The Borders

The Borders
Bagian 122 – Jebakan Air



"Sebaiknya Kashel saja, karena ritual ini akan menarik energi sihir milikmu, dan akan mengurasnya jika tidak punya energi sihir yang banyak." Guardian menjelaskan, Dirga tidak jadi langsung menarik tangannya.


"Aku lagi." Gerutu Kashel, tapi kemudian ia langsung memberikan telapak tangannya dan Lyam melukai jari Kashel untuk mengambil sedikit darahnya.


Lyam tidak memiliki darah makhluk hidup. Ia punya darah tapi darahnya lebih pekat dan hitam daripada makhluk hidup lainnya. Untuk amannya, jadi Guardian tetap menggunakan darah manusia asli yang lebih murni saja, karena manusia asli seperti bangsa duyung mereka makhluk hidup juga. Bukan seperti Guardian yang merupakan makhluk buatan.


Luan dan Anna menjaga di sekitar takut jika ada serangan dadakan ke arah mereka.


Saat darahnya menyatu dengan gerbang segel, Kashel merasa di tubuhnya ada pusaran air yang sangat kencang. Kashel menutup mulutnya merasa mual, energi sihirnya tersedot ia merasa pusing.


Tanah bergetar saat itu, dan pusaran air benar muncul dengan kuat. Anna menggunakan kekuatan anginnya berusaha menghalau pusaran air itu agar tidak menyeret mereka. Sampai gerbang ke reruntuhan itu terbuka sempurna dan langsung membawa mereka masuk ke dalamnya.


.


.


.


Mereka semua jatuh di atas batu-batu kecil yang sudah di tumbuhi oleh lumut. Tempat yang sepertinya sudah sangat lama tidak dijamah oleh makhluk hidup.


Tidak seperti reruntuhan di gurun pasir. Tempat ini menghasilkan cahaya biru yang cukup terang. Tapi tidak ada yang tahu cahaya biru itu berasal dari mana asalnya. Mungkin cahaya biru itu adalah efek dari batu sihir yang mempengaruhi tempat itu sehingga menimbulkan cahayanya sendiri.


"Jebakan macam apa lagi yang disediakan oleh bangsa duyung." Gumam Kashel.


"Hah?! Ada jebakan!" terkejut Anna.


"Kau pikir, semudah itu mendapatkan batu sihir?" tanya Kashel.


"Pantas saja Kyler dan Freda tidak ingin lagi melakukannya." Ujar Luan, Luan tidak begitu menyimak pembicaraan Freda yang mengatakan ia masih trauma dan lelah.


"Sepertinya kita berdua akan mengalami hal yang sama juga, setelah kembali nantinya." Timpal Anna. Mereka pun melanjutkan perjalanan tidak ingin berbasa-basi terus.


Anna dan Luan tetap mengenakan peralatan selam mereka. Tidak berani melepasnya takut jika tempat itu akan tiba-tiba tenggelam.


Tubuh Kashel terlihat tidak bisa kering karena efek dari sihir elemen air miliknya. Beruntungnya meskipun selalu basah kuyup Kashel tidak merasakan kedinginan.


Kemudian dengan sihirnya Guardian mengganti semua pakaian teman-temannya, pakaian sihir anti rusak yang ia ciptakan dari energi sihir miliknya sendiri.


"Wah ini keren, Guardian benar-benar bisa sihir yang ajaib." Takjub Luan.


Dirga hanya diam saja sambil memperhatikan jubah yang ia kenakan.


Semenjak mengetahui siapa Kashel tatapan rasa tidak suka Dirga perlahan menghilang. Dirga mulai merasa dia tidak sendirian lagi untuk melindungi orang biasa dari Roh Kegelapan.


.


.


.


"Jadi intinya aku juga dulu benci kekuatanku sendiri." Kashel berucap pada Dirga saat mereka berjalan berdampingan, "Tapi tidak ada cara lain selain menerimanya dengan caraku sendiri." Kashel menjelaskan sambil berjalan menatap lurus ke depan.


"Kau pasti punya waktu yang berat saat berusaha menerimanya. Maafkan aku, karena hanya memikirkan diriku sendiri." Ujar Dirga merasa bersalah.


"Sudahlah tidak apa-apa, kita harus fokus untuk berjalan ke depan. Di tempat seperti ini akan ada banyak jebakan mematikan." Kashel menjelaskan.


