THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
HEBOH



Senin pagi semua anak kembali bersekolah. Kali ini Budiman dan Dahlan menangani langsung anak-anak yang bersekolah.


Theo diminta menjaga Darren. Walau ia tadinya sedikit keberatan karena ia mulai menyukai anak-anak pemberani dan sangat pintar itu.


"Kau jaga Darren ya!" suruh Virgou tak bisa dibantah.


"Ayo papa berangkat!" ajak Darren dengan seringai jahilnya.


Kini Theo mengerti darimana sifat usil semua anak-anak.


"Apa Tuan juga sama dengan perusuh cilik itu?" tuduh Theo bertanya.


"Papa nanya?" seloroh Darren.


Saf menggeleng, ia mengikuti langkah suaminya. Darren waktu kecil tak seusil semua anak-anaknya. Tapi sepertinya usil dan hebohnya anak-anak lah yang menurun pada semua orang tua.


Sementara itu semua bayi yang tengah berkumpul. Sedang duduk dan memakan camilan yang dibawa oleh Fio.


Pria itu baru kembali setelah menyelesaikan latihan tingkatnya. Pria itu kini jadi kepala pengawal tingkat empat. Kedudukannya sama dengan Theo.


"Enak wingko babatnya babies?" tanya pria itu.


"Nenat setali papa! Lasana banis tayat papa!' jawab Maryam genit.


Terra melotot, ia berdecak kesal. Dirinya mengingat jika dulu Lidya tak secentil anak-anak perempuan sekarang.


"Nanti besar mereka juga lupa Nyonya. Apa Nyonya tak ingat bagaimana Nona Mai dan Nona Arimbi," ujar Maria menenangkan Terra.


"Kak," rengek Terra manja.


Terra memang sangat dimanjakan di sana. Semua ibu bahkan Rosa yang baru hadir jadi bagian keluarga sangat menyayangi Terra.


"Hais ... Bagaimana anak-anak dewasa jika melihatmu seperti ini?!' keluh Maria sambil tersenyum.


"Jadi nggak boleh nih?" tanya Terra manyun.


Maria mencubit sayang hidung mancung Terra. Wanita itu lagi-lagi merengek manja.


Usai makan camilan buah tangan dari Fio. Semua anak duduk sambil memperlihatkan perut buncitnya.


"Ini perut ya, bukan bantal?" tanya Dian gemas.


Dian meletakkan kepalanya di perut Alia. Batita itu mengelus kepala gadis itu. Entah kenapa tiba-tiba air mata Dian meleleh karena mendengar nyanyian Alia.


"Pidullah nintan ... Pidullah bambatan siwa ... Hali pelah lalut .... Bejamtanlah bata ... Pidullah sayan ... Pidullah anattuh sayan ... Esot entau halus banun lan peulsuan ...,"


Sebuah lagu perjuangan yang sarat makna dinyanyikan Alia. Bayi dua tahun itu sering tidur bersama Puspita, ibu angkatnya. Walau ia lebih sering tidur bersama Arfhan, Della dan Firman kakaknya.


Puspita suka menyanyikan lagu untuk penghantar tidur anak-anaknya.


"Pidullah sayan ... puwah batituh teulsayan ...."


"Hiks!" Dian menahan isaknya.


"Tinti teunapa ... pa'a lada yan beunyatiti Tinti?" tanya Alia lembut.


Tak seperti biasanya Faza yang selalu bersama Alia. Kini sedang bersama Dita.


"Tinti tidak apa-apa baby," jawab Dian.


Alia mengangkat kepala gadis dewasa dan menakup pipi Dian yang basah.


"Tinti ... Pulu setali, Liya judha selin nayis. Apan Fafan yan beunenantan Liya. Seutalan banyat mama yan sayan Liya. Sadhi talow Tinti peudih janan tawatil ... Lada panyat wowan yan sayan Tinti," ujar Alia menenangkan Dian.


Gadis itu mengecup kedua pipi bulat kemerahan. Ia adalah anggota baru yang bergabung. Alia sudah ada di sana menjadi bagian anak-anak rusuh yang kini heboh bergosip.


"Sadhi teumalin Ata' Tean tabun Pama Ata' Tean?" tanya Aaima berdecak kesal.


"Biya Ata'!" jawab El Bara menyahuti.


El Bara adalah mata-mata yang disuruh oleh Tante bayinya jika ada kejadian heboh yang menimpa orang tua.


"Tatana lada yan disetit woh!" lanjutnya memberi info dengan mata besar.


"Disetit ipu pa'a?" tanya Zaa gusar.


"Pidat pahu ... Yan atuh deunal. Ata' tan nait antot mumum. Tewus antotna bawu sulit Ata'!" jawab El Bara serius.


"Sulit yan pawa lali wowan tayat watu ipu?" tanya Aisya.


"Yan tayat tapan?" tanya Chira.


"Yan batu ipu aypi Yiya Pama Aypi Zaza bawu disulit baid mumah tanda nenet Syasya!" jawab Zaa.


"Oh wiya atuh inat!" sahut Chira mengingat kejadian di mana Alia dan Faza nyaris diculik pembantu Khasya.


"Sadhi aypi Alun, Azha, Baliana, Ayiyon pama peumuwana hendat pisulit?" tanya Zaa lagi memastikan.


