
Semua anak bermain di taman ketangkasan yang ada di belakang mansion Bart.
Nai tengah bermanja dengan ayahnya. Perempuan itu digendong di punggung Haidar.
"Hei ... Kau berat sayang," ujar Terra.
"Papa ...," rengek Nai.
"Tidak sayang, kau tidak berat!" ujar Haidar membela putrinya.
Nai mengeratkan pelukannya. Kehamilannya memang tak begitu memberatkan karena Langit yang merasakan ngidam.
Arimbi tengah mengikuti kemanapun Herman beranjak. Ia juga tengah bermanja dengan sang ayah.
"Anak-anak perempuan kita yang hamil lagi caper sama ayah mereka," kekeh Maria.
"Ck!" decak Terra cemberut.
"Eh ... Kamu kenapa?" kening Maria sampai berkerut.
"Kak, mas Haidar jadi kurang manjain aku!" adu Terra.
Maria melongo, Terra malah merengek pada wanita itu. Kelakuan Terra sudah sama dengan perusuh paling kecil di sana.
"Ata'!"
Faza tengah berjalan, bayi cantik itu makin montok, pipinya bulat kemerahan terlebih rambut pirang dan mata birunya.
"Aypi, inih!" panggil Vendra.
Faza yang tadinya ingin ke dua kakaknya berbelok. Kaki kecilnya masih tertatih melangkah. Memang ia lebih mahir memakai dengkulnya.
"Ya bom seusil!' sahutnya.
"Wita ain yut!" ajak Vendra.
Zora tengah menghisap botol susunya. Melihat saudara seumurannya hendak melakukan permainan. Zora meletakkan botol susunya begitu saja.
"Ata' ... tuh ain udha!" ujarnya lalu merangkak mendekati Faza dan Vendra.
"Ain ma, Papila, Bapila, Zozon, Sasan, Sashah!" ajak Vendra lagi.
"Atuh ain judha don!" Aarick ingin ikut serta.
"Wayo!' angguk Zora.
"Pom bimpa yayaitum banblen ... Sop jijah batai jaju yomben!"
Semua tangan-tangan kecil itu ada yang melintang, ada yang punggung tangan ada yang telapak tangan bahkan ada yang unjuk jari telunjuk.
"Wita papain syih?" tanya Sabila.
"Banana bompimpa!" jawab Aarick.
"Tuh jaja yan sadhi busuh!" ujar Horizon.
"Bita bain pa'a Pulu!" sentak Faza kesal.
"Bain lopisi-lopisi!" jawab Vendra.
"Ata' Lalit yan sadhi lopisi ... tuh adhi busuh!' ujar Vendra.
""Wewus ita bapain?" tanya Sabila, Nabila, Hasan, dan Hafsah kompak.
"Sadhi beulampot jaja!' usul Zora.
'Tita pampot Addy!" sahut Hasan semangat.
"Yayah Heyan!" sahut Aarick ikut-ikutan.
"Ata' powisi!" ujar Zora mengingatkan.
"Ah dat sasit sadhi wopisi!' tolak Aarick.
"Bita sadhi senpahat pemuwa!" sebuah ide dari Horizon.
"Tuh beulnah bonton nineton walo senpahat patai poten," ujar Vendra.
"Topen Paypi!" ralat Aarick.
Sena dan Alva juga ikutan. Akhirnya triple Starlight bersama adik-adiknya mengambil spidol entah dari mana.
"Bita titemin bata pita, piyal pidat lada yan beunenali pita!' ujar Sena mengomando.
Sabila mencoret muka saudari kembarnya. Bahkan bayi itu menambah kumis di pipi Nabila.
"Tuh sudha bawu aypi!' pinta Zora yang juga mau dicoret sedemikian rupa.
"Pita patai imi!' ujar Aarick memberikan senjata mainan milik kakak-kakaknya.
'Spasa yan pita pampot?" tanyanya kemudian.
Bayi-bayi itu mengamati semua orang tua. Mereka juga memperhitungkan para pengawal yang pastinya menjaga mereka semua.
'Bita lalus pumpuhtan tulu podhidal!" sebuah ide cemerlang tercetus dari otak Aarick.
"Dide padhus!' puji Faza.
'Tuh atan dodain Papa Pecel pama Papa Pio!' ujarnya.
"Tuh itut!" sahut Sabila.
Dua bayi cantik mendekat pada dua pengawal. Baik Michael dan Fio tentu tak tau maksud kedua bayi itu.
"Baby?"
"Apah ... Apah anten selali," puji Faza pada Michel.
Sabila memberi kode pada semua saudaranya. Pergerakan para bayi memang tidak pernah diperhatikan.
Selama para bayi dalam rumah. Menandakan mereka aman semua.
Padahal jika para pengawal lebih mengerti. Maka pertahanan mereka memang tak sebanding dengan otak-otak kecil ya g tengah beraksi itu.
