
Lagi-lagi Salim menganga. Kali ini hunian Bram jadi tempat mereka semua menginap.
"Istana lagi?" Harun menggandeng saudara barunya itu.
Beberapa bayi langsung menuju area taman belakang. Di sana ada taman bermain, ayunan, perosotan, jungkat-jungkit dan bulatan besi ketangkasan.
"Baby hati-hati!" peringat Satrio.
Adiba membantu para ibu yang langsung menyiapkan makanan.
"Kak," Adiba tampak bermanja dengan sang kakak.
"Ata' Lalim!" panggil Arsyad.
"Ya Dek!"
Salim yang baru bergabung beberapa hari itu. Sudah mampu menarik para bayi untuk dekat dengannya. Bahkan Semua berebutan bermanja padanya.
"Kita main gobak sodor yuk!" ajak Harun.
"Sebentar lagi jumatan sayang!" peringat Puspita.
"Sebentar aja Mom. Ini baru jam sepuluh!" sahut Harun.
"Satu jam mana cukup kalian bermain itu!" teriak Puspita lagi.
"Mom ...."
"Menurut sayang!" sahut Virgou yang langsung membuat Harun diam.
"Mommy punya adik lagi sih!" celetuk Arraya pada Puspita.
"Astaga baby!" Puspita nyaris tersedak.
"Mommy sudah tua!"
"Nini Najwa sama Nini Lastri bisa punya baby!" sahut Arion lalu mengambil buah.
"Cuci tangan dulu baby!" Azizah langsung menghentikan tangan Arion yang hendak mengambil buah.
"Gendong!" pinta bocah itu.
Azizah menggendong Arion, lalu membawanya ke wastafel. Sedang Puspita masih memancungkan bibirnya karena Arraya meminta adik darinya.
"Minta sama Mamamu sana!" sengitnya.
'Kak!" peringat Terra.
"Memang Mommy bukan Mama Aya?" tanya Arraya yang membuat Puspita kesal.
"Anak Mommy banyak, kalau begitu. Mommy takut nggak hafal nama-nama kalian!" lanjutnya beralasan.
"Mommy punya anak lagi tapi matanya kek Kak Mai," sahut Kaila.
"Pasti cantik!" Arraya mengangguk setuju.
"Cantikan mata kamu baby," sahut Maisya.
"Mommy cape ah. Ngurusin kalian yang kadang buat mommy jantungan!" tolak Puspita terang-terangan.
"Kalau Mami yang kasih baby baru, kalian mau?"
Semua orang menoleh pada Seruni. Putri bungsunya sudah berusia empat tahun. Aliya Rinjani Putri Dougher Young juga sama rusuh dengan lainnya.
"Sayang?" Maria menatap wanita berhijab itu.
"Seruni nggak yakin, tapi udah dua bulan ini nggak dapat siklus. Karena kita ke Mekkah berangkat haji itu sebelumnya Seruni udah sebulan lebih nggak dapat," jelasnya.
"Kenapa nggak bilang sayang?" ujar Bart.
"Sini Saf periksa!' ujar Saf langsung mencari nadi wanita itu.
"Kok nggak ada ya?" Saf bergumam.
"Sayang?" Dav sangat khawatir.
"Kita nanti periksa ya ke lab," ujar Saf tak yakin dengan pemeriksaannya.
"Mami kamu nggak apa-apa kan?" tanya Dav langsung cemas.
"Nggak apa-apa Papi. Nanti kita periksa lagi lebih teliti. Papi jangan khawatir ya!' ujar Saf menenangkan pria yang mestinya kakak iparnya itu.
"Assalamualaikum!" Dominic datang bersama beberapa pengawal.
Tiga putranya langsung berlari ke belakang dan ikut bermain. Dinar juga datang membawa banyak paper bag.
"Sini Bibu!" Exel mengambil barang yang dipegang Dinar.
"Makasih sayang," ujar Dinar tersenyum.
"Sama-sama Bibu," sahut Exel tak keberatan.
"Babies ... Sini, Kakek bawa baju Koko sama mukena baru loh!' teriak Dominic.
"Holeee!"
Kean langsung mencari baju kokonya. Pemuda itu nyaris berebutan dengan kembarannya.
"Baby!' peringat Rion.
"Papa Baby, Kean mau Koko yang dipegang Calvin!" rengek Kean.
"Aku dapat duluan!" sentak Calvin tak mau mengalah.
"Sean ... Berikan Koko biru itu!" teriak Satrio.
"Rasya itu punya kakak!" teriak Dimas.
