THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
PULANG



Keluarga besar itu meninggalkan kota Mekkah. Semua berurai air mata ketika melambai pada Ka'bah. Kemarin ketika berkunjung ke makam Rasulullah, semua keluarga bisa masuk ke dalam.


"Losul ... Zozon bulan lulu ya ... Hiks!" Horizon melambaikan tangan pada makam yang ditutup pelan.


"Ya nabi salam 'alaika ... Ya Rasul salam, salam 'alaika ... Ya habib salam 'alaika ... Sholawatullah 'alaika ...."


Air mata para pengawal yang ikut serta menetes ketika melantunkan lagu sholawat. Mereka melambai perlahan, banyak jamaah ikut menangis.


"Ya Rasul, kami rindu ... Hiks!"


Beberapa petugas mengusir jamaah karena menangis. Mereka benar-benar melarang memuja nabi terakhir itu berlebihan.


"Allah ... Allah!" seru para penjaga mengingatkan.


Semua keluarga berjalan mundur ketika meninggalkan kota suci itu. Para bayi telah terlelap karena mereka pulang di malam hari.


Rosa dipelukan suaminya. Kali ini Remario ingin bermesraan dengan istrinya.


"Sayang," panggilnya mesra.


Rosa merona, gadis itu tenggelam dalam pelukan pria itu. Tapi kemesraan itu tak berlangsung lama.


"Boma!" Fatih terbangun dan mencari keberadaan nenek mudanya.


"Baby, sama Uma aja ya," ujar Saf tak memberikan putranya pada Rosa.


"Sayang, biarkan Bayi dengan Mamud!" pinta Rosa.


"Ih ... nggak boleh!" larang Saf.


"Kasian Papa Mamud!" sahut Darren.


Rosa lagi-lagi merona. Remario tentu hanya ingin berdua saja bersama istri yang selama dua puluh hari ia abaikan.


Satu pesawat Airbus A380 mengangkut seluruh keluarga. Perjalan masih panjang, semua terlelap dalam mimpi akan Ka'bah.


Sementara di Indonesia, semua beristirahat. Maria meminta maid yang ada di rumah menyiapkan semua kamar. Karena subuh para keluarga akan sampai di rumah itu.


"Sayang," Maria menoleh.


Gomesh datang dan duduk di kursi makan. Maria menyiapkan makan siang yang sedikit terlambat itu.


"Bagaimana kasus baby Nai Pa?" tanya Maria.


"Pak Laksono minta jalur damai. Nona bersedia, terlebih ucapan Sinta tak sampai di luaran sana," jawab pria raksasa itu.


"Lalu bayinya?" tanya Maria.


"Mereka tidak meributkan itu. Papa rasa mereka tak peduli bayi malang itu," jawab Gomesh lagi.


Maria iba pada bayi yang tak berdosa. Lagi-lagi seorang anak jadi korban akibat keegoisan orang tua.


"Kasihan bayi itu. Mommy yakin kalau dia belum diberi nama," ujar wanita itu.


Sementara di tempat lain, Andira membawa bayi itu ke kakek nenek sang bayi.


"Ini bagaimana Tuan?" tanyanya.


"Oh ya, bayi ini telah saya susui karena sang bayi menolak diberi sufor," lanjutnya menjelaskan.


Laksono menatap bayi dalam gendongan seorang suster. Ia menoleh pada istrinya. Sang putri menolak anak yang dilahirkan.


"Apa mau kau merawatnya Sus? Aku akan beri kompensasi seratus juta untuk mengurusnya?" ujar Laksono.


"Bapak pikir seratus juta cukup untuk biaya bayi ini?" desis Andira tak percaya.


"Apa kau ingin memeras kami?" lanjutnya marah.


"Ini keturunan kalian. Apa kalian tak merasa ada ikatan darah?" sentak Andira yang juga emosi.


"....," Laksono terdiam.


Biyan adalah ayah dari anak yang ada dalam gendongan perempuan yang berprofesi sebagai perawat rumah sakit itu.


"Berikan pada ayahnya!" suruh Laksono lalu memalingkan mukanya.


Andira sangat marah. Wanita itu tak percaya ada sebuah keluarga yang begitu tega pada bayi yang tak berdosa.


"Baik, saya minta hitam di atas putih. Kalian tak berhak atas anak ini hingga sampai kalian mati!" teriak Andira lagi.


"Saya minta surat itu besok diantar ke rumah sakit dengan materai satu juta rupiah!" lanjutnya sinis.


