
.
.
Di perjalanan mereka berdua sedikit berbincang,"Grizelle aku minta izin mau menculikmu," Kashel mengutarakan isi hatinya saat berjalan di jalan yang cukup remang malam itu.
"Mana ada penculik minta izin, kau sudah mengatakannya juga beberapa hari lalu." Grizelle dengan tampang mengejek pada Kashel.
"Aku benar sungguh-sungguh loh." Kashel berbicara santai, Grizelle hanya menatapnya mengejek.
Hubungan mereka terlihat baik-baik saja mereka masih membicarakan hal tidak penting dengan santai saat berjalan bersama, meskipun sekarang menjaga jarak Kashel selalu mencuri pandang ke arah Grizelle.
"Apa kau lihat-lihat!" Grizelle berbicara tegas kepada Kashel karena kesal.
"Garang sekali, tidak salahkan kalau aku menatapi pacarku." Ucapan Kashel malah membuat Grizelle menjadi tersipu malu, meskipun marah sekalipun.
Sekarang Grizelle menjaga jarak pada Kashel karena marah padanya, itulah alasan yang membuat Kashel ingin menculiknya karena menjaga jarak dengannya. Kashel tidak nyaman karena Grizelle tidak mau berjalan di dekatnya seperti biasanya.
Kantor Kashel tidak begitu jauh dari rumah Grizelle sehingga tidak begitu lama untuk sampai di sana. Mungkin hanya sekitar sepuluh menit. Makanya Grizelle sering lewat di depan kantor Kashel.
Mereka akhirnya sampai di halaman kantor dan kemudian duduk di sebuah kursi di bawah pohon besar yang ada di halaman kantor itu, malam itu langit begitu cerah, masih belum banyak kejadian yang berkaitan dengan Roh Kegelapan yang muncul meskipun Portal Perbatasan saat itu sudah mulai bermunculan. Portal Perbatasan dulu hanya mengirimkan roh-roh lemah.
"Kenapa kau marah?" Kashel membuka percakapan akhirnya setelah beberapa saat saling mendiamkan.
"Haruskah aku berkata jujur?" tanya Grizelle agak ragu-ragu.
"Ya, kita kan sudah berjanji apapun masalahnya kita harus saling terbuka satu sama lain Grizelle." Jelas Kashel, janji di saat mereka memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan.
"Aku cemburu Kashel, aku tahu aku egois tapi aku tidak pernah bisa berbohong pada perasaanku sendiri," kata Grizelle matanya mulai berkaca-kaca selama beberapa waktu ini Grizelle menahan perasaannya yang meluap. Ia sudah lama ingin mengatakan hal tersebut pada Kashel, tentang semua perasaannya.
"Aku merasa kalah akan semuanya, dia adalah gadis yang cantik, kuat, dan bisa membantumu dalam segala hal Kashel." Grizelle berucap sambil gemetaran. Ia tahu itu semua, tidak seperti dirinya yang hanya orang biasa.
"Untuk itu, aku akan menyerah Kashel. Aku akan merelakan kau bersamanya. Jika itu bisa membuatmu bahagia." Di bawah terangnya bulan malam itu air mata Grizelle jatuh menetes sambil tertunduk berkata seperti itu.
GREB!
Kashel langsung memeluk Grizelle erat, Kashel awalnya bingung ingin mengatakan apa pada Grizelle.
"Maafkan aku Grizelle, aku cuma menyayangi dirimu. Tidak ada yang lain, mereka yang ada di kantor ini semua adalah temanku." Kashel melepaskan pelukannya dan menatap wajah Grizelle.
"Jangan menangis," Kashel mengusap air mata Grizelle. Ia tidak suka jika wanita itu menangis seperti itu di hadapannya apalagi karena itu adalah ulahnya sendiri.
"Aku tidak mau kehilanganmu Grizelle." Jelas Kashel.
"Maafkan aku Kashel, aku bersikap egois. Tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku merasa cemburu saat kau dekat dengan wanita lain. Aku tidak bisa bohong pada hatiku." Grizelle masih berucap sedih.
"Aku akan menjaga jarak dengan mereka kalau begitu, aku tidak mau melihatmu menangis. Dan melihatmu tidak bahagia."
