THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
PULANG



Keributan antara Michael dan Arsyad jadi tontonan semua anak. Pria itu menggendong Arsyad dan menyembur perut bundar balita itu.


"Kamu melawanku bayi!"


Gelak tawa tercipta, hari yang mestinya sedih. Akhirnya dihiasi canda tawa karena semua anak menyeruduk pria tampan itu.


Anggraini menghangat. Gadis bercadar itu sesekali mengusap dadanya yang berdetak sedikit lebih cepat.


"Sayang, kita bicarakan lamaranmu ini nanti ya," ujar Khasya meminta pengertian Michael.


"Iya bunda. Saya hanya ingn Anggraini tau saja jika saya sangat mencintainya," jelas Michael tegas.


Khasya mengangguk, ia mengajak salah satu putri dari Bart itu. Khasya membawa Angga ke kamarnya.


"Nak,"


"Bunda," sahut Anggi manja.


Khasya membuka cadar sang gadis. Angga memang cantik dengan wajah bulat, tapi ada satu tanda lahir berwarna kemerahan di bawah mata gadis itu ya g sangat kentara.


"Kau rela jika nanti Michael mundur karena melihat ini sayang?" tanya Khasya lirih sambil mengusap tanda itu.


"Mau diapain lagi Bun. Mungkin karena tanda ini juga aku dibuang oleh kedua orang tuaku," jawab Angga tersenyum getir.


Khasya mencium gadis itu. Bart dan semua ayah di sini sudah tau tanda lahir itu. Semua saudara juga tau tanda itu karena Angga sudah bersama mereka sejak usia sebelas tahun. Bart mengambil mereka ketika Angga berusia enam belas tahun.


Rembesan air bening mengalir dari pelupuk mata gadis itu. Anggi tetap memaksakan senyumnya. Lalu ia melepas sarung tangannya. Jemarinya sebelah kiri juga tak sempurna.


Bagian tengah hingga kelingking gadis itu pendek dan mengkerut.


"Ini hanya sebagian kecil Bunda. Tidak seperti almarhumah Kak Anwiyah," ujarnya menguatkan diri.


Khasya mengelus rambut anak perempuan yang di ambil salah satu yayasan bermasalah dengan adiknya Azizah, Aminah waktu itu.


Anggraini tau kisah Anwiyah karena memang cerita itu turun temurun dikisahkan oleh pengurus panti. Bahkan foto gadis kecil itu masih terpajang di dinding kenang-kenangan kantor pengurus.


"Yang sabar ya sayang. Jika Michael adalah jodoh mu pasti dia untukmu. Dia juga laki-laki baik dan bertanggung jawab. Walau ia baru mualaf beberapa minggu. Tapi kamu bisa lihat kegigihannya belajar agama Islam," ujar Khasya memeluk erat gadis itu.


Angga mengangguk, ia sedikit terisak. Lalu setelah hatinya lega. Ia mengucap istighfar.


"Susah jangan sedih sayang," ujar Khasya lagi.


Sore hari Seruni akhirnya pulang. Kondisinya juga sangat baik karena ditangani oleh Safitri.


"Mami!" pekik Azha dan Rinjani.


"Babies!"


Seruni memeluk dua buah hatinya. Azha menangis dipelukan ibunya begitu juga sang adik.


"Mami ... Mami jangan sakit lagi ... Hiks!" ujar Azha.


Harun dan lainnya menyambut salah satu ibu mereka. Pada bayi malah protes karena tidak menyiapkan apa-apa.


"Teunapa Mami Pulan!" keluh Arsh.


"Eh ... Baby!" peringat Widya.


"Ommy Apan baji baby Alsh tan peulum siyapin pa'a-pa'a!" ujar batita itu beralasan.


"Suwuh Amih umah atit adhi jaja!" sebuah ide terlontar dari Chira.


"Woh wiya!"


"Ommy palit ladhi syanah!" suruh Maryam.


"Baby!"


Seruni gemas sendiri, padahal Saf memperingatkan wanita itu agar jangan terlalu banyak bergerak.


"Sayang ingat kata Bu bidan!" peringat Dav.


"Habis mereka gemesin!" gereget Seruni.


Maria dan lainnya menenangkan anak-anak yang masih protes dan meminta Seruni kembali ke rumah sakit.


