The Borders

The Borders
Bagian 65 - Desa di Tengah Gurun



Tidak terasa perjalanan mereka berdua sampai di desa terpencil di tengah gurun pada sore itu.


"Wah, ternyata di tengah gurun yang tandus seperti ini masih ada peradaban rupanya ya, Paman." Kashel celingak-celinguk tidak percaya.


Desa itu cukup makmur meskipun berada di tengah gurun pasir yang tandus. Di sana warga desa hidup dengan bertani. Ada sumber air yang cukup untuk menampung kehidupan mereka semua di sana. Rainer hanya diam saja tidak mengatakan apa-apa. Tapi Kashel terus merasa takjub.


"Kalian berdua, apakah pengelana jauh yang datang kemari?" tanya seorang yang memiliki penginapan di desa itu. Saat Rainer ingin memesan sebuah kamar tempat mereka bermalam.


"Ya, kami ingin menyewa satu kamar tidur." Rainer berbicara datar.


"Tapi kamar tidur di sini muat hanya untuk satu orang Tuan, jika berdua saya sarankan untuk menyewa dua kamar." Tawar pemilik penginapan itu.


"Tidak perlu saya hanya butuh satu kamar," Rainer berkata dingin dan tegas sehingga membuat pemilik penginapan itu langsung mematuhi keinginan Rainer.


Semua orang yang ada di sana seperti menatapi mereka, namun saat Kashel memperhatikan semuanya langsung kembali ke kegiatannya masing-masing.


Kenapa aku merasa tadi sepertinya ada yang menatapi ya, pikir Kashel namun saat melihat mereka semua biasa-biasa saja.


Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Batin Kashel lagi.


"Kashel, kemari ikuti aku sebentar." Ajak Rainer mengajak Kashel langsung masuk ke kamar yang mereka pesan.


.


.


.


Kamar yang mereka sewa bukanlah kamar yang mewah, terdapat satu tempat tidur dan ada tempat duduk yang muat ditiduri untuk satu orang. Dengan ruangan yang sangat baik untuk menahan hawa panas di tengah gurun seperti itu.


"Kita harus berhati-hati Kashel. Ada hal aneh yang terdapat pada desa ini." Jelas Rainer berbisik, takut ada orang yang menguping pembicaraan mereka.


Rainer curiga dengan tatapan orang-orang desa yang mencurigakan saat mereka masuk ke desa itu, mereka disambut dengan baik oleh orang-orang di sana, tapi tatapan mereka juga mencurigakan semuanya.


Itulah mengapa Rainer memesan satu kamar untuk dua orang, padahal seharusnya kamar itu hanya bisa diisi oleh satu orang saja.


Kashel mengangguk patuh saat mendengar rencana Rainer.


.


.


.


TOK!


TOK!


Seseorang mengetuk pintu.


Malam itu, makan malam Kashel dan Rainer datang ke kamar mereka. Saat itu mereka berdua memilih untuk hanya beristirahat saja tidak melakukan apapun sampai keesokan harinya.


"Ini adalah pelayanan khusus dari penginapan kami, jadi saya harap kalian menghabiskan jamuan ini." Jelas pria yang membawakan mereka nampan makanan sederhana.


"Terima kasih," Rainer tersenyum menerima makanan itu dan menutup pintu kamar mereka lagi.


Tidak berapa lama kemudian pelayan pria itu mengetuk pintu kamar mereka berdua lagi bertanya apakah mereka sudah selesai makan, dan Rainer kemudian memberikan nampan yang makanannya sudah habis tidak bersisa.


Rainer dan Kashel, setelah itu mereka berdua jatuh tertidur sembarangan. Tidak beberapa lama kemudian beberapa orang masuk ke dalam kamar itu.


"Sepertinya mereka sudah hilang kesadaran, kita harus membawa mereka kepada kepala desa." Ucap pria yang melayani mereka tadi.


Kemudian Rainer dan Kashel dibawa oleh orang-orang itu ke sebuah kereta kuda. Mereka berdua terlihat tertidur begitu nyenyak.


.


.


.


"Bagaimana, apakah mereka masih tidak sadarkan diri?" tanya seorang pria yang sepertinya pemimpin di desa itu. Anak buahnya hanya mengangguk.


"Ramuan tidur itu telah bereaksi dengan baik," ucap salah seorang yang membawa tubuh Rainer dan Kashel.


"Bawa mereka ke ruang bawah tanah. Kita harus memberikan sesembahan kepada Ular Agung." Jelas pemimpin desa itu.


Rainer dan Kashel lalu diangkat dan dibawa masuk ke sebuah terowongan kecil yang berada di belakang rumah kepala desa. Setelah lima belas menit berjalan mereka akhirnya sampai pada tempat tujuan mereka.


"Tuanku sang Ular Agung, kami datang kemari membawakan sesembahan untukmu. Seorang pemuda dan seorang pria paru baya. Kami harap dengan sesembahan ini, Tuanku mau memberkati tanah ini." Sujudnya bersama pengikutnya yang lain.


