THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KIDS ADVENTURE 2



Brug!


"Mang Kusni!" pekik semua anak.


Kusni terjatuh, pria itu tangannya bergerak-gerak ke atas seperti orang hendak tenggelam.


"Mang!" pekik Harun hendak mendekat.


'Jangan ke sini! Pergi!" usir Mang Kusni pada anak-anak yang sepertinya enggan meninggalkannya.


"Mang ...!" teriak semua anak hendak menangis.


"Jangan nangis, ayo pergi!" suruh pria tua itu lagi.


Wush! Angin kencang datang. Titis melihat kelasnya yang nampak jauh di depannya. Gadis kecil itu harus berlari dan meminta pertolongan.


"Aku lari!" teriak gadis itu memberanikan diri.


Wush! Angin kencang nampak mendorong gadis kecil itu hingga nyaris terpental, jika saja Bariana tak menangkapnya.


"Kita harus menolong mang Kus!" ujar Azha.


"Aku berdiri di titik itu!" seru Arion yang melihat celah.


Celah fatamorgana, pemisah antara dunia nyata dan dunia alam lain. Ada pilar dari kayu yang cukup besar.


Arion berjalan cukup berat ke arah itu. Angin menerpanya hingga ia harus menunduk.


"Hap!" Arion mencapai tiang kayu besar.


Bocah itu memeluk tiang dengan satu tangan. Ia menjulurkan tangannya. Bariana menyambut tangan itu, lalu Salim, kemudian Azha, seterusnya Harun dan Titis. Arraya tampak masih terpaku dengan tangan sahabatnya yang kecil.


"Aya ... pegang tangan Titis!' suruh kembarannya.


Titis melepas pegangan tangannya pada Harun. Ia menyambar tangan Arraya dan meraih tangan Harun cepat.


"Mang!" tangan Arraya menjulur hendak meraih tangan Kusni.


Pria itu menangis menatap bagaimana semua anak tetap bersikukuh menolongnya.


"Nak, pergilah. Mamang tidak apa-apa!" pinta pria itu.


"Nggak Mang!" tolak Arion.


"Ayo mang!" pekiknya lagi. "Ayi udah nggak kuat pegangan!"


Sementara di sebuah perusahaan, Virgou panik tak mendapati putra dan putrinya pada layar deteksi.


"Babies?!' serunya cemas.


"Dad?' Satrio melihat ketegangan salah satu ayahnya itu.


"Adik-adikmu baby, mereka dalam bahaya!" ujar Virgou yang langsung bermuka pias.


"Dad?" Satrio jadi ikutan takut.


"Kak?" Dav mendekat.


"Kita ke sekolah!" putus pria sejuta pesona itu.


"Fabio, Pablo!" serunya.


Dua kembar tak sedarah itu tentu tau apa yang harus dilakukan. Gomesh sedang tidak ada. Pria itu melatih para pengawal yang baru bergabung. Ia berada di markas pelatihan selama sepuluh hari kedepan.


Virgou, Dav dan Satrio menuju mobil Jeep milik Virgou. Kendaraan itu langsung melesat ke sekolah di mana Harun dan lainnya tinggal.


Sementara di sekolah, tak ada peristiwa aneh yang terjadi. Semua anak berkegiatan seperti biasanya. Radit, Gino, Ditya, Sky dan Bomesh juga Arfhan tampak berkumpul dan melihat kelas adik-adik mereka.


"Kok Babies nggak keluar makan?" tanya Sky bingung.


Bocah sebelas tahun itu berjalan ke arah kelas. Beberapa anak ada di dalam tampak bermain.


"Dik!" panggilnya.


Salah seorang anak mendekat. Sky bertanya keberadaan adik-adiknya .


"Tadi Harun, Azha, Arion dan Salim dihukum guru kak!" jawab bocah itu.


"Dihukum?"


"Iya kak, mereka berisik pas pelajaran sekolah. Terus belum kembali sampai sekarang!" lanjut bocah itu menjawab.


Sky tentu merasa aneh. Ia kembali pada kumpulan saudaranya.


"Kak? Mereka nggak mungkin kabur kan?" ujar Sky pada Ditya.


Ditya juga merasa aneh, bocah usia dua belas tahun itu menatap koridor menuju perpustakaan. Tiba-tiba ia berdiri dan hampir menjatuhkan kotak makanannya jika tak sigap ditangkap Arfhan.


"Kak! Ngagetin aja!" serunya kesal.


"Maaf baby," ujar Ditya meminta maaf.


"Kak mau kemana?" tanya Sky langsung mengekori disusul yang lainnya.


Ditya mempercepat langkah yang tiba-tiba terasa berat. Jarak perpustakaan hanya berada sekitar enam meter saja.


Sementara di luar gerbang. Tampak Marco kaget melihat ketuanya turun dari mobil dengan wajah pias.


