The Borders

The Borders
Bagian 41 – Teman-Teman Palsu



Kashel bersekolah seperti anak pada umumnya, bangun pagi sarapan di asrama kemudian berangkat ke kelas, meskipun ada beberapa orang yang seperti menatapi Kashel dengan sinis atau terkadang ada yang menjahilinya dengan roh pelindung mereka, sepertinya tidak ada gunanya. Karena tidak mempan untuk Kashel.


"Bagaimana orang biasa seperti itu bisa masuk akademi ini?" terlihat beberapa siswa dan siswi menatapi Kashel meremehkan.


"Biasalah orang dalam, hahaha." Mereka tertawa menyindir Kashel. Mereka juga tidak akan pernah paham Kashel masuk kemari juga karena terpaksa.


Jika Kashel tidak menggunakan kacamata khususnya tidak ada roh pelindung yang dapat mengganggunya. Di tambah ketabahan hatinya yang lebih daripada orang lain, meskipun terkadang kesal ia bisa memaafkan itu semua.


Bagi Kashel, orang kuat itu adalah orang yang mampu menahan emosi kemarahannya.


.


.


.


Di kelasnya Kashel telah menemukan beberapa teman, Kashel menganggap mereka teman. Walaupun Kashel tahu dirinya hanya dimanfaatkan, mereka baik ketika ada maunya saja ketika menyalin Pekerjaan Rumah Kashel misalnya.


Setelah jam istirahat mereka tidak ada yang memperdulikan Kashel lagi, tapi Kashel tetap bahagia dengan hal itu. Ada orang yang mau berbicara dengannya Kashel sudah merasa sangat bahagia.


"Kashel boleh liat PR kamu gak?" tanya teman perempuan Kashel yang pernah mendengar Kashel membaca buku di kelas. Nama gadis itu adalah Leta.


Kashel tanpa basa-basi langsung memberikan bukunya. Kemudian semua orang di kelasnya langsung berkumpul dan menyontek buku Kashel.


.


.


.


Begitulah kehidupan Kashel sampai akhirnya tidak terasa sudah tujuh tahun Kashel bersekolah di sana, ia memang tidak pernah dirundung secara terang-terangan oleh teman-temannya.


Hanya saja ketika Kashel menggunakan kacamata rohnya, ia akan habis-habisan diserang oleh roh pelindung mereka. Seiring berjalannya waktu kemampuan mantra penghalang Kashel terkenal di kelasnya, tidak ada orang yang bisa menggunakan mantra penghalang seperti itu.


Dua kali serangan besar dari roh pelindung bisa Kashel tahan, setelahnya ia akan langsung jatuh pingsan kelelahan tentu saja.


Kemampuannya kemudian terkenal sampai satu angkatan mengetahuinya, ia mendapat nilai tambahan dari guru-gurunya karena keunggulannya itu, sehingga nilainya berada di titik yang aman. Meskipun ia tidak bisa sihir sama sekali.


Kekuatan mantra milik Kashel, bahkan bisa menangkis serangan gurunya tetapi ini masih belum seberapa.


.


.


.


Seiring berjalannya waktu Kashel yang telah beranjak remaja, kemudian jatuh cinta pada Leta temannya dari usianya sepuluh tahun, gadis yang mendekatinya dulu.


Ia menyatakan perasaannya pada Leta, gadis itu pun menerimanya. Untuk pertama kalinya Kashel merasa bahagia, ia bisa merasakan kasih sayang dari orang lain.


Ia sangat menyayangi Leta dan benar-benar jatuh cinta padanya, tapi Kashel tidak tahu bahwa ia hanya dimanfaatkan, mereka berpacaran seperti remaja-remaja pada umumnya. Leta sangat suka melihat Pekerjaan Rumah Kashel selama berpacaran.


Tapi Kashel tidak pernah masalah padanya, ia selalu memberikan pekerjaan rumahnya dengan senang hati pada Leta. Mengajari Leta ketika ia tidak mengerti dengan pelajarannya.


Sebenarnya Kashel melakukan hal itu pada teman sekelasnya juga. Ia benar-benar merasa senang bisa dekat dengan orang lain walaupun tahu jika ia dimanfaatkan saja. Tapi itu lebih baik daripada ketika ia dibiarkan sendirian.


.


.


.


Sampailah di mana mereka harus mengikuti ujian praktek di Hutan Kegelapan. Pada akhirnya watak teman-teman Kashel terlihat semua di sana, tidak ada yang mau berteman dan sekelompok dengan Kashel bahkan orang yang ia cintai sekalipun. Semua orang menganggapnya beban tim.


Kashel hanya menghembuskan nafasnya bersabar, ada rasa sakit yang teramat di hatinya, "Aku benci semua orang-orang ini." Gumamnya, tapi kemudian ia tersadar ia tidak boleh benci pada orang lain, ia tidak hidup untuk membenci orang lain.