"Wiya Anti baby," jawab El Bara.


"Tata Ata' Tean ... Antotna nebut woh ... Wewat salan yan butan salan pulan!" lanjutnya memberi info.


"Pitulah talow bawuna tabun ndat pawa-pawa pita!" sungut Maryam protes.


"Oh pis deh!' ujar Arsh memutar mata malas.


"Pita tapan tabun ladhi?" tanya Xierra mengalihkan perhatian.


"Tati atuh dendet!" keluh Aarav.


"Antel adhi momonin pa'a?" tanya Zora nyaring.


"Bawu tabun," jawab Chira.


"Oh ... Lili?" ujar Zora sok bahasa inggris.


"Pa'a yan teulsadhi talow pita tabun?" tanya Nouval.


"Pa'a pita teda peumpuwat Mama menayis?" tanya Chira.


"Tuh beunayis ...."


"Psot aypi ... Spot!" seru Zaa kesal.


"Peumpayan tan ... Peutapa ... Tedana dilimu lada dilituh ... !"


Aaima terus menyanyikan lagu di depan Zaa yang langsung menutup kupingnya.


"Beulenan yut!" ajak Fathiyya.


"Yut!" sahut lainnya dan nyanyian Aaima berhenti.


"Netnet ...."


"Tundu pulu aypi!" cegah Aarav tiba-tiba.


"Teunapa?" tanya Fatih.


"Atuh lada pide!" ujar Aarav.


"Pa'a?" tanya Maryam dan lainnya heboh.


"Badhaipana jita pita lansun lali basut tolam lenan?" ujar Aarav memberi ide.


"Lide Yan badhus! Apan Baji Baby Alsh sepujuh!' sahut Arsh semangat.


"Pita pihat bistuastina?" ujar Aarav lagi lalu memindai para pengawal.


Fio baru kembali dari tugas. Pria itu menatap gerombolan bayi yang baru bisa berjalan itu dengan pandangan gemas.


'Mau apa mereka?'


"Pastu ... Puwa ... Tidha!" seru Maryam memberi aba-aba.


Semua bayi berlari menuju kolam. Fio, Exel, Michael, Sukma, Ambar terkejut terlebih Dian.


"Babies!"


Byur! Semua melompat dalam kolam. Michael dan Exel langsung terjun ke kolam untuk mengangkat semua bayi. Fio juga ikut nyebur bersama pengawal wanita lainnya.


Rosa berlari menuju kolam karena melihat semua rekannya berlari.


"Baby ini dalam?!" seru Fio.


"Pita bawu beulenan!" seru Maryam.


"Ayo naikkan!" perintah Rosa.


"Di sini kalau mau berenang baby!" ujar Dian lalu meletakkan bayi-bayi di kolam yang dangkal.


"Papa Yiyo ... Yiyo au bulbul ... Antap!" seru Ryo langsung meloncat.


Fio menangkap bayi tampan itu. Sedang lainnya sudah bisa berenang seperti, Aaima dan Arsyad.


"Olon!" seru Dita yang tiba-tiba tenggelam.


Exel bergerak cepat. Ia menyelam dan mengambil bayi itu dan menaikan ke atas.


Terra menangis melihat kenakalan semua keturunannya itu.


"Babies ... Kenapa kalian berbuat seperti itu?!"


"Mamap netnet!" ujar para bayi.


"Sudah jangan marahi mereka. Biar mereka belajar dari kesalahan!" lerai Khasya menenangkan Terra.


Hanya Alia yang tidak masuk kolam. Ia melihat-lihat dari pinggir kolam. Faza yang tengah berenang tampak senang melihat kakak yang selalu ia usili itu.


"Ata' Yiya!" bayi itu memercikkan air ke arah Alia.


"Baby!" peringat Alia.


Bayi dua tahun itu sedikit menjauh, semua pengawal mengawasi anak-anak yang lain. Rosa mengikuti Faza.


"Poma!" seru Fatih lalu menaiki wanita itu.


"Baby," ujar Rosa.


Pengawasan pada Faza teralih. Bayi itu berenang ke arah kolam lebih dalam. Kakinya yang kecil rupanya terlalu lelah untuk bergerak.


"Ata'!" Faza tiba-tiba masuk dalam air.


Alia melihat adiknya dalam bahaya. Tanpa pikir panjang ia melompat dan langsung mengambil Faza yang nyaris tenggelam.


Kini semua bayi sudah tenang dan bersih. Mereka minum susu coklat hangat buatan Rosa.


"Terima kasih baby, sudah selamatin baby Faza," ujar Lidya ketika diberitahu jika putrinya nyaris tenggelam dan ditolong oleh Alia.


"Syama-syama Mama. Zaza adit Liya ... Sadhi pudah sebantasna Liya nolon!" ujar bayi itu.


Lidya mencium gemas Alia. Firman dan Della juga Arfhan bangga akan keberanian adik bungsu mereka itu.


Bersambung.


Anak-anak itu hanya berekspresi. Mereka tidak tau mana batasan bahaya atau tidak.


Sebagai orang tua wajib memberikan pengajaran yang pas untuk semua anak hiperaktif itu.


Setuju Readers?


Next?