The Borders

The Borders
Bagian 151 – Rencana



Energi hitam yang mempengaruhi Kashel mulai menghilang. Lyam tidak membiarkan hal itu terjadi.


Aish, aku barusan merasa tenang dan Lyam malah mengacaukannya lagi. Pikir Kashel, setelah badai kegelapan dihancurkan Kashel sekarang hanya menghindari setiap serangan yang datang ke arahnya. Ia mengejek Lyam kali ini karena sudah tidak tahan dengan kekesalannya.


Ikatan yang menghubungkan membuat Kashel sendiri terkadang tidak bisa menjadi dirinya sendiri, karena sudah terbiasa Kashel bisa melompat-lompat dengan lincah menghindari setiap serangan yang diterimanya. Sampai Kashel akhirnya bisa fokus lagi untuk membuat portal dan kabur.


Portal terbuka di belakang Kashel yang melompat di udara. "Weeek!" pemuda itu akhirnya memasuki portal dan menghilang. Lyam menatapnya dengan tajam ia melesatkan energi hitam ke arah portal yang dibuat Kashel dan memasukinya ke dalamnya.


Kashel terlempar saat muncul di tempat lain dan tersandar di batang pohon besar.


"Uhuk! Uhuk!" tubuh Kashel bergetar karena serangan barusan. "Heh, aku tidak akan mengejek Lyam lagi, sepertinya dia benar-benar marah. Ini tidak sakit tapi mempengaruhi perasaanku." Kashel menghela nafasnya menenangkan dirinya kembali.


Kashel tertidur tidak lama di bawah pohon besar itu. Kemudian ia terkejut bangun. Di saat seperti itu Kashel seharusnya tidak tidur karena ia pasti akan mendapatkan mimpi buruk secara langsung. Kashel terengah-engah Kashel yang biasa-biasa saja awalnya merasa ketakutan menyeruak di dalam dirinya. Ia khawatir pada teman-temannya sekarang.


Kashel langsung mengecek ponselnya, semuanya saat ini sedang ribut di dalam pesan grub. Kashel bernafas lega karenanya. Semuanya menanyakan di mana Kashel karena hanya dia yang tidak muncul.


"Di mana Kashel?"


"Kashel mana?"


"Ketua oh, ketua."


"Kashel dicari Grizelle."


"Hmm..."


"Ada masalah Kashel?"


"Ketuaaaa, di mana?"


"Halo adik sepupu..."


Kashel tersenyum melihat teman-temannya yang mencarinya di saat ia belum muncul.


"Aku tidak hilang kok," jawab Kashel singkat. Kemudian ia mengetik lagi.


"Jadi teman-teman, apa kalian ada yang bersedia ikut bersamaku mencari batu sihir elemen lagi?"


"Yok yang belum, yang belum..." Ujar Luan membuat semuanya terdiam beberapa saat.


"Oke aku tunjuk ya, kalau tidak ada yang mau. Tapi, itu keputusan kalian mau menerimanya atau tidak." Ujar Kashel.


"Baiklah Kashel kami akan mengiyakan semua kemauanmu."


Semua teman Kashel menyetujui jika Kashel yang menunjuk mereka.


"Aku akan menunjuk Chain dan Erphan pergi bersama denganku lagi kali ini." tulis Kashel mengambil keputusan.


"Baiklah Kashel." Tulis Erphan tidak menolak.


"Siap Ketua!" Chain bersemangat.


"Tapi Kashel kuharap kamu tidak kehilangan kendali atas dirimu lagi." Tulis Chain ia masih takut-takut.


"Lagi pula The Borderskan melindungi kalian juga. Ia tidak melukai kalian loh." Kashel menenangkan teman-temannya.


"Umm, mengerti. Tapi tetap saja itu menakutkan, kalau bisa jangan sampai kamu bertukar dengan Dia."


"Baik-baiklah, aku mengerti. Walaupun aku tidak menjamin, aku akan berusaha tidak menakuti kalian lagi."


"Oke Ketua!"


"Baiklah Kashel."


Kedua orang itu kembali bersemangat.


"Tapi untuk saat ini, kita belum akan menjalankan pencarian batu elemen itu. Teman-teman, sekarang lebih penting untuk kita menghentikan kegelapan yang membuat orang-orang terluka dan menjadi korban karena kejadian ini." Ujar Kashel, setidaknya jika Portal Perbatasan yang muncul sudah berkurang Kashel bisa bebas seperti sebelumnya. Kashel menyadari pasti salah satu dari batu elemen itu akan jatuh ke tangan musuh.


