
Satu wahana penuh dengan keluarga pebisnis ternama. Tempat rekreasi dan bermain itu dijaga ketat oleh seratus pengawal berseragam serba hitam.
Luisa dan ibu-ibu lainnya membiarkan anak-anak berlarian.
"Aypi ... yo ithah antat mpe nana!' tantang Vendra pada Ryo.
"Wayo ... Papah atut!' sahut Ryo dengan posisi menungging.
"Tuh udha itut!" seru Hasan.
Lalu para bayi yang merangkak telah mengambil posisi. Ryo dengan menungging, Hasan yang duduk bersila, Hafsah tengah duduk sambil bergoyang-goyang, Zora dalam posisi seperti orang hendak berlari.
"Tuh ... Wuwa ... Ida!' seru Zora.
Ryo tiba-tiba terguling karena posisinya menungging, Horizon melompat-lompat dengan kaki kanan yang di depan. Zora merangkak cepat. Hafsah dan Hasan diam saja. Vendra juga merangkak tapi terhenti.
"Baby kamu nggak apa-apa kan?" tanya Luisa pada Ryo yang terguling.
"Dat ... Yiyo dat pa'a-pa'a!' jawab Ryo yang kebingungan kenapa dia bisa terguling.
Azizah mengangkat putranya yang terlewat aktif itu. Faza tengah menatap Alia yang duduk sambil memakan es krim.
"Mama ... Zaza au seslim!" pinta bayi itu menunjuk es krim milik Alia.
"Mama belikan sayang," ujar Lidya.
"Au unya Ata' Yiya mama!' tolak Faza.
"Baby ... Itu punya kak Alia sayang," peringat Lidya.
"Au unya Ata' Yiya mama ... Hiks!"
Alia yang melihat Faza menangis mendekat. Setelah tau, ia pun memberikan es krim yang tadi ia makan.
"Atasyih Ata'!" ujar Faza riang.
"Mama belikan lagi untuk kamu ya baby," ujar Lidya.
"Eundat syuyah mama ... Yiya dat beudithu syuta matan seslim!" tolak Alia.
"Jangan bohong sayang, mama tau kok kalau Baby Liya suka banget es krim stroberi," ujar Lidya lembut.
"Banti wuwan Mama babis," cicit Alia takut.
"Oh sayang, uang mama banyak kok!" ujar Lidya terharu.
Alia dibelikan lagi es krim ukuran kecil. Tadinya Lidya ingin membelikannya yang sedikit besar tapi langsung ditolak dengan alasan sama.
"Ata' ... Ata' binta Ata'!" Hasan mendekati Alia.
Bayi dua tahun itu memberikan Hasan es krimnya.
"Inin Ata'!" ujarnya lalu menggigil mengekspresikan apa yang ia makan.
Semua pengawal wajib menjaga anak-anak berusia muda. Sky, Bomesh dan Arfhan dijaga ketat, begitu juga yang lain.
Al dan El Bara berada digendongan ayahnya. Demian tentu tak mau dua jagoannya itu tiba-tiba menghilang. Triplet Starlight tak diturunkan dari stroller.
"Atuh bawu pulun!" teriak Sena yang kembali dinaikkan ke kereta dorongnya oleh Dominic.
"Baby!' peringat Dominic.
Tiga bayi diam jika ayahnya bersuara datar seperti itu. Dinar hanya bisa menghela nafas.
Satu wanita mendekati Alia yang dari tadi berdiri sendiri. Kakaknya, Della dan Firman tengah bermain.
Alia memang sulit berinteraksi dengan semua anak. Ia melihat begitu banyaknya saudara sampai tak tau harus melakukan apa. Ia takut jika dirinya bergerak semua khawatir padanya.
"Nak," Alia menoleh.
"Kamu sendirian?" tanya wanita berpakaian seragam kebersihan warna merah.
"Pidat ... Liyah syama saulada-saulada Liyah!' jawab Alia.
Bayi cantik itu takut, ia bergeser menjauh dari wanita itu. Faza memang selalu ingin bersama Alia. Bayi cantik itu menatap dengan kerut. Ia mendekati Alia.
"Ata'!" Alia menoleh.
Faza yang cantik dengan mata birunya. Alia takut adiknya itu dijahati wanita yang mendekatinya.
"Syini baby ama Ata'!"
Alia menggendong Faza. Tubuh Faza memang kecil seperti ibunya. Alia tak kesulitan menggendong adiknya itu.
"Uh cakep amat dek, sini biar ibu gendong adiknya!" ujar wanita itu hendak meraih Faza dari gendongan Alia.