"Kau pernah keruntuhan sebelumnya?" tanya Dirga, karena melihat Kashel yang tampak biasa-biasa saja saat memasuki tempat seperti ini.


"Entah tugas merepotkan macam apa yang akan terus kau kerjakan Kashel, aku prihatin padamu." Ujar Dirga tidak tega.


"Mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi tugasku, kalau aku tidak mau, akan banyak korban yang berjatuhan. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi." Kashel menghembuskan nafasnya panjang tapi ia terlihat biasa-biasa saja.


"Kau tidak ingin menikmati hidupmu dengan baik?" Dirga berbicara sambil tertunduk sedih.


"Anggap saja ini adalah pekerjaan, aku tetap menjalani hidup dengan baik kok seperti orang pada umumnya." Ujar Kashel masih santai.


"Apa orang seperti kita ini bisa hidup bahagia juga." Dirga tidak yakin.


"Meskipun sulit, jika kau mencarinya pasti bisa kok." Kashel tersenyum ke arah Dirga.


"Memang kau sudah menemukan kebahagiaanmu?"


"Untuk saat ini ya, asal kau tahu aku ini sudah punya istri loh." Kashel dengan santainya malah pamer. Dirga menatapnya terkejut.


"Kau tidak takut jika akan berakhir dengan tragis." Ujar Dirga langsung.


"Aku tidak ingin memikirkannya, aku tidak tahu akan seperti apa ke depannya. Tapi aku akan menjaga kebahagiaan ini dengan caraku sendiri." Ujar Kashel lagi yakin.


Tepat saat pembicaraan mereka berakhir, Lyam yang berjalan di depan Kashel berhenti, semua yang di belakangnya pun langsung mengikutinya.


Kashel terduduk memegang perutnya bergetar.


"Ada apa Kashel?" Dirga terkejut.


Anna dan Luan yang berjalan di belakang Lyam terkejut saat melihat perut Lyam tertembus oleh bongkahan es tajam.


Lyam kemudian dengan santai menarim bongkahan es tajam yang menusuk perutnya, karena sihir Kashel dan Lyam sekarang terhubung satu sama lain. Saat ini Kashel saling berbagi rasa sakit dengan Lyam.


"Kita harus berhati-hati aku akan berjalan di depan." Lyam berbalik memeriksa keadaan Kashel. Luka di perut Lyam terlihat begitu terbuka tetapi perlahan luka itu tertutup kembali.


Semua orang yang melihatnya panik, bagaimana mungkin Kashel bisa menahan luka sebesar itu.


"Seharusnya kau tidak apa-apa, kau tidak perlu bersikap seperti itu Kashel. Pengaruh lukaku terhadap dirimu tidak akan berdampak besar." Ujar Lyam berdiri di hadapan Kashel.


"Tetap saja itu menyakitkan, perutku terasa di pukul sampai tembus, siapa yang tidak akan terkejut. Walaupun tidak begitu sakit, tetap saja." Kashel berdiri kembali ia benar-benar baik-baik saja.


"Aku tidak menyangka jika kontraktor Guardian adalah orang yang kuat." Dirga takjub bahkan Anna dan Luan pun sama takjubnya.


"Karena itulah dia terpilih menjadi pemilik kekuatan Naga Perbatasan." Kashel hanya diam saja saat Lyam mengatakan itu.


"Mulai ada banyak jebakan di sekitar sini." Kashel berucap.


"Jebakan di sekitar sini terbuat dari air. Ini akan sangat berbahaya, karena air sangatlah fleksibel." Lyam berusaha menjelaskan. Bahkan air yang berada di bawah kaki mereka pun bisa menjadi musuh.


"Kalian, apa semuanya bisa menggunakan mantra pelindung?" Kashel bertanya, semuanya mengangguk, mereka sudah menyiapkan seluruh barang-barang yang diperlukan untuk samapai ke sini, bahkan kertas mantra yang kosong pun sudah mereka sediakan.


"Aku merasa, bahkan air di sekitaranku ini kapan saja bisa menjadi berbalik menyerang." Ujar Kashel merasakan hawa gelap di air yang menyelimuti tubuhnya.


"Mantra pelindung." Kashel mengaktifkan mantra pelindungnya, membuat air yang berada di sekitarannya berada di luar mantra pelindungnya. Lyam juga mengaktifkan mantra pelindung.


Begitu pula dengan yang lainnya. Karena tidak ada yang efektif untuk menghalau air yang tiba-tiba bisa berubah bentuk dalam sekejap kecuali mantra pelindung.