"Jangan dong sayang. Mami kan udah sembuh, masa suruh ke rumah sakit lagi!"


"Berarti masih sakit dong Mami!" lanjutnya.


"Woh pide spasa padhi yan suyuh Amih te lumah syatit?" tunjuk Aisyah.


Chira pura-pura lupa dan malah menoleh mencari tau siapa yang memberi ide itu.


"Tamuh yan tasyih pide padhi!" tunjuk Aarav saudara kembarnya.


"Butan ... Atuh pidat pilan Ipuh!" sangkal Chira.


"Buntin seytan!" jawab Xierra tiba-tiba.


"Ah ... Wiya ... Syetan!" jawab Chira melempar kesalahan pada mahkluk yang memang suka menyesatkan manusia itu.


Akhirnya mereka tak mempermasalahkan hal itu lagi. Seruni langsung diminta istirahat oleh Bart.


"Papa, Uncle Alva manjat lemari!" adu Bomesh.


"Ah ... pasal tutan nadhu!" sungut Alva salah satu triple Starlight.


Usai makan malam, semua orang diminta tidur. Bart memanggil Michael, pria itu ingin bicara dengan pengawal dari keluarga Terra, cucunya itu.


"Katakan, apa kau serius ingin menikahi putriku Anggraini?" tanya Bart serius.


"Iya Tuan!" jawab Michael tegas.


"Apapun yang terjadi dan kau lihat nanti?" tanya Bart lagi.


"Saya siap Tuan!" jawab Michael tegas.


"Lalu bagaimana dengan ayah ibumu. Mereka tentu tak mau punya menantu bercadar seperti Angga?!"


"Saya sudah dicoret dari ahli waris karena pindah agama Tuan," jawab Michael.


"Apa?" Bart tak percaya dengan apa yang dikatakan pria tampan di depannya.


"Tuan, ini surat elektronik dari pengacara keluarga. Jika saya bukan bagian dari mereka," jelas Michael lalu memberi ponsel pada Bart.


Pria paling tua di sana melihat dan membaca apa yang tertulis di sana. Bart menatap Michael, lalu menepuk bahunya.


"Aku yakin kau pasti terpukul dengan semua ini," ujarnya.


"Biarkan mereka. Nanti kirim foto-foto lucu anak-anak kalian. Aku sangat yakin jika mereka akan berubah pikiran!" ujarnya menenangkan Michael.


"Baiklah aku istirahat, besok aku akan minta kesediaan Angga melepas cadarnya,"


Michael membungkuk hormat, pria itu tersenyum senang. Jika Bart memudahkan dirinya untuk ke jenjang lebih serius. Maka tak ada satupun halangan di sana.


"Mudahkan ya Allah! Aamiin!" doanya penuh pengharapan.


Pria itu kembali bertugas menjaga keamanan bersama rekan lainnya.


"Mike!" Fio mendatangi salah satu anak buahnya.


"Ketua!"


"Kau beneran suka sama Nona Anggraini?"


"Benar ketua!" jawab Michael dengan kening berkerut.


"Memangnya kenapa?" tanyanya ulang.


"Kau lebih dulu ternyata. Ya sudah, aku mau melirik Nona Jelita," jawab Fio.


"Nggak jadi sama Dian?" tanya Mike setengah meledek.


Fio berdecak, Dian bukan tidak bisa didekati. Tapi gadis itu memang sangat lurus dan tak mau menikah dulu.


"Kenapa, apa ketampanan ketua memudar?" ledek Michael lagi yang langsung dihadiahi pukulan ringan.


"Ketua ... Sakit!" rengek Michael.


"Oh ... Astaga ... Apa aku meremukkan salah satu tulangmu?" tanya Fio sambil memutar mata malas.


"Saya adukan pada Bunda kalau ketua main kekerasan pada bawahannya!"


"Hei anak sialan! Jaga bicaramu!" umpat Fio kesal.


Lalu keduanya pun tertawa. Beruntung tidak ada perusuh yang menggunakan dengkul mereka dan mendengarkan percakapan itu.


"Kalau ada tuan muda Ryo, nanat sisilan akan membahana lagi!' kekeh Fio.


"Ah, ya ... Ya!" angguk Michael tertawa.


bersambung.


maaf ya cuma dikit othor lagi ada masalah


Ba bowu semua


Doain biar big Families terus update ya!


Next?