The Borders

The Borders
Bagian 102 – Jebakan Di Reruntuhan



"Setidaknya kau harus merasa bersalah, karena dirimu membunuh pemimpin kota ini, kota ini malah hancur." Ujar Kashel melihat-lihat sekitar sambil memegang pergelangan tangannya yang masih terbakar. Reruntuhan kota itu memiliki cahayanya sendiri meskipun jauh terkubur di dalam tanah, entah itu karena sihir api atau ada sebuah benda yang memantulkan cahayanya dari luar, tidak bisa dipastikan dengan jelas.


"Apakah aku salah ketika membunuh pemimpin yang suka memulai perang. Dahulu, 200 tahun yang lalu banyak kota-kota sihir seperti ini selalu ingin menindas keberadaan manusia biasa, dan mengacaukan dunia." Ujar Lyam menjelaskan, aku membunuh mereka agar tidak merusak keseimbangan itu. Mendengar hal itu Kashel diam lagi.


"Apa kau pernah membunuh orang tak bersalah?" tanya Kashel penasaran.


"Pernah." Kashel tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk menanggapi Lyam.


"Berapa banyak orang yang kau bunuh?" Kashel masih penasaran.


"Aku tidak tahu pasti, sangat banyak." Jawab Lyam.


"Tidak heran makhluk psikopat tanpa perasaan sama sekali hidup 800 tahun tidak pernah membunuh, itu mustahil." Kashel menendang batu krikil di depannya.


TAK!


TAK!


TAK!


Batu yang Kashel tendang masuk ke dalam sebuah lubang dengan tidak sengaja, getaran mulai terasa lagi.


Pintu gerbang kastil tua yang tertutup batu besar terbuka.


"Ketidaksengajaan yang sangat pas sekali Kashel." Ucap Freda dan yang lainnya mengacungi Kashel jempol. Mereka jalan di depan, karena tidak ingin dekat-dekat dengan Lyam yang memiliki aura menyeramkan.


Kashel dan Lyam hanya membuntuti mereka setelahnya.


"Aku risih melihatmu seperti itu Kashel." Lyam berucap kepada Kashel yang terus memegangi tangannya yang terbakar agar tidak terkena pakaian yang ia gunakan.


"Ganti pakaianmu ke pakaian sihir agar kau bisa bergerak dengan bebas." Lyam memberikan ide pada Kashel.


"Ide yang bagus," Kashel langsung menyetujuinya.


Seketika pakaian Kashel dirubah Lyam menjadi pakaian sihir, ia terlihat mengenakan jubah hitam panjang yang cocok untuk dirinya.


"Terima kasih, aku merasa bisa bergerak dengan bebas sekarang." Kashel bersikap seperti biasanya lagi.


Kemudian Lyam juga merubah pakaian teman-teman Kashel yang lainnya juga.


"Terima kasih Lyam, ini sangat praktis. Kemampuanmu benar-benar unik." Argai terlihat memperhatikan pakaian yang ia kenakan.


Lyam terlihat memperhatikan orang yang bernama Argai itu, ia merasa teringat akan sesuatu.


"Ada apa Lyam kenapa kau menatapi Argai seperti itu?" tanya Kashel. Membuat Lyam menghentikan tatapannya.


"Tidak apa-apa." Lyam terlihat tersenyum tipis.


"Ingat ini Kashel, orang yang terlihat baik itu belum tentu baik." Lyam berbicara melalui pikiran Kashel agar tidak ada yang mendengarnya. Kashel terlihat terdiam sambil menatapi Lyam yang sedang melihat-lihat sekitarnya.


Kashel benar-benar terpikirkan dengan kata-kata Lyam barusan, selama 800 tahun Lyam sudah bertemu berbagai macam orang. Seharusnya dugaannya bisa dipegang untuk jaga-jaga. Kashel memang seharusnya tidak bisa mempercayai orang yang baru saja dikenalnya.


.


.


.


.


Mereka terlihat memasuki bangunan besar di pusat reruntuhan itu. Ada banyak simbol-simbol sejarah sihir di setiap dinding dalam istana itu.


"Jangan menyentuh sembarangan Kashel, dulu tempat ini dipenuhi oleh jebakan orang yang membuatnya." Lyam memperingatkan Kashel yang ingin menyentuh sebuah benda yang terlihat menarik di matanya. Kashel dengan wajah pucat menghentikan tindakannya.


Kashel menjauh dari sebuah lampu minyak yang terlihat bewarna menarik tersebut.


PRAK!


