The Borders

The Borders
Bagian 79 – Pertempuran Melawan Energi Gelap



"Aku tidak kuat lagi."


BRUK!


Kashel terjatuh. Ia masih menggunakannya kekuatannya setengah-setengah saja, jadi tubuhnya tidak sepenuhnya bertenaga.


Marva berharap Guardian datang menolong mereka, tapi Kashel merasa dan tahu Guardian juga bertarung di tempat lain.


BOOM!


WUUS!


Suara letupan berbunyi dan ledakan menghilang.


"Pedang cahaya." Ucap Kashel menangkis api hitam dengan pedang cahaya.


Marva tidak percaya bahwa Kashel memiliki pedang cahaya seperti yang dimiliki Guardian.


Kashel mengibaskan pedang itu, dengan pedang itu Kashel bisa dengan mudah membasmi kekuatan gelap tanpa harus menggunakan banyak energi sihir.


"Ck," orang itu menghilang menjadi asap hitam karena tahu ia tidak bisa melawan pedang cahaya yang Kashel miliki.


DEG'


Pedang cahaya itu terlepas dari tangan Kashel dan langsung menghilang setelahnya.


Kashel terduduk, memegang dadanya. Ada perasaan gelap yang menyeruak masuk ke dalam hatinya.


"Menyebalkan," Kashel terengah-engah menahan perasaan itu.


"Dia benar-benar kesurupan rupanya." Kashel mengeluarkan keringat dingin. Kashel berusaha melawan ia tidak ingin terpengaruh oleh apapun, terutama energi gelap. Ia ingin menjadi dirinya sendiri.


"Guardian, sekarang kewalahan melawan energi gelap itu. Aku harus mencarinya." Kashel berusaha bertahan meskipun dirinya tidak dalam keadaan baik saat itu karena ikut terpengaruh energi gelap itu juga.


"Kau baik-baik saja." Marva menangkap Kashel yang berjalan sempoyongan.


"Aku harus menghentikan Guardian." Ujar Kashel, karena tidak fokus lagi kemampuan yang ia batasi terbebas.


Energi ini, energi persis sama yang dimiliki oleh Guardian. Batin Marva terkejut kemudian menatap wajah Kashel ia melihat mata Kashel yang warnanya sama persis dengan milik Guardian juga yang sebelumnya terlindung oleh kacamata yang ia kenakan.


"Kau, apa kau terikat dengan Guardian?" tanya Marva dengan tampang terkejutnya, tadi ia sudah samar-samar merasakannya tapi karena fokusnya juga terganggu Marva kira itu hanyalah perasaannya saja. Tapi sekarang ia merasakannya dengan jelas bahkan dengan mata itu.


"Ba-bagaimana bisa Guardian mengikat kontrak dengan manusia ..." Marva tidak percaya.


"Aku harus mencari Guardian, tidak Lyam." Ucap Kashel berdiri dan mulai merasakan keberadaan Lyam, Kashel tidak ingin menjelaskan apapun.


"Di atas," Kashel melihat ke arah langit. Guardian terpengaruh oleh energi gelap itu dan ingin menyerang penghalang.


"Si bodoh itu sudah gila rupanya." Kashel menatapi Lyam yang mengeluarkan kekuatannya yang dikendalikan energi gelap tapi tidak kuat. Kashel merasa ketakutan menyeruak di hatinya bahkan Kashel sampai merinding di buatnya, tapi Kashel terus mencoba bertahan.


"Aaaaaargh!" Marva berteriak, perasaannya yang terhubung di seluruh desa membuatnya kesakitan.


"Apa yang harus kulakukan?" Kashel terpikir ide gila.


Kashel ingin menggantikan Marva menjadi penyangga desa karena jika ia membiarkan hak itu Guardian pasti akan menghancurkan penghalang itu, salah-salah akan membunuh Marva. Kashel tahu, Guardian tidak akan menyerang jiwanya. Jadi, menurut Kashel itulah jalan satu-satunya yang bisa ia lakukan.


"Ini sedikit gila, tapi aku akan melakukannya. Demi kebaikan semua orang." Kashel berjalan ke arah altar.


"Ap-apa yang kau mau lakukan?" tanya Marva menahan rasa sakitnya.


"Aku akan menggantikanmu." Ujar Kashel memperhatikan simbol sihir itu.


Mantra ini hanya perlu di aktifkan dengan darah. Batin Kashel membuat jarinya terluka dan darah menetes ke altar. Tiba-tiba Kashel merasa terikat akan sesuatu, perasaan semua orang merasuk ke dalam dirinya, karena tidak tahan dengan perasaan itu ia jatuh pingsan. Tapi, energi sihirnya tetap tersedot untuk membuat penghalang di desa itu tidak tertembus.


