The Borders

The Borders
Bagian 123 – Ada Roh Kegelapan Di Reruntuhan



Benar saja saat mereka melangkah lebih jauh lagi, air mulai berkumpul mengelilingi mereka dan kemudian berubah menjadi jarum-jarum es yang tajam dan runcing.


BLING!


CLING!


CLING!


Suara jarum air hancur saat terkena mantra pelindung.


"Belum apa-apa air sudah semerepotkan ini." Gumam Kashel memperhatikan air di sekitarannya yang bukan membantunya malah seperti mengancamnya, air di sekitarannya sekarang malah menjadi duri-duri, begitu juga kemampuan elemen air Lyam, dan Dirga. Tidak lama setelah Kashel dan kawan-kawannya mencapai sebuah gerbang raksasa air di sekitaran Kashel, Lyam, dan Dirga menyerang mereka bertiga bahkan Anna dan Luan menyingkir karena serangan itu cukup kuat.


"Tempat ini ternyata ingin membunuh pemilik elemen air agar tidak ada lagi yang bisa melanjutkan perjalanannya." Ujar Luan menebak.


Akhirnya karena sudah menunggu cukup lama tapi serangan tidak berhenti, Lyam menggunakan kemampuan mengendalikan air untuk mengendalikan balik air yang menyerang mereka.


Elemen sihir angin Anna saat ini tidak efektif menghalaunya karena sihir elemen air itu cukup kuat akibat efek dari  batu sihir.


Sementara Lyam mengendalikan air di sekitar agar tidak menyerang mereka. Kashel dan Dirga mencari gerbang reruntuhan yang akan mengantar mereka ke lokasi selanjutnya.


Saat melihat simbol yang sama dengan sebelum mereka masuk kemari, Kashel langsung melukai tangannya dengan jarum es yang ia buat dan meneteskan darahnya ke simbol itu. Lagi-lagi energi sihir Kashel diserap, membuat Kashel tersentak kaget, tapi karena energi sihir Kashel yang besar itu begitu berarti apa-apa.


Tanah bergetar. Serangan air itu terhenti tapi volume air mulai meningkat dengan cepat, buru-buru mereka semua melewati gerbang yang terbuka dan masuk di sebuah ruangan penuh dengan sisik ikan dan gerbang di belakang mereka tertutup sempurna. Di tengah ruangan itu ada sebuah kolam.


"Apakah tempat ini adalah kolam santai para bangsa duyung? Untuk ukuran mereka, mereka punya peradaban yang cukup maju jauh dari apa yang aku pikirkan." Ucap Anna ingin menyentuh salah satu sisik duyung yang menurutnya sangat menarik.


"Jangan!" Luan berteriak dan mengambil pinset lalu memasukan sisik duyung itu ke dalam botol khusus miliknya.


"Sisik duyung ini beracun dan berbahaya jika disentuh. Jika diolah dengan baik ini akan menjadi obat yang mujarab terhadap luka." Ujar Luan menjelaskan ia mengumpulkan beberapa sisik duyung sampai botol kecil yang ia bawa terisi penuh.


"Hei bocah itu, sepertinya cukup pintar?" bisik Dirga penasaran.


"Kalau boleh tahu berapa umurmu sekarang?" Kashel bertanya sambil berbisik.


"24 tahun kenapa?"


"Yang bocah itu adalah kau bukan dia, selain Lyam. Luan itu adalah anggota tertua di sini." Kashel menjelaskan.


"Hah?! Bocah itu lebih tua."


"Siapa yang bocah!" telinga Luan langsung terangkat mendengar ucapan kaget Dirga, ia paling kesal jika ada orang yang mengatainya bocah.


"Aku tidak tahu, maafkan aku." Dirga melambai-lambaikan tangannya. Luan kemudian melanjutkan penelitiannya.


"Dia benar-benar seperti anak kecil." Ujar Dirga.


SRAT!


Sebuah serangan tiba-tiba datang ke arah Dirga dengan cepat.


Dengan mengayunkan tangannya air menghalau serangan itu dan membuat serangan itu langsung berhenti. Itu adalah sisik duyung yang dikendalikan air kegelapan.


Kashel mendekati Lyam setelah menyadari ada kegelapan. Kashel tidak ingin Lyam lepas kendali seperti sebelumnya jika jauh dari Kashel.


