THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MENJELANG PERNIKAHAN



Satu minggu waktu yang diberikan Herman, membuat Remario dan Reno kalang kabut. Pria tua itu mengancam akan membatalkan lamaran Remario jika terlambat satu hari saja.


"Ayah ...," Rosa sedikit keberatan.


"Sudah sayang ... tenang lah!' ujar Herman pada gadis yang ternyata tak tega calon suaminya super sibuk.


"Bunda, ayah masa kasih waktu sebentar banget sama Papa!" adu Arimbi.


"Kan kasihan Momud Bun," lanjutnya.


"Momud? Apa itu Momud?" tanya Khasya.


"Mommy muda," jawab Arimbi sambil tersenyum.


"Ah ... talow bedhitu atuh pandhil Netmut judha!' sahut Maryam.


"Netnet muta!" lanjutnya semangat.


"Wah ... pa'a atan lada om teusyil ladhi?" tanya Aisya antusias.


"Bastina lada banat!' sahut Aaima.


"Sintah imi ... tadan-tadan tat lada lodhita ... pemuana tali talam bati ... seatan inin meumiliti dilimu walaw banya puntut pesaat!" Fathiyya tiba-tiba bernyanyi lagu milik penyanyi Indonesia yang go internasional.


"Sintah tuh badamu ... tat tan peulubah ... walaw bi lelan watu ... piallah tan tusyipan talam hati ... sintah yan bulus imi .... !" Xierra menyanyikan lagu lady rocker tahun 90an.


"Wah ... suala sila badhus!' puji El Bara.


Xierra tersenyum sipu. Bayi cantik itu memang bersuara merdu. Putri tunggal Felix dan Sari itu sama rusuh dengan anak-anak lainnya.


"Tumpul yut days!' ajak Fatih.


"Bada dhosip balu pidat?" tanya Fael yang disahut decakan para orang tua.


"Peulnitahan Netnet buda Sosa pama Benpa Melamio!" jawab Fatih.


"Wah ... pa'a beunal Daddy Semalio beunitah Ommy?" tanya Arsh pada Maria.


"Iya sayang," jawab Maria dengan senyum lebar.


"Tapan?" tanya Fatih.


"Empat hari ladhi eh lagi!' jawab Maria.


"Woh ... pa'a pita pidat peuldhi te Meutah?" tanya Chira bingung.


"Astaghfirullah ... kenapa aku melupakan itu!" Herman benar-benar lupa.


"Kita berangkat lusanya Ayah!" lapor Haidar memberitahu.


"Oh ... Alhamdulillah. Yang penting daftarkan jika Rosa punya mahram ya!" Haidar mengangguk.


"Kenapa tidak dinikahkan di sana saja Ayah?" sebuah usulan terlontar dari Fio.


"Tidak ... aku ingin ibadah haji murni dengan ibadah!" jawab Herman.


Fio mengangguk, ia setuju begitu juga yang lainnya.


Remario menggunakan kekuatan uangnya. Pria itu dapat cepat mengurus surat-surat untuk menikahi gadis muda yang sudah mengikat hatinya.


"Alhamdulillah, tinggal nikahnya saja!" ujarnya senang sambil menatap berkas-berkasnya.


"Daddy," Reno memeluk ayahnya.


"Kau tak keberatan dengan usia ibumu yang jauh lebih muda darimu bahkan dari istrimu?" tanya Remario.


"Tidak!" jawab Reno tegas.


"Asal Daddy bahagia!" lanjutnya haru.


"Aku ingin Daddy lepas dari mimpi buruk itu," sahutnya lagi.


"Daddy takut kalau Daddy tidak bisa menjaga Rosa seperti menjaga Mommymu sayang," ujar Remario takut.


"Jangan takut Dad. Waktu itu juga buka. seratus persen kesalahan Daddy. Mommy juga ikut andil," ujar Reno menenangkan Remario.


Pria itu menatap putranya. Ia memang sangat tau cerita sebenarnya. Sang istri dan pembunuhnya adalah teman baik. Wanita itu tak mencurigai kebejatan temannya itu hingga membuat ia harus meregang nyawa.


"Kita pulang Dad?"


"Beli oleh-oleh dulu!" jawab Remario memutar mata malas pada putranya.


"Kau lupa di rumah itu jika kita pulang tak bawa oleh-oleh?' lanjutnya sebal sendiri.


Reno tertawa lirih, ia mengangguk setuju. Mereka harus membawa buah tangan walau itu hanya gorengan yang dibeli di pinggir jalan.


"Kita beli di pasar saja Dad. Ada di dekat sini. Kita bisa beli jajanan pasar satu nampan besar," ajak pria beriris hazel itu.


