THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
BERDUKA



Duka masih menyelimuti seluruh keluarga. Terra bersandar lemas di bahu suaminya.


Kepingan kenangan melintas ketika bersama wanita yang telah bersemayam di peristirahatan nya yang terakhir.


"Bi Ani selalu setia dan jujur ketika bekerja. Beliau selalu mengurus Darren, Lidya dan Rion bergantian dengan almarhumah Bi Rom," ujar Terra masih setia dengan air mata yang meleleh.


"Sudah sayang. Kasihan bibi jika ditangisi seperti ini. Biarkan bibi istirahat dengan tenang," ujar Haidar menenangkan istrinya.


Padahal pria itu pun sama. Tak berhenti meneteskan air mata. Semua bayi tampak mencari sosok yang selalu mereka panggil nenek itu.


"Muma ... net Nani bana?" tanya Fatih.


"Nenek sudah ada di surga baby," jawab Saf sedih.


"Pi sulda?" tanya Fatih dengan mata bulat.


"Iya sayang. Kita doakan agar nenek ada di sisi Allah ya," suruh Saf pada putranya.


"Pa'a suldha pawuh Ma?" tanya Maryam.


"Jauh baby," jawab Saf lirih.


"Tot pita eundat anteulin Pi Nani ma? Tasyihan pi Nani seundiliyn, sape salan tati teu suldha," ujar Maryam dengan mata berkaca-kaca.


"Baby," Saf tak bisa menjawab pernyataan putrinya itu.


Ia mencium empat anaknya yang sudah tau jika mereka sedang kehilangan seseorang.


"Amah .. sulsul pi Nani ma ... payo ma!" ajak Zora merengek pada ibunya.


"Baby," Luisa tentu tak bisa mengiyakan ajakan putrinya. Ia belum siap untuk menghadap Ilahi.


"Nanti juga kita ke sana baby," ujar Andoro.


"Pita ait pa'a Apah?" tanya Vendra.


"Nggak tau baby," jawab Andoro mencium pipi putranya.


"Pa'a banti Allah semput pita bait pis dedhe?" tanya Vendra lagi.


Andoro mengecup pipi putranya. Ia menyodorkan susu dalam botol pada mulut Vendra. Tak lama bayi sebelas bulan itu pun terlelap.


"Ayo kita makan dulu, agar ada tenaga untuk pengajian almarhumah," suruh Bram.


Semua makan dengan tenang. Para bayi disuapi ayah dan ibu mereka. Para pengawal ikut duduk di sana.


"Ketua," Gomesh datang dengan muka ditekuk.


"Apa? Ada apa dengan mukamu?" tanya Virgou kesal.


Gomesh membisikkan sesuatu pada Virgou. Pria sejuta pesona itu mengehentikan kunyahannya pada makanan.


"Kita datangi!" ujarnya lalu meletakkan piring begitu saja.


"Sayang ... makananmu!' teriak Puspita.


"Berhenti Virgou, selesaikan makan makananmu dulu!" perintah Herman yang membuat langkah Virgou berhenti.


"Ayah ...."


"No! Jangan ajari anak-anakmu berprilaku kurang ajar pada makanan!" sahut Herman tak mau dibantah.


Virgou kembali, ia memakan sisa makanan yang ia tinggalkan. Gomesh diminta makan oleh Kanya.


Selesai makan, Virgou gegas keluar bersama Gomesh. Terra penasaran, ia mengikuti kakak sepupunya itu.


"Sayang!" Haidar hendak mencegahnya.


"Mas!" tolak Terra membantah.


"Terra!"


"Mau sama Kak Vir ayah!" Terra sangat keras kepala.


Wanita itu berlari mengejar Virgou. Di sana ia melihat empat pengawal tengah memegangi dua pria setengah baya.


"Mana bibi kami Ani dan Romlah!' teriak keduanya.


"Bangsat!" mami Virgou yang membuat keduanya diam.


"Siapa kalian?!" bentak Virgou lagi.


"Mereka mengaku keponakan dari Almarhumah Bi Ani dan Bi Romlah ketua!" jawab Deni.


"Apa bukti kalian keponakannya? Dari mana kalian tau tempat ini?" tanya Virgou curiga.


"Kak?!" panggil Terra.


"Te, mereka mengaku keponakan bi Ani dan bi Romlah!' ujar Virgou memberitahu.


"Sejak kapan bibi ada keponakan?" sengit Terra yang tau seluk beluk asisten rumah tangganya itu.


"Selama dua puluh tahun lebih Bi Rom dan Bi An tinggal dengan saya. Tak ada satu keluarga yang datang!" ujar Terra.


