THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MENGHEMPASKAN



Arimbi menatap tajam seorang gadis yang tangannya hendak menyentuh dada sang suami.


Semua orang berbisik dengan kedatangan seorang wanita hamil. Reno yang memang belum memperkenalkan istrinya pada seluruh karyawan, sedikit risih dengan bisik-bisik itu.


"Sayang, kamu ngapain ke sini?" tanya Reno mendekati istrinya.


Arimbi tak menjawab. Wanita itu menatap tajam suaminya. Reno menelan saliva kasar.


"Teman-teman perkenalkan ini istriku! Raden Ayu Arimbi Triatmodjo!" ujarnya memperkenalkan istrinya.


"Oh istrinya!" bisik-bisik para karyawan.


Tubuh Arimbi memang sedikit mengalami pembengkakan. Wanita itu tak mau memakan makanan yang disarankan oleh Saf.


Wajah Arimbi yang dulu mulus kini berjerawat di kening dan pipi. Pipinya tembem, kakinya besar karena banyaknya kandungan garam dalam makanan yang ia makan.


Arimbi kehilangan tubuh cantiknya ketika mengandung. Cindy tersenyum tipis. Gadis itu membungkuk hormat. Dari segala segi, ia memang dari sang istri sah.


"Maaf saya lancang nyonya. Tapi kemeja tuan adalah tanggung jawab saya sebagai sekretaris ...."


"Tak perlu repot ... Siapa namanya kak?" potong Arimbi lalu bertanya pada Reno.


"Cindy," jawab Reno.


"Cindy, sekarang ada istrinya yang bertanggung jawab atas segalanya!" ujar Arimbi melanjutkan perkataannya tadi.


"Tapi sebagai sekretaris ...."


"Apa kau ingin menggantikan posisiku gadis sialan!" bentak Arimbi.


"Sayang, sudah ... Ayo kita pergi dan cari kemeja baru untukku!" ajak Reno.


Arimbi tengah mengandung, hormonya tentu tidak stabil. Ia mengira sang suami membela sekretaris itu dibanding dirinya.


"Kakak usir aku?" tanya Arimbi berkaca-kaca.


"Sayang ... Tidak ...."


"Kau membelanya!" tunjuk Arimbi pada Cindy.


Bisik-bisik pun riuh terdengar. Reno malu dengan kelakuan sang istri yang tak bisa menahan diri.


"Sayang, ayo!" ajaknya lalu mengendong istrinya ala pengantin.


Hal itu membuat semua orang riuh. Sebagian bertepuk tangan dan sebagian berdecih melihat wanita yang digendong oleh Reno.


Terra dan Khasya baru saja sampai. Arimbi tadi langsung turun dari mobil ketika berada di depan lobi. Mereka hanya membawa Deni sebagai pengawal dan supir.


"Reno!" panggil Khasya bingung melihat putrinya digendong oleh menantunya.


Arimbi sedikit berontak, wanita itu memukuli dada suaminya.


"Lepaskan aku!"


Karena Arimbi begitu kuat hendak melepaskan diri dari gendongan Reno. Wanita itu nyaris terjatuh.


"Reno!"


"Baby!"


Pekik Terra dan Khasya bersamaan. Khasya menatap menantunya sedemikian rupa. Reno menggeleng, ia tak pernah bermaksud untuk melukai wanita yang ia cintai.


"Nggak bunda ... Arimbi terlalu kuat mendorong ...."


"Bohong Bunda ... Dia memang mau menjatuhkan aku!" pekik Arimbi marah.


Terra langsung mengambil adik misannya itu. Ia juga mengira jika Reno sengaja menjatuhkan Arimbi.


"Demi Tuhan Mama!" sumpah Reno dengan mata berkaca-kaca.


"Mama ... Huu ... hiks ... Bawa Rimbi dari sini Ma ... Kak Reno sudah tak mencintai Rimbi!" rengek Arimbi.


"Ayo sayang!" ajak Terra dengan dada bergemuruh.


"Sayang ... Aku tidak ...."


"Berhenti di situ Reno!" tekan Terra.


"Ma ...," Reno begitu putus asa.


Terra membawa Arimbi berlalu dari gedung bertingkat itu. Khasya masih menenangkan diri, ia perlu tenang agar semua jelas.


"Bunda ...!' Reno bersimpuh pada mertuanya.


"Aku benar-benar mencintai Arimbi. Aku tak mungkin mencelakai istriku sendiri!" ujar ya menatap wanita yang selalu berpikir tengah.


Khasya menutup mata. Arimbi adalah putrinya, tentu sebagai ibu ia ingin melindungi Arimbi dari kesakitan apapun.


"Bunda ...," panggil Reno, ia mencium buku tangan mertuanya.


Khasya tak melihat kebohongan di mata menantunya itu. Hingga ....


"Tuan ... Anda harus mengganti kemeja anda tuan. Kolega dari PT Hatayaka ingin menjalin kerjasama!"


"Tuan ... Anda tidak layak bersimpuh seperti itu ... Anda seorang pemimpin, di sini kredibilitas anda dipertaruhkan!" ujar Cindy tak menerima jika atasannya yang tampan harus menghiba sampai berlutut seperti itu.


