THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
SENIN SERU



Senin pagi, semua anak kembali berkegiatan. Begitu juga para orang tua. Ada yang sekolah, kuliah dan bekerja.


"Ayah, Kean nggak masuk ya!" rengek Kean.


"Kenapa?" tanya Herman.


"Mules ... Dari tadi ke toilet nggak berhenti-henti!' jawab Kean.


Perutnya terasa melilit. Ia merasa tak makan cabai terlalu banyak.


"Sini Uma pencet dulu perut kamu!" ujar Saf lalu meraba perut kekar Kean.


"Uma!" pekik Kean ketika Saf menotok urat di perutnya.


Pemuda itu langsung berlalu dari sana untuk ke kamar mandi membuang hajat.


"Baby nggak apa-apa kan?" tanya Puspita khawatir.


"Nggak apa-apa mom. Hanya angin yang nggak bisa keluar aja!" jawab Saf.


Hanya butuh lima menit. Keadaan Kean lebih baik. Tapi pemuda itu masih malas bekerja.


"Ayo baby! Atau kau mau ayah gantikan dengan yang lain?" ajak Herman sekaligus mengancam.


"Ih nggak mau!" tolak Kean langsung gegas ke kamar dan berganti baju.


"Ih Kakak jorok. Nggak mandi!' sindir Kaila.


"Kakak wangi walau nggak mandi!' sahut Kean.


Pemuda itu mengangkat tangan dan mengarahkan ketiaknya ke wajah Kaila. Gadis itu tentu menjerit.


"Kakak!"


"Cium tuh! Bau nggak?" sengit Kean.


"Apaan mandi parfum!" sengit Kaila.


"Cium lagi yang bener!" ketus Kean menyodorkan ketiaknya ke wajah adik perempuannya lagi.


"Mommy!" pekik Kaila.


"Baby ayo berangkat!" teriak Virgou menyudahi perdebatan adik dan kakak itu.


"Yang pinter ya dek ... Jangan jelalatan cari cowok!" ketus Kean.


"Kakak tuh yang mata cewekan!" sengit Kaila.


"Eh ... Sorry ya! Mataku hanya liat para mama aja! Nggak ada cewek lain!"


Kean mendekap adik perempuannya itu dan mengacak rambut Kaila. Gadis itu tentu merengek.


"Baby!" Puspita memperingati putra sulungnya itu.


"Mommy!" rengek Kaila sedih karena dandanan rambutnya diacak oleh sang kakak.


Calvin hanya menggeleng, pemuda itu membantu Della memasang dasi sekolah.


"Nanti minta Bu'lek mu yang rapihin rambut ya!" ujar Puspita mengusap kepala Kaila.


Maisya mencomot roti selai nanas dan memakannya sambil berdiri.


"Ih Ata' matan tayat tudha!" sindir Alia.


Maisya mencium batita itu gemas. Firman juga tak luput dari ciumannya begitu juga bayi lainnya.


"Ayo berangkat!" ajak Herman.


Semua anak yang bersekolah berangkat dengan pengawal mereka. Fio dan Theo sudah kembali dari bulan madu. Keduanya berangkat mengawal.


Hunian Virgou makin luas. Pria itu membeli dua mansion yang berdekatan. Banyaknya keturunan yang hadir dan terbentuknya keluarga besar. Mengharuskan pria dengan sejuta pesona itu meluaskan huniannya.


"Kakak yang handle semua pengeluaran rumah?" tanya Terra melihat Puspita membuka buku bulanannya.


"Tentu sayang. Kakak kan harus memanage semua uang yang diberikan kakakmu," jawab Puspita.


Terra duduk di sisi Puspita. Wanita itu juga memanage keuangan rumah tangga. Haidar memberi semua gaji pada sang istri.


"Kak Vir nggak ambil gajinya sama sekali kak?" tanya Terra melihat catatan keuangan Puspita.


"Nggak," jawab Puspita santai.


"Kartu debitnya ada kan?" tanya Terra dan diberi gelengan pada Puspita.


"Terus yang isi bensin mobil siapa?" tanya Terra.


Puspita memandang adik iparnya itu. Ia juga tidak tau bagaimana sang suami memenuhi kebutuhan pribadinya.


Sementara di mobil. Gomesh melajukan mobil ke pom bensin. Virgou di belakang pria itu memejamkan matanya.


"Ck!" decak Gomesh sangat pelan.


"Jika kau tak berkenan. Keluar dari mobil Gomesh!" sebuah suara yang membuat Gomesh diam.


Satrio yang ikut Virgou hanya tersenyum simpul. Ia membuang muka ketika Gomesh meminta bantuannya.


"Baby, Papa pinjam uangmu ya!" pinta pria raksasa itu.


"Anak sialan! Kau mau memeras putraku!" sentak Virgou.


"Daddy!" kekeh Satrio.


Pria itu mengeluarkan kartu khusus untuk membayar. Setelah mengisi penuh, mobil itu pun bergerak.


"Memang kemana semua gajimu Gom?" tanya Virgou kesal.


"Saya beri semua ke istri saya," jawab Gomesh lurus.