Semua bayi telah dilatih sedemikian rupa oleh pengawal. Della yang peka melihat itu langsung mendekat.
"Mau apa Bu!' tekan gadis kecil itu.
"Eh ... Nggak ... Nggak ada apa-apa," ujar wanita itu langsung berlalu.
Della memperhatikan gerakan wanita itu. Alia bernafas lega.
"Jangan jauh-jauh dek!" ajak Della.
Bukan Virgou namanya jika anaknya baru saja hendak jadi korban penculikan. Pria itu langsung memerintahkan Theo membereskan wanita itu.
Tak dalam waktu lima menit. Wanita itu ditangkap bersama delapan orang lainnya.
"Mereka semua pegawai ilegal, ketua!' lapor Theo.
"Aku yakin ada orang dalam yang memasukkan mereka!" tekan Virgou.
"Cari sampai dapat!" lanjutnya memberi perintah.
Theo membungkuk hormat. Pria itu bergerak cepat. Gomesh dan Dahlan membantunya. Dalam hitungan detik orang dalam pun tertangkap.
Semua anak bermain tanpa kendala. Sore hari tiba dan semua pulang dengan wajah puas.
"Senang baby?" tanya Herman pada semua anak.
"Seunan Ate!" pekik para bayi gembira.
Mereka kini ada di mansion Herman. Semua anak memilih membersihkan diri. Tampak raut kelelahan di wajah semuanya.
"Semua bayi tidur sayang," ujar Khasya melihat Zora yang terlelap begitu juga Ryo dan bayi lain seumuran.
"Iya ... Eh mana Alia dan Faza?" tanya Herman.
Alia berlari sambil menggendong Faza. Bayi dua tahun itu melarikan diri dari pembantu yang hendak membawanya.
"Papa ... Papa!" teriaknya.
"Baby?" Theo menoleh.
Seorang wanita berhenti dan hendak melarikan diri. Theo berteriak.
"Hentikan wanita itu!"
Para pengawal yang berjaga memang mengendurkan pengawalan pada para maid.
Lilah menunduk, matanya basah. Tubuhnya gemetaran. Puspita nyaris menerjang wanita itu jika saja Virgou tak menahannya.
"Saya ingin punya anak tuan," aku Lilah jujur.
"Saya hanya mau ambil Non Alia saja bukan Non Faza ...."
Plak satu tamparan keras didapat wanita yang baru bekerja selama enam bulan di mansion Herman itu.
Khasya marah luar biasa. Ia tak menyangka, perhatiannya pada para pekerja malah membuat mereka berani.
Tak ada yang membela Lilah, wanita itu bersimpuh di depan Khasya.
"Nyonya ... nyonya kan banyak anak, jadi berikan saya satu nyonya!"
"Bangsat ... Kau pikir melahirkan mereka itu tidak susah!" teriak Puspita berang.
"Nyonya, Nona Alia bukan anak nyonya ... Jadi bisa ...."
Plak satu tamparan lagi didaratkan Khasya pada wanita itu. Lilah terdiam, dua kali dirinya ditampar sedemikian rupa oleh wanita yang berhati lembut itu.
"Mereka semua anak-anakku Lilah!" tekannya marah.
Lilah dibawa pergi oleh beberapa pengawal. Dirinya harus berada di balik jeruji besi. Tak ada yang bisa ia lakukan karena baru saja melawan keluarga kaya raya.
Alia terdiam, Faza tak mau beralih dari gendongannya.
"Baby, sini sama mama sayang," ujar Lidya sedih.
"Amah ... Amah ... Pasa padhi Ata' Yiya pendan bibit Wilah!" adu Faza mengingat apa yang terjadi.
"Baby?"
"Atuh wihat pa'a yan teulsadhi!" sahut Dita tunjuk tangan.
"Apa yang terjadi sayang?" tanya Arfhan.
Bocah itu lega karena sepupu bungsunya itu selamat dari penculikan.
"Sadhi atuh wihat bibit Lilah nalit Ata' yiyah, Pati lansun Aypi Faza dipendon!" lapor Dita yang melihat kejadian.
Para pengawal mulai memperbaiki cara bekerja. Para maid kini dilarang keras memegang anak-anak kecuali, Ani, Gina dan Deno.
"Ah ... Mereka memang terlalu banyak!" keluh Herman melihat semua perusuh bermain.
"Ayah, lihat Fio mau deketin anak ayah tuh!" adu Haidar menunjuk Fio yang tengah mendekati Jelita.
"Menjauh dari putriku anak sialan!" teriak pria itu membuat semua anak menoleh padanya.
"Ck!" decaknya penuh kekesalan.
Bersambung.
Duh .. Ya ...
Next?