THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
VERSUS



"Kelas memang tidak ada pelajaran penting," ujar kepala sekolah yang menatap sebelas murid bersaudara itu.


Harun dan lainnya menanti persetujuan kepala sekolah. Arion berhasil ditangkap Santoso. Arraya masih lemas dalam gendongan Ken.


"Kalian boleh pergi ...."


"Hore makasih Bu ...!"


"Tapi dengan satu syarat!" semua anak diam mendengarkan.


"Ibu mau kalian membuat pengalaman kalian ini dalam satu cerita!" lanjutnya memberi persyaratan.


"Setuju!" sahut Ditya.


Akhirnya, Ditya membawa semua adik-adiknya pergi ke ruko di mana Titis dan kedua orang tuanya tinggal.


"Nggak ada apa-apa?" gumam Theo ketika memindai sekeliling.


Brak! Semua menoleh pada asal suara.


"Aya!"


Suara wanita yang sangat jelas. Theo langsung merinding. Pria itu untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang berbeda.


"Bangsat ... Puluhan tahun di Afrika, sempat-sempatnya bisa merinding!" umpatnya kesal.


"Apa maumu!" teriak Ditya.


Suasana mendadak tegang. Hari masih terlalu pagi untuk suasana mencekam. Wawan, istri dan putrinya berpelukan. Mereka ketakutan.


Arraya berdiri tegak di belakang Ditya. Semua anak juga dipegangi oleh para pengawal.


'Ah ... hantu sialan!" bentak Bariana kesal setengah mati.


Gadis kecil itu meronta dan lepas dari cekalan Lani. Bariana berlari dan hendak menendang sesuatu di depan Ditya.


Ditya sigap menangkap tubuh Bariana.


"Kakak!" teriak Bariana.


"Sebut nama Tuhanmu Bariana!" perintah Ditya.


"Allahuakbar!" teriak Bariana.


Asap tipis keluar dari kepala Bariana. Gadis itu mendadak lemas di pelukan Ditya.


"Baby!"


"Pa tolong Baby Bar!" Santoso menangani Bariana dan menggendongnya.


"Ambil aku Anya!" ujar Arraya tiba-tiba.


"Kau ambil aku ... Jangan ganggu saudaraku!" ujarnya lagi.


"Tidak!" teriak Ditya.


"Robbi a'uudzubika min hamazaatisy-syayaathiin wa a'udzubika robbi ayyahdhuruun."


Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.”


"Aarrggh!" pekik suara tanpa rupa.


Pagi itu suasana memang sepi. Santoso gegas memberi kabar pada satuan agar menjaga lokasi. Banyak pria berseragam hitam memblok jalan tersebut, hingga tak bisa diakses oleh siapapun.


Tak lama Virgou datang bersama, Terra dan Haidar.


Terra tentu sedih putrinya kembali diganggu oleh makhluk tak kasat mata itu.


"Berhenti!" teriak Arraya.


"Baby!" pekik Terra.


"Ini mama sayang ... Jangan tinggalin mama!"


"Aku butuh anak ini!" suara Aya tentu telah berbeda jadi sangat berat.


"Allahuakbar!" Ditya menangkap tubuh Aya yang tiba-tiba melayang.


"Lepas!" pekik suara itu.


Ditya terus merapal doa. Bocah yang remaja sebentar lagi tak melepaskan tubuh Arraya yang mulai berasap.


"Baby ... Baby!" Terra hendak mengambil putrinya.


Haidar menahan sang istri dengan sedih. Pria itu juga tersiksa dengan keadaan sang putri.


"Mama!" teriak Arion.


Bocah itu tiba-tiba ada yang menarik. Harun menarik tangan Arion dibantu anak-anak lain.


Sky teringat jika Herman suka melempar garam pada sesuatu yang tak kasat mata.


"Lempar garam!" teriaknya.


Titis gegas ke dapur dan mengambil garam.


"Bismillahirrahmanirrahim!"


Aarrggh! Arion dapat ditarik oleh Harun dan lainnya. Arraya masih dipeluk oleh Ditya.


"Kak ... Baby kak!" pinta Terra.


"Kau percaya padaku kan?" tanya Virgou pada Terra.


"Putriku!"


"Percayakan padaku Terra!" ujar Virgou.


Terra bungkam, Haidar menenangkan istrinya. Herman dan Kean sedang ada di luar kota. Pria itu sedang dalam perjalanan pulang.


""Baby apa kau kuat?" tanya Virgou pada Aya.


"No Daddy!" tolak Ditya menggeleng.


"Percaya pada adikmu Baby!" pinta Virgou.


"Bawa aku saja!" teriak Ditya.


Arraya dilempar ke arah Virgou. Ditya terlempar ke arah pintu ruko. Theo dan lainnya kalah cepat.


Brug! Ditya menghantam rolling ruko kosong yang tertutup.


