The Borders

The Borders
Bagian 104 – Jebakan Bertubi-tubi



"Sebaiknya kau tidak boleh banyak meminum minuman energi seperti itu Kashel, tidak baik untuk kesehatanmu." Lyam menceramahinya, Lyam tahu minuman seperti itu juga tidak baik jika di minum dalam jangka waktu yang panjang.


"Tenang saja, aku tidak minum ini terus kok, kita di sini tidak bisa banyak beristirahat. Belum lagi aku tubuhku tidak mempan dengan ramuan sihir. Ini lebih efektif sebagai gantinya." Kashel langsung menghabiskan minuman itu dengan beberapa kali tegak.


"Aku baru bertemu dengan orang berkemampuan sihir yang tidak mempan dengan ramuan sihir." Argai berucap sedikit tertarik mendengar kata-kata Kashel.


"Aku juga tidak tahu kenapa begitu, mungkin aku hanya orang biasa." Ujar Kashel seharusnya semenjak ia bisa sihir, ramuan sihir itu juga seharusnya bekerja padanya tapi tidak. Bahkan energi sihir penyembuh Luan hanya bisa menyingkirkan energi gelap yang mengenai Kashel tidak dengan luka-lukanya.


"Kashelkan memang beda." Kyler menimpali percakapan mereka. Freda terlihat bersantai memulihkan tenaganya. Mereka beristirahat sekitar dua jam di tempat itu. Sebelum melanjutkan penelusuran mereka.


Argai terlihat mencari-cari jalan di ruangan lingkaran itu tapi nihil, ia sudah mengelilingi tempat itu tapi tidak ada tanda-tanda tempat keluar dari sana. Bahkan simbol sihir untuk membuka gerbangnya pun tidak ada.


Kyler yang masih berbaring tidak sengaja memerhatikan langit-langit ruangan. Ia melihat simbol raksasa di atas sana. Simbol api.


"Hei bukankah itu, simbol yang kita cari?" Kyler menunjuk ke arah atas dengan santainya.


"Ah kau benar, itu dia!" Argai langsung mengiyakan saat melihatnya.


"Kenapa tidak kepikiran di atas sana ya." Ucap Freda.


"Apa yang harus kita lakukan untuk ke atas sana?" tanya Kashel.


"Shadow, berubah jadi burung." Perintah Freda yang tenaganya sudah pulih. Kashel lupa jika ada Freda yang memiliki kemampuan mengubah roh pelindungnya menjadi berbagai macam bentuk.


Kashel menaiki Shadow dan diantarkan ke langit-langit ruangan itu. Api di tangan Kashel menyentuh simbol itu dan ruangan bergetar sekali lagi.


Lingkaran itu kemudian memunculkan empat retakan dan dari retakan itu mengeluarkan air panas.


"Astaga ini jebakan lagi."


Semuanya langsung memikirkan cara untuk selamat dari genangan air panas yang semakin tinggi. Freda membuat tangga bayangan untuk mereka  memanjat ke atas. Mereka masih selamat dengan batuan kekuatan bayangan Freda yang berubah menjadi pijakan mereka. Air panas dan mendidih itu semakin tinggi dan akan menenggelamkan mereka berlima.


Namun, hanya Lyam yang tampak tenang dan memeriksa sekitarannya. Dari tangannya Lyam membuat pedang api dan menghancurkan simbol api yang membuat air panas mendidih itu keluar.


Ternyata dari tempat itu ada sebuah lorong muat satu orang untuk berjalan di dalamnya. Dengan cepat saat air mendidih ingin menyentuh kaki mereka, mereka berlima langsung masuk ke dalam lorong itu satu persatu dan air panas itu terhenti meluapnya ketika ruangan barusan telah terisi penuh dengan air mendidih.


"Aku tidak suka tempat sempit." Ujar Kashel berjalan di tempat paling belakang.


KRATAK!


Suara retakan membuat Kashel berhenti merangkak.


Kyler yang berada di depannya melihat tempat yang ia pijak sekarang retak dan rapuh.


BRUAK!


Lantai itu runtuh dan Kyler terjatuh ke dalamnya, Kashel dengan refleks meraih kerah baju bagian belakang Kyler dengan tangan kanannya yang berapi.


"Wah, Kashel panas!" teriak Kyler meronta.