"Aku sadar Zelle, jika kau melakukan hal yang sama dekat dengan laki-laki lain, aku pun juga akan sangat marah. Bahkan mungkin sangat marah daripada dirimu yang masih bisa bersabar. Dan rela melepaskanku, aku tidak akan rela melakukannya."
Kashel berkata dengan sangat jelas. Apa yang ia pikirkan, ia tidak akan menyerah untuk seorang wanita yang dengan jelas benar-benar mencintai dirinya dengan setulus hati seperti itu. Gadis yang tidak meminta banyak hal pada Kashel kecuali kasih sayang.
"Mulai saat ini, aku tidak akan mengabaikanmu Grizelle bahkan ketika aku sangat sibuk, aku akan memberi kabar untukmu." Kashel membuat janji pada Grizelle.
"Jadi kumohon jangan pergi dariku, dan turuti permintaan egois dariku ini." Kashel menggenggam tangan Grizelle sambil menatapnya ia menaruh tangan Grizelle di dadanya.
Grizelle terlihat tersenyum, "Terima kasih Kashel, aku sudah mencintaimu dari semenjak kau menyatakan perasaanmu padaku dan semenjak aku mengatakan aku akan menyediakan bahuku untuk tempatmu bersandar." Ada cerita panjang tentang pertemuan mereka berdua sebelumnya, mereka yang dipertemukan oleh takdir dengan tidak disengaja.
"Jika kau terus memintaku bersamamu aku akan melakukannya Kashel, selama kau menjaga hatiku dengan baik," ucap Grizelle, kali ini tangan yang satunya ikut menyentuh tangan Kashel, ia sudah berhenti menangis sekarang.
.
.
.
Di bawah terangnya bulan malam itu, mereka pun berciuman.
Dari jauh Lyam dan Freda yang berada di ruangan lain menjadi saksi bisu atas cinta mereka.
Freda sudah menyadari ia tidak akan ada harapan lagi atas cintanya pada Kashel. Sedangkan Lyam ia hanya akan terus mengikuti semua keputusan Kashel, ia sudah sedikit mengerti sekarang selama pemuda itu merasa bahagia ia tidak perlu khawatir padanya.
Karena meminta Kashel bertindak sesuai keinginannya hanya akan memperparah kegelapan yang sedang mencoba menguasai dirinya. Kebahagiaan Kashel merupakan salah satu penyeimbang dari pengaruh kegelapan.
.
.
.
"Jadi sudah berhenti nih ngambeknya?" Kashel bertanya pada Grizelle di perjalanan pulang. Ia mengantar Grizelle lagi malam itu. Itu sudah larut malam sebenarnya.
"Hehehe, sudah kok. Tapi kalau kamu begitu lagi, aku ngambek lagi." Grizelle menanggapi Kashel.
"Hmm, aku tidak akan buat kamu ngambek lagi kalo gitu." Kashel merangkul Grizelle.
"Aku punya permintaan Grizelle," ucap Kashel.
"Umm?" Grizelle menatap wajah Kashel.
"Jika aku tidak bisa memasak di kantor mau kau datang membantuku untuk memasak di sana." Kashel meminta pada Grizelle. Karena ia tahu kekasihnya itu sangat pandai memasak.
"Tentu saja, jika aku tidak ada kesibukkan." Grizelle langsung menjawabnya, tentu saja ia tidak akan menolak.
Sedangkan pria merasa senang dalam hatinya, ia pikir akan sulit meminta Grizelle datang ke kantornya untuk membantu di sana.
"Kau hanya alasan ya biar bisa melihat aku sering ke sana?" tebak Grizelle melihat ekspresi Kashel yang berbeda dari biasanya.
"Menurutmu? Tidak boleh menarik kata-katamu ya, kau sudah menerimanya loh." Kashel mengelus kepala Grizelle lembut.
"Ahh, aku terkena tipuan lelaki ini." Grizelle mencubit hidung Kashel. Pura-pura merasa dibodohi padahal kenyataannya ia merasa senang karena bisa menjadi bagian dari divisi yang Kashel pegang.
Lagipula bagaimana pun permintaan Kashel itu membuat Grizelle senang juga karena ia bisa menjadi sedikit lebih dekat dengan Kashel karenanya. Lyam saat ini hanya mengawasi kedekatan mereka dari jauh. Karena malam sudah larut Lyam menjaga Kashel dari gangguan Roh Kegelapan tentu saja.