The Borders

The Borders
Bagian 85 – Energi Sihir Samar



TOK!


TOK!


Pintu kamar di ketuk oleh seseorang.


Erphan membukakan pintu kamar.


"Guru memanggil kalian untuk makan malam." Leon terlihat memandangi mereka dengan tampang tidak bersahabat sama sekali.


"Kenapa sih orang itu?" tanya Chain berbisik pada Kashel.


"Kau pikir aku tahu." Jawab Kashel, ia juga tidak mengerti kenapa lelaki itu sepertinya sangat membenci mereka bertiga.


.


.


.


"Silahkan duduk dan nikmati makan malam kalian." Pak Arsan terlihat senang menyambut anak-anak itu makan bersama dengannya.


"Terima kasih, Pak." Kashel dan yang lainnya sangat bersyukur sudah diterima dengan baik.


"Jangan sungkan saya merasa ada banyak keluarga saya yang berkumpul di sini." Jelas Pak Arsan tertawa dengan ramah.


"Cih!" Leon yang sedang meminum air putih tetap tidak menyukai hal itu.


"Leon kau tidak boleh seperti itu terhadap tamu," ujar pak Arsan membuat Leon hanya bisa mengangguk paham.


Kashel dan yang lainnya hanya menatapi kelakuan Leon itu.


"Tuan kami malam ini, izin keluar sebentar. Ada yang harus kami urus sekarang." Ujar Kashel meminta izin.


"Baiklah, hati-hati. Jika sudah selesai kembali saja ke sini." Ujar pak Arsan.


"Terima kasih Tuan, kami berangkat dulu." Kashel, Chain, dan Erphan pamit.


.


.


.


"Ah tidak seru, di desa ini tidak ada gadis yang bisa diajak untuk berbagi informasi." Gerutu Chain sambil bersandar di sebuah kursi.


Mereka bertiga malah nongkrong di sebuah tempat santai malam itu. Tidak begitu banyak orang malam hari, malah terasa lebih sunyi. Mungkin karena itu adalah sebuah desa.


"Jadi, sebenarnya apa yang harus kita kerjakan." Ujar Chain mulai bosan.


"Desa ini terlalu bersih untuk kegelapan." Ucap Erphan.


"Pusat menyuruh kita untuk mengawasi warganya bukan Roh Kegelapan, karena menurut pusat warga di sini bersikap aneh." Kashel menjelaskan, setelah melihat mereka warga desa itu biasa-biasa saja.


"Hahaha, orang normal mana yang mau menuruti perintah tidak masuk akal yang membuat mereka seperti berada di atas angin dan menjadi penguasa sendiri. Lalu membuat aturan seenaknya mengatur-ngatur orang lain." Chain mengeluh panjang lebar.


"Aku salah satu keturunan mereka loh." Ucapan Kashel membuat Chain memucat, dia lupa.


"Tidak usah berekspresi seperti, aku hanya bercanda, hahaha." Kashel menertawai Chain.


"Kashel," Chain merangkul Kashel dan memutar-mutarkan tinjunya di kepala Kashel.


"Hei-hei berhenti maafkan aku Chain." Kashel terlihat menikmati kebersamaan mereka bertiga.


Erphan hanya menatap danau di depannya. Malam itu bulan bersinar terang sehingga cahaya memantul di atas air danau itu.


"Kata orang jangan melamun Phan, nanti kau kesambet." Ujar Kashel, ia masih bercanda.


"Ketimbang diriku sepertinya kau adalah orang yang paling mudah kesambet meskipun tidak melamun." Telak ucapan Erphan untuk Kashel sangat benar adanya.


"Ukh! Aku tertohok dengan kata-katamu." Kashel melakukan drama.


"Tidak usah bersikap seperti itu Kashel, kau tidak cocok jadi orang yang seperti itu." Kashel memasang wajah cemberutnya.


"Tidak perlu terlalu serius terus Erphan, kita harus sedikit melonggarkan pekerjaan kita dan bersantai." Kashel berucap santai.


"Kau pikir aku sedang serius?" Erphan malah menahan tawanya.


Mereka bertiga itu sebenarnya sangat jarang dekat seperti ini. Meskipun satu kantor dan satu tempat tinggal mereka punya pekerjaan masing-masing dan berbeda jalan biasanya.


"Kashel sudah pastikan bakalan kesambet naga-naga di desa ini." Karena ucapan Erphan ada salah satu warga yang lewat menatapi mereka bertiga dengan intens.


"Erphan jaga mulutmu, kalau tidak ingin membuat masalah." Jelas Chain. Kashel merasa tidak enak hati dengan orang yang barusan lewat.


