
Bart menyuruh Marco dan Lerroy membuat pesta pernikahan. Jika Marco hanya perlu mendata ulang pernikahannya dengan Indah. Tetapi Lerroy harus mengucap ijab kabul agar sah menjadi suami Rini.
"Jangan terlalu besar tuan. Saya sudah menikah yang ketiga kali!' ujar Rini merasa malu.
"Siapa yang tau itu?" sengit Bart bertanya.
Lerroy menenangkan calon istrinya. Pria itu meminta agar Rini tak mendebat apapun keputusan atasannya.
"Tapi mas ...."
"Sudah, ikutin saja," tukas Lerroy.
Rini akhirnya menurut. Ia dan putrinya, Rana dibawa pergi Khasya ke sebuah butik ternama. Indah juga ikut.
"Ini mahal sekali nyo ...."
"Panggil Bunda sayang!' perintah Khasya.
"Bunda," Indah merasa hangat.
Selama tinggal bersama keluarga atasan suaminya. Ia sangat dekat dengan semua wanita yang menjadi ibu di sana, termasuk Khasya.
"Indah punya ibu. Tapi ibu Indah tak layak disebut ibu," ujarnya lirih.
"Jangan begitu sayang. Baik buruknya, itu adalah ibu kamu!' ujar Khasya menegur.
Setelah mendapat pakaian pengantin wanita. Mereka pergi makan siang di sebuah restoran ternama.
"Bu, Rana nggak pernah makan seenak ini," ujar Rana berbisik pada ibunya.
"Alhamdulillah nak," sahut sang ibu tersenyum.
Usai makan siang, mereka kembali ke mansion Bart. Pria paling tua di sana memang yang memiliki ide membuat pesta meriah ini.
"Dad, lihat portal berita ini!' ujar Frans menunjukkan ponselnya.
"Keluarga Dougher Young kembali menggelar pesta pernikahan salah satu bodyguardnya,"
Bart berdecih membaca timeline yang tersemat di portal itu. Ia tak perduli, sebagai pebisnis mengadakan pesta membuktikan kekayaan dan juga kekuatannya.
"Pernikahan besar ini disertai naiknya saham perusahaan DYoungs!' Bart tersenyum bangga.
"Daddy, kita dipanggil dirjen pajak untuk melaporkan semua harta kita," ujar Leon dengan nada kesal.
"Cis ... Apa urusannya? Kita bukan orang pemerintahan!" sengit Bart.
"Kasih saja laporan pembayaran pajak kita per kapita Grandpa!' celetuk Darren.
"Kita memang wajib melaporkan semua harta kekayaan dan apa kita punya kerjasama dengan proyek pemerintahan," jelas Darren.
"Baiklah. Kau urus itu Frans, Leon!" suruh Bart tak mau pusing.
Leon hanya mengangguk begitu juga Frans.
"Addy!" pekik Zaa yang berlari dengan kaki menjinjit.
"Baby!' seru Frans lalu menangkap putrinya.
Pria itu menciumi Zaa hingga tergelak. Nisa kembarannya juga tak mau ketinggalan. Ia juga mau digendong.
"Addy ... Sisa udha!" pekiknya tak sabaran.
"Iya sayang," ujar Frans lalu menggendong Nisa di lengan kirinya sedang Zaa di lengan kanannya.
Chira dan Aarav juga mau digendong ayahnya, Leon. Para kembar Dougher Young itu saling berebutan mencari perhatian.
"Huh ... sasal nanat seusil!" cibir Aarick.
Dominic pulang bersama Calvin. Tiga pria pengawal mereka membawa banyak paper bag.
"Papa!" pekik Aarick lalu berhambur ke pelukan ayahnya.
Sena dan Alva juga tak mau ketinggalan. Rupanya triple Starlight terinspirasi dari kembaran lainnya.
"Janan Paypi peusal!' larang Sena.
"Papa tuwat tot!" ujarnya lalu memukul otot bisep ayahnya.
Dominic berdecak, ia sudah tua mengangkat tiga anaknya yang super gembul itu.
"Ayah, mau gendong!' Ari mengangkat tangannya pada Herman.
Herman dengan senang hati menggendong Ari. Balita itu tentu sangat senang.
"Ayah ... sayang Ari terus ya Yah," pintanya lirih.
"Baby, ayah pasti sayang kalian semuanya!" sahut Herman.
Ari memeluk leher Herman. Ia senang bisa disayang sedemikian rupa oleh semuanya. Padahal saudaranya banyak, tapi kasih sayang para orang tua seperti banyak dan tak habis.
Herman mengecup pelipis Ari. Ia tentu tau bagaimana hidup Ari. Balita itu ditemukan oleh salah satu pengurus panti di belakang gerobak.
"Aku ayahmu nak ... Aku ayahmu!" bisiknya meyakinkan Ari.
Semua anak kini duduk. Mereka baru saja makan kudapan sore. Gino mendekati Ari.
"Baby," panggilnya.
"Kak," sahut Ari menoleh pada Gino.
Gino duduk di sisi Ari. Ia meraih lengan kecil adiknya itu dan mengelusnya pelan.
"Kangen mama papa?" tanyanya lirih.
Ari menatap kakaknya, ia menggeleng pelan.
"Gimana mau kangen kak? Ingat saja nggak?" jawab Ari tersenyum lemah.
"Ini andai baby ... tiba-tiba ada orang mengaku orang tuamu ...."
"Ngapain mereka datang?" tanya Ari gusar.
"Sekarang jaman canggih kak. Minta test DNA aja, biar kelar semua!" lanjutnya malas.
"Kalau mereka beneran orang tua kamu?"
"Kakak!" Ari kesal dengan pertanyaan kakaknya.
"Maaf Baby," Gino langsung memeluk Ari.
"Kakak ngomong gini, karena itu terjadi sama kakak. Sebelum ayah kakak meninggal," ujarnya menenangkan Ari.
"Ari nggak mau hidup sama orang yang pernah membuang Ari!" putus Ari.
"Maaf baby," ujar Gino penuh penyesalan.
Sedang Lana, Leno dan Lino tengah bercanda dengan adik-adik Azizah. Ketiganya sama sekali tak bertanya kemana ayah mereka.
"Semoga kasih sayang kami bisa melupakan orang-orang yang menyakiti kalian baby," ujar Virgou pelan.
Indah memangku Arsh. Ia mencium gemas bayi tiga tahun itu. Arsh tak masalah sama sekali. Rini dan Rana tampak takjub dengan semua kehangatan yang tercipta.
"Makasih nak," ujar Rini pada putrinya.
"Untuk?" Rana bertanya dengan kening mengkerut.
"Terima kasih kau berteman dengan Nak Dewa!" jawab Rini bangga pada putrinya.
"Mas Dewa memang orangnya baik Bu. Semuanya juga," ujar Rana menatap remaja yang tengah bercengkrama dengan seluruh saudaranya.
Bersambung.
Maaf nggak sampe 1000 kata ... Othor idenya mampet ...
Next?