"Ketua?"


"Ikut!" perintah Virgou datar.


Marco, Alda, Rian, Salsa dan Amara mengikuti ketua mereka. Indah yang baru keluar kantor melihat suaminya berjalan cepat mengikuti Virgou.


"Mas?" Indah mengekori mereka.


Virgou melihat pergerakan anak-anaknya yang lain.


"Babies!" panggilnya.


Tapi suara Virgou seperti hilang. Pria itu merasakan kekuatan besar hendak menghadangnya.


"Bangsat!' umpat pria itu dalam hati.


"Baby, panggil ayahmu!" suruh Virgou.


Satrio mengambil benda pipih yang ada di sakunya. Ia mencoba menghubungi ayahnya.


Virgou bisa melihat bagaimana Arion memeluk tiang kayu. Ditya dan lainnya hendak menolong tapi ada tembok tembus pandang yang menghalangi mereka.


"Babies!" pekik Virgou lagi-lagi tak ada suara.


Pria itu mulai menangis, ia duduk bersimpuh. Di sana Arraya dipegangi kakinya oleh Titis. Gadis kecil itu ingin meraih tangan mang Kusni yang tak bisa bergerak sama sekali.


"Ya Rabb ... Selamatkan anak-anakku!" pinta pria sejuta pesona itu penuh permohonan.


Satrio gagal menghubungi ayahnya. Sambungan telepon tak bisa menjangkau keberadaan pria tua itu.


"Dad," gelengnya lemah.


"Tidak ... Aku harus lebih kuat!" ujar Virgou menyemangati diri sendiri.


Pria itu berdiri lalu ia langsung berlari, Satrio, David dan semua langsung ikut berlari.


"Allahuakbar!" teriak Virgou, David dan Satrio.


"Pergi!" seru suara tanpa rupa.


"Pergi!"


"A‘ûdzu biwajhillâhil karîm, wabikalimâtillâhit-tâmmâtil-latî lâ yujâwizuhunnâ barrun wa fâjirun, min syarri mâ yanzilu minas-samâ’i, wa min syarri ma ya‘ruju fîhâ, wa min syarri mâ dzara’a fil-ardhi, wamin syarri ma yakhruju minhâ, wa min syarri fitanil-laili wan-nahâri, wamin syarri thawâriqil-laili, wamin syarri kulli thârinin illâ thâriqan yathruqu bi khairin, yâ rahmân! Artinya : “Aku berlindung dengan Zat Allah yang Maha Mulia, dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, yang tidak ada orang baik dan juga orang durhaka yang melampauinya, dari keburukan yang turun dari langit dan keburukan apa pun yang naik ke langit; dan keburukan apa pun yang naik ke langit; dari keburukan apa saja yang masuk ke bumi dan keburukan apa saja yang keluar dari bumi; dari keburukan apa saja yang keluar dari bumi; dari keburukan fitnah-fitnah siang dan malam; dari keburukan petaka-petaka malam; dari keburukan setiap petaka yang datang, kecuali petaka yang datang membawa kebaikan, wahai Zat yang Maha Penyayang.”


Blar! Blar! Blar! Tiga ledakan terjadi. Semua orang menutup telinga mereka.


"Babies!" pekik Virgou baru keluar suaranya.


Herman melempar garam. Pria itu datang tepat pada waktunya. Kean ada bersamanya langsung menolong semua adiknya yang berjatuhan.


Semua anak dipulangkan. Kepala sekolah menatap bangunan yang telah lama tak direnovasi itu.


"Kami sudah meminta dana dari pemerintah. Tapi belum ada tanggapan," ujarnya.


Kami akan menutup tempat ini dan memindahkan semua buku ke ruang sementara," lanjutnya lalu menatap pada Herman.


Pria tua itu memangguk, ia lalu pergi dari sana. Kusni mendapat perawatan intensif. Virgou berterimakasih banyak pada pria yang melindungi semua anak-anak itu.


Sampai hunian Virgou, Puspita memeluk semua anak-anak dengan bersimbah air mata.


"Mashaallah ... Alhamdulillah Allahuakbar!" ujar wanita itu penuh rasa syukur.


"Days!" seru Al Bara dengan mata besar.


"Pa'a Aypi ... tamuh beunpapatan peulita peuntin?" tanya Zaa tak sabaran.


"Ladhi-ladhi imi bentan Punia walwah!" adu Al Bara.


"Buniya walwah?' seru semua bayi dengan mata besar.


"Selantun ... Selantun ... pisimih lada sesta ... Sestana paya Paypi ...." Aaima tiba-tiba merapal mantra memanggil arwah itu.


"Baby!" seru Putri kesal dengan anak perempuannya itu.


Bersambung.


Nyamber aja baby Mima ya!


Alhamdulillah udah selamat semua anak-anak.


Next?