rai ingin mendekatkannya dengan saudaranya, ia tidak ingin saudaranya membencinya jika dia tahu kakaknya bukanlah orang yang berguna itulah yang Kashel pikirkan tentang dirinya.


Namun, hari ini Rai mendengar sendiri Karel tidak membenci Kakaknya jika ia memiliki seorang kakak.


"Aku mau ikut, lagi pula aku bosan jika langsung kembali ke akademi. Besok juga akademi libur." Kyler tidak sadar jika yang akan menikah itu adalah kakaknya.


"Kau! Kau membuatku khawatir karena kukira kau membolos!" Rai berteriak marah.


"Siapa suruh Kakak langsung menuduhku membolos itukan salah Kakak sendiri." Rai terus memainkan permainan di ponselnya.


"Kasian sekali Kakak jomblo ini malah minta di temani oleh adiknya yang laki-laki, tapi Adik yang baik ini akan menemani kakaknya dengan senang hati kok." Dahi Rai berkerut kesal mendengar ucapan Karel. Jika bukan ingin mempertemukan kedua bersaudara itu, Rai tidak akan mengajak Karel sama sekali.


"Dasar bocah! Kau sendiri memang punya pasangan." Ujar Rai kembali duduk di kursinya.


"Akukan masih di bawah umur." Dengan santainya Karel menjawab sambil mengupil tidak sopan sama sekali.


"Hpmu disita!" Rai langsung mengambil ponsel Karel.


"Huwaaa Kakak, aku minta maaf." Karel memohon untuk ponselnya dikembalikan.


"Anak di bawah umur sudah waktunya tidur jam segini." Karena waktu itu sudah malam, Rai menjadi menakutkan di mata Karel dan ia menuruti kemauan Rai. Di dalam kantor itu Rai tinggal, semenjak jadi pemimpin Rai harus tinggal di sana karena sibuknya pekerjaannya, tapi besok ia punya waktu luang untuk menghadiri acara pernikahan Kashel setelah seminggu begadang demi esok hari, untuk hadir di acara keluarganya.


......................


Keesokan harinya, Rai langsung bergegas pergi meninggalkan ruang kantornya bersama Karel, tumpukan dokumen sudah di tatanya dengan rapi sebelum meninggalkan kantornya. Pekerjaannya selama seminggu sudah selesai.


"Kita mau ke mana memangnya Kak, sampai pergi diam-diam seperti ini?" tanya Karel.


"Kau mau ikut tidak?" Rai malah bertanya balik.


"Tentu saja." Karel itu orang yang sangat menyukai tantangan kabur-kaburan seperti ini adalah hobinya. Ketika semua orang sibuk mencarinya baru ia akan kembali.


.


.


.