
.
.
.
Banyak dari Kesatria Penjaga Batas yang kehabisan energi sihir karena menghadapi Roh Kegelapan yang tengah mengamuk, meskipun belum ada korban jiwa tapi makhluk itu terus-terusan mengambil energi sihir milik orang lain sedikit demi sedikit sehingga membuatnya menjadi kuat, karena tidak hanya satu orang yang diambil energi sihirnya. Namun, milik banyak orang.
Para Kesatria Penjaga Batas belum bisa menyentuh inti dari Roh Kegelapan itu. Jangankan menyentuh, mendekatinya saja mereka harus menghabiskan banyak energi sihir untuk melindungi diri mereka dari serangan asap hitam yang pekat.
.
.
.
Anna yang lengah karena terkadang ia harus melindungi yang lainnya juga selain dirinya, berhasil disentuh oleh asap hitam itu, sehingga ia langsung jatuh ke tanah karena energinya telah dikuras habis.
"Anna!" Erphan berteriak dan langsung membuat dinding dengan elemen tanah yang ia miliki. Dinding tanah itu begitu padat sehingga asap hitam tidak bisa masuk ke dalamnya, tetapi dengan begitu Erphan juga tidak bisa memberikan serangan ke luar area.
Sebelumnya Erphan menggunakan kekuatan pasir putih untuk memantulkan asap hitam agar tidak mengenai dirinya, tetapi karena melindungi temannya sekarang Erphan tidak tahu sampai kapan tameng tanah itu akan bertahan untuk menahan energi gelap tanpa perlawanan.
Anna tidak sadarkan diri, karena sudah banyak energi hitam yang merasuki dirinya. Dan mengambil energi sihirnya.
"Anna sadarlah," Erphan berusaha membangunkan Anna tapi usahanya sia-sia.
.
.
.
Di dalam ketidaksadarannya Anna teringat dengan masa lalunya. Sebelum ia menjadi Kesatria Penjaga Batas. Ia adalah orang yang tidak ingin memperdulikan sekitarnya, bahkan dia tidak ingin kekuatannya digunakan untuk melindungi orang lain.
Anna dulunya merupakan salah satu orang yang dianggap kuat oleh Organisasi Penjaga Batas. Anna sempat dikejar-kejar oleh organisasi akibat membangkang panggilan pusat untuk bekerja dengan mereka, tetapi Anna tidak pernah bisa ditangkap ia sangatlah lincah sebagaimana kekuatannya yaitu angin. Benar-benar gesit bahkan tidak ada yang mengenali wajahnya dengan jelas.
Anna hanyalah seorang gadis gelandangan yang tumbuh dengan cara seperti seorang berandalan. Semenjak kecil Anna sudah memiliki bakat spesial dan tanpa bantuan siapapun ia bisa mengikat kontrak bersama Roh Pelindung dengan baik. Tumbuh di lingkungan yang kasar Anna menjadi wanita yang ahli bela diri walaupun tidak belajar dari guru mana pun.
Ia suka mencuri uang milik orang lain, bahkan dengan tega memukuli mereka jika mereka melawan dan tidak mau memberikan uangnya, tidak ada polisi yang bisa menangkapnya.
Di setiap aksinya di selalu berada di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan kamera pengawas atau jika ada kamera pengawas ia akan merusaknya terlebih dahulu sebelum beraksi. Jika di tempat ramai wajahnya ia gunakan topeng agar tidak terlihat dan terkadang saat dikejar oleh orang-orang ia menghilang secara tiba-tiba pula. Ia memanfaatkan kemampuannya dengan baik untuk menjadi seorang pencuri.
Setelah menginjak umur dua puluh tahunan lebih Anna menjadi ketua geng di daerah setempat, meskipun dia seorang wanita tapi dia tidak kalah kuat dari seorang laki-laki. Sampai akhir bawahannya tidak pernah tahu penampilan asli Anna karena ia menggunakan topeng di tiap pertemuannya dengan anggota-anggotanya.
.
.
.
