THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MELAHIRKAN



Fabio dan Pablo berada di rumah sakit. Istri mereka akan melahirkan secara bersamaan.


Keduanya cemas dan gelisah. Virgou datang memberi kekuatan pada dua bawahan terbaiknya itu.


"Jangan cemas, istri kalian pasti bisa melewatinya,"


"Makasih tuan," ujar Fabio.


"Kantung darah AB untuk pasien!" teriak perawat.


"Sus, kenapa dengan istri saya?" tanya Pablo cemas.


"Tidak ada masalah pak. Ini biasa bagi wanita yang melahirkan," jawab perawat menenangkan.


"Sus ...."


"Sudah ... Percaya kan pada medis!" ujar Virgou menenangkan bawahannya.


"Dia sudah ada di ruangan empat jam lalu. Tapi belum ada ....."


"Oooeeeeek!" terdengar tangisan kencang dari dalam ruangan.


"Allahuakbar!" seru Fabio dan Pablo.


"Tuan Fabio selamat anda mendapat seorang putra!" ujar perawat keluar.


Sepuluh menit berlalu terdengar lagi suara tangisan nyaring. Pablo mendapatkan seorang putri cantik dari istrinya.


Kini dua bayi dalam boksnya. Pipi kemerahan dan mata hijau hadir bagi pasangan Pablo dan Hafsah. Sedang bayi tampan dengan sorot mata tajam hadir untuk Fabio dan Salma.


"Assalamualaikum babies," sapa Virgou.


"Aahh!" seru bayi tampan.


"Hei bayi! Kau menantang ku?" Virgou gemas dengan bayi itu lalu menciumnya.


Bayi itu terlelap, lalu kecupan Virgou berlabuh pada bayi cantik bermata hijau.


"Ayahmu akan kerepotan menjagamu baby," kekehnya.


"Selamat Salma, Hafsah!" ujar Virgou memberi selamat pada dua ibu yang tengah memulihkan kondisi mereka.


"Terima kasih tuan. Besok kami sudah boleh pulang kok," ujar Salma.


Virgou pun pergi dari ruangan ekslusif itu. Fabio dan Pablo mendekati istri mereka masing-masing.


"Terima kasih sayang," ujar kembar tak sedarah itu.


"Sama-sama mas," balas dua wanita itu bahagia.


Satrio datang kemudian, Dav dan Gomesh. Mereka memberikan hadiah indah untuk dua perusuh yang baru hadir itu.


"Baby, kamu cantik sekali!" puji Satrio pada putri Pablo.


"Hah!" seru bayi tampan protes.


"Hehehe ... Kau keberatan jagoan?" kekeh Satrio lalu mengecup pipi bayi tampan itu.


"Apa sudah diberi nama?" tanya Dav yang menatap berbinar pada dua bayi rupawan itu.


"Aku memberi nama Yusuf untuk putraku," ujar Fabio.


"Sedang putriku kuberi nama Nur Jamila, yang artinya cahaya kecantikan!' sahut Pablo bangga.


"Halo baby Mil dan baby Yusuf!' ujar Gomesh lalu menggendong Yusuf secara perlahan.


"Ah!" seru Jamila protes.


"Papa gendong baby," ujar Dav lalu menggendong bayi cantik itu.


Dua bayi sudah terlelap dan kenyang. Keduanya begitu rakus mengisap pundi mereka. Rion datang bersama istrinya, dua bayi itu terjaga kembali.


"Ah!" seru keduanya ketika Rion abai.


"Baby," kekeh Azizah lalu menggendong Jamila.


"Papa, besok papa pulang ke mansion Grandpa!' ujar Rion memberitahu.


"Baik Tuan muda!' angguk Fabio dan Pablo menurut.


Besok hari, Dahlan menjemput Fabio dan Pablo bersama istri dan anaknya.


"Ketua!" Fabio dan Pablo hendak membungkuk hormat.


"Ah sudah, kasihan istri kalian!" ujar Dahlan lalu membantu memasukkan koper dan tas.


Mereka menaiki mobil dan meluncur ke kediaman Bart. Sampai sana, semua heboh menyambut kedatangan dua bayi baru.


"Amah ... Yoya au edet yayi adhi don!' pinta Zora yang gemas melihat bayi-bayi dalam boksnya.


Luisa berdecak mendengar permintaan putrinya. Andoro langsung menempel pada sang istri.


"No!" tolak Luisa langsung yang membuat Andoro cemberut.


"Kau kira hamil itu enak!" sengit Herman kesal.


"Marahin aja Yah!" sulut Luisa.


"Ayah,"


"Istrimu sudah mau lima puluh. Kau ingin membunuhnya?" seru Herman kesal sekali.


"Ayah!" peringat Terra.


