THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
JUMAT BERKAH



Seperti biasanya, masjid Al-Huda penuh dengan jamaah pria. Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah ibadah ini karena memang setiap minggu keluarga pemilik masjid membagikan sembako.


Namun, tidak ada lagi pria-pria bermobil yang parkir untuk mencari peruntungan mendapat paket sembako seperti sebelumnya.


"Selesai jumatan, yang dapat kupon harap menunggu di teras ya!" ujar marbot masjid memberi pengumuman.


Beberapa penjual mencoba peruntungan dengan menggelar dagangan mereka di depan masjid. Kean belum memulai tempat yang akan didirikan untuk membangun pusat bermain keluarga.


"Pa'lek gimana, udah jadi blue print nya?" tanya Kean pada Dewa.


"Udah baby, nanti Pa'lek kasih via email ya," jawab Dewa sambil mengacungkan jempolnya.


"Pupin ipu pa'a Ata'?" tanya Al Bara kepo.


"Blue print itu denah asli bangunan dan itu rahasia," jawab Kean seadanya.


"Lahasia?" Al Bara menatap pemuda yang memangkunya.


"Iya sayang, udah duduk di sebelah kakak. Jangan ribut ya!" perintahnya.


Al Bara duduk di sebelah Kean. Saudara kembarnya ada di sisi Haidar. Petugas masjid meminta para orang tua mendampingi putra-putranya agar tidak bermain ketika berada di dalam masjid ketika tengah beribadah.


Sholat dimulai dengan adzan. Seorang pria bertubuh tegap yang menjadi muadzin saat ini. Kean dan Calvin telah membentuk sebuah organisasi pemuda pecinta masjid.


Ada seratus anggota yang telah berkumpul dan membagi tugas untuk menjadi imam maupun muadzin ketika ibadah jumat seperti ini.


Usai sholat, tentu semua pergi dari masjid dengan tertib kecuali para pemegang kupon. Kean sedikit gelisah karena melihat boks plastik yang dibagikan pada jamaah.


"Baby, jangan lupain kakak!" ujarnya pada Samudera.


"Siap kak!" angguk Samudera memberi kode membulatkan jari telunjuk dan jempolnya.


"Atuh pitasyih don!" seru Arsyad pada panitia yang membagikan.


"Ini buat yang tidak mampu nak," ujar petugas.


"Atuh judha pelum bampu!" sengit Arsyad menyahuti petugas. "Tan atuh peulum pisa teulza!"


"Biya mih ... Janan sisilimasi don!" sahut Aarav ikut protes.


Petugas menatap Virgou. Pria itu mengangguk untuk memberikan kotak itu pada anak-anak bayi.


"Daddy pidat bampil?" tanya Nouval melihat Virgou tak dibagikan kotak.


"Nggak baby, untuk baby saja," ujar pria itu.


"Matasyih Daddy, banti pita badhi puwa ya!" ujar Nouval.


"Iya sayang," jawab Virgou lalu mengelus kepala putra dari salah satu pengawal terbaiknya itu.


Samudera yang mendapat tugas meminta lebih kotak. Remaja itu kembali mengantri tentu mengganti kopiahnya.


"Loh bukannya tadi adik sudah ya?" ujar petugas yang sedikit lupa.


"Ah masa pak?" tanya Samudera yang pura-pura lupa.


"Ya sudah, mungkin saya lupa, ini!" ujar petugas kembali memberikan kotak berisi makanan pada Samudera.


Usai membagikan sembako pada yang berhak. Semua pemuda membubarkan diri, begitu juga Kean, Calvin, Sean, Al, Daud, Satrio, Affhan dan Dewa.


Ella melihat saudara laki-lakinya sukses membangun sebuah organisasi. Gadis itu juga ingin berbuat sama.


"Kak, kita kek Kak Kean yuk!" ajaknya pada Maisya.


"Buat organisasi?" tanya Mai yang diangguki Ella.


"Iya tapi ini khusus perempuan saja. Kita bikin hari yang berbeda dengan para cowok jadi nggak bersinggungan gitu," jawabnya sambil menjelaskan.


'Ide bagus, kita bisa kasih solusi kesehatan untuk para remaja putri juga edukasi tentang bahaya pergaulan bebas," sahut Nai memberi ide brilian.


"Wah kalau begitu Uma dukung sekali!" sahut Saf antusias.


"Kebetulan Uma menjalankan program edukasi tentang pranikah dan kehamilan pada usia muda yang beresiko," lanjutnya menjelaskan.


"Apa? Kenapa dengan hamil muda?" tanya Adiba sedikit takut.


"Ketidaksiapan emosi juga kejiwaan pada si ibu. Terutama bagi mereka yang mendapat kehamilan di luar keinginan mereka!" jawab Saf.


"Apa Adiba ...."


"Kamu tidak sayang," sahut Lidya.


"Kan kamu ada kami. Jadi kalau nanti hamil di usia bawah dua puluh tahun. Kami akan membimbingmu juga menjaga kesehatanmu," lanjutnya menenangkan Adiba.


"Kita minta ijin sama mama ya!" ujar Lidya dan semua mengangguk setuju.