"Daddy, Anya minta yang membunuhnya ditangkap!' ujar Arraya lirih.


"Pembunuh Anya ditangkap Daddy!" pinta Arraya.


Theo dan lainnya menolong Ditya. Bocah itu segera dilarikan ke rumah sakit karena dalam keadaan pingsan. Semua anak dipulangkan termasuk Arraya.


Sampai mansion Herman. Semua anak yang baru pulang sekolah dalam keadaan shock. Samudera, Benua dan Domesh pulang cepat karena diminta oleh Virgou.


Hal itu membuat semua perusuh paling junior kepo setengah mati.


"Pa'a yan teulsadhi?" tanya Nouval bingung.


"Atuh pidat pahu!' jawab Maryam berbisik.


"Aban baji baby Alsh!" panggil Zaa.


"Pa'a!?" sahut bayi paling bossy.


"Soba tamuh nupin!" suruh Zaa.


"Oh blis deh!" tepuk Arsh di dahinya.


"Peulnata Anti teusil peunasalan judha!" sengitnya meledek.


"Tayat tamuh pidat tepoh jaja!" sengit Zaa.


"El jaja yan nupin!" seru El Bara.


El Bara menyelinap di antara para orang dewasa. Tak ada yang menyadarinya. Semua orang sibuk dan fokus pada Arraya dan Arion yang mendadak demam.


"Days!"


El Bara datang menemui semua saudaranya setelah sepuluh menit menguping.


"Pa'a yan teulsadhi?" tanya Fathiyya heboh sendiri.


"Lada bantu yan dandutin Ata' Yaya ladhi!" lapor El Bara dengan mata besar.


"Bantu ladhi?" seru semua perusuh dengan mata besar.


"Teunapa ... teunapa peslalu Ata' Yaya yan pidandutin?" tanya Aaima bingung.


"Tata Addy ... Ata' Yaya bindido!" jawab El.


"Pindido?" semua tentu tidak tau apa itu.


"Pa'a ladhi ipu?" tanya Arsyad gusar.


"Soba panya Pama Aypi peusal Della!" suruh Aisya.


Della dan lainnya sudah pulang sekolah. Mereka juga bingung dengan apa yang terjadi.


"Ata' ... Ata'!" panggil Xierra.


"Baby?" Della menoleh.


"Ata' pindido ipu pa'a?" tanya Xierra.


"Maksudnya indigo?" Xierra dan bayi lainnya mengangguk.


"Indigo itu sebuah anugerah dari Tuhan," jawab Della.


"Babies ganti baju!" teriak Dinar memberi perintah.


Della dan lainnya naik ke atas dan berganti baju. Semua bayi saling lihat. Mereka belum bisa menangkap apa yang dikatakan oleh kakak mereka.


"Anudlah Pali Tuhan?" Fatih sampai miring kepalanya.


"Anudlah ipu seupelti pembelian baby," jawab Arif.


"Beumbelian?" semua mata bayi membesar.


"Pusyah ... Anat-anat pusyah!" geleng Zora putus asa.


"Pasasa owan sewasa apah pusyah weutali!" keluhnya.


"Atuh pahu paa ipu dindino!" seru Maryam semangat.


"Pa'a ladhi ipu dindino?" tanya Aarav gusar.


"Ipu yan tata El padhi!" jawab Maryam ketus.


"Dindido Baby!" ralat Arif.


"Biya matsutna ipu!' jawab Maryam.


"Pa'a Ata'?" tanya Zizam.


"Pindido ipu seupenis matanan thusus!" jawab Maryam asal.


"Tot matanan syih?" tanya Al Bara protes.


"Woh tatana beumbelian pali Tuhan tan?" semua mengangguk.


"Beumana Tuhan tasyih pa'a te pita talo butan matanan?" tanya Maryam sok tau.


"Pan pidat muntin Tuhan tasyih pe'el te Ata' Yaya. Ata' pidat setolah Pama Tuhan!" lanjutnya berasumsi.


"Atuh tot tulan yatin baby!" jawab Aaima menggeleng.


"Tuhan tan pisa seudalaana!' sengit Maryam tak mau mengalah.


"Atuh pespujuh pama pa'a yan pi tatatan pama Balyam!" sahut Aisyah.


"Allah tan baha beusal ... Baha Pisa seudala!" lanjutnya.


"Imih talian pahas pa'a syih?!" sengit Arsh pusing.


Semua menoleh pada Arsh. Bayi tiga tahun itu menghela napas panjang.


"Apan Baji Baby Alsh yatin pindido pidat sauh deunan Punia walwah!" lanjutnya berasumsi.


"Tot yatin?" tanya Xierra. .


"Yatin peustali. Apan baji baby Alsh atan bembutitanna!" jawab Arsh sangat yakin.


Bersambung.


Wah.


next?