The Borders

The Borders
Bagian 84 – Pengaruh Batu Kristal Hitam



"Maafkan aku anak muda sekalian, muridku tidak bersikap sopan pada kedatangan kalian." Orang tua itu sekali lagi meminta maaf.


"Guru tidak perlu melakukannya, orang lemah tidak pantas mendapatkan penghormatan." Ujarnya.


"Apa yang kau bilang, sudah berapa kali aku katakan padamu untuk tidak menindas yang lemah." Gurunya memarahinya, pria itu tertunduk karena dimarahi.


"Maafkan aku guru." Ucapnya sopan.


"Nama saya adalah Arsan dan murid saya ini bernama Leon. Jika berkenan menetap saja di sini sementara waktu, anak muda sekalian." Pak Arsan menawarkan tempat tinggal.


"Terima kasih Tuan. Anda sangat murah hati. Nama saya Kashel, ini adalah Chain dan Erphan" Ujar Kashel sambil memperkenalkan diri.


"Sudah sepatutnya kita manusia memiliki sikap rendah hati. Dan menggunakan kekuatan yang kita punya untuk melindungi yang lemah bukan sebaliknya." Pak Arsan menatapi muridnya yang sekarang hanya bisa tertunduk.


"Andai semua orang di dunia ini seperti Tuan." Gumam Kashel, ia sangat senang ketika bertemu dengan orang-orang baik hati.


Pak Ardan kemudian mengantar Kashel dan teman-temannya ke sebuah kamar tamu. Dalam ruangan itu hanya ada sebuah lemari.


"Di kamar ini hanya ada beberapa kasur lantai yang bisa kalian gunakan untuk tidur, maaf saya hanya punya kamar ini untuk menyambut tamu. Meskipun rumah ini besar tapi hanya memiliki beberapa kamar saja. Selebihnya adalah ruang untuk benda-benda pusaka." Pria itu menjelaskannya dengan tidak berbohong.


"Tidak apa-apa, Tuan. Kamar ini sudah lebih dari cukup untuk kami bertiga. Terima kasih sudah menyambut kami dengan baik." Ucap Erphan kali ini Kashel dan Chain hanya mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu saya pergi dulu, ada beberapa hal yang saya harus kerjakan. Kalian bisa beristirahat." Pak Arsan pun meninggalkan mereka di kamar itu.


Saat membuka lemari isinya semua dipenuhi oleh kasur dan selimut untuk beberapa orang bahkan lebih dari tiga.


"Kamar ini memang untuk tamu," gumam Chain melihat persediaan untuk istirahatnya, sudah tersedia dengan baik.


Mereka bertiga yang merasa lelah, akhirnya beristirahat sebentar.


.


.


.


"Tsk! Di mana lagi aku ini. Padahal baru saja tadi ketiduran." Gerutu Kashel jengkel.


Jika seperti ini meskipun tubuhnya tertidur Kashel tidak merasa dia sedang beristirahat.


"Ah, kalau begitu aku beristirahat di sini saja. Aku tidak peduli." Kashel membaringkan dirinya di ruangan serba hitam itu, dan bersantai. Ia merasa lelah dan hanya butuh istirahat sekarang.


Saat akan tertidur di sana Kashel merasakan ada getaran kuat yang mengguncang jiwanya.


"Apa-apaan lagi sih ini?!" Kashel langsung duduk melihat ke kiri dan kanannya, belakang dan depannya bahkan atas. Karena tahu yang bisa membuat guncangan seperti itu pada Kashel hanyalah jiwa dari The Borders yang ada di dalam dirinya. Namun nihil tidak ada apa-apa di mana pun.


Penasaran Kashel berdiri, dan mulai berjalan tapi ruangan hitam itu berubah menjadi ruangan di rumah pak Arsan.


Kashel kembali mundur ia pikir jiwanya keluar dari tubuhnya namun saat mundur pada batas tertentu ia kembali lagi ke ruangan serba hitam itu. Ia tidak melihat tubuhnya yang tertidur ataupun tubuh teman-temannya yang lain.


PLAK!


"Ini sakit," gumam Kashel mengelus pipinya yang sudah ia tampar barusan.


Kashel kemudian memperhatikan sekitarnya dan tidak melihat apa-apa di dalam ruangan itu kemudian ia melihat pintu dengan simbol aneh dan menembusnya karena ia tidak bisa menyentuh apapun, terlihat sebuah batu kristal hitam mengkilat seukuran kepalan tangannya ditaruh rapi di atas sebuah meja dengan diletakkan di tempat yang khusus agar batu bulat itu tidak meluncur bebas ke lantai.