Andira pergi membawa bayi yang belum diberi nama itu. Laksono duduk termenung. Perkataan perempuan tadi membuatnya gusar.


"Apa aku harus membuat surat pernyataan itu.


Andira ke rumah ayah biologis bayi yang ia bawa. Hasilnya sama saja, Biyan menolak bertanggung jawab. Andira memberi syarat yang sama pada pria itu.


"Aku buat sekarang!" ujar pria itu lalu memberi satu kertas memo.


"Ini, aku bubuhkan dengan darahku. Maka itu lebih dari semua materai yang ada!' ujar Biyan lalu melukai jempolnya.


Sebuah cap sidik ibu jari milik Biyan telah tertoreh di kertas. Andira menerimanya.


"Kita akan lalui bersama ya Nak, aku namai kau Muhammad Hamzah!" ujarnya lalu kembali mengecup bayi yang terlelap.


Hamzah menggeliat, bayi itu tentu tak mengerti jika dirinya dibuang oleh orang-orang yang mestinya menyayangi mereka.


Sementara subuh menjelang, keluarga besar sampai di hunian mewah. Semua masuk kamar dan sholat subuh sendiri-sendiri di kamar masing-masing.


"Sayang," Remario hendak menjamah istrinya.


"Nggak boleh sayang, ntar lagi pagi. Kita nggak boleh bobo," larang Rosa.


"Sun," pinta Remario manja sambil memonyongkan bibirnya.


Rosa terkikik geli, lalu dengan cepat ia mengecup bibir suaminya. Remario langsung menyambarnya dengan pilinan lidah.


Pagi Bariana menangis memeluk Harun dan saudara lainnya. Gadis kecil itu menangis.


"Kalian!"


"Hehehehe!' kekeh Harun.


"Eh tau nggak, aku sama mama pernah lari dari penjagaan loh," lapor Bariana.


"Eh ... Salim apa kabar ya?" ujarnya teringat.


"Pa?"


"Salim sudah lebih baik Nak, Mama Nai yang mengurusnya," jawab Gomesh.


"Iya, nanti Mama bawa pulang," jawab Nai.


"Apa keluarganya tidak keberatan?" tanya Terra.


"Salim tak memiliki siapa-siapa Ma," jawab Nai.


"Ya sudah, kita urusi dia. Kita bisa menempuh jalur hukum jika Salim menjadi tanggung jawab kita," ujar Virgou.


Nai mengangguk setuju. Ia tersenyum lebar. Salim anak pintar dan berani. Nai sangat yakin jika mereka akan menyukai Salim.


"Bu, saya dan anak-anak pulang ya," pamit Sri.


"Oh, Dimas!" panggil Khasya.


"Ya bunda," ujar pemuda berusia dua puluh tahun itu.


"Kamu antar ibu dan tiga adiknya Tiana sayang," pinta Khasya.


"Oteh Bunda, mari Bu!" ajak Dimas.


"Sania, Arif, Ustman, ayo salim semuanya," suruh ibunya.


Tiga bocah berusia dua, tiga dan empat tahun itu mencium punggung tangan semua orang tua.


"Nanti sering-sering main di sini ya," ujar Deta.


"Iya Kak!' sahut Arif yang paling tua.


Sri diantar oleh Dimas. Tiana juga ikut serta karena Herman juga memberi libur untuk keluarga itu.


Butuh waktu lima belas menit, Dimas sampai di hunian sedikit besar milik Tiana. Hunian yang sudah jadi milik gadis itu.


"Sudah sampai!" ujar pemuda itu.


"Mampir dulu tuan," ajak Tiana.


"Baik!" angguk Dimas.


Keduanya berjalan beriringan, Sania menarik baju ibunya.


"Bu, Ata' bacalan ya?" tanyanya berbisik.


Sri menoleh, Tiana menunduk ketika berjalan beriringan dengan tuan mudanya. Sri tersenyum.


"Ayo duduk," pinta Tiana mempersilahkan.


Dimas duduk, Tiana sibuk mengambil gelas dan menuangkan air zamzam yang dibawa dari Mekah.


"Silahkan Tuan muda,"


"Alhamdulillah!" ujar Dimas ketika menegak minuman itu.


"Assalamualaikum!"


Dimas dan Tiana menoleh. Seorang pria langsung masuk dan menatap dua insan itu.


"Jauhi putriku!"


Bersambung.


Ih ... Ngadi-ngadi!


Next?