"Diamlah Kyler, lihatlah bawahmu. Aku tidak kuat jika tidak menggunakan tangan kananku untuk menarikmu." Kashel berucap sambil mengerahkan seluruh tenaganya menahan beban tubuh Kyler.


Kyler melihat ke bawah sambil meneguk air liurnya takut, jika jatuh ia akan mati karena di bawah kakinya ada besi-besi panjang tajam yang tampaknya itu adalah besi panas, dan bertahan tergantung di situ ia juga akan mati karena api yang membakar lehernya. Teman-teman Kashel yang lain langsung terlihat panik melihat Kyler yang tergantung di tangan Kashel, beruntungnya pakaian yang dikenakan mereka adalah pakaian sihir yang tidak akan robek jika terkena serangan elemen meskipun tubuh terluka karena serangan elemen sihir.


Freda langsung sigap membantu dan membuat pijakan untuk Kyler sehingga Kashel bisa melepaskannya.


"Aku selamat!" Kyler senang sambil bernafas lega.


"Terima kasih Kashel." Ucap Kyler sambil memanjat kejalur mereka kembali.


"Sebaiknya kau obati luka bakar itu nanti." Ujar Kashel ia malah merasa bersalah dan khawatir melihat belakang leher Kyler yang mengalami luka bakar.


"Tidak apa-apa, nanti aku obati setelah keluar dari lorong sempit ini." Jelas Kyler, biar bagaimanapun Kashel jugalah orang yang sudah menyelematkan nyawanya.


Freda memperbaiki jalan runtuh itu sehingga Kashel bisa melaluinya dengan aman juga. Setelah cukup lama merangkak di lorong sempit akhirnya jalan keluar mereka terlihat.


"Akhirnya!" Kashel berucap senang, akhirnya bisa keluar dari tempat sempit yang ia tidak sukai.


Semuanya hanya diam saja. Semakin dekat dengan jalan keluar itu ada hawa panas yang menyeruak ke arah mereka semua.


Apa lagi kali ini. Batin Kashel merasakan firasat tidak enak.


.


.


.


Lyam lebih dulu keluar dari lorong itu.


"Berhati-hatilah." Ucapnya memperingatkan dari luar dengan suara lantang.


Di luar lorong itu adalah kolam magma seperti kawah gunung merapi.


Ini mengerikan. Freda membatin saat melihat ke arah bawah. Di sana hanya ada tangga setapak pula yang cukup panjang melingkar sampai ke atas. Itu adalah tangga panjang yang cukup melelahkan karena mereka berada di dekat dasar dan cukup jauh jika sampai ujung.


"Apakah aku akan mati di sini, aku baru berencana akan menikah!" Kashel berkata dengan lantang. Saat melihat lahar panas yang ada di bawahnya.


"Kau berencana menikah?" tanya Freda tampak terkejut. Lyam menatap ke arahnya juga.


Mereka baru menyadari ada cincin emas yang melingkar di jari manis Kashel.


"Kashel mau menikah?" tanya Kyler tidak percaya, semua orang tidak ada yang tahu Kashel punya rencana. Teman-temannya pikir Kashel hanya iseng-iseng menggunakan cincin emas beberapa waktu ini, karena kebetulan Grizelle tidak pernah datang ke kantor lagi beberapa waktu itu, jadi mereka tidak bisa memastikan bahwa cincin yang Kashel pakai adalah cincin pasangan.


"Apakah waktunya sekarang membahas itu, nyawa kita dalam bahaya loh jika berlama-lama di sini. Aku tidak bisa mati sekarang." Kashel menjelaskan tidak menatapi teman-temannya yang tampak penasaran, bahkan Lyam terlihat tertarik karena ulah Kashel.


"Kau berhutang penjelasan setelah ini Kashel." Kyler berucap dan mereka semua melanjutkan perjalanan dengan cepat meniti anak tangga itu. Argai yang tidak mengerti apa-apa terlihat hanya diam saja.


Gemuruh terdengar lagi, volume lahar itu mulai naik meninggi.


"Ini mengerikan, padahal kita baru saja mencoba untuk mengambil nafas karena anak tangga yang sangat banyak ini. Malah muncul jebakan lainnya." Ucap Argai terlihat sedikit panik.