Mata-mata jernih tanpa dosa tentu menelan bulat-bulat kata-kata Herman. Pria tua itu berdecak.


"Spasa pawu punuh amah syantit atuh?" seru Arsyad galak.


"Papa woh!" adu Aaima menunjuk Andoro.


"Days!" seru Arsh mengomando.


"Sempu!" seru Vendra.


"Selbu pom aypi!" ralat Fatih.


"Oh dah danti?" ujar Vendra.


"Dali pulu judha selbu!" ujar Al Bara malas.


"Wayo selan papa!"


Semua bayi mengejar Andoro. Pria itu tergelak menghindari bayi-bayi lucu itu. Tentu ia harus mengalah. Semua bayi ada di atas tubuhnya.


"Babies ... makan lontong sayur nih!' seru Maria.


"Untun lada matanan!" ujar Maryam.


"Talow pidat ...."


"Apa baby?" Andoro langsung menangkap bayi cantik itu dan menggelitik dengan bibirnya.


Gelak tawa tercipta, kerusuhan itu terhenti setelah Maria menyiapkan makanan untuk mereka.


"Jadi ini Nur Jamila?" tanya Kanya ketika bayi bermanik hijau ada di tangannya.


"Iya uyut," jawab Salma.


"Dan jagoan ini Yusuf?" tanya Bram yang mencium bayi tampan dalam gendongan Haidar.


"Mereka akan rusuh seperti kakak-kakaknya," angguk Haidar memastikan.


"Dan gadis kecil ini akan membuat para ayahnya harus pasang muka garang!" ujar Bart pada Jamila.


"Ah!" seru bayi cantik itu protes.


"Hei kau baru berumur satu hari!" sungut Bart gemas.


"Berarti cukuran kita samakan saja ya?" ujar Herman.


"Iya kita satukan saja!" angguk Bart setuju.


Fabio dan Pablo tak menolak, mereka akan menuruti kemauan tuan besar mereka. Salma dan Hapsah pun mengikuti saja.


"Kalian tak keberatan kan?" tanya Haidar.


"Tidak, selama itu masih dalam ajaran Islam," jawab Salma.


Terra mencium dua bayi itu. Ia sudah membayangkan betapa ramainya hunian mereka nanti.


"Aku akan mati dalam keadaan bahagia!" ujar Bart yang mendapat pelototan dari Herman.


"Jangan bicara sembarangan!"


Bart mencebik manja, Virgou berdecih melihat kelakuan absurd pria paling tua di sana.


"Apa kau anak sialan!" ketus Bart.


"Grandpa!" pekik Terra kesal.


"Ah netnet ... Butantah meman benpa Pildo nanat sisilan?" sahut Aaima tak masalah.


"Biya Ata' mama imih!' sungut Zaa tak habis pikir.


"Badahal Ata' mama tan nanat sisilan judha?!' sahut Nisa.


Terra kesal sekali, dua bayi menatap para orang tua. Terra makin sebal.


"Ayo makan dulu!" perintah Khasya.


Malam telah larut, dua pasang orang tua baru kini menempati kamar mereka masing-masing. Fabio menenangkan putranya.


"Kamu dipelet apa sih sama Papa baby sayang?" keluhnya.


Baby Yusuf ternyata sangat nyenyak dalam gendongan Rion. Tapi bayi itu terjaga ketika ayahnya yang menggendongnya.


"Sini, biar umi yang gendong!' pinta Salma.


Wanita itu membalik tubuh putranya, ia menggendong Yusuf dengan metode baru yang diajarkan Saf padanya.


Tak lama bayi itu pun terlelap. Perlahan Salma meletakkan bayinya dalam boks. Fabio memeluknya.


"Aku mencintaimu sayang," ujarnya tulus.


"Aku juga mencintaimu," balas Salma.


Sedang di kamar lain. Satrio dan Adiba tengah berusaha mencetak bibit mereka. Keduanya tampak berpeluh.


"Aku ingin anak banyak sayang!" pekik Satrio ketika melepas bibitnya dalam rahim sang istri.


"Aamiin!" seru Adiba puas dengan percintaan sang suami.


Beda kamar lain, Bart menatap bintang yang bertaburan. Bibirnya tak berhenti mengulas senyum.


"Nikmat mana lagi yang kudustakan?"


"Semua nikmat dari-Mu tak pernah putus. Aku mengira akan hidup sendiri ketika tua nanti. Siapa tau, kini aku dikelilingi seluruh keturunanku!"


"Maisya ... Istriku ... pasti kau bahagia di sana melihat semua ini kan?" tanyanya pelan pada sosok cantik yang melintas di pikirannya.


"Semoga kita bertemu nanti dan saling mengenali," lanjutnya. "Walau itu tak mungkin."


Bersambung.


next?