
"Aaaaa!"
Mereka berempat berteriak serempak.
"Shadow!" Freda memanggil roh pelindungnya untuk menangkap mereka, roh pelindung itu berubah menjadi sebuah jaring yang berhasil menangkap mereka berempat dengan baik.
"Syukurlah kita selamat," Kashel berucap dan berdiri di dalam kegelapan.
"Kita tidak bisa melihat apa-apa di sini." Ujar Kyler merogoh tasnya mencari senter.
"Uwaaaah!" Kashel heboh sendiri ia berputar-putar berlarian di dalam tempat itu.
Tangan kanannya mengeluarkan api dengan sendirinya.
"Apa yang terjadi bagaimana memadamkan ini?!" Kashel panik, semakin dia panik api semakin menyebar di telapak tangannya.
Teman-temannya hanya menatapi Kashel yang seperti itu, mereka tidak tahu juga harus berbuat apa. Lagi pula sebenarnya Kashel terlihat baik-baik saja.
"Uwaaaa! Aku terbakar-terbakar!" api malah tambah besar.
"Kashel tenanglah, jangan panik seperti itu, itu adalah pengaruh batu sihir elemen itu, batu sihir elemen itu sepertinya memiliki elemen api." Kashel mulai tenang setelah mendengar penjelasan Argai. Api itu mulai mengecil kembali tapi tidak padam.
Kashel yang sudah tidak panik, masih mengibaskan tangan kanannya berharap api itu padam, tapi itu di luar kendalinya ia tidak merasakan panas. Tapi itu akan melukai orang lain jika ia menyentuh mereka dengan tangan kanannya.
"Senter tidak berguna di sini, semua yang berbahan dasar panas jadi rusak." Kyler memukul-mukul senternya tapi tidak ingin menyala juga.
"Sudahlah Kyler kita punya Kashel saat ini untuk jadi penerangan alami." Freda berucap. Kashel menatap tangan kanannya nanar.
"Aku tidak akan memegang benda itu jika menemukannya tidak dipegang saja kekuatanku jadi tidak terkontrol, aku akan menjadi makhluk api jika melakukannya." Gerutu Kashel.
Aku rasa, aku tidak pernah menggunakan elemen api sebelumnya, mungkin karena itu kekuatannya jadi tidak stabil, jika menggunakannya pun kurasa aku sedang lepas kendali. Kashel mengingat-ingat, karena akhir-akhir ini ia sudah mulai sering menggunakan sihirnya walaupun bukan sihir elemen.
"Sudahlah Kashel, tuntun jalan kami. Senter tidak berguna di tempat ini." Freda memain-mainkan senternya di hadapan Kashel dengan wajah datarnya.
"Baiklah," Kashel menerima saja, lagi pula ia satu-satunya penerangan di sana. Dan mereka juga tidak bisa keluar karena jalan masuk mereka sudah tertutup rapat.
"Kuyakin reruntuhan ini cukup berbahaya," ujar Kashel menebak.
"Benar, akibat sihir yang terkumpul reruntuhan ini akhirnya mengaktifkan jebakan alami, belum lagi jebakan-jebakan yang dibuat oleh penduduk kota mati ini. Reruntuhan ini dulu adalah sebuah kota." Argai menjelaskan.
"Bagaimana kita bisa menemukan batu sihir itu jika tempat ini seluas kota?" Kyler berucap kaget sedari tadi ia diam.
"Tidak seperti itu, sebagian besarnya reruntuhan kota ini sudah tertimbun pasir, sisanya tempat ini hanyalah pusat kotanya saja, sudah kurang dari setengahnya." Argai menjelaskan.
"Tetap saja itu luas." Freda menimpali.
"Kau sudah pernah ke reruntuhan sebelumnya?" tanya Kashel pada Argai.
"Aku ini seorang arkeolog sihir asal kau tahu." Argai mengenalkan identitasnya yang sesungguhnya.
Kantor Pusat mengirimkan orang yang berpengalaman untuk mereka, ketiga orang itu takjub setelah mengetahui siapa Argai.
"Kita punya seorang ahli di sini," Kyler berucap sambil terus berjalan di lorong panjang, gelap dan tidak berujung.
"Jujur saja sebenarnya ini pertama kalinya. Biasanya aku meneliti artefak sihir tidak sampai terjebak seperti ini." Argai menjelaskannya santai, mungkin karena sudah terbiasa dilatih dan suatu saat terjebak di tempat seperti sekarang, Argai terlihat sangat tenang.
Setelah menyusuri lorong gelap beberapa waktu, akhirnya mereka sampai di sebuah gua buntu. Sebaiknya kita beristirahat sebentar.
