
Kashel berusaha membatasi kemampuannya karena itu tidak baik jika digunakan dalam situasi seperti ini, dari tiga lubang yang berada di langit gua itu semuanya mengeluarkan tikus raksasa bermata merah yang langsung menyerang mereka dengan ganas. Tikus ini cukup kuat, karena memiliki kemampuan sihir. Para tikus yang tercipta dari sihir itu sulit dihancurkan karena bisa bangkit lagi.
"Bagaimana? Ini tidak ada habisnya." Ujar Rigel, mereka bertiga sekarang saling memunggungi dalam posisi siap menyerang.
CIIT!
CIIT!
CIIT!
Suara tikus-tikus itu memekakan telinga. Tapi, mereka bertiga berusaha bertahan dan langsung menyerangnya secara bersamaan. Akhirnya setelah beberapa kali bangkit tikus itu kali ini benar-benar hancur. Mereka tidak tahu harus ke mana lagi karena ada tiga cabang yang berbeda.
Mereka tidak bisa memilih dengan cepat ke mana mereka harus pergi karena tempat itu mulai runtuh lagi. Tapi, di tengah kebingungan Rai dan Rigel, Kashel menuntun mereka untuk mengambil lubang yang kedua. Kashel bisa merasakan energi sihir yang menariknya. Rigel dan Rai langsung mengangguk mengerti.
Kashel yang sudah berbeda dari yang dulu sudah pasti akan menuntun mereka ke tempat yang benar dalam keadaan seperti ini.
Mereka menyusuri lorong itu dan akhirnya sampai pada batu elemen sihir yang tegeletak rapi. Di tengah sumber mata air. Batu itu bercahaya kecoklatan meskipun ada kabut tebal yang menutupinya.
"Benda itu yang kita cari?" tanya Rigel menunjuk batu itu.
"Tu-tunggu dulu jangan menyentuh kabut ini. Sepertinya beracun." Ujar Kashel menghentikan langkahnya. Ia menaruh jarinya ke kabut asap itu yang hanya menyelimuti ruangan di depan mereka. Ujung jari Kashel langsung terluka rasanya seperti ada pasir yang memasuki ujung pori-pori jarinya. Kashel langsung menariknya ujung jarinya meneteskan darah segar karena hal itu, tapi sembuh pula dengan cepat.
"Kabut ini berbahaya." Gumam Rai, Kashel hanya meringis karena sakit.
"Pedang cahaya!" pedang keluar dari telapak tangan Kashel.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang Kashel?" tanya Rai.
"Kalian ikut aku, aku akan menggunakan elemen angin untuk menyingkirkan kabut ini. Setelahnya kita akan langsung keluar dari gunung ini.
"Angin!" Kashel langsung melompat ke atas Brandon dan kedua temannya mengikutinya melesat ke sana dengan cepat, ke arah batu yang berada di tengah kolam Kashel langsung menebas batu sihir itu dan menghancurkannya.
Kashel, merasa petualangannya kali ini tidak begitu sulit. Batu sihir itu tidak membuat jebakan begitu banyak, mungkin karena batu sihir tersebut belum sepenuhnya kuat karena masih mengumpulkan energi alam.
Tempat itu runtuh dengan cepat tapi dengan cepat pula Kashel membuka portal dan mereka bertiga langsung muncul di kaki Gunung Khayalan. Betapa terkejutnya Kashel tempat itu di selimuti oleh kegelapan, kegelapan juga langsung mengepung Kashel dan Kashel langsung menjauh dari teman-temannya membuka portal dan langsung mengirim Rigel dan Rai ke hutan rahasia.
"Jangan cari aku!" teriak Kashel sebelum teman-temannya menghilang.
Kashel berusaha membebaskan diri dengan menebas energi gelap itu dengan pedang cahaya dan membuat kegelapan itu lenyap, gempa kemudian terjadi beberapa saat tidak cukup kuat akibat batu sihir yang dihancurkan tadi.
Kashel terengah-engah karena serangan kegelapan tiba-tiba tadi. Tidak lama portal muncul di sekitar sana.
Bagaimana mungkin Lyam menemukanku di sini? Apa karena sihirnya terhubung kegelapan. Batin Kashel ia melompat menjauh, ia berpikir untuk lari sekarang tapi ia terkepung, belum lagi Lyam bisa mengimbangi kekuatan Kashel.
