
Kashel mendekati Dirga.
"Mau soda?" tanya Kashel menawarkan sekaleng soda dingin.
"Terima kasih," ucap Dirga sopan menerimanya.
Sebenarnya dia adalah pemuda yang baik. Tapi, kenapa dia bisa membenci orang seperti itu ya. Kashel merasa penasaran.
"Maafkan aku, aku hanya tidak ingin melihat orang lain mati di hadapanku lagi." Dirga berucap sedih.
"Aku benci punya kekuatan besar, tapi aku tidak bisa melindungi orang lain. Aku tidak menginginkan kekuatan ini." Ujarnya menatap telapak tangannya.
Kashel menyentuh pundak Dirga sambil menatapnya.
"Kekuatan itu pasti berguna, jika, kau gunakan dengan baik. Lagi pula tidak ada gunanya mengeluh pada takdir yang tidak akan berubah." Ujar Kashel sambil menatap ke arah lautan lepas.
"Kau tidak tahu apa-apa." Dirga malah terlihat kesal dan meninggalkan Kashel sendirian. Kashel menghela nafas hanya menatapinya sambil meminum soda yang ia pegang.
"Jadi kau gagal mendekatinya?" tanya Luan berdiri di samping Kashel.
"Padahal lebih baik jika kamu memberitahukan siapa kamu sebenarnya." Ujar Luan lagi.
"Uum, apakah begitu cara untuk membuatnya sadar?" tanya Kashel pada Luan.
"Ia hanya ingin ada orang yang lebih kuat lagi darinya, karena di sekitarannya selama ini adalah orang-orang yang lebih lemah darinya, itu yang membuatnya menjadi seperti itu." Luan menjelaskan kemudian pergi lagi.
Kashel memandangi langit cerah tanpa awan di siang itu. Dengan hamparan laut biru sejauh mata memandang, air laut tenang tanpa gelombang. Ia terus meminum minuman sodanya bersantai.
Jika seperti itu, akulah yang akan kena mental. Batin Kashel menghabiskan minumannya dan membuangnya ke tempat sampah di dekatnya.
Kashel itu juga memiliki pikiran yang sama dengan Dirga, tapi daripada meratapinya Kashel memilih untuk berdamai saja dengan dirinya. Dan karena hal itu ia benci mengatakan siapa dirinya sebenarnya pada orang lain, sebab itu adalah hal yang membuatnya termotivasi untuk menerima dirinya yang sekarang.
Namun, saat melihat Dirga perasaan tidak nyaman yang sebelumnya mulai ia terima bangkit kembali juga. Kashel menjadi tidak punya keberanian untuk menjelaskan siapa dirinya sebenarnya.
Kashel tidak ingin memikirkannya lagi ia kemudian masuk ke ruangan pengemudi. Ternyata di dalam sana ada Dirga yang sedang menunjukkan peta kepada Lyam. Kashel tidak jadi masuk dan memilih bersandar di pintu masuk saat itu.
.
.
.
Sudah dua hari mereka berlayar untuk menemukan Samudra Khayalan. Kashel sudah mulai bosan. Di sini tidak ada sinyal internet apapun sehingga ponsel tidak akan berguna di sini. Kashel menghela nafas sambil menatap langit.
Dirga sudah tahu bahwa Lyam bukanlah manusia, ia mengetahui pria itu bahkan tidak tidur ataupun makan selama dua hari penuh dan tetap fokus dengan menyetir kapal.
Akhirnya setelah mencari tahu, siapa sebenarnya Lyam, Dirga terkejut dan terdiam setelahnya Dirga tidak berani mendekati Lyam yang ia tahu sekarang adalah Guardian.
Dirga tidak berani berbuat atau bertanya apa-apa, meskipun Dirga terkenal dengan sihirnya yang kuat dan bisa menggunakannya tanpa memiliki roh pelindung. Dirga tahu kekuatannya akan tetap tidak sebanding dengan Guardian, bahkan Guardian yang telah melemah.
Dirga menatapi Kashel yang sedang duduk bersantai di kursi kapal.
"Ada apa? Apa ada yang mau kau tanyakan?" Kashel bertanya membalas tatapan Dirga, Dirga lalu mendekat dan mulai bertanya.
"Kenapa Guardian sampai mau menjadi Nahkoda kapal seperti itu." Dirga bahkan berbicara berbisik.
Dirga mengamati Kashel lagi, ia tidak bisa merasakan energi sihir apapun pada tubuh Kashel dan itu membuat Dirga bingung dan bertanya-tanya.
"Kau penasaran denganku?" tanya Kashel membuka suara karena merasa tidak nyaman di tatapi seperti itu.
