
Senin pagi, semua anak sekolah. Michael tak mau pindah tugas untuk mengawal istrinya. Pria itu lebih memilih menjadi penjaga anak-anak yang belum lancar bicara itu.
"Mereka memang sangat menyenangkan ya sayang?" ujar Anggraini yang mengerti.
Michael memeluk dan menciumi wajah sang istri. Nini sudah tinggal di hunian baru. Burhan dan kedua orang tuanya juga sudah tidak mengganggu Anggraini juga ibunya.
"Bagaimana perkembangan kasus bayi yang kini ada di tangan perawat Ninda?" tanya Virgou.
"Baik dari keluarga Sinta dan keluarga Biyan menolak keberadaan bayi itu Tuan!' jawab Gomesh.
"Suruh Ninda untuk mengurus surat adopsi anak itu. Aku takut suatu hari perawat baik itu kena masalah akibat mengasuh bayi tanpa surat-surat resmi!" suruh Virgou.
"Baik Tuan, perawat Ninda juga telah melakukannya. Ia memberi surat diatas pernyataan baik dari keluarga Sinta dan Biyan untuk tidak mengusik anak yang ia rawat!" jawab Gomesh.
Virgou mengangguk, ia menatap Theo yang berdiri tegak. Theo masih belum bisa beradaptasi dengan semua anak-anak kecil.
"Theo, aku perintahkan kau menjaga Sky, Bomesh dan Arfhan mulai sekarang!" titahnya kemudian.
"A ... Pa?!"
"Kerjakan Theo!" sentak Virgou tegas.
Theo menatap Virgou tak percaya. Tapi pria dengan sejuta pesona itu memang tak pernah bermain-main jika memerintah.
Theo pun akhirnya pergi ke sekolah di mana Sky, Bomesh dan Arfhan berada. Bukan tiga petualang itu saja ada di sana. Melainkan semua anak juga bersekolah di sana.
"Ck ... Apa hebatnya sih menjaga mereka. Kemarin mereka berbuat ulah. Bikin repot semua orang!" ocehnya menggumam.
Theo sampai di sekolah dengan berjalan kaki. Di sana ada Ken, Santoso, Nadia, Lani dan Ananda. Mereka berlima menjaga semua anak-anak.
"Ketua!" sambut kelima pengawal sambil membungkuk hormat. Theo mengangguk malas. Empat mobil listrik mengangkut anak-anak ada di sana.
"Mereka belum pulang?" tanya Theo.
"Belum tuan. Kami tidak boleh masuk selama jam pelajaran," jawab Ken.
Tak lama bel istirahat terakhir berbunyi. Semua anak-anak berhamburan keluar kelas.
Theo merasa bising mendengar teriakan anak-anak. Ken bergerak mendekati pagar. Dari situ ia bisa memindai semua tuan dan nona mudanya.
"Kau mengawasi mereka dari sini?" tanya Theo.
"Benar Ketua, walau sudah kami awasi. Kadang kami bisa terkecoh dan mereka berhasil keluar dari pengawalan," jawab Ken.
Sedang di teras sekolah. Arraya menatap pria yang ia kenal, gadis kecil itu tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Papa Ken!" teriaknya.
Ken yang melihat nona mudanya melambai tangan padanya. Ia pun membalas lambaian tangan itu.
"Apa bisa melihat sejauh itu?" Theo terbengong.
Jarak pagar dan teras ada sekitar seratus meter. Mata Arraya sangat jeli dan fokus. Tentu saja bahkan dunia gaib saja ia bisa memandangnya.
"Nona Arraya adalah paling istimewa dari semuanya ketua!" jawab Ken tentu ingat petualangan dunia lain yang terjadi beberapa minggu yang lain.
Arraya kembali memakan bekal makanannya bersama saudaranya yang lain.
"Eum ...," Titis hendak mengatakan sesuatu tapi mulutnya bungkam.
Gadis kecil itu sekarang tubuhnya lebih berisi dan bersih. Titis menatap Arraya, ingin sekali ia meminta tolong pada teman spesialnya itu.
"Ada apa Tis? Kok keknya kamu gelisah dari tadi?" tanya Arion.
Arion juga memiliki kepekaan yang sama dengan saudari kembarnya, Arraya. Tapi bocah tampan itu memilih tak menghiraukan apapun yang ia lihat atau yang ia rasakan.
"Eum ... Sebenernya aku mau minta tolong," ujar Titis sedikit ragu.
"Loh minta tolong kok ragu gitu. Udah nggak apa-apa, bilang aja!" ujar Azha.