"Baiklah..." Tulis Kashel kemudian ia menentukan lokasi pertemuan mereka di mana ke depannya.


"Hei Rai, kau sekarang ada di mana?" tanya Kashel menandai Rai.


"Aku ada, di luar negeri. Kaukan tahu aku tidak bisa tinggal di sana, atau aku akan ditangkap nanti." Jawab Rai cepat setelah Kashel menanyakan keberadaannya yang katanya tiba-tiba menghilang beberapa waktu lalu.


"Jaga dirimu baik-baik, jika ada apa-apa langsung hubungi aku." Tulis Kashel.


"Kau tenang saja Kashel, aku pasti bisa menjaga diriku kok. Jangan khawatir."


"Bagaimana tidak khawatir setelah selesai dari reruntuhan, kau langsung menghilang tanpa mencariku yang menghilang."


"Oh apa kau mau dapat perhatian dariku?" tanya Rai menggoda Kashel.


"Tidak." Tulis Kashel langsung.


" Yang pasti aku, baik-baik saja Kashel. Kau jangan khawatir. Aku akan selalu absen di grup chat ini, tiap hari. Oh iya." Tulis Rai.


Rai menambahkan Kyler.


"Halo Kakak, semua!" Kyler tiba-tiba muncul setelah dimasukan.


"Kyler kau tidak di Akademi Spiritual?" tanya Kashel.


"Aku meminjam penguat jaringan milik guru, dan sekarang aku sedang libur Kakak."


.


.


.


Setelah itu Kyler yang tidak tahu apa-apa itu mendapat penjelasan dari Kashel.


"Umm, baiklah aku mengerti." Ujar Kyler dengan nada suara serius.


"Kau jaga diri baik-baik ya." Kashel masih mengkhawatirkan adiknya."


"Di sini tempatnya aman Kakak, meskipun berada di bawah perintah pusat tempat ini punya wewenangnya dan seharusnya tidak terikat."


"Aku mengerti, tapi jika ada hal yang mencurigakan kau harus langsung pergi dari sana dan hubungi aku."


Kashel berusaha menjalankan rencananya dengan matang, walaupun mungkin tidak akan berjalan dengan baik setidaknya Kashel sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik.


Kashel merasa ada banyak keberadaan energi gelap yang berkumpul di sekitarnya. Kashel langsung melesat dan menghancurkan energi gelap berbahaya itu, setelahnya ia kabur dengan cepat menjauh. Menggunakan mantra pelindung sehingga energi sihirnya tidak bisa dilacak oleh Lyam.


Terkadang Lyam datang tepat saat Kashel belum sempat kabur. Kashel bersembunyi di atas pohon untuk menghindari Lyam. Ketika keberadaannya ketahuan oleh Lyam dan ia menatapi Kashel dengan tajam, Kashel refleks langsung membuka portal dan langsung menghilang dengan cepat.


Kenapa sulit sekali lepas dari Lyam. Batin Kashel menggerutu ia berjalan sendirian di tengah kota malam itu.


Malam itu sunyi senyap hanya ada bulan terang di langit.


"Aku mengantuk, tapi di manakah aku harus tidur?" bingung Kashel.


Semenjak dunia dinyatakan mengalami pandemi, di tengah malam sangat jarang ada orang yang berkeliaran bahkan tempat menginap tidak menerima kedatangan orang di jam 12 malam ke atas hingga terbitnya fajar.


Sepertinya aku harus tidur di hutan. Karena tidur di sini akan sangat mencolok. Sekte Sihir Hitam mereka di malam hari sepertinya akan beraksi. Pikir Kashel lagi, ia juga terkadang merasa ada yang mengawasinya dari atas gedung pencakar langit. Mungkin Kashel, ditargetkan menjadi target tumbal.


Akhirnya Kashel benar-benar beristirahat di dalam hutan malam itu. Tapi bukannya beristirahat dengan tenang Kashel malah masuk ke alam bawah sadarnya.


"Apa lagi," Kashel duduk bersila di depan The Borders kala itu.


"Kau tidak bodohkan, jika kau ingin menambahkan kemampuanku, wujudmu akan semakin menggila juga." Kashel tampak berbicara sendiri, tapi sebenarnya Kashel saat itu berbicara tentang kekuatan baru yang harus diterima oleh Kashel.


"Aku ingin istirahat jadi jangan ganggu aku." Ujar Kashel langsung tidur setelah itu, beruntungnya The Borders masih mau mengerti.