
Seorang wanita menatap bangunan besar. Tubuhnya kurus dengan pakaian biasa. Rambutnya memutih dan digelung kecil.
Tampak raut renta dengan mata berkaca-kaca. Satu selebaran foto ia genggam.
"Anggraini, putriku ...," air matanya pun menganak sungai.
Penyesalan terbesar mencuat. Meninggalkan seorang gadis kecil yang baru berusia tiga tahun sendirian di taman kota.
"Aku tak sudi dengan anak cacatmu. Kau buang atau kita cerai!" ancam pria yang mestinya jadi pelindung keluarga.
"Aku yakin mas. Dia pasti selingkuh!" tuduh kakak ipar perempuan.
"Aku tak selingkuh!" bantah wanita itu sambil mendekap putrinya yang menangis dan tak tau apa-apa.
Ketika menyerahkan pada ibu kandungnya. Sang ibu juga menolak kehadiran cucunya.
"Maaf nak, apa kata orang jika ibu mengurusnya. Dia cacat ... Kasihan bapakmu yang ketua desa. Mau taruh di mana mukanya jika lihat cucunya cacat," ujar sang ibu sambil melirik cucu perempuan dengan jijik.
Wanita itu hancur, ia masih bertahan selama tiga tahun merawat putrinya. Tetapi semua tak dapat dibendung ketika sang suami membawa wanita lain ke rumahnya dan berciuman di depan matanya.
"Aku akan putus dengannya, asal kau buang anakmu yang cacat itu!" perintah suami.
Hati wanita mana yang tak hancur. Ia ingin mempertahankan semuanya. Tapi ia memilih meninggalkan putrinya sendirian di taman kota.
Malang tak dapat ditolak, untung juga tak dapat diraih. Memang setelah membuang putrinya. Nini tak jadi diceraikan.
Wanita itu dimanja oleh suaminya. Namun ternyata hanya bohong belaka. Secara diam-diam, suaminya menikah lagi. Mendapat seorang putra tampan Nini diceraikan saat itu juga ketika mengetahui kenyataannya.
"Aku menalakmu Nini, kau bukan lagi istriku!" ujar sang suami kejam.
Nini terusir dari rumahnya. Sang istri baru menuntut rumah besar. Maka Nini yang tak bisa melahirkan anak lagi terusir keluar rumah.
Selama lima tahun hidup luntang-lantung, mengontrak sana-sini. Hidup sebagai buruh cuci.
Nini mendapat selebaran itu lima bulan lalu. Ia menatap betul jika gadis yang ada dalam foto adalah putrinya.
"Nak, apa ini kamu sayang?" tanyanya dengan air mata haru.
Sebenarnya, Nini ingin segera mendatangi tempat panti di mana Anggraini berada.
"Apa aku pantas mendatangimu setelah sekian lama. Sebelas tahun kita tak bersua, apa kau masih mengenali ibumu yang bodoh ini?" gumamnya.
Langkah wanita itu terhenti di depan gerbang panti. Sejuta keraguan menghantam sanubarinya.
Perlahan, ia mundur teratur. Tubuhnya berbalik, ia tak sanggup untuk melangkah masuk.
"Ibu cari siapa?" tanya seorang wanita dari dalam mobil.
"Ah ... Tidak Bu ... Saya sepertinya salah alamat," jawab Nini.
Khasya ada di dalam mobil. Wanita itu memiliki kepekaan yang sangat tinggi. Tingkah laku Nini sangat terbaca oleh Khasya. Wanita itu keluar dari mobil.
"Ayo masuk Bu," ajaknya.
"Tidak saya ...."
"Ayo tidak apa-apa, masuk saja," paksa Khasya mendorong tubuh Nini ke dalam mobil.
Khasya naik dan menutup pintu. Mobil melaju masuk ke dalam halaman panti. Sampai di depan pintu kantor Khasya turun begitu juga Nini.
"Selamat datang Bu," sambut Erna dan Ratna.
Dua wanita pengurus panti itu memang masih setia menjadi pekerja di sana. Gaji yang diberikan Herman untuk keduanya sangat cukup untuk kebutuhan hidup mereka.
"Ayo masuk Bu," ajak Khasya pada wanita yang baru ditemuinya.
"Siapa Bu?" tanya Ratna berbisik pada Khasya.
"Sebentar lagi kita tau," jawab Khasya juga berbisik.
Setelah duduk selama tiga puluh menit. Jati diri Nini pun terungkap. Bahkan Nini membawa data dan akte gadis yang ia tinggalkan.
