The Borders

The Borders
Bagian 99 – Perjuangan Di Gurun Pasir



Kashel menggunakan seluruh tenaganya yang tersisa untuk mengumpulkan uap air di udara dan perlahan memasukkannya ke dalam botol, Kashel terduduk setelahnya. Ia berhasil mengumpulkan tiga botol air untuk mereka, karena paksaan itu udara di sekitar mereka menjadi sedikit lebih panas karena air di udaranya di ambil.


"Rasanya ... tenagaku ... disedot habis ...." Kashel menarik nafas cepat seperti orang habis berlari.


"Maafkan aku ketua aku tidak berguna meskipun pengguna elemen air." Ujar Kyler merasa bersalah.


"Kau tidak salah Kyler kemampuanmu tidak sama denganku, yang bisa digunakan secara nyata. Tapi berkatmu kita sempat beberapa waktu menikmati udara sejuk di tengah gurun." Kashel berucap sambil meminum airnya, ketika sisa setengah ia memberikan minum kepada kudanya. Temannya yang lain pun mengikutinya.


Sebelum malam kita harus menemukan oasis untuk beristirahat.


Kashel berdiri mereka ingin melanjutkan perjalanan mereka lagi, mereka tidak bisa berdiam di situ terus.


Kashel kali ini merasakan uap air yang cukup banyak, Kyler pun sama.


Mereka langsung bergegas mendatangi oasis yang barusan terasa di indranya. Mereka berhasil menemukan oasis sebelum sore hari hari.


Freda langsung mandi setelah sampai di sumber air di tengah gurun itu. Air yang jernih bisa langsung di minum.


"Hei, Kyler kau jangan coba-coba buang air ke bawah sini ya atau aku akan membunuhmu." Freda langsung berucap mewanti-wanti karena Kyler yang sudah berdiri di atas batu.


"Sembarangan kau! Aku ini masih kekurangan cairan bagaimana bisa buang air." Kyler mengomel.


"Siapa tahukan!" Freda tidak mau kalah.


"Sok tahu, weeek!" Kyler malah mengejeknya.


"Dasar bocah!" Kyler tidak perduli. Ia kemudian bersantai di bawah pohon. Kashel terlihat membasuh wajahnya.


"Sebentar lagi malam teman-teman, kita harus menggunakan pakaian dingin cuacanya akan berubah drastis setelah matahari tenggelam nanti." Kashel menjelaskan sambil mengeluarkan jaketnya dari dalam tas.


"Benarkah?" Kyler yang beristirahat langsung bangun mendengar kata-kata Kashel.


Teman-teman Kashel langsung mengambil jaketnya.


"Kau sangat pengalaman ya, ke gurun pasir." Ujar Freda saat ini benar suhu udara sedikit demi sedikit menurun mereka menghidupkan api unggun untuk membantu menghangatkan mereka.


"Tidak juga, aku baru dua kali pernah ke gurun dan kedua kalinya adalah hari ini." Kashel menatap nanar api unggun, ia teringat lagi dengan Rainer kerena suasana gurun. Kashel memeluk lututnya.


"Tapi pengalaman yang kudapatkan dulu lebih dari ini. Ini hanyalah gurun biasa." Ujar Kashel.


"Gurun seperti apa yang kau datangi Kashel?" tanya Freda penasaran.


"Gurun yang dipenuhi oleh Roh Kegelapan." Jawab Kashel.


"Apa kau pergi bersama Lyam?" Kashel menggeleng.


"Aku pergi bersama Pamanku, tapi dia sekarang sudah tiada." Raut wajah Kashel terlihat sedih.


"Kashel jangan bersedih," ujar Freda lagi, Freda tahu jika dulu Kashel punya seorang paman yang ia sayangi. Tapi hanya sekedar itu saja, teman-teman Kashel tidak tahu bagaimana paman Kashel bisa tiada. Hanya Grizelle yang tahu cerita sebenarnya.


"Tidak kok, aku hanya teringat dengan dia saja. Sekarang aku punya kalian semua sebagai keluargaku." Kashel tersenyum menguatkan hatinya.


"Dulu, aku pernah bertemu badai pasir dan malamnya harus bertarung dengan Roh Kegelapan ...."


Kashel menceritakan masa lalunya kala itu, dengan bersemangat menjelaskan hebatnya pamannya yang melindungi dirinya yang tidak berguna, Freda dan Kyler takjub dengan cerita Kashel. Walaupun tidak semuanya Kashel menjelaskan tentang petualangannya itu. Sampai akhirnya mereka memilih istirahat karena sudah kelelahan dan mengantuk.


Gurun itu benar-benar bersih tanpa Roh Kegelapan hanya gurun biasa, sehingga mereka bisa beristirahat dengan tenang.