"Dimas, Kean, Satrio!" bentak Herman yang membuat tiga anak itu diam juga semua bayi yang lari ke pelukan para pengawal.
"Papa ... tatut!" bisik Maryam memeluk Marco.
Virgou langsung terpancing jika Herman marah. Pria itu bangkit dan merampas semua baju Koko yang jadi rebutan para pemuda.
"Sayang!' Khasya langsung menarik pria sejuta pesona itu.
"Bunda mereka keterlaluan!' sentak Virgou marah.
"Sayang, lihat bunda!' Khasya mengalihkan wajah pria beriris biru itu padanya.
Herman menatap tiga pemuda yang menunduk.
"Satrio, kamu sudah menikah. Kenapa kelakuanmu malah mengajari adik-adik mu?" tanya Herman marah.
"Mas,"
"Diam kau Dominic!" tekan Herman.
Dinar menenangkan suaminya. Ia sangat tau bagaimana watak Herman, ayahnya.
"Sat mau yang merah Yah," jawab Satrio lirih.
"Jangan jawab Ayah!" bentak Satrio.
"Mama ... Huuuu ... Tatut mama!" teriak para bayi mulai menangis.
Herman menghela napas panjang. Ia memang tak bisa memarahi anak-anaknya. Hingga tiba-tiba Ryo datang dan membawa baju Koko yang ia pilih.
"Apah ... Imi jaju oto Yiyo wuwat Apah!" ujarnya menyerahkan baju kokonya.
Herman gemas bukan main. Lalu Salim maju dan menyentuh tangan pria tua itu.
"A ... Yah," panggilnya takut-takut.
Herman lagi-lagi menghela nafasnya. Dimas langsung memeluk ayahnya. Ia meminta maaf, disusul Kean dan Satrio.
Dominic bernafas lega. Dinar memang sangat mengerti jika Herman tak akan sanggup memarahi semua buah hatinya walau berbuat kesalahan besar sekalipun.
"Besok-besok Papa beli baju yang sewarna semua!" tekan Dominic bersumpah.
"Biar kembaran!" lanjutnya kesal sendiri.
"Wah kalau kita pake kembaran seru juga kali ya!' sahut Rasyid.
"Iya ntar orang bilang. Satu lagi dapat hadiah panci!' sahut Raffhan malas.
"Hore Bomesh dapat koko juga!" teriak Bomesh mengagetkan semua orang.
Domesh dan Bariana juga tersenyum. Domesh mendapat baju Koko sedang Bariana mendapat baju gamis warna tosca.
"Papa, kok nggak sekalian jilbabnya!" ujar Bariana.
"Baby!" peringat Maria.
Semua mengira jika Maria keberatan dengan baju yang didapat anak-anaknya, termasuk Dominic.
"Maaf Maria. Aku tadi tak kepikiran buat belikan anak-anak kalian baju agamis itu. Tapi, semua harus sama jadi kami belikan sama," jelasnya.
"Oh ... Bukan itu maksud saya tuan. Saya memperingati Baby Bar agar tidak meminta lebih, ia harus berterima kasih apapun hadiah yang ia dapat!" ujar Maria menjelaskan agar tak jadi ke salah pahaman.
Akhirnya semua pun memakai baju Koko baru. Jika para laki-laki pergi ke masjid untuk sholat jumat, sedang perempuan memakai mukena baru mereka di rumah.
"Papa Pecel?'' Ryo mendekati Michael di sana.
"Baby," ujarnya tersenyum.
"Michael, kau di sini?" tanya Haidar bingung.
Michael tersenyum simpul. Haidar menepuk bahu pria tampan itu.
"Selamat datang bro!" ujarnya menyambut saudara barunya.
"Terima kasih tuan," ujar Michael.
"Eum ... Tuan," lanjutnya mendekati duduk Haidar.
Imam dan Khotib belum datang, Kean tengah sholawat dan bertindak sebagai muadzin.
"Bil qur'ani sa'amdhi ... Aj-lũ khobatsal ardhi ...."
Kean melantunkan shalawat bil qur'ani sa'amdhi.
"Duqtu walalan atakhola ... ‘An milãdil mabrus!" lanjutnya.
Suara Kean yang terbilang serak, tapi begitu menghanyutkan. Tak ada jamaah yang tampak saling mengobrol. Bahkan beberapa diantara mereka mengikuti shalawat yang dilantunkan Kean.
"Tuan," panggil Michael pada Haidar.
"Jangan sekarang ya. Nanti saja jika sudah selesai jumatan!" ujar Haidar.
Michael menurut, pria itu duduk sambil menunggu imam dan Khotib.
Bersambung.
Eeh ... Papa Pecel?
Next?