The Borders

The Borders
Bagian 25 – Jatuh Sakit



Orang tua, entah apa itu bagi Kashel. Kashel cuma tahu ia ada di dunia ini karena mereka. Namun, meskipun begitu jika itu di usianya yang sekarang jika orang tuanya sedikit perduli padanya, Kashel mungkin akan tetap merasa senang.


.


.


.


"Apa maksudmu?" Kyler bertanya pada Luan.


"Kau pikir orang yang punya segala-galanya itu pasti hidup bahagia?" Luan bertanya pada Kyler.


"Tidak, jika kau berpikir seperti itu pikiran milikmu itu terlalu polos dan cuma tahu enaknya saja. Kashel tidak seperti itu, hidupnya mungkin lengkap segalanya ada. Tapi tidak ada kasih sayang untuknya." Luan menjelaskan apa yang dia tahu.


"Jadi pikirkan, apa untungnya hidup serba ada tanpa tahu kasih sayang?" Jelas Luan kemudian pergi meninggalkan Kyler yang diam mematung.


Kyler merasakan hal itu, meskipun singkat kebersamaannya waktu yang ia habiskan dengan keluarganya begitu berharga. Walaupun kehidupannya sederhana dan serba pas-pasan. Tapi dipenuhi oleh kehangatan dan kasih sayang, meskipun pada akhirnya ia tidak bisa merasakannya lagi.


.


.


.


Kashel telah menyatakan dirinya berdamai dengan masa lalunya, jika itu menyangkut tentang orang tuanya, Kashel masih mengharapkan dapat merasakan kasih sayang dari mereka, karena mereka masih ada untuk bisa setidaknya memperdulikan keberadaan Kashel.


Dari dulu Kashel hanya bisa melihat orang-orang yang begitu disayangi oleh orang tua mereka, Kashel masih sering mengharapkan hal itu tetapi ia tidak pernah mendapatkannya.


Namun setelah meninggalkan semua yang ia miliki dari kediaman utama, Kashel akhirnya bisa mendapatkan beberapa hal yang ia inginkan. Teman-teman dan orang yang ia sayangi, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa bahagia dan akan terus menjaga kebersamaan itu, meskipun harus dibayarkan dengan keegoisan dari dirinya.


Mungkin hal itulah yang akan menjadi kelemahan Kashel pada akhirnya. Karena sedari masih muda ia sangat haus akan kasih sayang dari seseorang yang kemudian seharusnya karena takdir yang ia terima tidak mengharuskan mendapatkan semua yang ia inginkan.


Namun, meskipun begitu semua teman-teman Kashel tetap mendukung semua keputusan Kashel dan setuju bersamanya. Terutama Grizelle, wanita itu tidak akan pernah perduli apa yang akan terjadi kedepannya dan kepada Kashel, ia akan tetap selalu ada di sisi Kashel. Ditambah dia telah mengetahui semuanya.


.


.


.


Setelah itu Kyler tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Luan. Teman-teman Kashel tidak ada yang tahu pasti bagaimana kehidupan Kashel dulu, tapi Luan dan Rigel adalah orang-orang pertama yang mengetahui sifat Kashel yang tidak tahu apa-apa tentang kasih sayang meskipun ia tidak menjelaskannya secara jelas.


Dengan hanya melihatnya, Luan dan Rigel bisa paham tentang Kashel yang terlihat kebingungan ketika mendapatkan kebaikan dari orang lain.


Terutama Rigel yang pernah melihat betapa kasarnya orang tua Kashel padanya sampai Rigel pasang badan untuk melindungi Kashel, membuat Rigel berjanji untuk menjadi kaki tangan pemuda itu.


.


.


.


"Kashel kau tidak apa-apa?" tanya Freda yang melihat wajah Kashel sepertinya sangat lesu.


"Aku baik-baik saja, kurasa." Jawab Kashel tidak yakin. Kashel memang merasa ada yang aneh pada dirinya, tapi ia tidak begitu perduli akan hal itu. Karena ia merasa baik-baik saja.


"Kenapa wajahmu pucat seperti orang sakit?" tanya Freda lagi, Kashel terlihat kebingungan.


Setelah itu Kashel memegang dahinya yang ternyata mengalami demam tanpa ia sadari. Ia merasa memang kurang enak badan setelahnya. Lyam yang menyadari hal itu langsung mengambil tindakan.


"Sebaiknya kau beristirahat Kashel," Lyam berucap di dekatnya.


"Aku pikir jika sudah jadi bagian dari The Borders, aku tidak akan jatuh sakit lagi." Gumam Kashel.


"Bukankah seharusnya kau senang. Kau masih bisa sakit berarti kau masih manusia yang seperti kau inginkan." Lyam berucap, karena tanggapan aneh Kashel.


"Tentu saja aku senang. Tapi aku masih baik-baik saja Lyam. Aku masih ada pekerjaan sekarang ini." Kashel terbiasa memaksakan dirinya ketika ia jatuh sakit seperti sekarang.