Di sana terlihat ada beberapa bekas tengkorak manusia berserakan, sepertinya itu adalah orang-orang yang sudah dimakan oleh ular itu.


"Aku merasa di antara mereka berdua ada yang memiliki energi sihir yang cukup kuat, shhh." Ucapnya berdesisnya menjulurkan lidah seperti ular pada umumnya dengan suara yang parau menggema.


"Pria itu! Aku akan memakannya lebih dulu. Energi sihir kuat itu akan membuatku tak terkalahkan." Rainer langsung membuka matanya setelah mendengar ucapan ular itu, tidak ada gunanya lagi untuk ia berpura-pura pingsan.


"Oh jadi di sini, tempat persembunyian makhluk kotor yang sudah membunuh banyak manusia." Ucap Rainer bangun dari ke pura-puraan yang terkena ramuan tidur. Ia sedikit kesal karena melihat tulang belulang manusia yang hanya dibiarkan begitu saja tanpa dimakamkan secara baik.


Kashel juga tidak bisa berkata apa-apa saat ia membuka matanya melihat tulang belulang itu, melihat itu hatinya sakit dan merasa kesal. Mengetahui ada orang tanpa hati nurani mengorbankan nyawa orang lain untuk diri mereka sendiri.


Tulang belulang yang berserakan itu terlihat sekitar tiga orang yang sudah menjadi korban. Meskipun begitu bagi Kashel dan Rainer nyawa tiga orang itu tetaplah berharga.


"Tega sekali kalian," gumam Kashel. Pedang kecil yang Kashel sembunyikan di punggungnya terlihat bercahaya lagi tanpa sepengetahuan Kashel.


"Ba-bagaimana kalian berdua bisa terlepas dari pengaruh ramuan itu?" tanya warga yang membawa Rainer dan Kashel tadi.


"Kalian pikir kami bodoh mau memakan, makanan yang diberikan oleh orang yang mencurigakan." Jawab Rainer dengan tatapan tajamnya. Membuat kelima orang yang ada di sana mencicit ketakutan.


"Shhhh, tidak masalah jika mereka sadar atau tidak sadar, mereka berdua juga akan segera menyusul ketiga orang yang sudah menjadi makananku ini." Ucap ular itu mulai menyerang Rainer, Rainer dengan cepat melompat ke udara.


Kelima pria yang membawa Kashel dan Rainer masuk ke dalam terowongan itu lari terbirit-birit menyelamatkan diri mereka. Karena melihat mereka akan bertarung.


Sedangkan Kashel bersiap bertahan dengan pedang kecil dan mantra pelindungnya telah ia aktifkan. Sehingga ia hanya perlu menghindari reruntuhan batu dari terowongan itu.


Rainer menyerang makhluk itu, beruntungnya meskipun telah memakan lumayan banyak korban, Roh Kegelapan itu masih tidak begitu kuat seperti Roh Kegelapan berwujud naga yang dulu pernah Rainer dan Kashel hadapi. Ular ini tidak memiliki tubuh yang kebal sehingga petir Rainer bisa melukainya.


Namun, karena wujudnya ia menjadi binatang yang cukup gesit dan membuat Rainer kewalahan, dan lepas pandang dalam menjaga Kashel. Akhirnya ular itu ingin menyerang Kashel terlebih dahulu, karena melihat Kashel yang lemah.


Kashel tahu ia akan dililit dan tidak bisa menghindar akhirnya Kashel membentangkan pedang kecilnya ke arah atas dan sisi tajamnya menghadap ke depan. Kashel dengan kuat memegang ganggang pedangnya dengan kedua tangannya mencoba bertahan dengan lilitan ular itu.


"Sial aku lengah." Umpat Rainer tidak sempat mengejar ular yang sudah tepat berada di depan Kashel.


"Ukh!" rintih Kashel saat ular itu melilit dirinya dengan kuat. Mantra pelindung Kashel langsung hancur seketika.


Pedang yang Kashel pegang bercahaya dan perlahan pedang itu memotong tubuh ular yang melilit Kashel kuat. Ular itu menjerit, tapi Kashel tidak. Lalu, dengan kuat Kashel menebas tubuh ular itu dengan pedang kecilnya sehingga tubuh ular itu terpotong.


ZRAASH!


Darah segar mengalir dan banyak keluar dari bekas tebasan Kashel, sehingga tubuh Kashel basah seluruhnya dengan darah ular raksasa itu dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


Awalnya Kashel terkejut dan hanya diam mematung saja, ia tidak menyangka dengan pedang kecilnya tubuh ular raksasa itu bisa terpotong dengan mudahnya.


Padahal satu lilitan dari ular itu bisa membungkus seluruh tubuh Kashel dan bahkan meremukkan Kashel, tapi pedang itu melindunginya dan bisa menebas ular itu dengan mudah seperti tanpa beban apa-apa. Meskipun Kashel juga mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengayunkan pedang itu dalam lilitan ular raksasa itu.


Rainer langsung mengambil tubuh Kashel yang bermandikan darah ular raksasa itu.


GROAAAR!