"Iya, kamu kenapa sih? Kok keknya misterius banget?" tanya Harun yang penasaran.
"Sebenernya, aku minta tolong ini agak berat. Terutama buat Arraya," jawab Titis menjelaskan.
"Berat buat Arraya?" tanya Bariana. "Berat gimana nih?"
Titis hendak membuka mulutnya. Tapi ia seperti berat mengatakannya.
"Ngomong sih Tis!" sergah Bariana tak sabaran.
"Iya Tis. Jangan buat kami penasaran!" paksa Salim.
Salim masih belum bisa menggunakan sendok. Ia makan disuapi oleh Harun.
"Ini tentang hantu ...."
Semua anak yang tengah mengunyah mendadak berhenti. Mereka memandangi Titis. Gadis kecil itu seperti ketakutan untuk mengatakan hal yang baru saja ia alami.
"Hantu?" Titis mengangguk.
"Hantu di mana. Perasaan kemarin-kemarin nggak ada hantu di ruko Mama?!" ujar Bariana tak percaya.
"Jadi kemarin aku sama bapak pulang beli nasi goreng malam-malam ...."
Titis menceritakan pengalamannya. Mata gadis itu bergerak ke sana kemari, wajahnya juga sangat gelisah menandakan ia ketakutan.
"Jadi gitu ceritanya," ujarnya mengakhiri cerita.
"Halusinasi aja kali Tis!" sahut Arion.
"Kalau aku aja mungkin iya. Tapi bapak juga liat!" sahut Titis dengan suara lirih.
"Kemarin, pintu rolling ruko seperti ada yang gerakin. Bapak sampai keluar, namun nggak ada orang. Bahkan siang hari juga gitu!" ujarnya dengan suara penuh ketakutan.
Arraya tiba-tiba berdiri. Semua anak tentu beristighfar.
"Astaghfirullah Aya!"
Arraya yang sensitif langsung menerima gambaran kilasan kisah. Hasan dan lainnya memeluk saudaranya itu.
"Aya, jangan buat kami takut!" ujar Arion sedih.
Gino keluar, bocah delapan tahun itu mengerutkan keningnya.
"Baby?"
"Kak ... Tolongin Aya!" seru Azha mulai panik sendiri.
Gino bergegas mendekat. Bocah itu menepuk pipi adik misannya.
"Ya ... sadar ya!"
Titis memanggil guru agama. Seorang pria datang dengan pandangan heran.
"Aya kenapa ya?"
Tubuh Aya kaku, gadis kecil itu tampak menatap sosok yang berada jauh di mana Ken dan Theo ada di sana.
Ken merasakan pandangan nona mudanya berbeda. Pria itu gegas menuju gerbang utama.
"Hei ... Ada apa!?" teriak Theo gusar.
Ken tak menjawab, beberapa pengawal sampai bingung melihat Ken yang setengah berlari dan masuk ke dalam sekolah.
"Kita ikutin yuk!" ajak Santoso.
"Ayo!" sahut lainnya.
Mereka pun masuk, di sana Arraya tengah menangis. Beberapa guru menenangkan anak didik mereka itu.
"Baby?" Ken mendekat.
"Papa ... Aya papa!" semua ikut menangis.
Tak lama Ditya, Radit, Sky, Bomesh dan Arfhan keluar sekolah. Ditya cepat menangkap apa yang terjadi.
"Baby Ay!"
"Kakak!" seru semua anak menangis.
Aya mendadak lemas. Gadis kecil itu seperti kehabisan daya.
"Ini apa yang terjadi!?" tanya Theo sangat penasaran.
"Maaf om, ini gara-gara Titis!" aku Titis dengan wajah menunduk.
"Kenapa ... Ada apa?" tanya Theo gusar.
Harun pun menceritakan apa yang terjadi. Ken menghela nafas panjang.
"Apa perlu ditangani Nona?" tanya Ken yang menggendong Arraya yang lemas.
Arion tiba-tiba menoleh ke arah lain. Bocah itu berlari dan membuat semua pengawal panik.
"Baby!"
"Kita harus ke sana Pa!" ujar Ditya yang juga merasa tak enak.
"Baby?" Theo paling gusar sendiri.
"Kita ijin Bu ... Ada satu mahluk yang ingin ditolong dan ini sangat urgent!" ujar Ditya meminta ijin pada gurunya.
"Kami ikut!" seru semua anak yang memang sangat antusias dengan sebuah petualangan.
bersambung.
wah .... dunia walwah lagi!
Next?