The Borders

The Borders
Bagian 114 – Pasangan yang Di Takdirkan



Ah, aku lupa bertanya namanya siapa. Batin Grizelle baru ingat.


"Sudahlah, lagi pula mungkin tak akan bertemu lagi." Grizelle bergumam lagi, sambil melanjutkan perjalanannya.


Saat itu Grizelle tidak memikirkan bahwa Kashel yang akan ditakdirkan untuknya. Grizelle menganggapnya mereka hanya tidak sengaja bertemu dan tidak akan pernah bertemu lagi.


Divisi Batas Senja mulai berdiri, Kashel dan Lyam sudah menemukan beberapa orang saat itu.


Hari itu, Kashel baru kembali dari tugasnya bersama Lyam dan ia tengah duduk di tengah taman saat itu sambil menelungkupkan dirinya di meja, Lyam hanya mengawasi Kashel dari jauh.


Di tempat itu ada satu dua orang yang lewat, lalu biasanya singgah karena ada yang berjualan martabak asin di dekat situ. Kashel sedang kelelahan dan merasakan perasaan tidak nyaman karena menggunakan kekuatan sihirnya. Kashel ingin berhenti menggunakan sihirnya.


Grizelle tidak sengaja juga duduk di seberang kursi yang Kashel duduki. Dan ia makan martabak yang ia beli dengan santainya.


Kashel yang mencium bau-bau sedap di depannya, membuatnya mendongak untuk melihat siapa yang duduk di situ.


Grizelle tidak tahu siapa itu karena Kashel mengenakan jaket dan menutupi kepalanya.


Saat Kashel mendongak ia melihat Grizelle yang sedang asik mengunyah makanannya dengan santai, Kashel memperhatikan Grizelle yang sedang makan. Kashel kemudian membuka tudung jaketnya. Saat melihat gadis itu, Kashel merasa perasaan di dadanya menghangat Kashel merasa tenang karena ia merasa kembali kepada dirinya semula.


Grizelle menatap ke arah Kashel dan kemudian ia tersenyum lagi, merasa tidak sengaja bertemu dengan Kashel.


"Kita bertemu lagi." Ujar Kashel, Grizelle terkekeh mendengarnya.


"Kau mau?" tawar Grizelle pada Kashel.


"Terima kasih." Kashel tersenyum ramah pada Grizelle.


"Kenapa kau jalan di malam hari seperti ini Grizelle?" Kashel bertanya.


"Aku baru pulang kerja." Grizelle menjawab pertanyaan Kashel.


"Pasti melelahkan ya." Kashel menanggapi Grizelle.


"Lumayan sih." Ujar Grizelle menatap ke lain arah.


"Ah waktu itu aku belum memperkenalkan diri, Kashel. Erza Kashel Kendrick adalah namaku." Kashel memperkenalkan namanya langsung.


"Kashel ya, salam kenal." Ujar Grizelle tersenyum ramah.


...****************...


Hari demi hari Kashel dan Grizelle semakin dekat dan sering bertemu entah tidak di sengaja atau Kashel menunggunya dengan sengaja di pinggir jalan kantornya.


Grizelle tidak masalah dengan hal itu. Grizelle adalah gadis yang terbuka dan mau mengakrabkan dirinya pada Kashel.


Akhirnya setelah semakin dekat dengan Kashel, Grizelle mendengar semua hal tentang Kashel dari mulut Kashel sendiri, siapa dia dan bagaimana dia. Kashel terlihat sangat menahan kesedihan saat menceritakan hal itu tapi ia tetap ingin berbagi kepada Grizelle ia ingin Grizelle tahu semuanya, bersamaan dengan itu Grizelle juga menceritakan semua tentang dirinya. Mereka belum saling mengungkapkan perasaannya saat itu.


.


.


.


"Grizelle aku mencintaimu, mungkin kau akan menolakku karena aku tidak pantas untukmu yang bisa membahayakan dirimu, tapi aku tetap ingin bersikap egois tentang perasaanku padamu." Kashel langsung berbicara lantang di depan Kashel. Grizelle terdiam sejenak tampak terkejut tapi raut di wajahnya juga senang.


"Aku juga mencintaimu Kashel." Grizelle berkata dengan yakin menatap Kashel dengan tatapan tegas.


"Tapi aku akan membahayakan dirimu, apa kau yakin?" Kashel tidak ingin Grizelle dalam bahaya sesungguhnya tapi ia tidak bisa menahan perasaannya.


"Aku tidak masalah, meskipun berbahaya aku akan tetap mencintaimu. Tapi spertinya kamu yang tidak yakin." Grizelle berucap murung.


GREB!


Kashel langsung memeluk erat Grizelle.


"Terima kasih karena mau menerimaku yang seperti ini." Kashel tidak tahu harus berbuat apa saat tiba-tiba dipeluk seperti itu.