Kashel lalu memperhatikannya dengan mengitari batu hitam itu. Sambil melihatnya.


Saat mencoba memegang batu itu Kashel merasa dirinya sedang bergabung dengan The Borders yang asli.


Kashel langsung terduduk karena terkejut ia berlari kembali ke tempat asalnya sebelumnya.


"Sadarlah, diriku sadarlah." Kashel memaksa dirinya bangun setengah panik.


.


.


.


Kashel langsung terduduk, menarik nafasnya cepat, tubuhnya berkeringat dingin.


"Ada sesuatu sepertinya di dalam rumah ini." Ujar Kashel.


"Tapi aku tidak merasakan apa-apa loh." Timpal Chain.


"Sepertinya Kashel benar-benar sangat peka."


"Tadi saat ke kamar mandi aku melihat sebuah ruangan yang aneh. Ruangan itu tadi sepertinya memancarkan cahaya. Namun aku tidak merasakan energi gelap dari sana,"


"Apa kau melihat dalamnya?" tanya Kashel.


"Aku sudah tidak tahan lagi karena kebelet ingin buang air, Jadi, aku pikir itu hanya lampu yang menyala terang karena ruangannya di kunci."


"Tapi, saat aku kembali kemari kau sudah seperti itu. Mengigau mengeluarkan keringat dingin." Ujar Chain menjelaskan.


"Sepertinya karena ini adalah wilayah kemunculan The Borders pertama kali, aku jadi mengalami hal-hal aneh." Ujar Kashel.


"Belum lagikan tempat ini juga adalah tempat leluhurku Kendrick mengorbankan dirinya untuk menciptakan Lyam."


"Seharusnya aku kemari bersama dengan Lyam. Aku malah pergi sendiri, aku mana tau apa-apa." Kashel menggerutu karena bingung menemukan penjelasan tentang semua itu.


Kashel juga tidak ingin mengganggu Lyam yang menjalankan tugasnya sendiri di lain tempat, jika Kashel memanggilnya Lyam tentu saja akan langsung datang kepadanya.


"Aku harus bisa menyelesaikan kasus ini sendiri, karena ini pertama kalinya aku melakukannya. Aku tidak akan merepotkan Lyam untuk saat ini." Gumam Kashel yakin.


"Ada kita di sini Kashel jadi kau tenang saja." Chain membaringkan dirinya.


"Grok!" Erphan mendengkur nyaring sampai Kashel dan Chain memperhatikannya, Erphan tidak mempedulikan apapun di sekitarnya.


"Astaga dia berisik." Gumam Chain berusaha istirahat sebentar lagi, karena ketika malam hari tugas mereka di mulai.


Aku iri dengannya bisa tidur nyenyak begitu, aku malah kehilangan rasa kantukku karena kejadian tadi." Ujar Kashel kemudian hanya menyandarkan dirinya di dinding, kemudian memainkan ponselnya. Ia saat ini tidak bisa beristirahat.


Saat matahari tenggelam Chain dan Erphan bangun. Ia melihat Kashel tertidur sangat pulas di atas kasurnya.


"Haruskah kita membangunkannya?" tanya Chain.


"Kenapa kau bertanya padaku, bangunkan saja kitakan ada pekerjaan malam ini." Erphan berucap ia masih terlihat menguap.


"Aku kasihan pada Kashel sore tadi dia sempat bermimpi buruk." Jelas Chain.


"Bagaimana bisa aku tidak tahu?" tanya Erphan dengan nada sedikit nyaring sehingga membangunkan Kashel.


"Ah maafkan kami Kashel," ucap Erphan dan Kashel melihat jam di pergelangan tangannya.


"Memang seharusnya kalian membangunkan aku." Ujar Kashel merasa tidak masalah.


"Apa kau tidak bermimpi buruk lagi Kashel."


"Tidak meskipun aku merasakan getaran aneh, aku ternyata masih bisa beristirahat karena sudah benar-benar kelelahan." Kashel berdiri lalu merenggangkan badannya.


"Kau pasti sangat menderita Kashel karena kekuatan besar itu." Erphan menebak salah kali ini.


"Tidak kok, itu tidak membuatku menderita atau apa hanya saja aku merasa terganggu." Kashel menjelaskan selama ia menjadi wadah jiwa. Ia pernah merasakan benar-benar kesakitan ketika kegelapan yang mempengaruhi Lyam terasa pada dirinya dan juga saat pertama kali ia menerima kekuatan itu, Kashel bahkan tidak ingin membayangkannya lagi.


"Baiklah! Saatnya menjalankan misi kita." Chain bersemangat.


TOK!


TOK!


Pintu kamar diketuk seseorang membuat percakapan mereka terhenti.