
Kashel terlihat berlari ke arah Guardian dan teman kecilnya yang tampaknya lebih muda dari Kashel.
"Maafkan aku Tuan, aku tadi sedang tertarik sesuatu di sana." Kashel yang baru datang langsung duduk di samping Guardian, jika itu orang biasa tidak akan ada yang berani melakukan hal itu. Sebelum Guardian memberikan jawaban atas penjelasannya.
"Sepertinya Tuan sangat dekat dengan anak ini ya, semenjak kematian Rainer." Raut wajah Kashel terlihat sedih ketika ada yang menyebut nama Rainer.
"Kau benar anak ini adalah anak didik Rainer, dan orang yang berharga untukku. Kuharap kau menghormatinya juga Marva." Guardian berkata tegas. Nama lelaki muda itu adalah Marva, itulah yang Kashel tangkap.
"Sesuai perintah Tuan." Tunduk hormat kepada Guardian, kemudian menatap Kashel dengan tatapan cemburu.
"Panggil saja aku Kashel, Marva salam kenal." Kashel berbicara sopan sambil tersenyum ramah, tapi pria muda itu menatapinya dengan tatapan lain.
Tatapannya, dia iri padaku ya. Astaga. Batin Kashel, Kashel sudah tidak heran jika ada orang yang meremehkannya dan ia juga tidak peduli. Marva hanya diam saja sambil mengangguk.
.
.
.
"Tuan bisa beristirahat di kamar ini." Marva menunjukkan kamar tamu yang spesial untuk Guardian.
"Sedangkan pelayan Tuan bisa mengikuti saya, karena ada kamar yang disediakan khusus juga."
"Ada kamar khusus untukku?" Kashel bersemangat, biarpun kecil dan sempit Kashel tidak peduli setidaknya di dalam perjalanan seperti ini, Kashel bisa tidak satu kamar dengan Lyam.
"Tidak dia akan bersamaku di sini." Ujar Guardian, Kashel langsung memasang wajah cemberutnya.
"Tapi saya akan mengganggu istirahat Tuan jika berada di sini juga."
"Benar Tuan." Marva membungkuk hormat membernarkan perkataan Kashel, ia iri jika Kashel terlalu dekat dengan Guardian.
Guardian dan Kashel terlihat beradu pandang dengan pertengkaran batin.
"Kashel kau –."
"Baik Tuanku, sesuai perintahmu." Kashel kalah telak nadanya bicaranya tampak tidak ikhlas, Guardian tahu cara mengancam Kashel.
.
.
.
Setelah itu Marva pamit undur diri kembali ke kamarnya dengan rasa iri.
Kashel mendudukkan dirinya di atas dipan yang sudah disediakan.
"Kenapa tidak membiarkanku tidur di kamar lain sih." Protes Kashel membaringkan dirinya di atas dipan itu.
"Tujuanmu ke sinikan menemaniku agar tidak terpengaruh energi gelap." Jelas Lyam.
"Ya, akukan melakukan ini juga agar kelemahanmu tidak terbongkar Lyam. Aku itu kelemahanmu. Jika banyak yang tahu bukankah akan berbahaya." Kashel menjelaskan alasan lainnya menyembunyikan identitasnya.
"Aku juga tidak bisa membiarkan dirimu dalam bahaya jika tidur di luar jarak pandangku, lagi pula aku tidak peduli jika orang-orang tahu agar kau sedikit tahu diri siapa dirimu sebenarnya." Lyam menatapi Kashel dan Kashel yang tidak ingin tahu diri itu malah membuang wajahnya ke arah lain pura-pura tidak dengar.
.
.
.
"Orang-orang desa ini, apakah orang-orang yang ambisius dengan sihir?" tanya Kashel sambil memejamkan matanya, mereka sudah berhenti berdebat.
"Semua orang di desa ini bersaing untuk menjadi siapa yang kuat. Seperti sekarang Marva adalah pemuda terkuat di desa ini Kashel." Jawab Lyam menjelaskan.
"Pantas saja, energi gelap merasakan keberadaan desa ini dan mengincarnya. Meskipun memiliki pelindung sihir." Ucap Kashel.
"Maksudmu?"
"Kau tidak mengerti ya, rasa iri itu adalah salah satu perasaan negatif dari manusia." Kashel menjelaskan salah satu alasan energi gelap bisa tertarik.
"Menjaga penghalang sihir Kashel, siang malam ia mengerahkan sihirnya untuk menampung orang di desa sihir ini. Tapi hanya ada waktu-waktu khusus agar ia bisa terhubung dengan semua perasaan orang-orang di desa ini, selebihnya ia hanya menjaga penghalang sihir agar energi itu tidak menghilang."
"Dia orang yang hebat. Pasti membutuhkan energi sihir yang sangat banyak untuk membuat penghalang besar." Kashel takjub.