Sedang Benua, Domesh dan lainnya hanya menatap malas pada kakak-kakaknya.


"Kita nggak bisa ikutan gitu? Kan kita udah remaja?" ujar Domesh.


"Dom, kamu kan beda," sahut Benua tak enak hati.


Domesh menunduk, ia lupa jika dirinya berbeda keyakinan dengan semua saudaranya itu.


"Eh, kenapa nggak buat organisasi antar agama aja!" celetuk Arfhan memberi ide.


"Organisasi antar agama?" Arfhan mengangguk antusias.


"Jadi kita bisa menjadi penengah lintas agama untuk saling mengenal dan menghormati agama lain. Tujuannya bisa mengedukasi masyarakat tentang perbedaan!" sahut Samudera juga tercerahkan.


"Jadi Bomesh bisa ikut?" tanya Bomesh.


"Iya, kita kan semua beda usia jadi ikut aja karena edukasi itu untuk semua usia!" jawab Samudera lagi-lagi mendapat ide cemerlang.


Para orang tua sangat senang mendengar ide itu. Maria tersenyum dan sangat terharu karena anak atasannya tak pernah membedakan siapapun.


Deg! Deg! Deg! Ritme jantung Maria berdetak cepat. Darahnya berdesir halus dan membuatnya merinding.


"Mashaallah!" gumamnya pelan tanpa sadar.


"Sayang?" Gomesh khawatir melihat sang istri yang mengelus dadanya.


"Kamu tak apa-apa ?" tanyanya cemas.


"Aku tidak apa-apa sayang," jawab Maria tersenyum.


Sementara perbincangan semuanya ditelan mentah-mentah oleh para bayi. Arsyad sampai harus mengetuk dahinya karena berpikir.


"Ata' Syasyad!' panggil Zaa.


"Anti baby," sahut Arsyad.


"Pa'a yan tau pitiltan?" tanya Zaa.


"Bitu ... Peumbisalaan wowan lemasa," jawab Arsyad.


"Atuh binun syih peubeunalna," ujar Zaa menatap kakak-kakaknya.


"Meuleta bawu pentut paa padhi? Dolaniasi?" tanya Zaa lagi.


"Lolanisasi," ralat Arsyad yakin.


"Pa'a ipu lolanisasi?" tanya Zaa.


"Pidat pahu, pati talaw pipitil-pitil peuntan wowan yan beutumpul!" jawab Arsyad yakin.


Semua bayi tampak tertarik dengan apa yang dibicarakan Arsyad. Arsh mendatangi balita itu.


"Pa'a yan Ata' pitiltan peuntan polasisasi?" tanya Arsh.


"Apan Baji Baby Alsh, meuleta beumpuat tumpul-tumpulan puntut wuwat asala," jawab Arsyad.


"Asala pa'a?" tanya Arsh lagi.


"Asala posial," jawab Arsyad.


"Bosial pa'a?" tanya Vendra.


"Asala puwat pantuin wowan," jawab Arsyad lagi-lagi sangat yakin.


"Woh ... Pa'a tah pita pisa puwat bolanisasi?" tanya Aisya.


"Pisa!" jawab Arsyad yakin.


"Padhaibana?" tanya semua bayi kompak.


"Imih sedan atuh pitiltan!" jawab Arsyad tampak berpikir keras.


"Ata', atanan imi badhi don!" pinta Faza pada Al Bara sambil menunjuk kotak plastik berisi makanan.


"Oh wiya ... Padhi pita bambil totat ipu panyat!" sahut Arsh.


Mereka pun lupa dengan percakapan sebelumnya karena sibuk membuka kotak. Nouval ingat jika kuenya harus dibagi dengan Virgou.


"Daddy!" panggilnya sambil mencari keberadaan pria dengan sejuta pesona itu.


Virgou tengah berbincang dengan Samudra, Kean dan Ella. Mereka tengah memberikan presentasi tentang organisasi mereka.


"Iya baby," sahut Virgou.


"Daddy, bambil tuena,' ujar Nouval lalu menyerahkan kotak plastik berisi kue-kue pasar.


"Oh baby, kamu baik sekali!" puji Virgou.


Hal itu diketahui semua bayi. Mereka pun berbondong-bondong membagikan isi kotak pada Virgou.


"Addy, peubenelna Apan Baji Baby Alsh pudah bawu tasyih imih. Suma teuduluwan Ata' Popal" ujar meyakinkan Virgou.


Virgou hanya tersenyum mendengar pengakuan Arsh. Ia tak mempermasalahkan itu.


"Kalian makan saja sayang. Daddy sudah kenyang," suruhnya dan membuat semua bayi senang.


"Punya kakak tadi mana baby!" seru Kean ingat jika miliknya harus disingkirkan.


Virgou menghela nafas panjang melihat tingkah putra tertuanya itu. Semua anak sibuk makan isi kotak yang sebenarnya bisa dibuat lebih banyak atau Virgou bisa membelikannya untuk semua anak.


"Tetaplah sederhana seperti ini Babies," gumamnya bangga melihat semua anak makan saling suap.


Bersambung.


Abang haji Baby Arsh! Kamu tuh bisa aja ya! 😁🤭


next?