
"Jangan sampai mati." Ujar Grizelle langsung menjawab dengan tegas.
"Baiklah Kak, kurasa aku tidak akan mati semudah itu." Karel mengusap hidungnya dengan jarinya, ia tampak bersemangat.
"Dargo, serang roh pelindung itu." Karel memberikan perintah pada roh pelindungnya.
"Shadow, jangan beri ampun." Ucap Freda dingin.
Freda langsung melesat ke arah Karel ingin menyerang Grizelle dengan pedang bayangan.
Sepertinya Freda lupa, jika Grizelle tidak akan mempan dengan serangan sihir sia-sia itu.
Apakah dia melupakan semua ingatannya saat bersama kami. Batin Grizelle, karena ia tahu Freda yang sebelumnya pasti tahu bahwa Grizelle tidak mempan dengan sihir.
Karel dan Freda saling melesat bertarung di dalam ruangan sempit itu. Sampai akhirnya Freda terlempar karena serangan Karel. Ke sudut dinding hingga dinding itu jebol dan berlubang.
"Aku tidak akan memberinya ampun meskipun dia wanita," ujar Karel.
Tidak sampai di situ, roh pelindung Freda malah mengincar Grizelle lagi tapi Dargo langsung menghalaunya dan melemparkan Shadow keluar juga. Sehingga jendela yang kali ini tiba-tiba jebol. Grizelle tidak mengerti apa-apa hanya bisa menatap saja. Tapi, ia berpikir jika ia benar-benar terkena serangan seperti itu ia akan mati.
"Aah, ini melelahkan!" keluh Karel, karena sihirnya yang kuat itu menguras energinya ketika digunakan.
"Kau baik-baik saja?" Grizelle khawatir.
"Aku tidak apa-apa Kak, sepertinya aku harus banyak berlatih ke depannya." Ujar Karel kemudian berjalan keluar.
Freda tampak berdiri tegap dengan pakaian compang-camping. Sambil memegang pedang bayangan menatap tajam ke arah Karel.
"Wah sepertinya dia marah padaku." Karel berucap santai.
Pertarungan keduanya pun berlanjut. Sampai bertarung melompati udara. Mereka berhasil bertarung seimbang. Dan mengalami luka-luka yang sama. Walaupun Freda mengalami luka bakar dibeberapa bagian tubuhnya.
Kyler, Chain, Erphan, dan Rigel sedang menghadapi Roh Kegelapan lain. Beberapa pria berjubah juga datang untuk ikut campur ke sana.
"Sialan!" Rigel mengumpat, ia langsung celingak-celinguk mencari keberadaan Grizelle, ia juga punya tugas untuk melindungi wanita itu.
Namun, ia tidak bisa berharap banyak, Roh Kegelapan datang dipanggil melalui Portal Perbatasan dan itu sangat banyak sebelum portal akhirnya tertutup kembali, dan meninggalkan Roh Kegelapan dalam wujud yang kuat, mereka harus menghadapi makhluk-makhluk itu.
Karel terus bertarung dengan Freda mereka seimbang. Grizelle yang melihat pertarungan itu benar-benar tidak memperhatikan sekitarnya. Ada yang menyerangnya dengan asap kegelapan. Pria berjubah dari balik semak.
Karel yang sadar tanpa basa basi langsung menjadi tameng di hadapan Grizelle mereka berdua terpental akibat serangan itu.
DUAR!
"Karel! Karel!" Grizelle benar-benar khawatir ada luka yang tiba-tiba muncul di tangan Karel dan ia sempat tidak sadarkan diri. Grizelle memangkunya.
"Hahaha, sekarang giliranmu Grizelle." Ujar Freda membuat bola bayangan di tangannya. Grizelle hanya diam saja.
"Ka... Kak... Lari... Ukh!" Karel menyuruh Grizelle pergi tapi, gadis itu malah melindungi Karel tidak berniat pergi sama sekali.
"Matilah kalian berdua!" ujar Freda menyerang Grizelle bersamaan dengan pria di balik semak. Tapi serangan pria di balik semak di hentikan oleh Rigel dan berakhir bertarung dengan Rigel. Rigel babak belur akibat pertarungan itu dan mengalami luka di perutnya.
Teman-teman Kashel yang lain tanpa tahu di mana letak kelemahan Portal Perbatasan yang baru saja muncul sebelum mengirim banyak Roh Kegelapan, membabi buta menyerangnya dan menghabiskan banyak energi sihir, tapi usaha mereka tidak sia-sia Portal Perbatasan itu berhasil mereka hancurkan. Dan menghentikan kedatangan Roh Kegelapan yang sudah dikalahkan berkali-kali.