Marva merasa rasa sakit yang ia alami menghilang, dan melihat Kashel tergeletak di atas altar. Ia tahu Kashel sedang menggantikannya.


Lyam terlihat mengamuk di udara. Kashel memasuki alam bawah sadarnya lagi, mentalnya benar-benar terguncang sekarang karena harus menerima perasaan semua orang.


The Borders muncul di hadapannya menambah tekanan yang harus Kashel hadapi semuanya, Kashel berusaha untuk kuat jiwa benar-benar terguncang hebat.


Semua yang ada pada dirinya ingin mengamuk. Ia ingin melampiaskan semuanya pada apapun yang ia lihat, tapi ia berusaha menahannya.


"Tidak bisa, aku akan mengambil alih tugasku kembali." Marva menyingkirkan Kashel yang tidak sadarkan diri itu dari altar dan kemudian mengambil alih kemampuan penyangga desa itu lagi. Mereka langsung bertukar tempat lagi.


Kashel yang terlepas dari sihir itu terlihat raut wajahnya membaik. Di alam bawah sadarnya Kashel sudah bisa berdiri kembali, meskipun ia terlihat sedikit lesu. Namun, Kashel berusaha lebih cepat pulih sebelum semuanya menjadi kacau karena ulahnya sendiri.


"Tidurlah kembali!" Kashel berteriak dengan tegas, mata tajam milik The Borders perlahan tertutup dan ia tertidur kembali.


Lyam terjatuh dari udara, karena tiba-tiba kemampuannya menghilang. Kashel membuka matanya setelah itu dan semuanya berakhir secara tiba-tiba.


.


.


.


"Jadi bisa kalian jelaskan padaku?" tanya Marva pada Guardian. Kashel dia sudah tidak peduli, lagi pula ia sudah ketahuan.


"Kalian benar-benar terikat?" tanya Marva, Kashel hanya menatap ke arah taman bunga yang sudah hancur karena serangan tadi.


Sayang sekali, pikir Kashel. Ia menyayangkan taman bunga yang hancur akibat pertarungan tadi, ia tidak menyimak pembicaraan Marva sama sekali.


"Kashel, dia adalah Tuanku." Ujar Guardian.


"Hah?!" Marva terkejut sampai berdiri.


"Ada apa?" mendengar teriakan Marva, Kashel terkejut sampai menatapinya.


"Maafkan aku," Marva langsung menunduk pada Kashel.


"Jangan hukum aku, atas ketidaksopananku." Marva tidak berani mengangkat kepalanya.


"Hei sudahlah tidak apa-apa, lagi pula aku memang tidak ingin diperlakukan sama seperti Guardian, karena aku adalah aku. Jadi, bersikap biasa saja seperti sebelumnya." Ucap Kashel santai. Kashel hanya ingin diperlakukan sebagai dirinya sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain.


"Mana mungkin bisa." Marva terlihat sungguh takut dan merasa bersalah.


"Kau tidak perlu perduli tentangku, aku hanya ingin setidaknya lain kali kau bisa menghargai orang yang lebih lemah darimu. Jangan menyombongkan dirimu,


"Kegelapan akan datang pada orang yang memiliki hati lemah, dan kesombongan itu salah satu sifat negatif yang bisa menciptakan kegelapan ataupun mengundangnya.


"Kau memang kuat tapi, tetaplah terus berpikir pasti ada saja orang yang lebih kuat darimu, tetaplah menjadi rendah hati. Menjadi pahlawan di jalan cahaya, demi melindungi semua orang. Bukan demi dirimu sendiri."


Kashel berucap menceramahi orang yang lebih muda darinya, tapi meskipun masih muda ia sudah menanggung beban yang berat menjadi penyangga kota itu.


"Terima kasih, aku tidak akan pernah meremehkan orang lain lagi. Terima kasih, Kakak telah menyadarkanku." Kashel menatapi Marva.


"Sudahlah berhenti menunduk seperti itu, aku di sini itu butuh teman bukan butuh kehormatan." Ujar Kashel, ia tidak suka.


"Aku akan menjadi teman Kakak," Kashel hanya tersenyum menanggapinya.


Guardian hanya memperhatikan mereka berdua. Dirinya saat ini sangat rentan dengan energi gelap, tapi Kashel perlahan bisa menangani kegelapan yang ingin melahapnya juga. Jadi Guardian tidak merasa begitu khawatir karenanya. Kashel bisa menangani kegelapan yang ingin menguasai mereka berdua.


.


.


.