The Borders

The Borders
Bagian 127 – Dua Kesadaran yang Menyatu



"Aku tidak mau lagi. Aku tidak kuat." Bahkan setelah diberi obat oleh Luan, Dirga masih merasa pusing dan mual. Bahkan sesaat sebelum tidak sadarkan diri, Dirga merasakan hal yang lebih buruk lagi.


"Tidak apa-apa, terima kasih telah membantuku." Kashel tersenyum membantu Dirga berdiri.


"Apa kau tidak marah?" tanya Dirga.


"Untuk apa? Tugasku adalah melindungi kalian. Aku juga yang membawa kalian kemari." Ujar Kashel ia tidak mau teman-temannya terluka. Tapi ia tidak bisa juga bertarung sendirian jika tidak memiliki tujuan.


Terutama Anna kemampuan anginnya cukup berguna untuk membantu Kashel. Dirga yang mampu mengalahkan Roh Kegelapan kuat tanpa Roh Pelindung sekalipun. Dan Luan yang menjaga teman-temannya. Dalam tugas ini mereka saling melengkapi.


Mereka kembali terhisap kedalam reruntuhan. Tapi kali ini air tidak mengikuti mereka masuk. Seperti ada penghalang yang menghalangi.


Namun, tempat itu memiliki kegelapan yang sangat pekat. Badai kegelapan yang terjebak di reruntuhan itu tinggal di sana.


Air hitam pekat, dan berbau kebencian. Semuanya langsung menutup hidung mereka. Guardian terdiam. Inti hitam yang selama ratusan tahun berdiam di sana itu mempengaruhi pedang kegelapan yang ada di tubuh Guardian. Bahkan kesadaran Kashel ditarik ke dalamnya juga. Karena ini dasar laut pedang cahaya tidak memiliki begitu banyak kekuatan dan melemah.


Saat Guardian dan Kashel terdiam Anna, Luan, dan Dirga bertarung melawan Roh Kegelapan yang haus akan menyerang mereka.


"Hei apa yang terjadi pada mereka berdua?!" tanya Dirga tidak mengerti.


"Kashel dan Lyam perlu waktu untuk bisa sadar kembali sekarang." Luan berkata sambil terus bertarung. Kekuatan cahaya Luan cukup efektif menghancurkan kegelapan pekat itu. Belum lagi kemampuan Luan itu juga satu-satunya yang menjadi penerangan di sana.


"Intinya, kita harus menahan serangan-serangan ini sampai mereka berdua sadar kembali." Ujar Anna terus menghalau kegelapan yang mengerumuni mereka.


"Kenapa aku juga harus dikirim kemari, bagaimana keadaan teman-teman di luar sana?" Kashel panik.


"Hei Lyam!" Kashel berteriak mencari kesadaran Lyam. Saat ini Kashel menjadi jiwa Lyam yang tidak sadarkan diri itu.


Aku tidak bisa seperti ini, ke mana perginya Lyam. Pedang kegelapan sialan.


"Sadaaaaaarlaaah!" Kashel berteriak. Kemudian dia tersadar. Tapi tidak ditubuhnya, ia tersadar pada tubuh Guardian.


Ini gila. Kashel menjadi tambah panik ketika melihat dirinya sedang tertidur tidak sadarkan diri di depannya dan melihat teman-temannya bertarung.


Namun, Kashel tidak bisa meratapi hal itu sekarang, dan kemudian memikirkan untuk mengeluarkan pedang cahaya, tapi yang malah keluar di tangan Guardian atau yang sekarang dalam kesadaran Kashel adalah pedang kegelapan.


Serangan Roh Kegelapan itu terhenti saat Roh Kegelapan menyadari keberadaan pedang kegelapan. Kashel tidak merasakan kebencian saat memegang pedang itu, tapi ia hanya merasa kegelapan meliputi dirinya dan menginginkan untuk bersatu. Teman-teman Kashel telah kehabisan tenaga.


"Guardian, syukurlah ia sudah sadar." Ujar Luan merasa lega. Padahal belum. Anna menyadari pedang yang berbeda dari yang sering di pakai oleh Guardian dan Kashel.


Tangan Kashel yang memegang pedang itu bergetar.


"Te-teman-teman, cepat buat tameng pelindung. Guardian lepas kendali, sekarang!" teriak Kashel dari tubuh Guardian.


"Apakah yang tadi itu Guardian?" tanya Luan.


"Aku merasa mendengar suara Kashel di sana." Ujar Anna, Dirga yang tidak begitu mengenal mereka semua hanya diam saja.