"Itu ... Itu ..."


Dua pria paruh baya itu gugup tak bisa menjawab. Keduanya memang hendak mencari keberuntungan.


"Kami ... Kami ...," keduanya tak bisa menjawab.


Terra sangat ingat, jika dua pria itu bekerja di salah satu rumah besar di dekat kediamannya.


"Oh ... Te tau kak. Mereka suka tanya-tanya sama bibi dulu soal kehidupannya!' ujar Terra ingat.


"Pergi kalian sebelum saya panggil polisi!" usir Virgou.


Dua pengawal melepaskan dua pria itu. Keduanya langsung berjalan cepat meninggalkan hunian besar itu.


"Ck ... Ada-ada saja!" decak Virgou kesal.


"Masih jaman membodohi orang dengan berlaga kerabat dekat!' lanjutnya sinis.


"Ayo kak, masuk!" ajak Terra.


Tak terasa, isya pun telah terlewati. Banyak warga memenuhi masjid keluarga. Virgou membagikan sembako pada warga sekitar.


"Alhamdulillah, setiap hari kita dapat ini, uang kita bisa dialokasikan ke hal lain!' ujar salah satu warga senang mendapat bingkisan besar itu.


"Iya, kebetulan anak butuh tas sama sepatu baru. Duitnya bisa beli itu!" sahut warga lainnya.


"Daddy nggak bagi-bagi makanan kotak ya?" bisik Kean bertanya pada Calvin.


"Nggak, cuma beras lima kilo, minyak goreng dua liter, gula sekilo, mie instan sepuluh bungkus, kecap satu botol, teh celup, sarden ukuran sedang, sama duit seratus ribu dalam amplop!" jawab Calvin kesal.


"Kok tau?" tanya Sean.


"Tadi aku liat pas masukin di tasnya," jawab Calvin enteng.


"Eh, nih ada kue-kue, kita singkirin dulu!" sahut Daud lalu memindahkan piring yang berisi kue.


Kean dan Calvin gerak cepat. Mereka mengambil kue-kue yang masih tersisa di piring-piring.


"Nih dapat banyak!" ujar Al lalu menuang semua bolu yang dibungkus plastik dari baju Koko.


"Masih kurang ... nanti Babies protes lagi!' keluh Kean.


"Udah habis, keduluan sama bapak-bapak yang bawa kresek!" ujar Al menunjuk bapak tua yang memegang kresek dengan wajah gembira.


"Ya udah lah," ujar Kean lalu menata kue-kue itu dalam beberapa piring.


David menggeleng melihat kelakuan putra-putranya itu.


"Mereka sudah seperti itu dari dulu!" keluhannya memaklumi.


Ketika di rumah. Zaa kecewa dengan upeti yang dibawa keponakan besarnya.


"Suma patu?" sengitnya menatap satu bungkus bolu kukus.


"Keduluan aunty baby," ujar Al meminta maaf.


"Ah ... Tulan delsep! Soba padhi pawa atuh!" cibir Nisa.


"Ulan aypi seusal!" protes Zora.


"Eh ... Ini masih banyak!" ujar Maria lalu meletakan banyak kue di atas meja.


"Imi dali basjid butan Ommy?" tanya Fael.


"Sama saja baby, yang di masjid juga asalnya dari sini!" ujar Maria.


"Peda Mommy!" geleng Zaa.


"Wiya deda!" angguk Ryo, Hafsah dan Hasan membeo.


"Sama saja baby!" ujar Maria.


"Peda Mommy ... yan dali basjid ipu pudah pipoain mama sustad!" sahut Zizam yang diangguki semua saudaranya setuju.


"Ini sudah mommy doakan alfatihah tadi!' ujar Maria.


"Beunen mommy?" tanya Maryam tak percaya.


"Iya baby, ayo dimakan!" jawab Maria.


Lalu semua anak tak mempermasalahkan asal-usul kue itu. Para perusuh senior pun ikut makan kue.


Malam telah larut, semua anak telah tidur. Bart memandangi halaman luas belakang masjid.


Di sana makam keluarga berada. Putranya Ben dan menantunya Aura juga dimakamkan di sana.


"Ya Rabb ... di usiaku yang telah tenggelam ini. Kapan Kau panggil aku ya Rabb?" ujarnya pelan.


"Aku harap, aku juga tak begitu menyusahkan anak-anakku ketika aku sakaratul maut nanti," lanjutnya berharap.


Bersambung.


Ah ... Panjang umur wuyuy.


Aamiin


Next?