Serangan Freda mengenai Grizelle tepat. Tapi, tidak terjadi apa-apa. Serangan itu lenyap membuat Freda terkejut.
"Freda apa kau lupa, tentang hubungan kita. Kau sudah mengetahui bagaimana aku terhadap sihir biasa, apa kau melupakannya?" tanya Grizelle.
Freda langsung memegang kepalanya kesakitan.
"Enyah kau ingatan tidak penting!" marahnya memegang kepalanya.
"Freda yang aku kenal tidak akan melakukan hal ini!" tegas Grizelle.
Membuat Freda mundur beberapa langkah. Kemudian beberapa pria berjubah menjemput Freda yang sedang kesakitan dan membawanya pergi, serangan itu tiba-tiba terhenti seketika. Dengan kepergian Freda akhirnya.
Semuanya terluka, karena harus banyak bertarung. Dan yang paling parah adalah Karel karena terkena serangan licik orang-orang dari Sekte Sihir Hitam.
"Kau benar sudah baik-baik saja?" tanya Kashel masih khawatir.
"Sudah Kak," Karel malah berbaring di paha Kashel seperti anak kecil. Kashel hanya menghela nafasnya.
"Terima kasih karena sudah berjuang keras melindungi Grizelle."
"Itu sudah tugasku Kak, karena dia kakakku juga." Ujar Karel menghentikan memainkan ponselnya.
Grizelle yang duduk di sebelah kanan Kashel terkekeh melihat kedekatan kakak beradik itu.
"Kau jangan terlalu menempel pada Grizelle ya, aku cemburu loh." Ujar Kashel akhirnya bersandar di bahu Grizelle.
"Nggaklah Kak, Kakak ada-ada saja pikirannya."
"Kashel bucin itu memang begitu." Luan lewat sambil berkata dengan santai. Kashel tidak perduli karena memang begitulah kenyataannya.
Kashel hanya ingin beristirahat sekarang, ia tidak ingin memikirkan hal-hal yang membuatnya pusing saat ini. Ia masih lelah dengan tugas yang ia lalui sebelumnya.
Ia akan memikirkan hal bagaimana membawa Freda nanti, apalagi setelah mendengar cerita Grizelle yang mengatakan bahwa ingatan kebersamaannya dan mereka menghilang.
Namun, meskipun begitu Kashel tidak ingin mengambil resiko berbahaya juga untuk Grizelle. Ia takut jika Freda hanya berpura-pura baik untuk menyakiti Grizelle.
"Aku tidak mau kau terluka dengan bertaruh dia kembali pada kita dengan cara baik-baik." Ujar Kashel di dalam kamar sebelum mereka tidur.
"Kau benar sih, aku juga tidak akan bisa langsung percaya begitu saja. Seperti yang kamu bilang." Grizelle menatap langit-langit kamarnya.
"Tidurlah, kita pikirkan besok-besok saja, masih ada banyak waktu kok." Ujar Grizelle memeluk Kashel, Kashel tentu saja tersenyum senang.
"Aku kangen." Bisik Kashel, dan tidak lama malam itu menjadi malam yang cukup panjang.
.
.
.
Keesokan harinya. Grizelle menatapi batu sihir berwarna biru laut itu.
"Apakah ini boleh disentuh?" tanya Grizelle pada Lyam di depannya.
"Tidak apa-apa." Jawab Lyam singkat. Tapi Grizelle hanya menyentuh dengan satu jarinya batu sihir itu.
"Aku merasa ini hanyalah batu laut biasa." Grizelle kemudian pergi setelahnya tidak penasaran lagi. Lyam tampak memperhatikan bekas sentuhan jari Grizelle.
"Apa yang kamu lihat Lyam?" tanya Kashel baru datang.
"Istrimu menyentuh batu ini, jika ia memang anti sihir segelnya pasti akan rusak." Lyam tampak berpikir.
"Dia memang anti sihirkan untuk manusia biasa."
"Tidak juga, terkadang ada sihir hitam yang bisa merasuki manusia biasa juga. Tapi kasus Grizelle ini berbeda. Asap hitam itu tidak bisa dihancurkan dengan semudah itu Kashel. Tapi istrimu dengan mudah menghancurkannya. Kekuatan yang hampir sama denganmu." Ujar Lyam, Kashel juga punya kemampuan menetralkan energi sihir hitam.
"Tapi karena istrimu orang biasanya dia juga menetralkan sihir Kesatria Penjaga Batas lain. Tapi dia tidak bisa menetralkan sihir milikku."
"Intinya aku akan melindunginya dari sihir kasat mata." Kashel berucap santai dan kemudian pergi juga.
"Aku ingin istirahat siang ini, nanti malam bisa-bisa akan ada banyak pekerjaan baru." Kashel berucap.
.
.
.