"Sial, hei Lyam, Guardian sadarlah. Kenapa aura membunuhnya sekuat ini sih." Gumam Kashel tidak tahu berbuat apa. Karena Kashel juga merasa diliputi keinginan untuk membunuh, membiarkan dirinya mengikuti nafsunya menyerang apa yang ia lihat di sekitarnya.


"Hahahaha!" tawa nyaring Guardian,  sebenarnya saat ini kesadaran Kashel dan Lyam sedang bersatu. Kashel mengikuti Lyam yang menyerang semuanya termasuk Roh Kegelapan sekalipun. Bahkan ada energi hitam yang diserap oleh pedang kegelapan itu. Jiwa Kashel tampak menahan rasa tidak nyaman sama sekali.


"Aku harus bisa menghancurkan inti kegelapan itu." Kashel menatap ke arah langit-langit ruangan itu.


Namun Guardian malah tertarik dengan tameng bercahaya yang di dalamnya ada tubuh Kashel dan teman-temannya. Saat Guardian berlari ke sana dan ingin menebasnya. Kashel langsung mengendalikan Guardian dan menghentikan serangan itu. Kashel menarik Guardian untuk lebih memilih menyerang apa yang ada di atas langit. Menghentikan tangan Guardian seperti menarik tangannya sendiri.


"Kuat sekali, sepertinya aku harus sering berlatih bertarung dengan Lyam." Kashel kewalahan menangani Guardian. Ia tahu tidak ada cara untuk menyadarkan Guardian selain menghancurkan inti hitam yang mempengaruhinya.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika pikiranku tidak berpindah ke tubuh ini. Aku bisa melihat semuanya dari sudut pandang Guardian. Pikir Kashel, jika ia tidak di dalam kesadaran ini juga, Kashel juga mungkin akan sangat kesulitan menghadapi Guardian.


Karena lepas kendali, akhirnya Guardian benar-benar menyerang inti hitam itu.


Inti hitam itu dihancurkan dengan mudahnya, inti hitam tidak melakukan perlawanan sama sekali, ia memang menunggu Guardian menghancurkan keberadaannya. Sisa dari energi gelap yang kehilangan inti tiba-tiba menyerap ke dalam pedang kegelapan.


"Aaaargh!" Kashel berteriak nyaring, ia kesakitan lagi-lagi tubuhnya dipaksa menetralkan energi hitam. Bahkan mata Guardian menggelap karena pengaruh energi gelap itu.


Di dalam tameng pelindung terlihat tubuh Kashel meringkuk dan mengeluarkan banyak keringat di pelipisnya.


"Lepaskan, aku harus lepaskan pedang ini." Kashel masih bisa berpikir secara rasional. Sedangkan Guardian yang asli malah tertawa girang saat menerima kegelapan itu.


Tangan kanan yang tidak memegang pedang kegelapan perlahan terangkat dengan susah payah dan mencapai lengannya yang di sebelah kiri.


"Lepaskan Lyam bodoh." Kashel melakukan perang batin sekarang. Kashel merasa sekujur tubuhnya sakit tapi ia harus berjuang untuk menghentikan amukan itu agar tidak melukai teman-temannya sebelum dia sendiri kehilangan kesadaran.


Kesadaranku memudar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku membiarkan hal ini. Tapi aku tidak akan menyerah. Kashel mencengkram tangan kirinya dengan kuat. Karena tidak berarti apa-apa, dengan elemen air sisa dari tenaganya ia menusuk tangan Guardian, dengan membekukan air yang ia buat tajam sehingga menembus lengan Guardian, tidak cukup satu Kashel menambahnya sampai lima tancapan. Kashel hanya bisa berteriak kesakitan dalam batinnya.


Pedang kegelapan terlepas akibat luka lengan yang cukup parah diterima Guardian, semua kegelapan langsung lenyap setelah lenyapnya pedang kegelapan itu. Kashel kehilangan kesadarannya kali ini.


Lyam, pakai saja darahku untuk membuka gerbang segel jika diperlukan. Batin Kashel meninggalkan ingatannya di pikiran Guardian. Bahkan di situasi seperti itu Kashel masih memikirkan teman-temannya.


"Apa pertarungannya sudah selesai?" Luan penasaran. Mereka tidak bisa melihat keluar atau mendengar pertempuran di luar karena tameng yang mereka buat cukup kuat, tapi mereka merasa hawa kegelapan memudar.


Guardian tersadar dan mengingat apa yang ia lakukan. Ia melihat pergelangan tangan kirinya yang penuh dengan tusukan es-es runcing seukuran pena. Guardian sadar itu adalah jiwa Kashel yang melakukannya, Guardian sadar dengan apa yang ia lakukan tadi dan mengingat semuanya, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan, keinginannya untuk memusnahkan terlalu besar dan hal itu malah melukai jiwa Kashel pada akhirnya.