"Kau merasakannya?" tanya Lyam.


"Ada bekas kegelapan di tempat ini dan itu menjadi kuat karena sudah terkurung dengan lama, dan sangat kuat. Kegelapan itu merasakan kehadiran sihir dan tertarik pada kita Lyam." Kashel berbicara memperhatikan sekitar.


Kashel baru menyadari ada banyak sekali kegelapan yang menyelimuti dinding-dinding ruangan itu.


Membuat semua orang nampak terkejut. Badai kegelapan bukanlah tandingan mereka, yang bisa menghadapi badai kegelapan itu hanyalah Lyam dan Kashel.


Kita harus selalu bersama jangan sampai terpencar. Teman-teman Kashel langsung mendekat dan berkumpul.


Namun, tanah yang mereka pijak retak dan membuat mereka terperosok ke dalamnya. Lubang mereka jatuh cukup dalam dan gelap. Tapi ketika sampai di dasarnya cahaya biru itu kembali.


...****************...


Kashel bangun dan merasakan tubuhnya yang lumayan sakit karena jatuh di tempat yang berbatu.


"Hei teman-teman!" panggil Kashel saat melihat sekitarnya tidak ada orang.


"Aku terpencar dengan mereka semua." Kashel panik.


"Kashel, kau tidak apa-apa?" Lyam memasuki pikiran Kashel.


"Aku tidak apa-apa, tapi di mana kau?" tanya Kashel memperhatikan sekitarnya.


"Aku tidak bisa merasakan keberadaanmu Kashel, kegelapan di tempat ini sengaja memisahkan kita, dan ada segel cukup kuat seperti di reruntuhan sebelumnya yang menghalangi kita menggunakan Portal ke lokasi berbeda." Ujar Lyam mengatakan.


Kashel hanya menghela nafasnya. Ia sangat khawatir pada teman-temannya karena tidak bisa menghubungi mereka.


"Aku akan mencari jalan keluar." Ujar Kashel terus berjalan.


"Sebaiknya kau berhati-hati Kashel."


"Paling tidak aku harus menemukan teman-teman dulu, Lyam kau jangan coba-coba melawan kegelapan sendirian." Kashel memperingatkan Lyam.


"Aku tahu, kau juga harus hati-hati jangan sampai terluka."


Mereka berdua saling memperingatkan satu sama lain.


.


.


.


Kashel terus menyusuri lorong sempit di ruangan itu. Kemudian ia terdiam dan membelalak kaget saat melihat ketiga temannya jatuh ke dalam sebuah lubang dan tengah tertusuk bongkahan es tajam di sana. Mata Kashel memanas melihat penampakan itu.


Tubuhnya bergetar karena terkejut. Kashel langsung masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


Tidak bisakah aku bersedih barang sebentar. Pikir Kashel dari belakangnya ia sudah merasa di tatapi mata raksasa.


"Kashel kendalikan dirimu. Maafkan aku mengambil alih penglihatanmu. Tapi apa yang kau lihat itu tidaklah nyata, kendalikan dirimu. Kau tidak boleh mengamuk disini." Ujar Lyam kepada Kashel, hal itu membuat Kashel menjadi sedikit tenang. Lyam langsung mengambil inisiatif saat merasakan tekanan perasaan kalut dari Kashel.


"Apa kau sudah lupa dengan ilusi gua kelelawar?" tanya Lyam, Kashel hanya diam, tapi keadaannya telah lebih baik dari tadi.


Di alam bawah sadar Kashel, Lyam muncul di sampingnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Kashel menatapi Guardian yang menatap The Borders.


"Maafkan aku Kashel tapi aku akan meminjam kekuatan ini, mumpung saat ini aku dalam keadaan sadarku sendiri dan The Borders juga sedang terbangun." Ujar Guardian mengangkat tangannya ke arah The Borders. Karena sangat jarang Guardian bisa memasuki alam bawah sadar Kashel seperti ini dan saat ini ia butuh kekuatan lebih.


Kashel menatapi Guardian heran, dia tidak tahu kekuatan macam apa yang dimaksud oleh Guardian. Kashel ingin melarangnya tapi sudah terlambat kala itu.