The Borders

The Borders
Bagian 76 – Belajar Mengancam



"Hei di mana kau belajar kata-kata seperti itu?"


"Ya kau yang mengucapkannya dan aku belajar darimu." Lyam berbicara santai kemudian duduk di sofa.


Lyam mengetahui kelemahan Kashel, pria itu sangat tidak menyukai kalau Lyam terpengaruh oleh Roh Kegelapan karena ia bisa merasakannya juga. Lyam seperti menemukan kartu As-nya saat mengenal Kashel lebih jauh.


"Kau benar-benar menyebalkan, mengancamku seperti itu." Kashel terlihat menahan kekesalannya, tidak bisa melawan ataupun mengelak itulah yang ia rasakan sekarang.


Apa yang dikatakan Lyam itu tidaklah salah sebab jika Kashel berada di dekat Lyam saat ada energi gelap yang mempengaruhinya itu akan sirna. Kashel punya kemampuan untuk menetralkan energi gelap yang mempengaruhi Lyam dengan cepat.


"Baiklah-baiklah, aku akan ikut. Tapi orang desa di sana, apakah mengenalmu?" tanya Kashel, tugas yang ingin mereka jalani ini di luar wewenang Kantor Pusat, Kashel yang merupakan pemimpin divisi sekaligus kontraktor dari Guardian. Jadi jika Guardian yang membawa keberadaannya pusat tidak bisa menanyakannya, secara Kashel itu adalah tanggung jawab Guardian. Kantor kepemimpinannya akan diambil alih oleh anggotanya yang lain selama kepergiannya.


"Mereka mengenalku dengan baik, tapi mereka tidak tahu jika aku punya orang yang terikat bersama denganku sekarang." Lyam menjelaskan, ia sudah sering rupanya pergi ke desa itu.


"Aku ingin kau tetap merahasiakannya Lyam, aku tidak ingin orang-orang tahu tentang ikatan yang kita miliki."


"Baiklah jika itu maumu." Lyam menurutinya.


.


.


.


"Wah aku tidak percaya Kashel akhirnya mau ikut dengan Lyam." Rigel langsung mengoceh saat mendengar penjelasan Kashel.


"Lyam pasti punya kartu As sampai Kashel mau menurut." Mendengar pernyataan ini dari Erphan Kashel merasa tertohok.


"Ancaman apa yang Lyam berikan pada Kashel sampai Kashel menurut." Mereka semua berani berbicara terang-terangan di depan Kashel, berani berbicara seperti itu karena Lyam tidak ada di antara mereka.


Kashel hanya diam saja, bagi Kashel tidak apa-apa sekali-kali ia ikut bertugas dengan Lyam kali ini, karena tidak tega membiarkan Lyam kesepian sendiri setelah melihat perasaannya beberapa waktu lalu, bisa-bisa apa yang dikatakan Lyam akan benar-benar menjadi kenyataan nantinya. Kashel tidak ingin membayangkan rasa sesak yang mengganggunya ketika Lyam terkena dampak energi kegelapan.


.


.


.


"Bagaimana kau bisa kenal baik dengan orang-orang di sana Lyam?" tanya Kashel menyiapkan barang bawaannya.


"Di sana adalah desa pengguna sihir Kashel. Aku dekat dengan pemimpin desa mereka semenjak dahulu kala.


"Jadi karena desa itu spesial orang-orang di sana menjadi sasaran Roh Kegelapan." Tebak Kashel. Lyam hanya memperhatikan Kashel, tidak seperti Kashel, Lyam tidak perlu untuk membawa barang.


"Iya kau benar Kashel, energi yang dimiliki desa itu menarik kegelapan."


"Di sanakan orangnya punya kemampuan semua kenapa tidak menghadapinya sendiri."


"...." Lyam hanya menatapi Kashel tanpa bicara apapun.


"Kenapa diam, kau mau bilang itu adalah tugas kita dan energi kegelapan itu tidak sepadan dengan kemampuan mereka?"


"Kau sudah tahu rupanya, tidak perlu kujelaskan."


"Benar-benar menyebalkan, asli." Kashel menendang meja di depannya.


"Aw!" rintihnya.


"Kapok, kau sekarang bersikap seperti itu."


"Dari mana kau belajar kata mengejek seperti itu?" kesal Kashel.


"Tentu saja dari kau juga." Jawab Lyam, Kashel tidak tahu harus berkata apa lagi. Lyam saat ini mulai pandai berkata-kata.


.


.


.


Setelah itu Lyam langsung membuka portal menuju desa sihir yang Lyam sebut.


Kashel ia menggunakan kacamata untuk menutupi mata merahnya agar orang lain tidak menyadari kemiripan yang sangat kentara antara dirinya dan Guardian. Kacamata ini hanya kacamata biasa tidak menutup mata batin Kashel seperti kacamata yang sering Kashel pakai.


