
"Kita sewa aja ya mas," ujar Anggraini.
Michael berdebar hatinya ketika gadis itu memanggilnya "Mas". Anggraini menatap polos pria di depannya. Namun setelah sadar, rona merah menjalar di pipinya karena malu.
"Papa," rengeknya lalu bersembunyi di belakang tubuh Bart.
Bart tersenyum, baru kemarin gadis itu sedih karena mengingat dirinya ditinggalkan ibunya begitu saja. Kini tampak kebahagiaan ada di seri wajahnya.
"Jangan sewa dong sayang," ujar Michael membuat Anggraini tambah merengek karena malu.
"Jangan goda calon istrimu. Ayo kau pilihlah yang bagus!" suruh Bart.
"Ini saja!" ujar Michael.
Sebuah gaun khusus perempuan berhijab. Bahan katun dilapisi brokat warna putih. Sederhana namun sangat mewah karena dihiasi oleh taburan swaroski.
"Itu mahal pa," cicit Anggraini.
"Tidak untukmu!' ujar Michael tegas.
Setelah memilih dan membayar gaun juga setelan untuknya sendiri. Mereka pun pergi ke toko perhiasan.
Anggraini ingin cincin emas biasa. Tapi Michael membelikan cincin berlian.
"Nggak berlebihan kah?" tanyanya takut.
"Tidak sayang, untukmu harus yang spesial!" jawab Michael.
Anggraini menggenggam erat tangan ayah angkatnya. Bisik-bisik di sekitarnya membuat ia malu.
"Eh ... Liat mukanya!" bisik keras salah satu pengunjung.
"Iya tembong. Kok ada yang mau ya?" jawab yang satunya lagi.
"Jari kirinya juga cacat!" tunjuk yang lain terang-terangan.
"Fix si bule kena pelet!" sahut lainnya lagi.
Michael mengepalkan tangan erat. Penjual toko bermuka pucat. Ia juga jengah dengan bisik-bisik itu.
Pria bermata sipit itu memanggil istrinya.
"Sayang!"
Sosok wanita berwajah mungil bermata juling datang dengan jalan terpincang. Perutnya membuncit tanda tengah hamil besar.
"Ya ko, ada apa?" ujarnya.
"Eh ... Istrinya kok gitu?" bisik lainnya lagi.
"Ya kan China ada gitu-gitunya. Katanya hoki nikahin cewe kek gitu!" sahut lainnya.
"Eh ... Nggak ada ya yang kek gitu!" sentak pria pemilik toko marah.
"Sekuriti usir mereka!" teriaknya memberi perintah.
Pelanggan usil itu pun diminta keluar. Banyak pelanggan mengucap terima kasih pada pemilik toko karena mereka juga risih dengan bisik-bisik itu.
"Heran ... Senengnya liat orang susah. Tapi susah liat orang seneng!" gerutu pengunjung lainnya.
Bart meminta calon menantunya tak menganggap apapun. Anggraini ditenangkan oleh pria gaek itu.
"Terima kasih ko" ujar Michael setelah menerima kotak beludru warna merah.
Usai membeli perlengkapan pernikahan. Mereka akhirnya pulang.
Sampai rumah, Arsyad mode ngambek sama Angga.
"Ata' teunapa tindhalin Syasyad!"
"Oh baby, kan kak Angga diajak Uyut pergi dan baby belum di sini," jelas gadis itu lalu memberi ciuman pada pipi gembul Arsyad.
Michael mengangkat bayi itu. Terjadi pergumulan tak berarti. Arsyad tergelak karena Michael menyembur perutnya yang bundar.
"Wayo selan Papa Pecel!" pekik Fatih mengomando.
"Wayo!" teriak Arsh paling semangat.
Gelak tawa terjadi, satu pria dikerumuni para bayi. Tentu Michael kalah.
"Exel tolong aku!" teriak Michael meminta tolong.
"Apah ... Nan lalani ya!" ancam Hafsah galak.
"Oh maaf Mike!' seru Exel terkekeh.
"Hayo sudah!" teriak Dinar.
Semua anak turun dari tubuh besar itu. Nafas Michael terengah-engah. Arsyad yang dekat masih sempat ia sambar dan diberi ciuman hingga protes.
"Papa ... Tauw mensodot tuh!' pekiknya.
"Iya deh ... Papa nggak cium baby lagi ... Hiks!"
"Ah ... Papa!" rengek Arsyad lalu memeluk Michael.