"Kenapa kau kasih semua!" sentak Virgou.


"Kukasih istriku lah!"


"Eh ... Kok ribut sih!" seru Satrio yang sudah panas kuping.


"Itu papamu!" sungut Virgou kesal.


"Lalu Daddy bukan papaku?" sengit Satrio yang membuat Virgou diam.


"Besok aku minta mommy buat kasih uang ke Daddy beli bensin!" putus Satrio lagi.


Sementara itu Herman tak langsung pergi ke perusahaannya. Ia membawa Kean ke sebuah mall mewah.


"Ayah, ngapain kita ke sini?" tanya Kean.


"Beli sepatumu! Kok ayah liat sepatumu nggak ganti-ganti sampe kanvasnya habis gitu!" tunjuknya pada alas kaki Kean.


"Wah ... Ayah baik sekali!" puji Kean.


"Ayah potong gajimu nak!"


"Ah ... Nggak mau kalo gitu!" tolak Kean.


"Beli atau ...!" ancam Herman.


"Ah ... Ayah!" rengek pemuda itu.


Kean memang diberi uang saku oleh ibunya. Gajinya utuh berada di tabungan. Pemuda itu memang tak pernah keluyuran dan melakukan hal boros lainnya.


Setelah membeli sepatu dan langsung memakainya. Herman membuang sepatu Kean di tong sampah.


"Ih kan bisa disumbangin yah!"


"Enak aja ngasih orang barang bekas!" sentak Herman.


"Loh kan emang gitu. Kita kasih barang yang udah nggak kita butuhkan! Yang penting masih layak dipakai!" ujarnya dengan mata polos.


"Salah sayang. Konsep sedekah bukan seperti itu!" ujar Herman lalu menghela nafas panjang.


"Konsep sedekah itu kita memberi barang yang paling kita sayang untuk orang-orang yang membutuhkan," lanjutnya menjelaskan.


"Kean sayang sama sepatu tadi. Makanya nggak pernah ganti!" sahut Kean lalu diberi jeweran kecil dari Herman.


"Ayah!" rengek Kean manja.


"Nggak gitu sayang. Cari barang yang masih baru dan sangat bagus. Mereka juga perlu kita naikkan derajatnya. Mereka juga berhak mendapat pakaian baru dan barang-barang bagus!" ujar Herman.


Kean memeluk pria yang hanya setinggi dadanya itu.


"Habis selama ini kan gitu. Kalo ada barang bekas kita pakai dan masih bagus kita kasih ke orang. Kean suka liat di panti pakaian-pakaian bekas bahkan ada yang bolong-bolong gitu," ujarnya mengingat.


"Makanya ayah tak membuka donasi di panti milik bundamu. Ayah tidak mau anak-anak panti berpakaian tak layak pakai!" ujar Herman lagi.


"Tapi Kean juga nggak banyak baju baru yah! Kean lemari aja cuma satu!" sahut Kean lurus.


Pemuda itu memang tak pernah berbelanja baju. Bukan hanya dia, tapi seluruh saudaranya. Bahkan pakaian yang mereka kenakan bukan dari branded ternama.


"Ya, nanti kalau kau gajian. Kamu pergi ke tanah abang. Di sana kamu bisa beli baju kodian dan bisa kau berikan pada saudara-saudara mu yang berhak!" ujar Herman memberi saran.


"Oke yah!' angguk Kean setuju.


Sementara di kediaman Virgou, para bayi tengah bersantai. Nai meletakkan bayinya dalam kereta dorong.


"Aypi, soba nomon aypi!" ajak Zaa.


"Aunty baby, babynya belum bisa bicara sayang," kekeh Nai.


"Tapan pisa nomon aypi peusal?" tanya Zaa.


"Setahun lagi," jawab Nai gemas.


"Basih pama ... Pisa-pisa atuh patai tontat!" sungut Zaa.


"Nggak selama itu baby!" kekeh Nai.


Perempuan yang baru jadi ibu itu merengkuh Tante bayinya. Ia mencium gemas. Semua anak minta dicium.


"Mama ... atuh judha pinta sium!" ujar Dita memonyongkan mulutnya.


Nai mencium keponakan misannya itu. Dita tersipu, bayi mau tiga tahun itu suka tinggal dengan keluarga yang menyayanginya.


"Ata'!" panggil Dita pada Vera.


"Biya Paypi," sahut Vera.


"Ata' beulasa pahadia pidat?" tanya Dita.


"Teunapa tamuh panya beudithu?" tanya Vera.


"Seumenjat pindal pi simih. Ita pidat peulnah bimpi pulut ladhi," ujar bayi itu lirih.


"Janan inat yan bulut-pulut aypi," peringat Vera.


"Ata'," panggil Dita lagi.


"Heum!?" sahut Vera.


"Pa'a taban Mama pita pi suldha?" tanya Dita memandang kakaknya.


"Pita peuldoa aypi ... Pita peuldoa piyal mama bait-bait jaja!" jawab Vera lirih.


Bersambung.


eh ... 🥹 Dita.


Next?