"Nyonya ... Tolong apapun masalahnya, jangan campuri keputusan dari Tuan saya. Dia berlaku sebagai CEO utama di perusahaan ini. Dia berhak mendapat kehormatan tertinggi, dia ...."


"Diam kau Cindy!" bentak Reno cepat.


"Tuan, saya ...."


"Kau kupecat! Ambil seluruh gaji dan bonusmu pada pihak HRD!" sahut Reno tegas.


"Saya tidak memiliki kesalahan apapun tuan!" sergah Cindy bersikeras.


Reno berdiri, lalu ia menatap Cindy. Gadis itu membalas tatapannya begitu berani. Khasya ingin sekali menampar pipi gadis sok itu.


"Seperti katamu tadi Cindy. Aku adalah pimpinan tertinggi dan harus mendapatkan penghormatan yang paling tinggi di sini bukan?!" ujar Reno tegas.


"Iya tapi saya juga butuh alasan tepat ...."


"Saya seorang pemimpin yang tak butuh alasan apapun untuk mengeluarkan siapapun yang tidak berkompeten di perusahaan saya!' potong Reno tegas.


"Kau kupecat karena kau sering membantahku sebagai atasanmu!' lanjutnya dengan tatapan membunuh.


Cindy menunduk dalam, Reno menggandeng tangan ibu mertuanya. Khasya melepas tangan Reno dan mendekati Cindy.


"Kau mungkin merendahkan penampilan putriku Arimbi ... Nona Cindy," ujarnya dengan tatapan lembut namun menusuk.


"Tapi kau boleh mencari setelah ini. Siapa itu Arimbi Triatmodjo!" lanjutnya berbisik dan menepuk bahu Cindy.


"Ayo bunda!" ajak Reno.


"Tuan koleganya!" teriak Cindy.


Reno tak menggubris teriakan mantan sekretarisnya. Tak lama, seorang pria beruban datang dan menyerahkan amplop.


"Ini surat pemecatanmu Nona Lumanto!" ujar pria itu tersenyum.


"Tapi kolega dari PT Hatayaka akan tiba ... Kerjasama ini akan hancur jika tidak diambil segera!" ujar Cindy begitu peduli dengan perusahaan.


"Anda tak perlu memusingkan itu Nona Lumanto. Kami sudah menanganinya. kehadiran anda sudah tidak dibutukan lagi!" jelas pria beruban itu.


"Silahkan ambil semua perlengkapan anda selama sepuluh menit, sebelum sekuriti membuang semuanya ke belakang perusahaan!" lanjutnya setengah mengancam.


Lalu dengan kasar pria beruban itu merampas kartu id milik Cindy. Gadis itu hendak mengejar tapi dua sekuriti langsung menahannya.


"Nona, tolong kerjasamanya!"


Sementara itu sepasang mata menatap gusar kejadian barusan. Ia mengepal tangan dan meninju pelan dinding kantor yang dilapisi batu granit.


"Ck ... bodoh sekali kau Cindy! Kenapa kau terlalu bernafsu ingin menguasai Reno!" umpatnya kesal.


Sementara itu, Reno masih membujuk istrinya. Pria itu berkali-kali meminta maaf.


"Apa yang ingin aku lakukan agar bisa mendapat maafmu sayang?" tanya Reno mulai putus asa.


"Baby ... Jangan keras kepala!" peringat Khasya.


"Bunda!" rengek Terra yang tentu membela adik misannya itu.


"Sayang," peringat Khasya.


"Habis Kak Reno jahat!" rengek Arimbi cemberut.


Reno terkekeh, ia senang mendengar suara istrinya. Ia akan mati secara perlahan jika Arimbi mengibar bendera perang padanya.


Sementara itu Cindy membawa satu kotak perlengkapannya. Ia terduduk di mobil yang baru saja ia cicil.


"Hanya seperti ini?" tanyanya mencibir.


"Apa sih hebatnya Arimbi Triatmodjo itu!' sengitnya kesal.


"Perut besar, muka jerawatan! Aku yakin kakinya bengkak karena menopang perut besarnya itu!' sungutnya menghina seorang wanita hamil.


Cindy penasaran dengan sosok yang baru saja membuatnya terdepak dari perusahaan.


"Raden Ayu Arimbi Triatmodjo dua puluh satu tahun, putri dari pebisnis ternama Indonesia KGPH Herman Aidan Triatmodjo.


Bergelar Prof. Dr. R.A. Arimbi T. Sp.OG-KFER ...."


Cindy tak melanjutkan bacaannya. Gadis itu sudah kalah telak dengan wanita yang telah sah menjadi istri dari mantan atasannya.


"Pantas Tuan Sanz begitu mencintai istrinya. Beliau adalah salah satu permata langka ...."


Bersambung.


Ya eya lah ... usia delapan belas udah jadi dokter langsung ambil spesialis. Di usia belia udah jadi profesor.


Lu ma cuma kacang yang keliatan cantik dari luar, gitu dibuka dalamnya item!


next?