Suara lampu minyak itu hancur dan pecah. Pola di dinding berubah cepat dan terlihat ada lubang-lubang yang muncul di sana, lalu muncul banyak anak panah yang tertembak dan menancap ke dinding sebelahnya.


Kashel tidak terbayang apa yang akan terjadi jika terkena panah-panah itu secara langsung. Teman-teman Kashel langsung menelan ludahnya takut.


Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri bangunan tua itu lalu mereka menemukan sebuah pintu di belakang kursi singgasana.


"Lyam apa dulu tempat ini adalah kerajaan juga?" tanya Kashel berbisik dan Lyam menggeleng.


"Ini hanya jalan menuju altar berdarah," Lyam mencari tombol yang bisa membuka tempat itu di sekitaran kursi singgasananya.


"Altar berdarah?!" Kashel mencicit terkejut.


"Apa yang berdarah?" Argai yang mendengar kata-kata Kashel langsung menyahut.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya terkejut saja." Kashel nampak canggung menjelaskannya.


Lyam mengeluarkan elemen apinya dan menekan tombol di kursi. Sebuah simbol sihir raksasa muncul di lantai yang mereka pijak.


"Dari sini, kita tidak akan bisa menggunakan portal untuk keluar, ini adalah mantra penyegel kuat. Kita harus menyelesaikan misi ini untuk bisa keluar hidup-hidup dan menghancurkan segel yang menyegelnya." Lyam menjelaskan dengan santai.


Teman-teman Kashel mendengarkan ucapan Lyam barusan.


"Jadi ini akan menjadi petualangan hidup dan mati?" Kyler bertanya. Lyam mengangguk. Semuanya terdiam, mereka tidak tahu bahaya apa yang menanti mereka kedepannya.


Lagi-lagi ada getaran yang cukup kuat. Gerbang di belakang singgasana itu terbuka. Dan melihat sebuah altar yang berwarna merah, merah itu bukanlah merah karena sebuah cat namun karena darah yang mengering. Di setiap dinding ruangan itu ada tengkorak manusia yang disusun pada sebuah rak batu.


Freda, Chain, dan Kashel ingin muntah melihat susunan tengkorak-tengkorak kepala bersama tulang belulang tubuh yang sudah hancur. Bagi mereka itu sangat-sangat mengerikan, di tambah ada bau yang tidak sedap karena sudah beratus-ratus tahun ruangan itu tidak pernah di buka.


CTAK!


Tiba-tiba ada suara seperti tombol di tekan saat kelima orang itu memasuki ruangan altar berdarah itu. Pintu batu tertutup kembali.


"Mereka hebat sekali membuat jebakan dengan tumpukan-tumpukan batu ini." Kashel berucap takjub.


"Ada sumber sihirnya Kashel, karena sudah lama, sumber sihir itu punya pikirannya sendiri." Lyam menjelaskan Kashel teringat dengan pedang cahaya, pedang yang memiliki penjaganya sendiri ketika tidak memiliki tuan.


"Itu benar-benar merepotkan." Kashel memperhatikan tangan kanannya yang bahkan apinya tidak ada tanda-tanda akan padam.


Pola di dinding ruangan itu berubah lagi, kali ini dinding itu menelan semua tengkorak-tengkorak yang tersusun rapi di dinding.


KRAK!


Di dinding itu mulai meluruh dan dari balik dinding yang runtuh menjadi debu itu muncul para tengkorak yang sudah kembali utuh dengan diliputi oleh api-api yang berkobar.


SRAK!


SRAK!


SRAK!


Suara langkah tengkorak yang berjalan serempak ke arah mereka berlima. Semuanya bersiap menghalau serangan itu. Para roh pelindung memperlambat gerakan-gerakan tengkorak yang berjalan ke arah tuan mereka.


Kemudian kelima orang itu pun ikut menyerang serempak, Quirin berusaha mendinginkan ruangan yang memanas karena sihir api yang memenuhi ruangan.


"Terima kasih Quirin." Gumam Kashel merasa senang karena Quirin, ia saat ini juga bisa menggunakan elemen apinya dengan leluasa.


Quirin tetap fokus pada mendinginkan ruangan yang memanas itu. Sedangkan roh pelindung yang lainnya sibuk menghalau para tengkorak api itu agar tidak mendekati mereka secara serempak.


"Pengguna elemen api memang paling merepotkan." Ucap Freda terus menghancurkan tengkorak api satu persatu-satu.


Ruangan berbentuk lingkaran itu, kira-kira hanya berdiameter 10 meter sedangkan yang mereka lawan ada ratusan tengkorak api yang terus berdatangan dari arah dinding.