Kashel takjub setelah sampai di sana, Lyam saat ini berubah wujudnya menjadi Guardian. Kashel sudah lama tidak melihat Lyam berubah dalam wujud itu lagi membuatnya sedikit terkejut.


"Ada apa?"


"Aku merasa seperti berjalan dengan hantu." Jawab Kashel.


"Tidak perlu, nanti tidak ada yang mengenali dirimu. Bisa di tendang kita dari desa ini." Ujar Kashel.


"Trus pura-pura saja ya kalau aku ini, anak buahmu."


"Tapi kau tidak punya sopan santun sama sekali padaku sejak dulu, bagaimana aku mau menganggapmu anak buahku."


"Kau lihatkan apa yang dilakukan orang-orang saat melihatku." Semua orang menunduk hormat kecuali Kashel tentu saja.


"...." Kashel terdiam.


"Baiklah Tuan Guardian, saat ini aku adalah bawahanmu." Kashel menunduk hormat pada Lyam.


"Kalau begitu, aku mau kau membuka kemampuanku yang lainnya." Perintah Guardian seperti menjadi atasan Kashel.


"Dasar, malah ngelunjak!" Kashel terlihat ingin menginjak kaki Lyam tapi dalam wujud itu Lyam melayang seperti roh, tidak ada kaki. Kashel malu sendiri, Lyam hanya menatapinya tidak mengerti.


Apakah aku benar-benar berjalan dengan hantu sekarang. Batin Kashel merasa merinding menutupi wajahnya, setelah 2 tahun mereka terikat Kashel baru tahu jika dalam wujud Guardian, Lyam tidak punya kaki. Karena jubah panjang yang digunakannya.


.


.


.


"Hosh! Hosh! Tangga ini panjang sekali." Keluh Kashel ia tidak kuat.


"Pakai sihirmu Kashel." Ucap Giardian, ia juga jadi lambat menaiki anak tangga ini karena menunggu Kashel.


"Tidak," tolak Kashel.


Kashel saat ini menyembunyikan energi sihirnya sehingga tidak bisa dirasakan orang lain.


.


.


.


Terlihat seorang pemuda seumuran Kashel, dengan tampang sombongnya. Keluar dari gerbang besar yang menuju ke aula tempat tinggalnya.


"Selamat datang Tuan Guardian," hormatnya pada Guardian.


Guardian memasuki gerbang dengan berwibawa, setelah itu Kashel ditinggal di belakang, kehadirannya tidak dihargai sama sekali rupa-rupanya.


Kashel terlihat memasang wajahnya kesal, tapi kemudian ia berbalik menjauh dan lebih memilih duduk kembali di tangga naik menuju gerbang kepala desa itu.


Maksud Guardian ikut tidak menghiraukan Kashel juga, agar Kashel mengatakan yang sebenarnya dirinya siapa, apa hubungannya dengan dirinya seberapa pentingnya dirinya untuk Guardian. Tapi, mustahil Kashel melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya dengan sifatnya yang keras kepala seperti itu.


Aku heran mengapa orang-orang kuat di sini begitu sombong, tidah hanya di sini semuanya sama saja. Apa sih yang mereka sombongkan, pikir Kashel ia malah bersantai di tangga itu sambil menatap langit malam.


Guardian kurang ajar, pasti memiliki rencana lain. Biar aku mengaku adalah masternya, tapi aku tidak peduli lagi pula kekuatan yang aku miliki sekarang ini adalah miliknya, apa yang mau kusombongkan. Pikir Kashel, padahal keberadaan Kashel mengikat kontrak dengan Lyam itu sangat berarti untuk dunia ini tapi Kashel selalu menyangkalnya.


Di saat tenang seperti itu Kashel teringat dengan petualangannya bersama dengan Rainer, alasan mengapa Kashel tidak ingin berpetualang lagi selama ini. Ia teringat dengan kesedihannya.


"Haruskah aku pulang saja," gumam Kashel terus menatapi langit berbintang malam itu.


.


.


.


"Kemarilah," Kashel mendengar seseorang berucap. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan suara itu.


"Kashel."


"Berhenti memasuki pikiranku." Mendengar siapa yang berbicara Kashel memperbaiki duduknya.


"Kemarilah, atau tidak aku akan memberitahukan kebenarannya tentang dirimu."


"Kau pintar mengancam ya sekarang, Lyam." 


"Kemarilah cepat, hari inikan aku jadi atasanmu."


"Baiklah Tuan Guardian, kau atasannya hari ini. Dan berhentilah memasuki pikiranku sekarang!" Kashel kemudian berdiri dan berjalan memasuki gerbang itu lagi.