
Sky, Bomesh dan Arfhan adalah bocah paling banyak ingin tau. Marco kadang harus memutar otak bagaimana menggagalkan tiga perusuh paling rusuh ini jika sudah beraksi.
"Ketua, tuan muda sudah mau pulang!" lapor Santoso ketika melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
"Iya!" angguk Marco lalu bergerak masuk sekolah.
Harun dan anak-anak lain telah pulang lebih dulu. Sky, Bomesh dan Arfhan pulang beriringan dengan Radit juga Ditya.
"Selamat siang pak Marco!" sapa salah satu guru ketika melihat pria tampan itu berdiri di koridor sekolah.
"Selamat siang, Bu Indah!" balas Marco ramah, ia mengangguk dan tersenyum tipis.
Marcopolo, dua puluh tiga tahun. Pria tampan peranakan Indonesia-Italia. Ia adalah putra semata wayang pengusaha ternama di Italia. Berseteru dengan ayahnya karena menyelingkuhi ibunya.
Ibunya bernama Apriliani, meninggal akibat sakit kronis. Marco berpendapat jika sang ayah dan selingkuhannya itu membunuh ibu kandungnya.
Marco diusir dari rumahnya sendiri. Pria muda itu pun pergi diusia enam belas tahun. Ia ditemukan Gomesh di pinggir jalan tengah dikeroyok para preman.
Makanya Marco sangat fasih berbahasa Indonesia dari pada bahasa kelahirannya sendiri.
"Tuan mau menunggu Ananda Sky, Arfhan, Bomesh, Ditya dan Radit?" tanya Indah membuyarkan lamunan pria itu.
"Ah, iya Bu!' angguk Marco menjawab.
"Oh ya pak, tolong perhatikan Ananda Gino ya. Akhir-akhir ini ananda Gino sering kedapatan melamun," ujar Indah memberitahu.
"Oh iya kah?" tanya Marco sedikit tak percaya.
"Benar Pak, saya adalah wakil wali kelasnya. Saya sering kedapatan ananda Gino tatapan kosong, walau ia sangat pintar dan genius dalam semua pelajaran. Tapi melihatnya seperti menahan sedih seperti itu, saya khawatir akan mengganggu pelajarannya," jelas Indah terperinci.
"Baik Bu. Terima kasih atas pemberitahuannya. Saya akan sampaikan pada wali dari ananda Gino," ujar Marco.
Indah mengangguk, perlahan ia menghela nafas panjang. Bukan maksud dirinya mendekati pria dingin itu. Tetapi, ketampanan Marco tak bisa dielakkan mata siapapun.
Sepeninggalan Indah, Marco menghela napas berat. Ia merasa perempuan berprofesi guru itu hanya beralasan untuk berdekatan dengannya.
"Eh ... Kok aku kepedean gini?" sengitnya pada diri sendiri.
"Jika benar Tuan muda Gino ada masalah, aku bisa dipecat jika tak memberitahu!" lanjutnya bergumam.
Tak lama, Sky, Bomesh dan Arfhan keluar kelas. Muka ketiganya langsung lemas melihat keberadaan pengawal yang menunggu mereka.
"Kenapa ... Kenapa muka kalian begitu?" tanya Marco kesal.
"Nggak ada Papa!" jawab ketiganya kompak yang makin membuat Marco tak percaya.
"Babies, tolong jangan macam-macam. Kami tak mau kalau kalian kenapa-kenapa!" peringat Marco.
"Iya pa!" jawab ketiganya dengan wajah menunduk.
Ditya dan Radit keluar nyaris bersamaan. Ditya tersenyum melihat Marco yang selalu sigap.
"Alhamdulillah, papa cepet ada di sini," ujarnya sambil melirik tiga adiknya itu.
"Kakak!" rengek ketiganya kesal.
"Ayo pulang, sebentar lagi jumatan!" ajak Marco tak sabaran.
"Pa, pulang lewat jalan arteri ya, mau lihat pergelaran sirkus!" pinta Arfhan.
"Oh jadi kalian tadi mau rencana kabur ke situ?" tanya Marco menyelidik.
Baik Sky, Bomesh dan Arfhan tersenyum. Marco menghela nafas panjang. Pria itu sangat tau jika ketiga anak atasannya itu paling banyak ingin tau sesuatu.
"Iya pa, katanya nggak ada pertunjukan hewan tapi diganti dengan layar 3D atraksi hewan-hewannya!' ujar Sky semangat.
"Iya pa ... Boleh ya!" rayu Bomesh.
"Pa!" Ditya rupanya juga ingin lihat acara itu.
"Hanya lewat saja ya! Kita mau jumatan loh!" ujar Marco.
"Iya! Makasih pa!' angguk ke lima anak itu antusias.