Remario mengangguk, mereka naik mobil dengan dua pengawal. Menuju pasar dan membeli buah tangan.


Di mansion Herman nampak riuh dengan suara anak-anak. Ajis tampak duduk bersandar wajahnya sedikit pucat.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Azizah.


"Batuk kak," jawab Ajis lalu berdehem.


"Oh sayang, kamu istirahat ya. Cuaca memang tak begitu bagus," ujar Azizah.


Ajis mengangguk, ia memang tak melakukan apa-apa. Badannya sedikit lemas. Nai telah memberinya obat tadi siang.


"Tika, Ramlan dan Yahya juga sakit, kak!" lapor Alim.


Beberapa anak juga tampak sakit. Mereka duduk lemas dengan wajah sedikit pucat.


"Assalamualaikum Daddy pulang!" teriak Remario.


"Wayaytum sayam!" pekik semua perusuh.


Zora, Ryo, Vendra, Horizon langsung merangkak cepat menuju pria bule itu.


"Boleh-boleh!' pekik Ryo senang.


Dua pengawal membawa dua nampan besar berisi banyak jajanan pasar.


"Ayo sini-sini!"


Reno mengendong Zora dan Ryo. Remario menggendong Vendra dan Horizon.


"Wah ... banyak oleh-oleh nih, tumben!" ujar Rion langsung mencomot onde-onde.


"Papa ipu pa'a?" tanya Fael lalu merebut makanan dari tangan Rion.


"Onde-onde baby," jawab pria tampan itu.


"Ponde-ponde!" angguk semua bayi mencari makanan yang dilapisi wijen itu.


"Nenat papa ... matasyih!' ujar Angel.


"Makasihnya sama Daddy Remario dong," ujar Darren.


"Matasyih Daddy!" ujar semua anak.


"Sama-sama sayang," jawab Remario tersenyum lebar.


"Papa Reno nggak diucapin makasih?" rajuk Reno cemberut.


"Beumana papa pawa loleh-loleh?" tanya Arsyad sambil mengunyah kue lapis.


"Itu kan papa bawa baby!" tunjuk Reno pada oleh-oleh yang dimakan oleh anak-anak.


"Papa janan menatui pestuwatu yan butan papa teuljatan!' ujar Fathiyya.


"Tapi kalo papa nggak ingetin kakek Remario, dia pasti lupa!" jawab Reno tentu tak mau diabaikan.


"Kakek inget kok!" sahut Remario meledek putranya.


"Daddy," rengek Reno.


"Eh ... kalian ini. Ayo ucapkan juga makasih sama Papa Reno!" suruh Khasya melerai semua anak-anak.


"Matasyih Papa Pleno!" sahut semua anak yang membuat Reno berdecak.


Arimbi terkekeh melihat suaminya cemberut. Wanita hamil empat bulan itu memeluk suaminya.


"Ajis, Tika, Ramlan dan Yahya kok nggak makan?" tanya Remario sadar jika empat anak itu tak menyentuh makanan.


"Pengen Pa, tapi tenggorokan gatel banget!" keluh Yahya.


"Oh ... jangan kalau begitu. Apa sudah berobat?" tanya Remario khawatir.


"Sudah Pa," jawab Yahya lagi.


"Hei kalian malah ikut makan. Mana berkas-berkasnya!" ujar Herman kesal pada Remario.


"Ini yah," Reno memberikan satu amplop coklat.


Herman mengangguk, di sana Rosa hanya diam dan ikut makan oleh-oleh yang dibawa calon suaminya. Arsh menyuapinya, walau makanan itu banyak masuk mulut Arsh.


Remario menatap Rosa. Ia memang dilarang mendekati calon istrinya.


"Besok kita cari kebaya dan baju pengantin untukmu," ujar Bart.


"Kita nggak beli juga?" celetuk Kean.


"Udah lama loh nggak beli baju," lanjutnya.


"Iya Yut, ****** Sean juga udah banyak yang melar!" sahut Sean tanpa filter.


"Pa'a ipu sempat?" tanya Nouval putra Rendra.


"Itu celana yang dipakai di dalam!" jawaban Kean membuat Terra gemas.


"Oh tolon!" angguk Nouval mengerti.


"Tolon ... tolon!' tiba-tiba Xierra berteriak.


"Tamuh teunapa?" tanya Arsyad heran.


"Suma isen laja tot!" sahut Xierra santai.


bersambung.


Ah ... Readers maaf ya ... kalau othor akhir-akhir ini hanya satu up aja. Lagi banyak urusan.


Pasti ada saatnya tiga episode!


ba bowu 😍❤️❤️❤️


next?