Pria itu tersenyum, memang semua pengawal dekat dengan para bayi. Akhirnya kehebohan itu berakhir karena makan siang.
"Besok yang mau sekolah apa sudah disiapkan semua?" tanya Layla pada semua anak-anak.
"Sudah Umi!" jawab Samudera dan lainnya.
"Habis sholat tidur ya!" suruh Terra tak mau dibantah.
"Ini minggu loh ma," rengek Kaila.
"Memang kenapa kalau minggu?" tanya Terra lagi.
"Baby ... Menurut kalau disuruh mama ya!" ujar Rion.
Maka semua anak akan menurut. Tak ada yang berani bersuara jika Rion yang sudah bicara. Bahkan Satrio yang sudah menikah. Pria muda itu tunduk dalam perintah Rion.
Semua anak sudah berada dalam kamar mereka. Bart memilih istirahat setelah sholat berjamaah.
"Daddy kecapekan itu," ujar Maria perhatian.
"Nyonya baiknya istirahat, biar ini kami yang beresin," ujar Gina.
"Bibi yang mestinya istirahat," tolak Maria.
"Nyonya!" sebuah peringatan tegas keluar dari mulut Gina.
"Untuk apa mereka digaji kalo nggak ngapa-ngapain?" tunjuknya pada deretan maid.
"Ah, baiklah," ujar Maria pada akhirnya.
Maria mengajak, Layla, Rahma, Anyelir dan Sari untuk beristirahat. Sedangkan para suami tetap berjaga-jaga.
Fio mengedipkan matanya pada Jelita. Gadis itu membuang muka dengan pipi memerah. Fio terkekeh melihat tingkah gadis yang sudah membuatnya panas dingin itu.
Dian menatap pria yang sebelum naik haji lalu menyatakan perasaannya. Setelah penolakan itu. Terlihat jika Fio beralih mendekati salah satu nona muda mereka.
"Kenapa?" tanya Rosa.
Rosa memang sudah keluar dari pengawalan. Tapi wanita yang baru bersuami satu bulan lalu masih harus mengemban tugasnya sampai kontrak selesai.
"Tidak ada Ro ... Ah maaf nyonya," ujar Dian mengelak.
"Hais ... Biasa saja. Tak usah kaku begitu!" ujar Rosa.
"Ya beda lah. Kan kemarin Nyonya masih seperti kami. Mana berani kami panggil nama setelah bersuami Tuan Sanz!" tolak Rosa beralasan.
'Ah ... Bisa aja kamu ngelesnya. Kamu kenapa?" tanya Rosa lagi setengah memaksa.
Dian menggeleng, ia tetap pada pendirian untuk tak mengatakan apapun. Rosa bukan tak mengerti. Tatapan luka dan kecewa pada gadis di depannya menandakan semua.
"Penyesalan memang datang belakangan. Kalo duluan namanya pendaftaran," sahutnya.
"Nyonya," rengek Dian cemberut.
"Fio mungkin bukan jodohmu. Tapi masih ada Exel, Ken, Rudi, Rinto dan ketua Deni!"
Dian menatap Rosa ketika penyebutan nama terkahir. Rosa menepuk pelan bahu Dian. Ia tersenyum.
"Di sini semua pengawal tampan. Salahmu ketika ada yang mendekat kau menolak. Jadi dekati lainnya. Toh stok pria tampan di sini banyak," ujar Rosa lagi terkekeh.
"Kalau sama tuan muda Sean gimana nyonya?" bisik Dian lirih.
Rosa menatap gadis itu. Dian menunduk, ia sangat yakin jika perasaannya pada keturunan klien itu tak mungkin.
"Berdoalah, buktinya aku bisa jadi bagian dari mereka!" ujar Rosa memberi semangat pada rekannya.
"Tuan muda masih sangat polos Nyonya," keluh Dian lagi.
Rosa mengangguk, jatuh cinta pada salah satu tuan muda adalah tantangan terberat mereka. Terlebih pikiran polos semua para pemuda.
"Berdoalah Dian ... Berdoalah!" suruh Rosa pada rekannya itu.
Percakapan dua perempuan itu didengar oleh Khasya. Wanita itu memang sangat peka pada semua orang yang ada di sekitarnya.
"Dian dan Sean?" terbit senyum indah di bibir wanita yang paling disayangi di sana.
"Aku pastikan jika memang kau pantas untuk salah satu putra terbaik kami Dian!' tekadnya dalam hati.
Bersambung.
Bunda Khasya memang the best.
Next?