
Semua berkumpul, kali ini mansion Dominic jadi tempat anak-anak bermain.
Setelah dua tahun mencari tempat tinggal. Sepuluh hunian besar dan sedang ditolak semua oleh Dominic. Virgou nyaris mematahkan hidung pria itu yang sangat cerewet.
"Ah ... baguskan rumah yang kupilih?" ujar Virgou.
"Alhamdulillah," jawab Dinar mengangguk dengan senyum lebar.
"Iya bagus, cuma aku ...."
"Kupotong lidahmu jika masih mengeluh Dom!" peringat Virgou sangat pelan.
Pria itu diam, ia memang pemilih. Jika bukan karena Dinar yang memarahinya. Kemungkinan hingga sekarang ia tak memiliki rumah sendiri.
"Addy ... Addy!" pekik Sena Starlight.
Bayi setahun itu berjalan dengan berjinjit. Aaric dan Alva sedang bermain mobil-mobilan yang ban nya tinggal tiga.
"Baby sini!" Virgou menggendong Sena.
Bayi bermata biru itu tertawa. Ia memeluk erat leher pria sejuta pesona itu. Virgou memang selalu bisa membuat bayi nyaman bersamanya.
"Addy ... Esna awuh matan loti sotat don!" pinta bayi tampan itu.
"Mau roti coklat?" Sena mengangguk.
"Ya sudah minta ayahmu belikan itu!" suruh Virgou lalu menurunkan Sena.
"Addy ... Nta oti otat!"
"Baby ... Jangan bicara seperti itu sama Daddy!" peringat Dinar.
"Yang lembut mintanya!" lanjutnya menyuruh.
"Addy ... Esna nta oti otat oleh?" ralat Sena.
"Boleh baby," jawab Dominic tersenyum.
"Matasyih Addy!" ujar Sena.
Dominic pun menyuruh salah satu maid untuk membeli banyak roti coklat. Tak jauh dari kediaman pria itu ada pabrik roti yang jika berproduksi, wangi mentega tercium hingga hunian itu.
"Bibu Kak Ila nih!" rengek Amir, salah satu anak angkat Bart.
"Baby!" peringat Dinar.
Dinar kembali bersama ibu-ibu yang lain. Mereka memasak untuk makan siang.
"Roti datang!" seru Dominic setelah maid memberi roti yang dibeli.
Semua mengambil roti. Dominic merasa jika jumlah roti berkurang.
"Een!" panggilnya pada maid yang membeli roti tadi.
"Ya tuan," ujar maid itu mendatangi tuannya.
Tampak wajahnya sedikit pucat. Ia tau jika sang tuan merasa kurang dengan apa yang dibelikan.
Dominic melihat sang asisten rumah tangga itu meremas jemarinya.
"Saya akan baik jika dia jujur!" tekannya menatap perempuan yang menunduk.
Virgou di sana diam saja. Ia tidak ikut campur dengan yang bukan urusannya.
"Jujur En, kamu kurangi beli rotinya kan?" Een menunduk.
"Ikut saya!" perintah Dominic.
Perempuan itu lesu, ia mengikuti majikannya ke ruangan lain yang jauh dari pendengaran dan aktivitas anak-anak.
Sementara itu Arimbi dan Nai duduk santai sambil memperlihatkan perutnya yang membuncit. Mereka saling elus satu dan lainnya.
"Bu'lek," panggil Nai.
"Ya baby?" sahut Arimbi.
"Anak-anak kita nanti Bu'lek yang urus ya!" ujar Nai.
"Hah?"
"Iya Bu'lek! Bu'lek aja yang urus. Nai cari duit!"
"Ngomong sembarangan kamu. Kamu pikir Langit itu apamu?" ketus Arimbi.
"Bu'lek!" rengek Nai.
"Maksudku itu. Bu'lek itu kek Mama. Jadi tumpuan anak-anak," jelas Nai.
"Eh ... Nggak ada itu!" tolak Arimbi.
Nai mengerucut. Ia ingin semua anaknya Arimbi yang mengurus, karena ia tak yakin bisa jadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anak.
"Bu'lek, Nai takut kalo anak Nai nanti jadi pembangkang kek Nai," keluhnya.
"Nah itu kamu tau. Kamu kan emang suka debat papa mama kalo ada yang tak beres sama pikiran kamu!" sahut Arimbi.
"Kan emang nggak sesuai dengan apa yang Nai pikir Bu'lek!"
"Ya kamu harus hadapi itu ...."
"Aku tuh takut ringan tangan sama anakku!" ujar Nai.
"Tapi sama semua bayi kamu nggak gitu kan?" Nai menatap semua perusuh yang bermain, ia mengangguk.
"Aunty Zaa yang keras seperti kamu aja kamu nggak mukul kan?" Nai mengangguk.
"Udah ... Jangan khawatir. Kamu pasti bisa mendidik anak-anak kamu dengan cara kamu," ujar Arimbi lagi.
"Vendra, kamu di mana?" teriak Luisa mencari keberadaan putranya.
Zora ada digendongan Dian. Makanya bayi itu tak berulah.
"Baby Aaric dan Alva juga nggak ada!" pekik Luisa lagi.
"Mama ... Amih isini ma!" pekik Alva ada di atas pohon mangga.
"Astaga!"
