The Borders

The Borders
Bagian 45 – Tantangan Lyam



"Hah, apa maksudmu?" Kashel mundur beberapa langkah ia terkejut dibuatnya. Lyam orang nomor satu di akademi menantangnya.


"Apa kau mau membunuhku?" Kashel langsung berterus terang, mau sehebat apapun kemampuan mantra pelindungnya. Ia tidak akan mau melawan murid nomor satu di sekolahnya, karena itu sama saja cari mati namanya. Kashel pikir sekali terkena serangannya mantra pelindungnya akan hancur.


"Aku tidak akan membunuhmu, hanya mengetes kemampuan yang kau miliki saja. Aku penasaran dengan salah satu calon penerus Kendrick ini." Lyam masih mengajak Kashel berbicara dengan tatapan matanya yang dingin.


"Aku bahkan selalu berpikir tidak akan mengambil posisi itu. Asal kau tahu, benar-benar menyebalkan." Ucap Kashel, ingin menolak.


"Permisi, biarkan aku pergi." Kashel berlalu dengan sopan melewati Lyam.


.


.


.


CTIK!


Lyam menjentik jarinya, seketika suasana telah berubah menjadi di lapangan belakang Akademi Spiritual. Tempat itu jarang didatangi oleh orang-orang karena cukup jauh dari ruang kelas. Dan hanya dipakai ketika ada praktek sihir yang cukup menguras tenaga seperti melakukan pertarungan.


Kashel kebingungan setengah mati tadi ia seperti melewati lubang hitam dan tiba-tiba ketika dalam satu kedipan mata, ia sudah berpindah tempat.


"Kenapa kau membawaku kemari?" Kashel bertanya pada Lyam. Kashel tidak tahu jika orang itu memiliki kemampuan teleportasi.


Seperti apa kemampuan sebenarnya dia, kenapa dia penasaran padaku yang lemah ini. Batin Kashel merasa sangat sial, karena harus berurusan dengan Lyam.


Lyam itu terkenal dengan keangkuhannya ia tidak akan segan berbuat kasar pada orang yang mengganggunya tapi ia tidak pernah mengganggu orang lain duluan, kecuali pada Kashel.


Ia juga ditakuti orang-orang di kelasnya bahkan dijauhi. Tapi Lyam tidak perduli, karena ia tidak memiliki tujuan apa-apa kemari selain mencoba menjadi anak manusia.


Mimpi apa aku semalam, kenapa harus dia yang tertarik denganku di antara banyak orang. Batin Kashel, ia merasa tertekan.


.


.


.


"Persiapkan dirimu, jika kau tidak menggunakan mantra penghalang kau akan terluka parah." Kashel gelagapan mendengar ucapan Lyam.


"Tu-tunggu sebentar, biarkan aku persiapkan dahulu!" Kashel panik melambaikan tangannya. Awalnya Kashel berpikir untuk lari saja karena ia yakin sihir tidak akan berguna padanya.


Namun ketika melihat Lyam mengeluarkan kemampuannya Kashel langsung menelan ludahnya pahit, ia lupa kekuatan Lyam sudah berbeda dari Kesatria Penjaga Batas lainnya. Padahal seharusnya kemampuan seperti itu tidak diperbolehkan ada, tapi kenapa Lyam diperbolehkan. Kashel tidak mengerti sebenarnya, dan tidak ingin tahu untuk mencari aman.


.


.


.


Kashel yang gelagapan membakar kertas mantra miliknya berarti ia sudah mengaktifkan mantra pelindungnya.


Kashel berniat untuk kabur namun serangan Lyam cukup terarah dan tentu saja langsung mengenai Kashel telak, tetapi anehnya kekuatan itu terserap ke dalam mantra pelindung Kashel.


Kashel terkejut karenanya kekuatan besar itu merasuki dirinya, begitu juga Lyam ia merasa kekuatannya ditarik. Lyam yang penasaran mencoba menyerang Kashel lagi.


"Be-berhenti!" Kashel meminta dengan keras saat ini, ia tidak pernah merasakan kekuatan besar seperti itu, bukannya rusak mantra penghalang Kashel malah menguat saat terkena serangan Lyam.


Lyam kemudian malah memperkuat serangannya karena penasaran dengan serangannya yang malah diserap oleh Kashel. Karena serangan dadakan itu Kashel tentu saja refleks untuk membuat perlawanan, dengan mantra pelindungnya yang masih aktif itu.


Kali ini Lyam benar-benar merasakan energi sihirnya diserap oleh mantra pelindung Kashel. Hal itu langsung mengguncang perasaan Lyam. Lyam merasakan sebuah ruang kosong yang ada pada tubuh Kashel.


"Apa ini?" gumam Kashel tampak terkejut, ia merasakan ada sebuah ruang kosong yang sangat luas dalam dirinya. Dan sekarang tempat itu perlahan-lahan menyerap energi sihir milik Lyam.


