The Borders

The Borders
Bagian 37 – Keinginan yang Mengundang Kegelapan



.


.


.


"Baiklah teman-teman, sekarang divisi ini bisa mengajukan cuti akhirnya!" Kashel berteriak senang, setelah dua tahun ia harus bekerja banting tulang tanpa hari libur. Karena aturan Kantor Pusat yang tidak memberikan hari libur kepada Divisi Batas Senja.


Tidak seperti divisi-divisi lainnya yang bisa libur di tanggal merah, meskipun begitu orang-orang di divisi Kashel tetap bisa bekerja dengan bahagia dan melakukan aktifitas mereka dengan santai walaupun terasa berat tetapi mereka merasa lebih bebas di sana.


Setelah Kantor Pusat menemukan penemuan alat untuk melacak kemunculan Portal Perbatasan, tidak ada lagi alasan mereka untuk terus mengekang Kashel dalam genggaman mereka. Kashel bebas sekarang seperti pemilik anggota divisi lainnya.


.


.


.


Hari ini anggota Divisi Batas Senja memutuskan untuk liburan ke pantai dan menginap selama seminggu di sana. Berniat menikmati liburan mereka dengan baik, karena ini adalah liburan pertama mereka setelah dua tahun bekerja keras untuk membangun Divisi Batas Senja.


"Akhirnya pantai, aku datang!" Rigel berteriak heboh di jendela mobil yang mereka tumpangi. Mereka menumpangi dua mobil yang berbeda.


Di dalam mobil ini, ada Erphan yang mengendarainya, di samping Erphan ada Luan yang memasang wajah tidak enaknya. Karena tidak diizinkan menyetir mobil.


Ia dianggap anak di bawah umur padahal umurnya lebih tua daripada semua manusia yang ada di dalam mobil itu. Hanya saja Luan lebih awet muda dibanding mereka semua.


Di kursi belakang ada Anna dan Rigel, Anna menahan kesal karena Rigel yang berisik, dan di kursi urutan ketiga ada Chain yang sedang tidur di sana tidak perduli dengan orang-orang berisik di depannya.


Di mobil satunya ada kelompok Lyam, Kashel, Kyler, Freda dan Grizelle.


Kashel duduk di samping Lyam yang tengah menyetir memasang wajah cemberutnya karena tidak bisa duduk di samping Grizelle. Gadis itu sedang sibuk berbincang dengan Freda mereka mempunyai hobi yang sama yaitu membaca buku novel.


Mereka berdua terlihat berbincang asik. Meskipun di masa lalu Freda adalah saingan cinta Grizelle. Tapi Grizelle tidak mau ambil pusing dan tetap menjaga pertemanannya pada Freda.


Grizelle tahu bagaimana rasa cinta Kashel padanya. Seperti sekarang, meskipun Grizelle bukan bagian dari Divisi Batas Senja, Kashel tetap tidak meninggalkan Grizelle sendiri sedangkan dia asik liburan di luar sana.


Begitu juga Freda juga tidak ingin merusak pertemanannya dengan Grizelle karena bagi Freda. Grizelle adalah wanita yang baik bahkan setelah ia ingin merebut kekasihnya dulu. Grizelle tetap memaafkannya, tapi semenjak saat itu Kashel sedikit menjaga jarak dari temannya yang wanita, Freda masih merasa tidak enak hati kadang-kadang.


Di kursi paling belakang ada Kyler yang sedang sibuk memainkan ponselnya, anggota termuda di divisi ini tidak pernah merasakan perjuangan sesungguhnya, bagaimana pegawai divisi pendahulunya yang tidak pernah mendapatkan liburan sama sekali untuk mempertahankan divisi mereka.


.


.


.


Akhirnya mereka sampai di pantai. Kashel melakukan administrasi di sebuah penginapan di pantai itu, mereka akan menginap di sana seminggu ke depan.


Terdapat lorong panjang menuju kamar mereka tempat itu bersih sekali.


"Grizelle aku mau satu kamar denganmu," Kashel mendekati Grizelle dan wanita itu menghentikan tingkah Kashel yang kekanak-kanakan.


"Jangan memikirkan macam-macam ya," Grizelle masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Kashel sendiri di depan pintu tapi belum menutupnya.


Di kamar itu Grizelle sekamar bertiga, tentu saja di situ adalah teman wanitanya Freda dan Anna yang sudah lebih dulu ada di dalam.


"Nanti ayo kita jalan bersama," ucap Grizelle kemudian menutup pintu kamarnya dan membuat Kashel tersenyum senang dibuatnya.