"Tapi tetap saja ini menyakitkan," gumamnya lagi, tapi tekad Kashel yang kuat bisa membuang semuanya, ia tidak mau terlarut dalam kesedihan dan kemarahan. Lagipula sudah biasa ia diperlakukan seperti itu oleh orang-orang.


Namun untuk perasaannya, karena itu cinta pertamanya dan banyak waktu yang telah ia habiskan bersama. Membuat seperti ada goresan tidak terlihat di dalam dadanya.


Kashel masih bisa menahan rasa sakit itu dan mulai bersikap biasa saja pada hari itu juga, ia hanya terdiam. Karena ia akan memasuki Hutan Kegelapan sebentar lagi, menjalankan tugas pertamanya di sana.


Mereka tidak ditugaskan untuk membasmi Roh Kegelapan tetapi melacak roh pelindung milik guru mereka yang menyebarkan energinya di area hutan itu.


Jika mereka salah melacak energi mau tidak mau mereka harus berhadapan dengan Roh Kegelapan.


Kashel yang sakit hati, keberadaannya sebenarnya sedikit tercium oleh para roh, tapi Kashel berusaha berdamai dengan hatinya. Ia meyakinkan dirinya tidak boleh membawa perasaannya pada ujian ini.


.


.


.


Kashel akhirnya dimasukan ke dalam regu yang kekurangan orang. Regu itu dibagi dalam enam kelompok dimana satu regunya berjumlah lima orang.


"Cih kenapa kita jadi sekelompok dengan beban ini." Kashel tidak mau perduli dengan omongan teman-temannya ia sibuk menyiapkan barang-barangnya sendiri.


Kashel menyiapkan berbagai macam hal, takut jika ia tersesat setidaknya ia bisa bertahan untuk beberapa waktu.


Hutan kegelapan itu cukup luas dan banyak Roh Kegelapan yang tinggal di sana.


.


.


.


Di ujian ini, semua kelas rupanya mengikuti ujian praktek lapangan melacak energi dan menemukannya dari kelas A sampai C. Karena itu adalah hal yang penting untuk Kesatria Penjaga Batas lakukan.


Ujian pun akhirnya dimulai. Awalnya Kashel masuk ke dalam hutan pergi bersama dengan regu setimnya tetapi kemudian ia ditinggalkan sendiri, karena semua orang bisa bergerak cepat dengan roh pelindung mereka. Dan menganggap Kashel yang lambat itu adalah beban.


Kashel tidak ingin mengeluh ia mengeluarkan senternya untuk mencari jalan, Kashel merasa takut karena ini pertama kalinya ia menjelajah di malam hari di tengah hutan.


Beruntungnya waktu itu sekitar jam tujuh malam tidak seperti waktu Kesatria Penjaga Batas yang asli, yang mana bekerja saat bulan bersinar sangat terang terang di langit, kurang lebih dimulai sekitar jam sepuluh malam. Di mana saat itu roh-roh kuatlah yang bermunculan.


Kashel kemudian memakai kacamatanya. Ia merasakan hawa kegelapan yang begitu pekat. Dan refleks membuka kacamatanya lagi.


"Aku tidak boleh takut," gumamnya terus berjalan. Karena rasa takut bisa membuat Roh Kegelapan mendekat, Kashel berusaha membuang takutnya.


Selama ini ia sudah menjalankan berbagai macam praktek Kesatria Penjaga Batas, meskipun tidak semua nilainya sempurna tapi ia bisa lulus juga.


Kashel memberanikan dirinya lagi menggunakan kacamatanya lagi. Kebetulan tempat Kashel berpijak sekarang adalah tempat yang bersih dari energi gelap.


Tidak ada yang tahu kemampuan spesial yang Kashel dapatkan setelah ia menggunakan kacamatanya, Kashel bisa merasakan energi kegelapan, netral dan energi Kesatria Penjaga Batas dengan baik. Sebenarnya awalnya Kashel tidak mengerti tapi setelah mencoba praktek ini, Kashel mengetahui kemampuannya.


Di tengah hutan itu Kashel merasakan energi yang telah tersebar secara merata. Kebanyakan berasal dari energi gelap, ia kemudian merasakan sebuah energi yang berbeda.


Energi itu cukup besar tapi tidak terasa gelap atau pun terang. Awalnya Kashel pikir mungkin itulah energi yang ia harus cari. Melepaskan kacamatanya Kashel berjalan ke arah sumber energi besar itu, jika merasa kurang yakin Kashel akan menggunakan kacamatanya lagi, sambil mengaktifkan mantra pelindung agar Roh Kegelapan tidak bisa merasakan keberadaannya. Tapi alangkah terkejutnya ia ternyata yang ia datangi itu bukanlah energi orang yang ia cari.


.


.


.