"Saya hanya menyerahkan ini, mudah-mudahan berguna," ujar Nini dengan air mata penyesalan.
"Ibu nggak mau ketemu putri ibu? Anggraini sudah jadi dokter gigi. Dia juga sangat cantik dan pintar," ujar Khasya.
Nini menunduk, ia memang sangat merindukan putrinya. Kerinduannya sampai pada jantungnya yang kini teriris sembilu.
"Saya tak pantas melihatnya. Apa seorang ibu yang tega meninggalkan putrinya yang masih kecil agar dirinya bahagia?" Nini menggeleng lemah.
Wanita itu pamit padahal Khasya memaksanya tinggal. Nini menolak bersikeras untuk kembali ke kontrakannya.
"Saya pamit Bu. Terima kasih telah menjadikannya sangat cantik dan pintar," ujar wanita itu.
Khasya memeluknya, ia juga dulu ditinggalkan begitu saja oleh kedua orang tuanya. Tapi, ia tak pernah membenci ayah dan ibunya.
Nini berlari meninggalkan bangunan panti. Khasya tak dapat mencegahnya. Ia menghapus cepat air matanya.
"Aku harus memberikan ini pada Anggraini!" gumamnya.
Setelah memberikan uang bulanan panti. Gedung itu sudah kembali terisi anak-anak yang tak diinginkan orang tua mereka.
Butuh waktu dua puluh menit, Khasya sampai rumah sakit di mana Anggraini bertugas.
Wanita itu hanya menunggu di ruang tunggu. Anggraini keluar setelah lima menit.
"Bunda?" Anggraini tersenyum lebar.
"Sayang,"
Anggraini memeluk manja wanita paling disayang di keluarga. Khasya mencium kening putri angkat Bart dengan penuh kasih sayang.
"Kita pulang yuk," ajak Khasya.
"Angga masih ada praktek nanti Bunda," ujar gadis itu sedikit nada menyesal.
"Oh ya sudah, ayo ke kantin!" ajak Khasya.
Kini keduanya berada di kantin. Memesan makanan, tak ada percakapan ketika makan. Usai makan, Khasya menggenggam tangan Anggraini.
"Nak,"
Gadis itu menatap netra gelap milik Khasya. Ada kisah yang sepertinya hendak diungkapkan wanita itu.
"Apa bunda?" tanya Anggraini.
"Tadi ... Ibumu datang ...."
Deg!
Seperti terhenti berdetak, Anggraini menatap kosong. Khasya menyadarkannya.
"Untuk apa dia datang?" tanyanya lirih.
"Nak!" peringat Khasya.
Anggraini membuang muka. Ia masih marah pada wanita yang meninggalkannya begitu saja dulu.
"Ia punya alasan meninggalkanmu nak. Memang bunda tak membenarkan perbuatannya. Tapi memaafkan adalah perbuatan yang mulia," jelas Khasya.
"Ini hadiah dari ibumu. Sepertinya tangannya lecet untuk mendapatkan ini untukmu," lanjutnya lalu menyerahkan kotak perhiasan.
Khasya berdiri dan mencium pucuk kepala gadis yang terbungkus hijab hitam itu.
Anggraini menatap kotak itu. Perlahan ia membukanya. Satu kalung emas bertuliskan nama kecilnya.
"Raini," gumamnya lalu air mata meleleh di pipinya.
Sore hari, Nini masih berkutat dengan setumpuk cucian. Ia bekerja di sebuah cuci laundry kiloan.
"Bu Nini, udah dulu!" perintah sang majikan.
"Iya Bu!' sahut Nini menyudahi pekerjaannya.
"Ini bonus mingguan ya," ujar sang atasan memberikan amplop berisi uang pada enam karyawatinya.
"Makasih Bu!" ujar semua karyawati senang.
Nini tersenyum melihat amplop tebal itu. Ia menghitung. Sudah terkumpul banyak, ia ingin berhenti bekerja dan memilih berjualan di rumah kontrakannya.
"Waktunya pulang!" seru semua pegawai.
Ketika roling ditutup, Nini membalik. Ia menatap sosok gadis dengan gamis dan penutup kepala lebar.
Tanda merah di bawah mata kiri dan jemari yang mengecil dan mengkerut. Nini sangat mengenali siapa yang ada di depannya itu.
"Nak?"
"Ibu ... Ibu ... ini Raini Bu ... Anak ibu!"
Keduanya pun berpelukan dalam tangisan.
"Bu ... ibu ... Kangen Bu!"
Bersambung
Ah! ðŸ˜
Next?