
Sore menjelang, ballroom itu dihias begitu mewahnya. Virgou benar-benar ingin membuat Tante angkatnya itu menjadi ratu padahal belum dipersunting.
"Ini terlalu berlebihan Daddy," ujar Anggraini.
"Tidak ... Kau tenanglah. Nanti suamimu yang bayar padaku!" jawaban Virgou malah membuat Michael menelan saliva kasar.
"Ketua," ia mengadu pada Budiman.
"Kau mau apa?" tanya pria itu datar.
Michael merengek pada Khasya, baru lah Virgou kesal pada bawahannya itu.
"Kau tak bisa diajak bercanda!" umpatnya.
"Bunda," rengek Michael lagi.
"Sayang!" peringat Khasya.
"Ah ... Bunda ... Ayah, ayah ... Bundanya tuh!"
Herman menatap datar pria dengan sejuta pesona itu. Khasya memeluk Virgou dan melabuhkan kecupan penuh kasih sayang di kening pria itu.
Virgou makin manja dan hal itu membuat Herman kesal bukan main. Para perusuh sedang bercengkrama. Mereka ingin memberi pertunjukan.
"Aypi peusal Tean ... Anti peusil bawu banyi don!" ujar Zaa pada keponakan besarnya.
"Mau nyanyi apa Aunty baby," Kean memangku dan menciumi bibi kecilnya dengan gemas.
Mata biru keduanya jadi perhatian. Bukan hanya Kean saja yang bermata biru. Tapi, Calvin, Kaila, Fathiyya, Harun, Arsh dan Horizon bermanik sama. Mereka jadi sorotan karena mata biru. Selain itu, Maryam, Al Fatih dan Aisya juga jadi sorotan karena manik asapnya yang seperti sang ibu.
"Astaga mereka sangat menggemaskan!" puji salah satu tamu.
Anggraini turun diapit oleh Najwa dan Lastri. Gadis itu sangat cantik dengan gaun syar'i warna peach. Kerudungnya berwarna emas, wajahnya cantik walau tanda lahirnya tak ditutupi sama sekali.
Virgou sengaja memamerkan tanda itu, bahkan jemari Anggraini yang cacat dapat terlihat dengan jelas di sana.
"Mom, Raini malu," bisiknya pada Najwa.
Sang ibu berada di belakang tubuh sang putri. Wanita itu hanya menuruti kemauan Virgou.
"Jangan takut sayang. Kau harus buktikan pada semua orang. Tak selamanya orang cacat itu tak berguna!" ujar Lastri menenangkan dan memberi motivasi gadis itu.
"Bismillah nak! Ucap bismillah!" suruh Najwa.
"Bismillahirrahmanirrahim!" gumam Anggraini.
"Wah ... Teutasyihtuh santit setali!" puji Arsyad.
"Hei bayi ... Kamu mau saingan sama aku?" sungut Michael kesal.
"Tawuh mawu pa'a?!" tentang bayi yang baru mau empat tahun itu.
Michael mengangkat Arsyad. Bayi itu tergelak karena Michael menyembur perutnya.
Anggraini duduk di pelaminan bersama Michael yang juga sangat tampan. Penyematan cincin akan dilakukan sebentar lagi.
"Tunggu!"
Semua menoleh pada asal suara. Virgou tersenyum sinis. Bart tak suka, tapi Virgou membiarkan pengawalan longgar.
"Biarkan orang ini masuk!" perintahnya pada seluruh pengawal.
"Ketua!" protes Dahlan.
"Jangan membantah!" tekan Virgou.
"Kau harus membantuku untuk menghancurkan dan membuat malu pria yang tega membuang anaknya!" lanjutnya lagi dengan kilatan mata sadis.
Virgou dulu juga dibuang oleh keluarga. Keberadaan dirinya tak dianggap, bahkan kegeniusannya tak ada yang percaya.
"Aku ingin menghancurkan mereka sehancur-hancurnya!" lanjutnya penuh dendam.
Dahlan dapat melihat kemarahan itu. Ia menunduk, tak ada yang berani nika Virgoh sudah berkehendak. Walau mereka mengadu pada Khasya. Virgou tak mau mengalah.
"Kak?" Terra mendekat pada kakak sepupunya itu.
Seorang pria berbalut kemeja batik dengan bahan sutera. Rupanya Burhan masih memiliki pakaian yang mahal mendatangi pesta mewah itu.
"Siapa dia?" bisik-bisik orang-orang di sekitarnya.
Nini melihat mantan suaminya datang penuh dengan kepercayaan diri. Wanita itu tentu tak senang ia hendak mencegahnya, tapi lirikan Virgou membuat ia takut dan menunduk.
"Pa'a yan teulsadhi?" bisik-bisik para kurcaci.
"Pita ponton jaja, atuh yatin atan lada peultunsutan selu!" ujar Maryam.
Semua anak menonton bahkan para perusuh senior. Sedang Burhan tak ambil pusing dengan kasak-kusuk di sekitarnya.