"Kashel dengarkan aku, meskipun aku bukanlah seorang pahlawan, atau mungkin hanya seorang yang perlu perlindungan dari seorang pahlawan. Jika aku dibutuhkan untuk menolong orang lain, maka aku akan menolongnya. Meskipun aku hanya bisa memberikan bahuku padamu, hanya untuk sekedar bersandar menenangkan diri. Aku akan tetap mendukung dan menerimamu selama kau membutuhkanku." Grizelle berkata demikian sambil membalas pelukan Kashel.


"Tentu saja, tolong jaga aku." Ujar Grizelle menautkan tangannya pada tangan Kashel.


.


.


.


Hari bahagia yang dicari Kashel, benar-benar ia dapatkan sekarang, ia sangat bahagia karena tahu adiknya tidak membencinya sama sekali.


Ditambah ia sekarang sudah memiliki keluarganya sendiri yang harus ia jaga mulai sekarang. Tapi takdir Kashel tidak akan semudah itu, kebahagiaan tentram yang dicarinya masih jauh untuk dicapai.


.


.


.


Kashel dan Grizelle keluar kamar bersama, tampak seperti orang yang sedang malu-malu pagi itu. Mereka berdua tampaknya baru saja selesai mandi.


Teman-teman Kashel menatapi mereka yang dengan tatapan menggoda. Lyam tidak mengerti kenapa dua orang itu memerah wajahnya, semenjak Kashel menikah. Lyam tidak diperbolehkan oleh Kashel memasuki kamarnya seenaknya, tentu saja.


"Ekhm!" Luan pura-pura batuk dengan disengaja menghilangkan kecanggungan pagi itu.


"Kalian itu, sudah seminggu bersama masih memasang wajah seperti pengantin yang baru saja menikah kemarin. Kami butuh sarapan." Luan menggerutu meminta sarapannya setelah lelah bekerja.


"Fufufu, masih mending sekarang. Tiga hari pertama mereka menikah mereka bahkan tidak keluar kamar sama sekali, pasti mereka sedang sibuk ber–." Kata-kata Rigel terputus saat Kashel melemparkan bantal sofa ke wajahnya.


"Hei, apa-apaan kau Kashel!" Rigel malah mengomel tidak terima.


Mereka berdua tidak keluar kamar seharian bukan karena asik tidur bersama, tapi menahan malu. Agar wajah mereka yang malu-malu tidak dilihat oleh orang lain.


Kashel dan Grizelle bahkan memasak pagi-pagi buta untuk sarapan teman-temannya karena sangat malu untuk dilihat mereka semua.


Hari ini cuti Kashel telah berakhir, ia harus mulai bekerja lagi sekarang.


KRIIIING!


Ponsel Kashel berbunyi nyaring.


"Yo, ketua Divisi Batas Senja yang baru saja habis berbulan madu." Rai berbasa-basi.


"Tidak usah bertele-tele." Ujar Kashel ingin ke intinya saja.


"Sesuai janjimu akan melakukan tugas yang kusuruh karena sudah diberikan cuti menikah. Jadi kau–."


DUAR!


Ledakan besar terdengar di halaman kantor pagi itu langit di sekitaran Divisi Batas Senja menggelap. Sehingga banyak Roh Kegelapan yang muncul. Portal Perbatasan besar muncul di sana. Bahkan sinyal telpon menghilang, sambungannya terputus.


Kashel tertunduk karena merasakan kegelapan yang cukup kuat dan hancurnya penghalang-penghalang yang dibuatnya untuk menjaga wilayah kantor itu. Ponsel di tangannya pun jatuh terlepas.


"Kashel kau tidak apa-apa?" Grizelle khawatir pada Kashel, sepertinya di antara semuanya hanya Grizelle yang tidak terpengaruh oleh energi gelap itu sama sekali.


WUUUS!


Angin kencang masuk ke dalam ruangan membuka pintu yang tidak rapat sama sekali. Grizelle ia merasa berada di tempat yang berbeda sekarang. Lyam tampak sudah dikerumuni oleh kegelapan di lantai dua ruang kerjanya. Sedangkan yang lainnya langsung berlari keluar halaman dan menghadapi Roh Kegelapan yang tiba2 sudah mengepung kantor mereka.


"Grizelle tolong bawa aku ke Lyam." Kashel merangkul Grizelle, kegelapan itu terlalu pekat bahkan untuk Kashel bergerak. Jika ia dulu Kashel akan terdiam kesakitan karena tidak tahan akan rasanya. Tapi tidak dengan sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Karena bukan hanya sekali ia merasakan hal yang sama.


"Umm, baiklah." Grizelle langsung memapah Kashel tidak banyak bertanya, sementara teman-teman Kashel yang lain sibuk menghadapi Roh Kegelapan sehingga mereka ditinggalkan berdua saja.


"Grizelle awas! Pedang cahaya." Kashel terlambat mengeluarkan pedangnya karena serangan kegelapan itu datang dengan cepat.


"Grizelle!" teriak Kashel, Grizelle dengan sengaja menjadikan tubuhnya tameng. Saat merasakan ada sesuatu yang datang mengarah ke arahnya dengan cepat, ia tidak tahu apa itu karena tidak melihatnya tapi tubuhnya refleks untuk melindungi Kashel saat itu.