The Borders

The Borders
Bagian 113 – Hari Di Mana Mereka Bertemu



"Kau besok harus kembali ke akademikan?" Kashel membujuk adiknya, Karel memasang wajah cemberut. Kashel yang tidak tahan dengan wajah adiknya yang seperti itu, malah mencubit pipinya dengan kedua tangannya.


"Kakak... jangan perlakukan... aku begini... Aku bukan anak kecil." Ujar Karel, Kashel menghentikan kegemasannya.


"Bagiku kau masih kecil, dan menurutlah pada Rai." Kashel menatapi Karel dengan kejam, membuat Karel takut.


"Kau bisa mendatangiku lagi jika kau sudah mendapatkan liburan. Aku tidak akan mau bertemu denganmu jika ketika kau mendatangiku saat membolos. Bersekolahlah dengan baik." Ujar Kashel mengacak rambut adiknya. Adiknya malu bercampur senang.


"Nanti ya Kak, kalo aku libur aku akan mengganggumu!" Karel langsung mendengar ucapan Kashel dengan baik.


"Kalau Kashel saja yang berbicara baru kau mau dengar." Rai masih mengomel pada Rai, Karel hanya mengejeknya saja. Sambil membuntuti Rai.


"Kami berdua kembali dulu kalau begitu." Rai pamit untuk pulang dan Rai hanya melambaikan tangannya tersenyum senang.


......................


Hari di mana Kashel bertemu dengan Grizelle adalah hari yang tidak akan mereka berdua lupakan. Hari yang membuat Kashel menemukan seseorang yang akan menjadi takdirnya untuk bersama.


Dua tahun yang lalu sebelum mereka saling kenal mengenal, Kashel yang baru mendapat izin mendirikan Divisi Batas Senja dan sedang menghancurkan Roh Kegelapan yang mendiami kantor yang sekarang mereka tempati. Tempat ini bagus dan strategis menurut Kashel, karena cukup jauh dari pemukiman dan memiliki wilayah yang luas, dengan harga tempat yang tidak begitu mahal juga. Lyam memilihkan tempat ini untuk menjadi markas mereka. Tapi sayang tempat ini dihuni oleh Roh Kegelapan dan Kashel ditugaskan oleh Lyam untuk membasminya.


Lyam tidak membantu Kashel saat itu, karena Lyam ingin menguji kemampuan Kashel dalam menjaga dirinya terhadap Roh Kegelapan. Dan jika Kashel tidak bisa menjaga diri, Lyam akan memaksa Kashel berlatih di dunia perbatasan sampai ia siap untuk dibawa kembali ke dunia manusia. Dulu yang lebih banyak mengatur Kashel adalah Lyam tidak seperti sekarang.


Kashel memberi syarat pada Lyam jika ia berhasil mengatasinya sendiri, Lyam tidak boleh memaksakan kehendaknya lagi pada Kashel dan tentu saja Lyam mengiyakannya. Karena pada dasarnya Lyam akan selalu menuruti perintah Kashel bukan sebaliknya, Kashel belum menyadarinya kala itu.


Kashel bertarung dengan mengenakan jubah putih yang compang camping dan kotor, karena benar-benar baru kembali ke dunia manusia setelah setengah tahun di dunia perbatasan, berkabung di sana.


"Apa kau sudah menerima takdirmu?" tanya Lyam saat itu Kashel sudah diantarkan ke halaman tempat yang akan menjadi kantornya sekaligus rumahnya ke depannya.


"Huh! Tidak juga, aku hanya berusaha menerima kenyataan dengan caraku sendiri, memang dari lubuk hatiku yang paling dalam aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Namun, daripada tidak menerimanya, karena aku tahu meskipun aku menolaknya sampai mati pun, kenyataan tetap akan menjadi kenyataan. Makanya aku, lebih memilih untuk menerimanya dengan caraku sendiri. Setidaknya dengan hal ini aku bisa menjalani hidup dengan lebih baik." Kashel mengeluarkan pedang cahaya dari tangannya sambil mengarahkannya ke arah Lyam. Ia ingin menjalankan kehidupannya sendiri sesuai keinginannya sekaligus keinginan Rainer.