Tibalah pertemuannya dengan Kashel, saat itu Kashel juga baru berumur dua puluh tahunan dan baru beberapa bulan membuka Kantor Divisi Batas Senja. Ia masih suka kabur-kaburan dari Lyam, mengetahui ikatannya dengan Lyam tidak sama dengan ikatan orang yang mengikat bersama Roh Pelindung. Membuat Kashel tidak begitu mau mendengarkan nasehat Lyam dan tidak mau begitu dekat dengan Lyam.
Saat itu Kashel belum sepenuhnya menerima dirinya sebagai wadah jiwa The Borders, ia sebenarnya belum juga bisa mengendalikan kekuatannya saat itu, tapi Kashel bisa membatasinya agar kekuatannya tidak keluar dan lepas kendali. Saat itu kekesalan Kashel pada Lyam belum sepenuhnya hilang, ia masih tidak mengerti dan tidak menerima karena Lyam memilihnya yang tidak mau menjadi bagian dari kekuatan itu.
Bukannya Lyam tidak bisa menemukan Kashel yang kabur darinya, tapi Lyam hanya mengamati Kashel dari jauh agar pria itu sadar akan dirinya yang sekarang.
Lyam sudah melarang Kashel keluar sendirian apalagi itu malam hari, tapi Kashel tidak mendengarkannya dan tetap membangkang ucapan Lyam. Mereka sempat bertengkar karena hal itu.
Keributan terjadi di dalam Kantor Batas Senja. Sampai-sampai Rigel yang sudah menjadi bagian dari kantor itu merasa takut dengan keributan tersebut. Aura yang di keluarkan Lyam saat itu sangat gelap ketika memarahi Kashel, tapi Kashel tetap tidak mendengarkannya, dan saat Kashel lengah dari pandangan Lyam, Kashel melarikan diri keluar kantor.
Sebenarnya Kashel sedikit mendengarkan perkataan Lyam yang mengatakan, dia tidak boleh keluar sendirian tanpanya karena energi Kashel yang berbeda dari orang lain bisa menarik perhatian roh. Lyam menjelaskan jika ia menggunakan kekuatan miliknya untuk melindungi dirinya, Lyam tidak masalah jika Kashel pergi sendirian.
Tapi Kashel membenci kekuatannya sendiri saat itu mana mau dia menggunakannya, apalagi ia merasakan saat kekuatan itu keluar ia merasakan ada perasaannya yang menghilang karena kuatnya kekuatannya, Kashel hanya berpikir mau menggunakan kekuatan itu jika digunakan untuk melindungi orang lain.
Belum lagi saat itu, Kashel masih belum begitu mengerti menggunakan kekuatannya sendiri, karena takut melihat makhluk yang ada di dalam dirinya, makhluk yang bersama dirinya di alam bawah sadarnya. Ia akan bertemu dengan jiwa The Borders jika ia terlalu fokus pada cara mengeluarkan kekuatannya.
Malam itu Kashel menggunakan kekuatan mantra pelindungnya untuk melindungi dirinya agar energi yang dimilikinya tidak menarik perhatian para roh. Kashel saat ini bisa melihat semuanya, para roh-roh lemah yang tidak berbahaya, tapi jika itu menjadi banyak tetap akan berbahaya juga. Ia belum mendapatkan kacamata anti roh, saat itu Luan masih belum masuk di divisinya karena ia yang menciptakan kacamata itu untuk Kashel.
Lyam hanya memperhatikan dari jauh kelakuan Kashel itu. Lyam sadar, meskipun Kashel suka melawan perkataannya. Kashel masih tetap mendengarkan ucapannya.
Menyebalkan, kenapa aku masih mendengarkan orang itu. Batin Kashel ia kesal sendiri karena, meskipun telah marah-marah Kashel tetap membuat mantra pelindung untuk dirinya.
Tiba-tiba Anna mencegat Kashel di perjalanan, ia saat itu ingin mencuri barang milik Kashel.
"Serahkan semua hartamu," Anna menodongkan pisau belatinya pada Kashel.
Kashel hanya mengerjapkan matanya kebingungan, ia tidak menyangka seorang laki-laki akan dirampok oleh seorang wanita.
Apalagi ini. Pikir Kashel sekaligus ia keheranan karena melihat roh pelindung milik Anna yang ada di belakangnya. Kashel tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia tidak akan bisa melawan.