Kashel tidak merasa begitu tersinggung dengan ucapannya, lagi pula kenyataannya karena roh pelindung berwujud naga di desa ini benar-benar mempengaruhi naga raksasa yang ada di dalam diri Kashel.


Yang aku harapkan sekarang Lyam tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi padaku. Kashel berpikir, terkadang karena berbagi rasa mereka bisa merasakan hal-hal yang mempengaruhi keadaan mereka sama persis.


"Kantor Pusat memang aneh. Padahal tidak ada yang aneh pada desa ini mereka bersikap normal seperti biasanya."


"Kita datang ke sini seperti malah menjadi beban untuk pak Arsan. Mana harus nginap tiga hari lagi."


"Sebaiknya kalian berdua mengeluh langsung ke Kantor Pusat."


"Bisa-bisa tambah banyak pekerjaan kita, untung terkadang kita berada di bawah wewenang Lyam. Sehingga bisa menghindari tugas-tugas menyebalkan dari pusat meskipun pekerjaan dari Lyam melelahkan."


Hawa kegelapan terasa samar-samar hanya Kashel yang merasakannya. Kashel terlihat terdiam sambil mengerutkan keningnya.


"Hei Kashel ada apa?" tanya Chain, penasaran dengan ekspresi Kashel yang tiba-tiba saja sudah berubah.


"Aku samar-samar merasakan ada energi gelap. Apa cuma perasaanku saja. Kalian berdua tidak merasakannya?" Kashel bertanya, ia masih merasakan perasaan energi gelap itu tapi sungguh samar. Chain dan Erphan saling pandang satu sama lain dan menggeleng.


"Kita harus memeriksanya, indra perasa Kashel tidak bisa diremehkan." Chain terlihat sangat yakin.


"Hmm, aku bukan anjing pelacak loh." Kashel tiba-tiba berbicara seperti itu karena memiliki indra yang berbeda dari temannya, Kashel seperti merasa jadi anjing pelacak karenanya.


"Kapan aku bilang kalau kau anjing pelacak hah?" Chain berkata dengan nada sedikit kesal.


"Tidak ada sih," Kashel berucap santai.


"Sudahlah tidak usah berdebat. Kita harus mencari energi gelap samar itu. Ke mana arahnya?" Erphan melerai keributan yang dibuat oleh rekan-rekannya.


"Energi ini terasa di sekitaran rumah pak Arsan." Mereka bertiga langsung bergegas kembali.


Saat sampai di gerbang rumah pak Arsan mereka tidak menemukan apa-apa malam itu tampak tenang.


"Apa benar di sini Kashel?" tanya Chain tidak yakin.


Kashel merasa energi gelap itu bercampur dengan energi sihir warga desa ini sehingga tidak terasa dan energinya menyebar di sekitaran rumah pak Arsan. Hanya Kashel yang bisa merasakannya.


"Energinya bercampur." Ujar Kashel mereka bertiga bersama mengelilingi rumah itu, meskipun Kashel sudah dibebaskan oleh Lyam tapi teman-temannya tetap berinisiatif untuk menjaga Kashel jika tiba-tiba ada bahaya.


Di belakang rumah yang ditumbuhi banyak pohon-pohon hutan. Kashel merasakan energi cukup kuat dari sana.


"Chain kau merasakannya? Ada orang yang sedang bertarung di sana." Ujar Kashel dan Chain mengangguk, ia sekarang merasakannya juga. Tidak lama Erphan muncul.


BOOM!


Suara ledakan besar membuat mereka bertiga terbelalak kaget dan langsung menuju lokasi keributan.


Di situ mereka bertiga melihat Leon yang sedang bertarung dengan pria berjubah. Tempat mereka bertarung telah membuat lubang yang cukup besar mungkin berdiameter kurang lebih seratus meter.


"Kekuatannya yang sangat besar." Ujar mereka bertiga.


DEG!


Kashel memegang dadanya nampak terkejut.


"Kau kenapa Kashel?" Erphan panik begitu juga Chain.


"Jangan khawatirkan aku, Lyam sedang mendapatkan serangan kegelapan sepertinya. Lyam sialan itu, kenapa tepat di saat seperti ini." Kashel tertunduk berusaha mengendalikan diri.


Kashel sebenarnya menerima dua tekanan yang membuat dirinya sedikit kebingungan juga. Entah dari mana asalnya tekanan yang satunya itu, Kashel hanya bisa berusaha menenangkan apa yang ada di dalam dirinya saat ini.


.


.


.


Leon tampak kewalahan karena menghadapi pria berjubah itu, musuh memiliki kekuatan gelap yang tidak begitu terasa. Lebih kepada seperti energi sihir milik Kesatria Penjaga Batas umumnya.


Roh pelindung Leon yang merupakan wujud dari naga air berusaha melindunginya dari serangan yang bertubi-tubi.