"Kau menjadi pemimpin di sini, bahkan Guardian mau di pimpin olehmu. Itu sangat mustahil untuk dilakukan." Dirga sangat paham bagaimana sangat terhormatnya Guardian itu.
"Normalnya seharusnya begitu." Kata Kashel santai sambil bersandar di kursi.
"Tapi kenapa Guardian mau menurutimu?" Dirga tetap tidak percaya.
"Biarpun seperti ini aku berasal dari keluarga Kendrick loh." Kashel malah basa-basi.
"Kau keluarga utama, salah satu calon pewaris?" Dirga tidak kalah terkejutnya. Bukannya membuat Dirga tidak ingin bertanya lagi tapi hal itu malah membuat Dirga tambah penasaran.
Kashel hanya mengangguk, ia merasa sudah salah berbicara.
"Tapi kau benar-benar biasa." Ujar Dirga langsung.
"Aku memang orang biasa awalnya, aku ini orang yang dianggap aib bagi keluarga besar Kendrick asal kau tahu." Kashel berucap santai saja, seolah-olah ia tidak punya beban apapun.
"Jadi kau tidak bisa sihir?" tanya Dirga lagi.
"Sekarang sudah bisa, aku rasa sama sepertimu tidak punya roh pelindung tapi aku bisa sihir. Tapi kurasa itu berbeda." Ujar Kashel.
Ck, bodohnya tinggal bilang saja kau adalah kontraktor Guardian dan semua pembicaraan ini akan selesai. Batin Luan ia hanya mendengarkan percakapan itu.
"Apakah kau adalah salah satu orang yang diberikan kekuatan oleh Guardian." Dirga berusaha memahaminya.
"Aha! Ya, seperti itulah." Kashel langsung mengiyakan karena itu tidak salah. Meskipun kekuatan The Borders sekarang sepenuhnya adalah milik Kashel, Kashel tetap menganggap jikalau kekuatannya itu adalah pemberian Guardian. Padahal kenyataannya Kashel terpilih menjadi pemilik dari kekuatan itu sendiri.
Dirga terdiam dan tertunduk membuang muka, jika itu kekuatan seperti milik Rainer. Dirga masih lebih kuat darinya, itu adalah yang Dirga tahu.
"Kau kenal Paman Rainer?" Kashel menebak bertanya saat melihat Dirga mengenal seseorang yang ia kenal dan Dirga mengangguk.
"Aku pernah bertemu dengannya sekali, meskipun kekuatannya kuat. Tapi Tuan Rainer, tetap tidak sekuat diriku karena kekuatan Guardian membuatnya menderita." Ujar Dirga, Dirga mengenal Rainer itu adalah kenyataan yang Kashel dapatkan tentangnya.
"Apa kau dekat dengannya?" tanya Kashel.
"Kami hanya pernah ditugaskan satu kali di tempat yang sama. Dia bilang awalnya dia bukanlah pengguna sihir, tapi Guardian membagikan kekuatannya padanya." Dirga menjelaskan.
Kashel terdiam, ia merasa miris meskipun sangat dekat dengan Kashel, Rainer tidak pernah menjelaskan bahwa dirinya menderita karena kekuatan Guardian. Ia pernah mengatakannya tapi Kashel tidak tahu jika hal itulah yang dimaksud oleh Rainer.
Itu semua Rainer lakukan untuk membuat Kashel memiliki kehidupan seperti yang ia inginkan tanpa terbebani pikiran akan menjadi wadah jiwa dari Guardian. Kashel hanya bisa menghela nafasnya.
"Apakah kau merasakan hal yang sama ketika menggunakan sihirmu?" tanya Dirga penasaran.
"Kurasa tidak juga, walaupun terkadang ada rasa sakit." Karena pengaruh kegelapan. Kashel menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia masih lebih takut dengan perasaan tidak menyenangkan saat kekuatan itu bergabung dengan dirinya dulu. Bahkan Kashel tidak ingin mengingatnya lagi, yang paling menyakitkan untuk Kashel adalah ketika pelindung mantra penyegel jiwa itu tersentuh oleh kegelapan. Kashel merasa seluruh tubuhnya dipukuli oleh benda tajam dan menginginkan hancur saja kala itu.
"Kenapa kau tidak beritahu saja yang sebenarnya Kashel, tidak perlu membuat teka-teki." Ujar Anna, membuat Kashel dan Dirga menatap ke arahnya. Ada gelombang yang mengguncang kapal mereka.
Pembicaraan terputus saat langit cerah tiba-tiba berubah menggelap dan di depan mereka terlihat sebuah badai, Kashel merasa di sekitarannya uap air mulai mengelilinginya.
"Oh tidak, tidak lagi." Kashel langsung berlari mendatangi Lyam yang sudah berubah wujudnya menjadi Guardian.