Dari dulu meskipun jatuh sakit, selama ia masih bisa bangun Kashel selalu dipaksa untuk melakukan apa yang keluarganya inginkan padanya. Kashel tidak bisa menolaknya atau ia akan dihukum. Jadi ketika ia mengalami demam seperti sekarang, ia tidak begitu sadar jika ia sedang sakit karena seperti telah terbiasa. Selain orang lain yang menyadarkannya.


Teman-temannya yang lain terus mengingatkan Kashel untuk beristirahat, tapi Kashel tidak menghiraukannya. Di kepalanya telah tertanam pemahaman terus melakukan aktifitas ketika ia sedang sakit, agar cepat sembuh.


"Kashel kau harus dengar, istirahat lah sekarang!" Luan memarahi Kashel yang seperti itu, memaksanya beristirahat dan minum obat ketika Luan telah memeriksanya.


"Jika aku beristirahat aku akan lambat sembuhnya." Jelas Kashel.


"Pemikiran dari mana itu, kau itu demam dan butuh istirahat. Kau harus segera istirahat agar cepat sembuh, di sini bukan tempat untuk membuatmu tersiksa Kashel." Luan menceramahi Kashel seperti orang tuanya.


Akhirnya Kashel mau menurut dan mendengarkan Luan yang seorang dokter. Luan memeriksa keadaannya, demam Kashel saat itu cukup tinggi dan setelah meminum obat Kashel tertidur.


Namun setelah tiga hari, demam Kashel tidak turun juga. Kashel kemudian kembali lagi ke pemahaman awalnya, ia harus banyak bergerak untuk cepat sembuh.


Tapi Luan menyarankan untuk menginfusnya, tapi Kashel tidak mau. Dia lebih menginginkan caranya sendiri.


Lyam tidak bisa banyak protes, apa yang dirasakan Kashel juga ia alami. Aliran energinya terasa kacau di tubuhnya, untuk tidak bertindak di luar kendali. Lyam lebih memilih untuk berdiam diri saja.


Selama waktu Kashel sakit Kashel tetap melakukan pekerjaannya sebagai informan Kantor Pusat, untuk memberitahukan kemunculan Portal Perbatasan ketika portal itu muncul.


Kashel ingin melakukan aktifitasnya lagi setelah merasa sakitnya tidak kunjung sembuh. Namun ia tiba-tiba terdiam seperti terkejut akan sesuatu. Ia merasa di belakang dirinya ada mata raksasa yang tengah menatapnya dengan tajam.


Akibat dari Kashel yang sedang sakit aliran energi The Borders di tubuhnya menjadi tidak stabil juga, dan itu mengganggu ketenangan The Borders yang tertidur di dalam dirinya, sehingga membuat naga itu terbangun dengan paksa.


Kashel langsung tidak sadarkan diri setelahnya, kesadarannya telah ditarik paksa untuk memasuki alam bawah sadarnya. Lyam menyadari bahwa The Borders terbangun, karena pengaruh aliran energi yang tidak stabil.


"Aku kan sudah bilang untuk beristirahat, dan sekarang inilah yang terjadi jika kau memaksakan diri Kashel." Luan membopong Kashel yang tidak sadarkan diri itu.


"Dia tidak akan sadarkan diri selama beberapa hari ke depan." Jelas Lyam tiba-tiba.


"Apa? Kenapa?" Luan terkejut sambil terus berjalan.


"Apa kau tidak merasakannya?" Setelah ditanya seperti itu, Luan baru merasakan ada energi besar yang keluar dari tubuh Kashel. Ia merinding karena hal itu. Semua teman-teman Kashel bahkan menyingkir karena energi itu.


Luan tidak menyadarinya karena sangking terkejutnya melihat Kashel jatuh tidak sadarkan diri.


"Ap-apa yang harus kulakukan?" Luan kehabisan tenaganya untuk bergerak karena, energi besar itu seperti memelototinya dari belakang.


Lyam kemudian mengambil alih membopong Kashel dan membawanya ke ruang perawatan. Luan sepertinya masih ketakutan karena merasakan energi besar itu.


Kashel benar-benar manusia berbeda baginya, energi sebesar itu bahkan tidak membuat Kashel mati karenanya.


Kashel terlihat mengeluarkan banyak keringat seperti panik akan sesuatu. Lyam sudah menekan energi milik Kashel agar tidak menakuti teman-temannya yang lain. Akhirnya Luan bisa masuk ke ruangan itu tanpa gemetaran seperti tadi setelah Lyam memanggilnya.


"Aku perlu menginfusnya," kata Luan menyiapkan peralatan medis yang diperlukan, karena jika Kashel tidak sadar beberapa hari ke depan ia juga perlu asupan nutrisi dan obat untuk meredakan demamnya.


.


.


.


.