"Terima kasih Paman." Kashel tersenyum sambil memejamkan mata. Berkat petualangannya bersama Rainer, Kashel merasa ia lebih sedikit berpengalaman dan bisa menuntun temannya dengan baik. Kashel membayangkan Rainer yang tersenyum padanya di antara bintang-bintang di langit, seorang paman yang bangga atas pencapaian keluarganya.


.


.


.


Ada orang yang mendekat tetapi energinya tidak berbahaya, siapa yang di tengah gurun pasir ini berjalan sendirian. Kashel berpikir sambil duduk memperhatikan api unggun.


Ia ingin tidur lagi, melihat teman-temannya yang bisa tertidur pulas Kashel merasa iri, karena kepekaannya terhadap sekitar membuat Kashel mudah terganggu. Tapi Kashel sudah tidak bisa protes, mau protes seperti apapun dia harus terbiasa dengan keadaannya sekarang.


Samar-samar bayangan orang yang energinya Kashel rasakan datang ke arahnya, dengan tertatih ia memandu seekor kuda bersamanya, Kashel langsung berdiri dan menangkapnya ketika orang itu hampir terjatuh terjerembab ke tanah.


"Terima kasih," ucapnya pria itu, ia memiliki rambut putih dan mata biru. Mengingatkan Kashel pada Freda walaupun warna mata mereka berbeda.


"Siapa kau? Kenapa bisa berada di tempat seperti ini?" tanya Kashel membantu pria itu duduk dan memberikannya air untuk ia minum.


Pria itu kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas. Memberikan pada Kashel. Itu surat perintah dari Kantor Pusat.


"Aku ditugaskan oleh Kantor Pusat untuk ikut menjalankan misi ini juga. Namaku Argai." Ia memperkenalkan nama.


"Ada apa Kashel kenapa berisik-berisik." Freda terbangun begitu juga Kyler.


"Ada satu orang yang di kirimkan Kantor Pusat pada kita." Ujar Kashel, setelah membaca surat perintah resmi itu.


"Oh iya, namaku Kashel, wanita itu adalah Freda dan pria satunya itu adalah Kyler." Ujar Kashel memperkenalkan teman-temannya.


"Namaku Argai, semoga kita akrab." Pria itu tersenyum ramah.


Aku seperti tidak asing dengannya, aku seperti pernah melihatnya tapi di mana. Batin Freda.


"Argai, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Freda, Argai menanggapinya tertawa.


"Sepertinya tidak Freda, mungkin kita hanya pernah bertemu di jalan." Ujarnya ramah.


Kashel tidak merasakan energi hitam apapun pada pria ini, pria ini benar-benar Kesatria Penjaga Batas. Tapi Kashel masih memikirkan jika pria misterius itu dari Sekte Sihir Hitam tetapi pusat memberikan perintah resminya. Ada simbol sihir yang tidak akan bisa sembarangan ditiru sembarang orang disetiap surat perintah Kantor Pusat itu.


Kashel ingin menanyakan orang yang barusan dikirim ini pada Rai, tapi ponselnya kehilangan sinyal.


Tidak ada yang bisa dilakukan Kashel di tempat ini, sebenarnya bisa jika ia menggunakan sihirnya dan kembali sebentar. Tapi, Kashel memilih tidak melakukan itu ia percaya saja pada orang yang tidak ia kenal itu bahwa memang benar-benar orang dari pusat karena surat resminya, Kashel juga tidak curiga tentang bagaimana orang itu bisa tahu keberadaan Kashel dan teman-temannya di tempat ini.


Intinya Kashel menjalankan misinya dan bisa menemukan artefak sihir itu, terserah teman yang membantunya siapa.


Malam itu mereka akhirnya beristirahat dengan tenang sampai akhirnya matahari terbit.


Pagi harinya mereka bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka lagi dengan menggunakan kuda yang mereka bawa.


Setelah perjalanan panjang yang tidak tentu arah Kashel menemukan sebuah energi yang menarik perhatiannya, ia merasakan energi sihir yang cukup besar dan langsung datang ke arahnya. Ia merasakan energi sihir itu.


"Teman-teman, apa kalian merasakannya juga?" Kashel bertanya pada teman-temannya. Semuanya mengangguk.


Namun, berjalan di sekitar pasir itu ia tidak menemukan petunjuk apapun.


Tiba-tiba sebuah getaran seperti gempa menghampiri mereka berempat. Kuda yang mereka bawa langsung lari terbirit-birit karena merasakan getaran besar seperti gempa itu, Kashel dan yang lainnya tidak sempat menangkap kuda itu karena sibuk juga menyelamatkan dirinya sendiri.


Getaran itu berubah menjadi pasir isap. Membuat mereka berempat terjebak di dalamnya.


KRAK!


Ada suara retakan pasir isap yang menyedot mereka langsung hancur dan membuat mereka jatuh ke dalam lubang yang dalam.


"Aaaaa!"