Vendra membagi tugas jadi tiga bagian. Horizon, Alva dan Nabila menjadi penyerang pengawal Exel, Dian, Ambar, Tiana, Ken dan lainnya.
"Ata' pambil pali Pulu!" ujar Alva.
"Puwat pa'a bom teusyil?" tanyanya.
"Puwat sledin papa, mama Tinti!" jawab Alva menyeringai.
Al dan El Bara melihat pergerakan adik-adiknya. Dua batita itu mendekat.
"Ata' syanah!" usir Nabila.
"Ata' bimin pitut!" sengit El Bara.
"Janan bibut!' sentak Alva pelan.
"Shhhh!" ujarnya lalu menempelkan telunjuk di bibirnya.
Al dan El Bara bergabung. Hal ini membuat Virgou kesal dengan pada pengawal yang lalai.
"Dasar sialan!" umpat pria itu.
Tapi pria itu memilih bungkam. Ia ingin tau kesigapan para pengawal mengatasi kecerdasan keturunannya.
"Boy?"
Bart sedikit khawatir, pria paling tua itu merasakan akan ada peristiwa paling heboh di huniannya.
"Diam Grandpa. Kita lihat bagaimana cerdasnya semua keturunanmu itu!" ujar Virgou santai.
Semua saudaranya berhasil melewati penjagaan baris pertama yakini Michael dan Fio.
"Apah ... dutdut imih!" ajak Faza.
Michael dan Fio jongkok, dua bayi itu tiba-tiba menyerang mereka. Michael dan Fio tentu terkejut.
"Anan deldelat Apah!' ancam Faza di telinga Fio.
Michael tak bisa berkutik, Sabila ada di atasnya. Sebenarnya kekuatan mereka bisa mengalahkan para bayi cantik itu. Tapi di sinilah kehebatan permainan itu.
Michael dan Fio sadar jika mereka sudah kalah dari dua penjahat menggemaskan itu.
"Ih ... bodoh!" umpat Virgou kesal bukan main.
"Cicitku!' ujar Bart bangga.
Sedang Sena bersama Hasan dan Hafsah. Tiga bayi itu berhasil melumpuhkan lapisan penjagaan kedua yakni Ambar, Hendra dan Sukma.
"Astaga aku dikalahkan oleh anakku sendiri!" ujar Juno yang kalah telak oleh Hafsah.
"Pita itat!" ujar Vendra memberi perintah.
Semua pengawal diikat asal. Para pengawal berakting ketakutan.
"Tuan ... Lepaskan kami!" pinta Hendra.
Semua bayi mendadak jadi penjahat. Mereka melumpuhkan semua penjaga yang ada.
"Talian halus beunulut pada tamih!' ujar Maryam.
"Janan beuldelat!" teriak Aaric lalu membunyikan senjata mainan di tangannya.
Dominic ikut-ikutan tiarap. Mereka semua berakting ketakutan.
"Selahtan halta talian!" ujar Sena.
Budiman melihat putranya tengah mengambil buah naga dan memakannya. Pria itu dengan sigap mengangkat.
"Kalian harus menyerah. Ketua kalian, baba tangkap!" ujarnya.
"Baba ... pepastan atuh!" Horizon meronta.
Gomesh dan Dahlan hendak membantu ketua mereka. Tetapi, tiba-tiba Al dan El Bara berlari menerjang mereka berdua.
"Pepastan meuleta!' pekik Aisya.
"Apaw Bommy Disel atuh sium pampai simpan!" ancamnya.
"Oh baby ... Cium saja Bommy ... Bommy tidak keberatan!" ujar Gisel.
Virgou keluar bersama Bart. Ryo dan Vendra menaiki kedua pria itu.
"Talian Talah!" ujar Ryo.
Para pengawal mengaku kekalahan mereka. Leon, Frans, Remario menghadiahkan semua anak-anak uang.
"Bita te dindobalet!' seru Alva semangat.
"Bawu peuli pa'a ya?" ujar Aarick berpikir.
"Soslat, seslim, Siti ...."
"Nggak boleh makan Chiki!" larang Bart.
"Lampot ladhi wuyuy!" seru Al Bara mengomando.
"Selahtan wuwan penpa!" ujar Zora.
"Janan lutai wuyuy!" Hasan dan Hafsah merentangkan tangan melindungi Bart.
"Woh ... Beumana tamuh eundat bawu wuwan?" tanya Alva meledek.
Hasan dan Hafsah menggaruk kepala mereka. Bart gemas, ia pun berdrama.
"Tuan, aku akan memberikan uang dua kali lipat!" tawarnya.
"Talian janan seulintuh!" seru Aaima tiba-tiba.
Semua menoleh pada bayi itu. Para bayi mengerutkan keningnya.
"Selintuh ipu pa'a Ma?" tanya Hasan pada Terra.
Bersambung.
Ya jawab aja Te....
Selingkuh itu jajanan paling nggak enak di muka bumi.
Next?