
Bart menjemput putrinya di kontrakan Nini. Wanita itu tentu mengembalikan anak yang memang menjadi hak dari Bart.
"Ikutlah Bu," ajak Anggraini.
"Tidak Nak,' tolak sang ibu.
"Ikutlah, putrimu membutuhkan dirimu!' suruh Bart.
"Tapi tuan ...."
"Ajak ibumu Nak!" perintah Bart lalu naik ke mobil.
Di sana ada Deni menyetir. Pria itu hanya ditemani oleh Deni. Anggraini memaksa.
Akhirnya setelah membawa sedikit pakaian dan mengunci pintu kontrakan. Nini mengikuti putrinya.
Sepuluh menit perjalanan, setelah sampai. Nini menganga melihat bangunan megah di depannya.
"Nak, kamu tinggal di istana?" tanyanya lirih pada Anggraini.
Sang gadis hanya tersenyum, ia menggelayut manja pada perempuan yang melahirkannya itu.
Mereka turun, Bart melihat sang putri ternyata telah memaafkan ibunya. Ia tersenyum namun terbesit rasa tak terima.
'Kenapa dia manja pada perempuan yang menelantarkannya?' tanyanya gusar.
Mereka masuk dan memberi salam. Semua perusuh menyambutnya. Arsyadi yang langsung minta gendong pada Anggraini.
"Ata' atuh melindutanmu!" ujarnya genit.
"Ketua!" rengek Michael.
"Kupukul kau anak sialan!'' sentak Gio kesal.
"Kakak!" teriak Terra melotot.
"Ini nih!" tunjuk Gio kesal. "Masa cemburu sama anak usia mau empat tahun!"
"Jangan ...."
"Mama pusdahlah!" potong Arsh jengah.
"Pemuwa pudah tawu talo tamih ladalah nanat sisilan. Tan Mama judha!" lanjutnya memutar mata malas.
Terra memberengut, ia menatap kesal pada Virgou yang dulu mengatainya nanat sisilan.
"Apa ... apa salahku?" tanya Virgou tanpa dosa.
"Ata' imih netnet puwa spasa?" tanya Maryam pada wanita yang takut-takut untuk melangkah.
"Oh ... Perkenalkan ini ibunya Kakak!" ujar Anggraini memperkenalkan ibunya.
Bart duduk dengan muka ditekuk. Khasya melihat kecemburuan di sana. Ia menggoyangkan lengan suaminya.
"Yah, liat Daddy," bisiknya.
"Biarkan saja," ujar Herman.
'Ih ayah ...," Khasya tentu kesal dengan suaminya.
"Tenang sayang. Daddy pasti akan mengerti nanti," ujar Herman menenangkan sang istri.
Tapi mereka melewatkan Leon dan Frans. Dua pria itu langsung menatap tak suka perempuan yang ada di belakang tubuh putri atau adik angkat mereka.
"Pa," Anggraini memohon pada dua ayah yang kesal itu.
"Baik buruknya dia. Beliau tetap ibu Angga," ujarnya memberi pengertian.
Frans dan Leon menghela nafas panjang. Mereka tentu harus terima, bukan kah mereka banyak begini karena saling memaafkan.
"Duduk lah, siapa nama ibumu nak?" tanya Leon pada akhirnya.
"Nini, namanya Nini Antini," jawab Anggraini dengan senyum indah.
Michael mendekati calon mertuanya. Ia menyalim perempuan yang sedikit takut.
"Aku adalah calon suami putrimu ... Ibu," ujar Michael.
Terra mendekati kakeknya. Ia mengelus bahu besar pria paling tua di sana.
"Grandpa tidak apa-apa?" tanyanya.
Bart mendongak, Terra memberi kecupan di kening pria itu. Hati Bart akhirnya menerima jika Anggraini memang sepenuhnya bukan miliknya. Bahkan ia tak bisa menjadi wakil gadis itu karena masih memiliki ayah kandung.
Tak lama Nini akhirnya bisa berbaur dengan semua anak-anak. Ryo ada dipangkuan wanita itu.
"Ayah angkatmu luar biasa nak!" ujar Nini memuji.
"Beliau bukan hanya sekedar ayah Bu, tapi juga sahabat, teman dan juga malaikat pelindung kami," ujar Anggraini menatap Bart penuh cinta.
"Beliau adalah ayahku. Ayah yang tak pernah malu menggenggam tanganku. Tak malu mencium keningku, tak malu memelukku," lanjutnya membuat Nini malu.
"Maafkan ibu nak. Andai bisa mengulang waktu ...."
"Aku tak mau mengulang Bu ... Aku bahagia hidup begini," potong Anggraini.
Nini diam, ia tentu setuju dengan perkataan putrinya. Andai ia tak membuang Anggraini, kemungkinan putrinya sudah seperti dirinya.
"Ibu, minggu depan, kami akan menikah," ujar Michael.
"Ibu tak memiliki hak apapun melarang kalian. Raini sudah besar dan sudah bisa menentukan jalan hidupnya. Saya pasti meridhoi kalian," ujar Nini terharu.