"Nak, aku ayahmu nak. Kau kemana saja? Ayah selalu mencarimu!" ujar Burhan berdrama.
Pria itu belum melihat keberadaan Nini sang istri. Virgou berdecih melihatnya.
"Ayah?" Anggraini sedikit lupa wajah ayah kandungnya.
Nini menutup mulutnya dengan tangan. Ia tak percaya jika Burhan tega mengatakan dirinya telah mati.
"Ibu ... Meninggal dunia?" Anggraini makin bingung.
Michael menggenggam tangan calon istrinya. Ia berbisik, lalu Anggraini langsung mengerti apa yang terjadi.
"Nak, peluk ayah nak ... Ayah merindukanmu!" ujar Burhan menangis.
"Apa bukti kau ayahku?" tanya Anggraini yang membungkam Burhan.
"Apa?"
"Kalau aku adalah anakmu. Kapan tanggal lahirku?" tanya Anggraini lagi.
Burhan tentu lupa tanggal lahir putrinya. Kehadiran masa kecil gadis di depannya tak dianggap sama sekali. Virgou menyeringai menatap kegugupan pria yang bingung harus menjawab apa.
"Nak ... setelah kehilangan ibumu. Ayah tak lagi mengurus apapun. Semua data berantakan terlebih perusahaan ayah dicuri orang. Ayah lupa nak," jawab Burhan lemah di ujung kalimat.
"Eh ... Gue pernah bangkrut tapi gue inget tuh tanggal lahir empat anak gue!" celetuk salah satu tamu.
Virgou makin tersenyum meledek. Terra mengepal erat, ia bukan penikmat drama. Ingin dilemparnya yang tengah berbohong itu ke tengah samudera.
"Kak buang ke tengah laut Antartika ya!" bisiknya gemas pada kakak sepupunya itu.
"Sabar ... yang datang belum semua," sahut Virgou juga berbisik.
Benar saja, tak lama sekitar enam orang hadir dengan pakaian terbaik mereka. Mita langsung menjerit memanggil Anggraini.
"Angga ... Keponakanku!'
Wanita itu berhambur hendak memeluk Anggraini tapi langsung dihalangi oleh Michael. Angga bersembunyi di belakang tubuh calon suaminya.
Melihat pria tampan yang menghalangi langkahnya. Mita terdiam. Terlebih tatapan tajam Michael padanya.
"Ka-kamu siapa?" hardiknya berani.
"Loh saya yang bertanya. Kamu yang siapa?!" bentak Michael dengan bahasa Indonesia yang lugas.
Mita menganga, ia tak percaya jika pria bule di depannya bisa berbicara bahasa negaranya.
"Aku ... Aku bibinya!" aku Mita.
"Selama saya mengenal Anggraini dua tahun. Tak pernah saya melihat anda di rumah calon istri saya!" ujar Michael tentu dengan kening berkerut.
"Itu ... Itu karena ... Karena ...."
Mita tentu tak tau harus jawab apa. Burhan hanya diam, ia juga dendam pada kakak kandung yang tak mau menolongnya ketika ia mengalami kesulitan.
"Burhan ... Kau tau kan jika aku sangat menyayangi Angga. Kau tau sendiri kalau aku yang memberikan nama itu padanya!" ujar Mita pada Burhan yang tentu bohong.
"Itu bohong!" teriak Nini pada akhirnya.
Wanit itu keluar dari persembunyiannya, Burhan tentu bermuka pucat. Begitu juga Mita dan yang lainnya.
"Ah ... Kau ternyata membawa kabur putrimu!" teriak Mita tak habis ide.
"Kau sengaja menjauhkan kami dari ...."
"Cukup!" bentak Anggraini pada akhirnya.
"Cukup ... cukup sudah semua kebohongan ini!" ujarnya terisak.
"Sayang?' Michael menenangkan calon istrinya.
"Nak ... Itu benar ...."
"Aku tau kalau dulu kalian mengataiku si cacat!" teriak Anggraini.
"Tidak ... Kamu pasti dihasut ibumu!" sangkal Mita.
"Tadi barusan pria itu mengatakan ibuku sudah meninggal. Lalu ini siapa?" tunjuk Anggraini pada ibunya.
"Kau baru saja mengakui jika ini adalah ibuku!"
"Aku ...."
Mita tentu tak bisa lagi melancarkan dramanya. Ayah dan ibu dari Burhan dan Mita seperti orang tolol begitu juga beberapa orang bawaan mereka.
"Aku ingin kalian pergi dari pestaku! Pergi!" usir Anggraini pada akhirnya.
"Aku ayahmu. Aku lah yang berhak menjadi wali nikahmu. Aku bisa tak merestui itu dan kau tak bisa menikah selamanya!" sentak Burhan.
Bart gegas mendatangi Burhan dan ....
Bug! Burhan jatuh dengan hidung patah.
Bersambung.
Next?