"Oke!" Kashel langsung pergi ke kamarnya sendiri juga.


Kashel tidak perduli, lagi pula kamar itu disediakan kasur bertingkat dua dan Kashel mengambil kasur yang paling atas sedangkan Lyam di bawahnya.


"Tempat ini mengingatkanku pada asrama Akademi Spiritual," Lyam berucap duduk di sofa yang disediakan di kamar itu sambil menatap keluar jendela, yang langsung mengarah ke bibir pantai.


"Jangan mengingatkanku padahal yang membuatku kesal Lyam," Kashel berbaring memiringkan badannya ke dinding bermaksud ingin istirahat sebentar. Ia sekarang tidur di ranjang tingkat dua kamar itu.


"Aku penasaran apakah kau marah saat itu?" Lyam bertanya lagi.


"Bukannya marah atau kesal padamu, aku malah takut. Makhluk bukan manusia sedang mendekatiku itu benar-benar gila." Kashel meluruskan badannya menatap langit ruangan itu.


"Jika aku tidak merasakan perasaanmu sebagai manusia Kashel, waktu itu aku sudah menjadikanmu wadah jiwa tanpa pikir panjang.


"Kau harus tahu waktu itu aku hanya memberikan waktu untuk kau menikmati, waktu sebagai manusia normal yang kau inginkan." Jelas Lyam selama dua tahun ini Lyam baru pertama kali menjelaskannya pada Kashel.


"Kau benar-benar gila, sungguh keterlaluan." Kashel tidak tahu harus mengatakan apa lagi mendengar pernyataan Lyam.


Kashel memejamkan matanya, ia kemudian menutupi wajahnya dengan lengannya. Menyadari bahwa Lyam sudah menandainya sejak awal.


Kashel ingat dengan jelas betapa takutnya dirinya karena ulah Lyam saat itu, mengetahui dia bukan manusia dan Lyam malah mendekatinya. Kashel ketakutan setengah mati, sampai pada akhirnya ia berani mengusir Lyam untuk menjauh darinya. Tapi itu sudah tidak berlaku lagi, Lyam dan ia sudah terikat sejak saat itu.


.


.


.


Setelah beristirahat sebentar, Kashel bangun dan mengajak Grizelle berjalan-jalan di pantai menikmati pemandangan di sore hari. Mereka berdua menikmati kebersamaan mereka. Ada cukup banyak orang di sana, karena itu merupakan salah satu tempat wisata.


Tapi mereka belum menyadari apa yang akan terjadi di malam hari nanti. Karena suatu sebab Roh Kegelapan merasa tertarik untuk datang dan mengacaukan tempat itu.


.


.


.


Liburan mereka tidak menjadi liburan seperti yang mereka inginkan.


Malam itu setelah makan malam, suasana terasa sunyi. Tapi mereka semua tidak curiga dengan hal apapun.


Mereka berkumpul di sebuah ruangan khusus untuk orang-orang yang datang berkelompok untuk menikmati kebersamaan mereka sejenak, ruangan itu seperti ruang santai. Di sana tersedia televisi untuk mereka tonton.


Hawa mulai terasa dingin, Lyam merasakan ada yang aneh. Ada sesuatu yang mendekat ke arah penginapan itu. Itu adalah energi kegelapan.


Sebenarnya apa yang terjadi tidak bisakah kami menikmati liburan dengan santai. Kashel membatin, ia khawatir pada Grizelle.


Akhirnya Kashel tidak ikut menghadapi Roh Kegelapan itu untuk menjaga Grizelle, lampu penginapan yang tiba-tiba saja padam membuat sekitar menjadi hening.


Semua orang biasa kembali ke kamar mereka masing-masing setelah diminta oleh pemilik penginapan.


Tapi tidak untuk kelompok Kashel, mau tidak mau mereka harus menghadapi energi jahat itu untuk melindungi semua orang.


Kashel berada di samping Grizelle ia tidak mau meninggalkannya. Ia tidak ingin Grizelle ketakutan, karena rasa takut bisa membuat Roh Kegelapan mendekat dan mengambil alih diri seseorang.


"Maafkan aku membawamu ke kekacauan ini Grizelle, aku –" Kata-kata Kashel terputus.


"Kau tidak perlu minta maaf jangan pernah salahkan dirimu, terimakasih telah melindungiku Kashel. Aku tidak akan takut selama kau ada di sampingku." Grizelle memegang erat lengan Kashel, karena ia tidak melihat apa-apa, setelah itu Kashel menyalakan senter ponselnya untuk membantu penerangan mereka.