Pengawal lain tengah memegangi anak-anak. Rupanya tiga bayi tak terawasi.
"Au mbil Manda papa!" teriak Aaric.
Aaric sudah mencapai ujung ranting. Tangan kecilnya ingin menggapai mangga. Semua harus menahan nafas. Leroy, Ken dan Michael gegas memanjat dan mengamankan bayi lainnya.
"Papa pepastan atuh!" pekik Vendra.
"No baby!" tolak Michael mencium bayi itu hingga diam.
"Papa atuh didit!" ancam Alva yang dibawa Ken.
"Papa nggak cium ya!" ancam Ken.
"Papa ndat syasyit!" sungut Alva manyun.
"Baby hati-hati," ujar Leroy pada Aaric yang masih berusaha mengambil mangga.
Beberapa pengawal menjaga di bawah dahan di mana Aarick berada. Mereka menanti dengan cemas.
"Hup ... Papa papat papa!" teriak Aarick bahagia dapat mangga.
"Puter pelan-pelan baby!" ujar Leroy memberitahu.
"Putan?" Aarick bingung.
"Putan pa'a papa?" tanyanya dengan telapak tangan masih memegang mangga.
Virgou kesal dengan para pengawal yang hanya menunggu di sana.
"Dasar bodoh! Ambil tangga!" teriak Virgou.
"Memang otak dungu semua!" umpat Bart.
"Kak, Grandpa!" teriak Terra melotot.
"Mereka bodoh sekali sayang!" teriak Bart dan Virgou bersamaan.
Semua orang hanya menghela nafas panjang. Salah satu pengawal mengambil tangga.
"Putar jemarimu pada ranting buah baby!" suruh Leroy pada Aarick.
"Seperti ini!" lanjutnya memberi contoh memutar lengan dengan jemari yang ditekuk seperti memegang buah.
Tangan Aarick yang kecil tentu kesulitan. Bayi itu sampai menjulurkan lidahnya dengan bibir rapat.
"Huff!" bayi itu menghela nafas.
Sorot matanya tajam pada buah dan tangannya yang kecil. Lalu ia melihat bagian ranting. Tangannya bergerak ke arah ranting dan mengikuti apa yang dicontohkan Leroy.
Tik! Hup! Buah mangga ada di tangan bayi tampan itu. Aarick berhasil mendapat mangga hasil petikannya sendiri.
"Pipu!" pekiknya lalu berlari dengan mendekap mangga.
Pakaian Aarick kotor dengan wajah cemong penuh dengan getah pohon mangga. Rambut bayi itu juga kusut masai.
"Baby?" Dinar melotot melihat putranya.
"Mashaallah nak, kotornya!" ujarnya menggeleng.
"Pipu ... Manda imih puwat pipu!" ujar bayi itu memberikan mangga.
"Oh baby ... siapa yang ambil mangga ini?" tanya Dinar yang tidak tau apa yang terjadi.
"Lalit peundili yan bampil pipu!" sahut Alva kembarannya.
"Biya ... Dadahal atuh judha pisa, pati Papa Ten balah bampil atuh!" sungut Vendra melirik kesal pada Ken.
"Janan palah Antel teusil!" sungut Arsh ikut-ikutan. "Meuleta Tan totan dumu teumuwa!"
"Baby!" peringat Widya.
"Ommy ... Penpa peundili woh yan pilan!" sahut Arsh membela diri.
"Biya ... Tata wuyuy dithu! Podoh, totat dumu, nanat sisilan!" sahut Fathiyya mengangguki.
"Eh ... Padhi Wuyuy pidat pilan nanat sisilan?" sahut Al Bara mengingat.
"Basti wuyuy pupa Paypi!" sahut Fatih mengangguk.
"Biya wuyuy basti pupa ... Tan wuyuy pudah puwa!' sahut Xierra.
"Pundhu pulu!' sahut Aaima tiba-tiba.
"Teunapa ladhi? Janan pambun-pambun pupana penpa denan ladhu pisnelton ya!" peringat Chira pada Aaima.
"Pidat tot ... Mima pidat peundudha peudhituh!' sanggah Aaima.
"Pa'a ladhi beunulut mu?" tanya Aarav kembaran Chira.
Semua orang tua hanya menganga mendengar anak-anak berdebat.
"Tatana tan Wuyuy pudah puwa mih?' semua bayi mengangguk dengan kening berkerut.
"Talo pudah puwa ... Teunapa pidat hindap pi sendela ... tewus, teunapa didhina pidat pindhal puwa?" tanya Aaima heran.
"Woh ... wiya ya?!' sahut semua bayi tercerahkan.
Mata jernih bulat nan indah juga penasaran menatap Bart. Pria itu sangat kesal dengan tatapan itu.
"Itu karena buyut kalian bukan burung kakak tua," sahut Azizah yang gemas dengan asumsi semua anak-anak.
"Bulun spasa?"
"Hah?" Azizah melongo.
"Bulun spasa yan pudha puwa Ma?" tanya Al Bara lagi.
"...."
Tak ada yang bisa menjawab, mereka teralihkan dengan makanan yang dibawa oleh nenek mereka, Lastri.
"Babies ... Nini bawa mie ayam!"
bersambung.
Aduh Babies! ðŸ¤ðŸ¤¦
Next?