"Oh ya, apa kau ingin tau nasib ayahmu Raini?" tanya Virgou.
Semua menatap pria dengan sejuta pesona itu. Bart selalu kesal dengan cucu dari mendiang saudara kembarnya itu.
"Apa lagi yang kau lakukan Boy? Sepertinya kau sudah tau semua tentang anak-anak!" ujarnya kesal.
"Grandpa ... Aku kan mafia ...."
"Kak!" peringat Terra.
"Woh ... Sadhi fifiya ipu butan Mama Iya?" tanya Maryam tak percaya dengan mata bulat.
Terra kesal lalu memukuli kakak sepupunya yang tampan itu. Ia sampai merengek dan minta suaminya memukuli Virgou.
"Sayang ... Kau ingin aku apa?" tanya Haidar kesal sendiri.
"Ih! Ayah!" rengek Terra.
"Virgou!" peringat Herman.
Virgou cemberut, ia akan patuh dengan pria yang paling dihormati di sana.
"Sayang!" peringat Khasya.
"Bunda malah sayang sama Kakak!' rengek Terra.
"Sayang, sudah ya sini sama Mama," ajak Lastri membawa Terra yang ngambek.
"Sudah abaikan dia!" ujar Bart.
"Apa kau tau semua boy?" tanyanya yang diangguki oleh Virgou.
"Tentu aku tau, itulah gunanya ... Ah lupakanlah!" putusnya melihat tatapan para perusuh paling junior yang super kepo itu.
"Baby bawa anak-anakmu ya," perintahnya pada Rion.
"Ah ... Daddy, Ion kan juga pesanaran eh penasaran!" tolak Rion yang juga ingin tau.
Virgou menggaruk kepalanya. Ia pun batal memberitahu dan memilih mengajak anak-anak makan es krim.
Setelah malam tiba. Semua anak tidur. Tinggal Virgou, Bart, Frans, Leon, Haidar, Gabe, Michael dan Dav belum tidur.
"Jadi bagaimana kak?" tanya Haidar masih penasaran bagaimana nasib ayah dari Anggraini.
"Mungkin karma memang tak ada di Islam. Tapi hukum tabur tuai itu memang benar-benar terjadi pada Burhan ayah dari Angga," jawab Virgou.
"Tiga tahun setelah menceraikan istrinya. Putra Burhan dari istri mudanya kecelakaan dan membutuhkan darah ...."
"Apa darahnya tak sesuai?"
"Benar sekali!" jawab Virgou.
"Tapi kan perubahan darah bisa terjadi kan, Golongan darah manusia ditentukan oleh protein mana yang sebenarnya dibuat tubuh," ujar Dav lagi.
"Maka itu istri muda pelakor itu bersikeras jika itu adalah anak Burhan!' ujar Virgou lagi.
"Tapi Burhan curiga dan melakukan test DNA," lanjutnya
"Hasilnya bukan anaknya!" putus Gabe.
"Tepat!" sahut Virgou.
"Burhan mengamuk dan langsung menceraikan pelakor itu. Tapi ternyata pelakor itu sangat licik. Burhan tak mendapat apapun dari harta karena perempuan itu telah memindahkan semua nama aset Burhan atas namanya ... Dan lebih licik lagi semua disetujui oleh Burhan sendiri," jelas Virgou seperti senang mendengarnya.
"Lalu apa lagi kak?" tanya Dav begitu penasaran lanjutannya.
"Well seperti yang kalian lihat. Semua saudara menjauh ketika ada keluarga yang terpuruk termasuk Burhan," jawab Virgou.
"Kita nggak ya!" tolak Haidar.
"Ya kecuali kita lah!" sahut Virgou meralat.
"Bahkan ayah ibu Burhan menyalahkan pria itu. Mereka hanya ingin Burhan bahagia makanya menuruti kemauan sang anak," lanjutnya bercerita.
"Lalu kakek neneknya Raini gimana?" tanya Leon.
"Ayah atau kakeknya Raini ada di Nusakambangan untuk pertanggungjawaban atas dana desa yang dikorupsi," jawab Virgou santai.
"Neneknya ... stress dan gila. Rumah keluarga ayah dan ibu dari Nini tak ada yang berani masuk karena Indira atau ibu dari Nini akan mengamuk," jawab Virgou panjang lebar.
"Kok aku belum puas ya?" ujar Frans kesal.
"Aku juga belum puas. Aku ingin memamerkan pernikahan Anggraini dan Michael. Aku ingin foto prewedding mereka disebar di semua situs berita online!" ujar Virgou dengan mata berkilat.
"Kita akan lihat ... Wajah-wajah tak tau malu itu akan berbondong-bondong datang dan mengakui keberadaan Anggraini!" lanjutnya dengan seringai sadis.
Bersambung.
Daddy kalau udah dendam ... pengen dibikin malu tuh semua keluarga Anggraini.
Maju terus Daddy Vir!
Next?