Mereka pun berlalu dari sana. Indah menatap kepergian mereka dari balik kaca.
"Siapa yang dilihat Bu Indah?" tegur salah satu guru.
"Ah ... Nggak apa-apa pak! Itu saya melihat keluarga Dougher Young! Mereka itu akrab walau tak sedarah," jawab Indah cepat.
Pak guru hanya manggut-manggut, pria itu tak bertanya banyak lagi. Indah meraba dadanya yang berdesir. Perlahan ia menggeleng pelan.
"Terlalu jauh!" gumamnya dalam hati.
Sementara di villa, Virgou menatap arloji bermerk ternama di pergelangan tangan kirinya. Pria itu tampak gusar melihat pergerakan satu mobil listrik yang membawa anak-anak ke jalan protokol.
"Gomesh!" teriaknya.
"Kau bawa jump charger cadangan! Susul semua anak di jalan arteri X!" perintah Virgou.
"Baik ketua!" Gomesh membungkuk hormat.
"Mudah-mudahan mobil itu bisa sampai tanpa harus nge-charge batre di tengah jalan!" dengkus pria sejuta pesona itu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Puspita bingung melihat suaminya.
"Itu anak-anak dibawa jalan melewati jalan besar!" jawab Virgou mendumal.
"Ya lalu?" tanya Puspita bingung.
"Sayang?" Virgou menatap istrinya yang memandangnya polos.
"Mereka pakai mobil listrik!" sahut Virgou dengan sengit.
"Oh ...," angguk Puspita cuek.
Namun ketidakpeduliannya itu hanya berlangsung sebentar saja.
"Astaghfirullah anak-anak!" ujarnya mulai cemas.
Virgou berdecih meledek istrinya. Puspita langsung uring-uringan. Ia sangat yakin jika ada anak yang sangat ingin ke salah satu tempat hingga harus melewati jalan yang penuh dengan kendaraan itu.
"Baby Sky, Baby Bomesh, baby Arfhan!" keluhnya.
"Putraku!" rengeknya kemudian.
"Kau kenapa?" tanya Bart yang melihat cucu menantunya kesal dan gelisah jadi satu.
Puspita langsung memberitahu apa yang baru saja terjadi. Bart tentu langsung lemas.
"Apa Marco gila membawa lima cucuku melewati jalan besar!" umpatnya kesal pada pria yang menjadi ketua pengawal anak-anak.
Sementara itu Marco yang ada bersama anak-anak atasannya mengorek kuping dalam-dalam. Indera pendengarannya itu tiba-tiba terasa gatal.
"Aku pasti habis, setelah ini!" angguknya yakin jika dirinya kini dibicarakan oleh orang tua kelima anak yang tertawa dan antusias bersamanya.
"Itu gerbang sirkusnya!' tunjuk Santoso.
"Wah besar ya!" ujar Sky takjub.
Mobil listrik itu melaju dengan kecepatan sedang. Marco sudah memperhitungkan semuanya. Sehabis melewati gerbang sirkus, ia akan melalui jalur alternatif agar bisa cepat sampai di villa hingga memperpendek perjalanan mereka.
"Sudah kan?" ujar Marco.
"Pa, masuk ya!" pinta Bomesh menghiba.
"No!" tolak Marco lalu menekan pedal gas lebih dalam.
"Papa!" rengek kelimanya.
Marco memilih menulikan telinganya. Ia tak mau ambil resiko. Gomesh yang menuju kendaraan yang dibawa salah satu anak buahnya.
"Mereka menuju jalan alternatif ketua!" lapor Hilman melapor ketika melihat pergerakan kendaraan yang membawa anak-anak dari bravesmart ponselnya.
"Alhamdulillah!" seru Gomesh tak sadar.
Pria itu pun membelokkan kendaraannya di jalur yang sama. Ia dapat mengejar mobil yang ditumpangi lima anak ketuanya itu.
Nyaris setengah jam perjalanan, sky, Bomesh, Arfhan dan Ditya harus berlari karena kumandang adzan berbunyi.
"Cepat ganti baju!" teriak Maria menatap lima anak laki-laki yang terlambat.
"Wawo woh!" seru Angel meledek kelima kakaknya.
"Meuleta napain jaja syih?" tanya Zaa manyun.
"Ma lapar!" rengek Bomesh dan Arfhan.
"Ini makan ini dulu ya!" ujar Layla memberi roti pada dua bocah yang lapar.
Mereka akhirnya masuk masjid. Terra menggeleng melihat tingkah anak-anaknya.
"Dulu Te nggak gitu deh!" ujarnya.
Maria dan lainnya menoleh pada wanita paling disayang di sana.
"Ih ... Kok pada liatin Te kek gitu?" sengit Terra kesal.
Bersambung.
Ya mereka mana percaya Netnet Teya!
Next?