Kashel menyadari kekuatannya, ia bukanlah orang yang bodoh. Jadi meskipun selama setengah tahun ia bersedih ia juga diam-diam mempelajari kekuatan sihirnya dan memahaminya. Memang Kashel tidak terlalu ahli dalam bela diri tapi dengan bantuan sihir ia merasa menjadi sedikit lebih kuat sekarang, walaupun ia tidak tahu efek apa yang akan ia terima.


Kashel bertarung malam itu dengan Roh Kegelapan yang cukup membuatnya kewalahan, tapi ia tidak ingin menyerah dan terus berjuang. Kashel menyadarinya, saat itu ketika menggunakan kemampuan sihirnya yang kuat. Ada perasaan yang menghilang di dalam hatinya, ia kehilangan sedikit perasaannya sebagai manusia.


Mengerikan, setelah ini aku tidak akan menggunakannya lagi, jika tidak digunakan untuk menolong orang lain. Batin Kashel tidak suka dengan kekuatan yang ia rasakan.


Kashel berhasil mengalahkan Roh Kegelapan itu dengan tangannya sendiri.


Angin kencang, saat Roh Kegelapan itu hancur membuat Kashel terlempar ke jalan malam itu.


Kashel saat itu tidak melakukan apa-apa ia hanya menatap Grizelle kelelahan begitu juga sebaliknya.


"Kau tidak takut padaku?" tanya Kashel akhirnya membuka suara. Saat mereka saling bertatap-tatapan seperti itu.


"Kau tidak apa-apa?" Grizelle malah bertanya tentang keadaan Kashel yang tampak sangat kotor itu.


"Apa kau bisa bangun sendiri, ini di tengah jalan soalnya." Ucap Grizelle lagi dengan ekspresi datar saja tidak ada ekspresi terkejut sama sekali di wajahnya.


Grizelle akhirnya mengulurkan tangannya membantu Kashel yang tampaknya kesulitan bangun. Kashel tentu saja langsung meraih tangan Grizelle.


Tangannya dingin. Batin Kashel menatap Grizelle lagi.


"Kenapa tanganmu dingin?" tanya Kashel pada Grizelle, Grizelle malah memberikan Kashel air minum dan sebungkus roti yang ia bawa, karena melihat Kashel yang seperti gelandangan di matanya.


"Tanganku? Sepertinya antara takut sekaligus gugup. Sudah biasa sih." Grizelle berucap santai kemudian ia duduk tidak jauh dari Kashel.


"Kukira kau tadi tidak takut." Kashel berucap sambil memakan rotinya.


Aku tidak tahu kapan terakhir kali makan makanan manusia, selama ini aku bertahan hidup karena pil sihir buatan Guardian. Kashel menikmati mengunyah rotinya.


"Orang macam apa yang tidak takut jika ada orang yang terlempar mendadak di hadapan mereka." Ujar Grizelle berbicara akrab.


"Entah apa yang kau lakukan sebenarnya." Grizelle bergumam sebenarnya tidak ingin tahu.


"Ah kau benar," ujar Kashel ia teringat dengan salah satu teman Grizelle yang tadi bersamanya lari terbirit-birit.


"Kenapa kau tidak lari juga?" tanya Kashel lagi dan kali ini menghabiskan rotinya disuapan terakhir dan meminum air yang diberikan oleh Grizelle.


"Tidak, aku tidak tahu melakukan hal apa jika aku sedang merasakan takut. Makanya aku diam mematung, lagi pula kau adalah manusia bukan hantu." Grizelle malah tersenyum menanggapi kelakuannya yang seperti itu.


"Jika itu di alam bebas kau akan menjadi orang yang mati duluan." Ujar Kashel sembarangan, karena berdiam diri itu sama saja mempasrahkan diri.


"Hahaha, sepertinya kau benar. Oke, aku sudah merasa baik-baik saja sekarang, dan aku harus pergi. Kakiku sudah tidak gemetar lagi." Ujar Grizelle berdiri kemudian melalui Kashel, saat itu Grizelle menggunakan Gaun putih hampir selutut tapi ia mengenakan celana ketat berwarna hitam dan sepatu berwarna putih yang cocok untuknya dengan membawa tas ransel berukuran sedang, sepertinya ia baru pulang dari kerja.


"Hei siapa namamu?" tanya Kashel akhirnya.


"Namaku Grizelle, Faunia Grizelle." Ucapnya tersenyum ke arah Kashel kemudian berbalik tanpa menanyakan siapa nama Kashel saat itu. Kemudian gadis itu berlalu pergi.