"Aku ti-dak tahan lagi, cu-kup." Kashel berkata terbata-bata. Kekuatan Lyam sekarang malah terasa mengalir di dalam tubuhnya, Kashel tidak bisa menghentikan penghalangnya karena kekuatan milik Lyam terisap bukan terpantul, atau terhalang seperti yang seharusnya.


"Ku-mohon," Kashel terlihat terengah-engah dan terduduk lemas. Tapi meskipun begitu penghalang yang ia buat tidak bisa ia hentikan. Kashel lepas kendali atas penghalangnya sendiri. Kekuatan serangan Lyam malah berubah menjadi energi sihir yang memperkuat mantra penghalang milik Kashel.


"Aku tidak akan menghentikannya sekarang," Lyam tidak memberi ampun pada Kashel, ia penasaran sampai mana Kashel mampu menerima kekuatan besarnya.


"Arghh!" Kashel terlihat menderita, bukannya sakit sebenarnya tapi Kashel merasa frustasi karena kekuatan besar yang tidak pernah ia rasakan tengah mengalir di tubuhnya.


Kashel merasa kekuatan Lyam akan meledak dari tubuhnya, karena takut hal itu membuat heboh di sekitar Kashel menahannya agar kekuatan itu tidak meledak dan membuat kekacauan, meskipun ia mengalami penderitaan.


"Ku-mohon hen-tikan Lyam. A-ku sudah ti-dak kuat lagi." Kashel tertunduk lemah sekarang.


Tiba-tiba sekarang Kashel melihat naga raksasa yang sangat besar dari tubuh Lyam.


Kashel pikir itu roh pelindung milik Lyam, kemudian Kashel tersadar,nwujud itu adalah Lyam sendiri. Tapi Kashel belum terlalu yakin karena wujudnya samar-samar.


Kekuatan mereka beresonansi sekarang. Kashel ketakutan setengah mati, ia melihat kegelapan yang begitu pekat di sekitaran Lyam.


Sedangkan Lyam melihat cahaya dari tubuh Kashel, cahaya yang murni dan hangat. Dari situ Lyam melihat seluruh kesedihan Kashel, tetapi hati Kashel yang murni tetap menghilangkan dan membuang kesedihan itu berharap suatu saat ia akan mendapatkan kebahagiaannya. Ia ingin menjalankan kehidupannya yang normal di masa depan.


"Apakah ini keinginan anak ini, aku tidak tega jika harus merenggutnya sekarang." Untuk pertama kalinya Lyam merasa iba pada manusia. Karena keinginan Kashel yang kuat.


"Aku akan memberikannya waktu, aku tidak bisa merenggut keinginan anak ini." Lyam bergumam sendiri, ia merasa kegelapan yang ada di dirinya berkurang bahkan menghilang.


"Maafkan aku, aku akan merenggut hal yang paling kau inginkan Kashel." Tiba-tiba kekuatan mereka yang beresonansi terputus mendadak, Kashel terperanjat karenanya.


Kashel ketakutan hanya karena sekedar menatapi Lyam. Kashel masih tidak bisa berbicara karena harus mengatur nafasnya.


Lyam ingin mengulurkan tangannya membantu Kashel berdiri.


Sedangkan Kashel berpikir tidak akan lagi berduel dengan Lyam menggunakan kemampuan sihir, lebih baik ia dihajar babak belur daripada melihat monster raksasa yang diliputi kegelapan itu. Kashel tadi merasa dirinya sedang ditelan oleh kegelapan itu.


"Kau memiliki kemampuan yang hebat Kashel," Lyam memuji kemampuan Kashel sambil masih mengulurkan tangannya.


"Kau, kau siapa sebenarnya?" Kashel tidak mau menerima uluran tangan Lyam.


"Menurutmu aku siapa?" Lyam menatap Kashel dengan mata merahnya yang tajam.


Kashel masih ragu dengan pemikirannya tentang Lyam, ia tidak bisa langsung menuduh Lyam bukan manusia hanya karena apa yang ia lihat tadi.


Kashel pun mau menerima uluran tangan Lyam berharap setelah ini, Lyam tidak akan lagi mengganggu dirinya makanya ia ingin berpisah dengan pria itu secara baik.


Bzzzzt!


Saat tangan mereka bertautan terasa seperti ada aliran listrik yang saling menghubungkan.


Kashel dengan cepat melepasnya dan langsung berlari pergi tanpa mengatakan apapun. Ia ketakutan.


"Apa itu barusan?" sekali lagi ia melihat bayangan naga raksasa samar-samar berdiri di hadapannya.


Dada dan tubuh Kashel terasa sangat panas, pengaruh energi sihir milik Lyam tidak sepenuhnya menghilang saat itu, untuk beberapa saat mata batin Kashel terbuka karena pengaruh energi sihir milik Lyam.


Kashel yang terkejut dan merasa tertekan jatuh tidak sadarkan diri setelahnya.


.


.


.