"Kau tidak apa-apa membiarkan energi sihirmu seperti itu terus. Itu akan menguras tenagamu asal kau tahu." Argai menjelaskan pada Kashel.
"Sepertinya kau pengguna elemen api yang kuat ya, sampai kemampuan itu tidak terkendali." Lanjut Argai berbicara lagi sambil memperhatikan sekitarnya.
Kashel hanya diam saja sambil menatapi tangan kanannya yang sekarang menjadi penerangan satu-satunya di sana. Kyler ingin menjelaskan tapi Freda menyikutnya untuk tidak membocorkan siapa Kashel pada orang lain yang tidak dikenal.
"Akan lebih baik jika habis saja," Kashel bergumam pelan, hal yang terjadi padanya tidak berarti apa-apa sebenarnya. Tidak lama Kyler duduk di samping Kashel.
"Kashel kau tidak tahu cara mengendalikan sihirmu?" bisik Kyler bertanya.
"Kalau aku tidak tahu menggunakan sihir, itu akan sangat berbahaya untuk semua orang. Asal kau tahu, ini memang berada di luar kendaliku." Kashel langsung menjawabnya, Kyler menyadari sebesar apa kekuatan sihir yang Kashel miliki.
Kashel itu adalah orang cukup pintar, meskipun sepanjang hidupnya ia adalah orang biasa dan benar-benar tidak pernah tahu akan sihir. Tapi saat takdir memilihnya bisa menggunakan sihir, ia bisa langsung beradaptasi dan mengendalikan semuanya, semua kekuatannya ia langsung tahu cara membatasi sihirnya meskipun tidak pernah diajari sama sekali. Walaupun saat ini masih dengan bantuan segel milik Rainer, tapi Kashel perlahan-lahan sedikit demi sedikit, terus-menerus mempelajari menggunakan sihirnya yang terus berkembang. Meskipun tidak suka ia tidak bisa menolak takdirnya.
Hanya kali ini Kashel benar-benar merasa di luar kendalinya, api yang keluar dari tangannya ini bukan kekuatan yang seharusnya Kashel pakai, tetapi kekuatan sihir yang berasal The Borders sendiri, itu tidak akan berakhir sampai batu sihir yang mempengaruhinya itu di segel. Kashel merasa beruntung tidak membawa Rigel di antara mereka, karena itu akan sangat berbahaya, Rigel pasti mengamuk.
Apa jika aku pergi mencari batu elemen air, tanganku akan mengeluarkan air terus. Kashel malah ingin tertawa karena membayangkannya.
"Ada apa Kashel?" tanya Kyler penasaran melihat ekspresi Kashel yang aneh.
"Tidak ada apa-apa, sepertinya aku mulai sedikit gila." Kashel berucap asal.
Tiba-tiba ada sebuah gemuruh saat Argai menyentuh sesuatu di dinding.
"Ini jebakan sihir!" seru Argai, membuat Kashel, Freda, dan Kyler langsung siap dalam posisi menyerang.
Api mulai menyala di setiap titik sudut gua itu. Dan bergerak bersama batu-batu yang terbakar. Itu adalah Golem api.
Api panas menetes dari tubuh mereka. Bahkan langkah kaki mereka menyisakan bara.
"Gawat, terkena serangan mereka akan sangat fatal." Argai bergabung bersama kelompok Kashel membuat lingkaran.
Kashel yang tidak tahu harus apa karena sebelumnya belum pernah menggunakan elemen api juga, terpikir untuk membuat sebuah pedang dari api yang tidak padam di tangannya itu.
Kyler bersiap dengan kemampuan gelombang air miliknya untuk memadamkan para golem api yang ingin membasmi mereka.
Kyler, Freda, dan Argai bersiap menyerang bersama dengan roh pelindung mereka.
"Kashel tidak punya roh pelindung?" di saat-saat genting seperti sekarang Argai malah membahas masalah roh pelindung.
"Iya aku tidak punya," jawab Kashel. Setelah berkosentrasi apa yang dia inginkan berhasil dibuat. Karena Kashel tidak tahu cara pasti mengontrol elemen itu dengan baik.
"Panas Kashel." Ucap Freda yang berada di samping kanannya.
"Ma-maafkan aku." Ujar Kashel merasa bersalah ia sedikit maju menjauh ke depan. Meskipun gerakan mereka lambat golem-golem itu fokus menyerang ke arah Kashel dan yang lainnya. Kyler langsung membekukan beberapa dari mereka tapi airnya dilelehkan dengan mudah.