"Cih!" Kashel mendecak kesal. Mereka menggunakan mantra penyegel saat Kashel akan menggunakan portal kabur. Kashel tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku akan kalah jika seperti ini, Kashel melesat. Ke penghalang itu dan berniat untuk menghancurkannya kabur. Tapi karena banyak yang menghalanginya Kashel gagal menghancurkan penghalang itu dengan sekali tebas.
Tidak ada yang bisa Kashel lakukan lagi karena Lyam tentu saja langsung berada di belakang Kashel juga.
Sial aku belum bisa menggunakan portal karena sihirku dalam keadaan tidak baik.
Lyam muncul di hadapan Kashel dan ingin melumpuhkannya dengan pedang kegelapan. Kashel dengan cepat menghalau pedang kegelapan, dengan pedang cahaya tapi karena tidak biasa menggunakan sihir angin sekaligus sambil bertarung, Kashel jatuh ke tanah dan pedang cahayanya menghilang dari tangannya.
Kashel terluka, tapi ia berusaha bangkit. "Tameng tanah!" Kashel bersembunyi saat Lyam mendekatinya. Dengan mudahnya Lyam menghancurkan tameng tanah itu.
Kashel langsung melesat berlari lagi, tapi tanpa Kashel sadari ia terkena serangan bayangan dan terikat di pohon terdekat. Itu adalah Freda yang menyerangnya.
Kashel terengah-engah karena telah banyak mengeluarkan energi sihir, sedari tadi Kashel tidak pernah beristirahat sama sekali dalam menggunakan sihirnya. "Lepaskan aku!" marah Kahsel meronta-ronta.
Lyam datang menghampiri, makhluk itu tidak pernah mengengatakan apa pun semenjak berpihak pada kegelapan.
"Setidaknya katakan sesuatu Lyam sialan!" Kashel terus mengumpat Lyam yang membawa asap kegelapan dan menelan Kashel pada akhirnya.
Apa aku kalah. Pikir Kashel ia tersenyum miris. Kashel merasa perasaan tidak nyaman dalam tidurnya dan ia kemudian bangun dalam kegelapan.
"Aku tidak tahu lagi, apa yang harus kulakukan." Kashel menarik nafasnya pasrah.
Ketakutan, kegelapan, kebencian. Terasa memasuki perasaan Kashel. Tapi Kashel tidak tahu harus bersikap seperti apa, perasaan itu hilang dan timbul. Mungkin karena kemampuan alami Kashel yang bisa menetralkan sihir hitam membuatnya bisa menangkis perasaan tidak alami itu. Perasaan alami yang melekat di hati Kashel adalah kebahagiaan bersama dengan teman-temannya yang berharga.
"Sekarang Guardian ada dipihak kita." Kashel mendengar seseorang berbicara.
"Apa sebenarnya hubungan pria ini dan Guardian?" tanya pemuda lain.
"Sebaiknya kita tidak perlu tahu banyak jika ingin hidup lama, kita hanya perlu menikmati hasilnya saja setelah dunia ini berada di genggaman kegelapan."
Apa orang-orang ini bodoh, entah pengaruh apa yang sudah ditanamkan di otak mereka, mereka pikir dengan kegelapan berkuasa mereka akan jaya, heh tidak semudah itu Tuan, anda akan jadi salah satu tumbal mereka. Batin Kashel ingin sekali ia mengumpat.
Eh tunggu dulu, aku ini sadarkan. Mungkin karena pengaruh kegelapan yang terus menerus membuat Kashel terbiasa menanganinya.
"Mantra pelindung." Gumam Kashel menyingkirkan kegelapan yang mempengaruhinya.
Astaga Lyam, pasti tahu. Pikir Kashel lagi. Cepatlah pulih, Kashel memaksa sihir regenerasi dan memperkuatnya.
Kashel merasa ada portal yang terbuka tapi Kashel membuka portal juga di belakangnya dan langsung melarikan diri. Saat Lyam sampai di sana Kashel menghilang.
"Ampuni kamu Guardian!" kedua penjaga itu memohon ampun.
Lyam langsung menghabisi para penjaga yang tidak becus menjaga Kashel yang masih dalam proses dikuasai oleh kegelapan.
Kashel yang baru muncul dari portal entah di mana langsung tertunduk, ia melihat apa yang dilakukan oleh Lyam, sesaat Kashel tahu apa yang dilakukan Lyam.
"Sialan!" umpat Kashel melihat hal itu, Kashel merasa membunuh orang dengan tangannya sendiri.
Kashel tersungkur. Ia juga masih dalam keadaan pengaruh kegelapan saat ini.