"Orang di desa ini memiliki energi yang besar jika dimaksudkan untuk membuat penghalang, tapi cukup lemah untuk bertarung." Ujar Lyam menjelaskan.
"Tetap saja bagiku dia hebat, sayangnya perasaan manusianya mengundang kegelapan, tapi aku yakin dia pasti bisa mengatasinya jika telah sadar." Kashel tertidur setelah itu. Lyam ia masih tidak begitu mengerti dengan penjelasan Kashel tentang rasa iri.
.
.
.
Siangnya Kashel baru keluar dari kamar mandi dan bersiap sarapan. Namun, di tengah jalan ia di cegat oleh Marva.
Pria berambut hitam berantakkan, dan bermata hijau cerah itu menatapi Kashel tajam.
Dia benar-benar seperti penyihir di dalam cerita dongeng memiliki mata hijau, pikir Kashel. Kemudian mata hijau dan pakaiannya yang serba hitam sampai menutupi kakinya, mengingatkan Kashel pada Guardian yang seperti hantu.
"Kenapa kau menatapi kakiku seperti itu?" tanya Marva agak tegas.
"Um, aku pikir kau berjalan melayang seperti Guardian." Kashel langsung berbicara apa adanya.
"Kau bicara apa, aku manusia tahu." Marva terprovokasi dengan ucapan Kashel ia memperlihat kakinya yang menginjak lantai.
"Tu-tunggu kau bahkan tahu Tuan Guardian tidak menggunakan kakinya untuk berjalan, sedekat apa kalian sebenarnya?" tanya Marva tidak percaya ia merasa sangat dekat dengan Guardian tapi ada lagi yang lebih dekat dengannya.
"Bukan seperti itu, aku juga baru mengetahuinya kemarin malam." Kashel menjelaskan, Kashel dekat dengan Guardian tiap hari, sampai Kashel tidak ingin memperhatikan hal apapun pada tubuh Guardian.
Marva terlihat lega. Mendengar penjelasan Kashel, ia merasa masih menjadi orang paling dekat dengan Guardian.
"Kau apakah sangat mengidolakan Guardian?" tanya Kashel penasaran.
"Tentu saja, orang sekeren Guardian menjaga bumi ini. Aku juga ingin sepertinya, meskipun kemampuanku hanya bisa menjaga desa ini tapi aku senang." Marva terlihat bersemangat.
"Kau keren ya," puji Kashel.
"Tentu saja." Ucap Marva bangga.
Orang-orang yang lebih pantas mendapatkan kekuatan besar ketimbang diriku yang lemah ini. Kashel merasa rendah diri mendengar semangat Marva, bukannya termotivasi.
"Tapi aku tidak suka kau, orang lemah yang mendekati Guardian." Ucapnya membuat Kashel menghela nafas.
"Begitu ya, hahaha." Kashel hanya berbicara canggung, tidak tahu harus berucap apa lagi.
"Sepertinya, kalian berbicara sangat akrab ya?" Guardian berjalan ke arah mereka dan ikut berkumpul bersama mereka.
"Tu-Tuan!" Marva terkejut dan langsung menunduk hormat. Kashel bingung gelagapan dan langsung ikut-ikut saja dengan apa yang Marva lakukan pada Guardian.
Sungguh tidak cocok sama sekali, dia memang tidak pernah tahu cara hormat kepadaku. Batin Guardian memperhatikan Kashel yang menunduk tapi masih mengangkat kepalanya mengintip.
"Sudahlah hentikan, tidak perlu selalu menghormat saat melihatku, apalagi ada orang yang tidak mengerti sama sekali tentang hal itu." Gumam-gumam Lyam dia akhir kalimatnya. Marva hanya terlihat bingung mendengar kata-kata Guardian.
Kashel menahan amarahnya, ia ingin sekali menendang kaki Guardian, yang kemudian ia menyadari Guardian tidak berjalan dengan kaki.
.
.
.
"Ayo sebaiknya kita ke meja sarapan." Ajak Marva, para pelayan menunduk hormat saat kedatangan mereka bertiga, mereka berbisik tentang Kashel yang energi sihirnya tidak terasa sama sekali.
Guardian menyuruh Kashel untuk mewakilinya memakan makanan pagi itu, karena ia tidak memakan makanan manusia. Guardian biasa hanya datang ke tempat makan manusia sebagai penghormatan.
Ia hanya sesekali makan jika wujudnya berubah menjadi bentuk manusianya Lyam, dan wujud itu jarang ada yang tahu jika sebenarnya ia adalah Guardian yang menyamar.
"Aku kenyang, terima kasih atas makanan." Ujar Kashel, kemudian mendengarkan perbincangan serius antara Guardian dan Marva.