
Seruni dibawa ke rumah sakit. Wanita itu diobservasi sebentar untuk menangani tindakan selanjutnya.
Sebagai bidan, Saf hanya memberikan laporan medis Seruni. Arimbi yang akan menangani tindakan selanjutnya.
"Tenang ya mami," ujarnya lalu memberi kecupan di kening salah satu ibu kesayangan semua anak itu.
Michael harus menahan keinginannya untuk melamar Anggraini karena kejadian ini.
"Mami ... Mami!' Rinjani memanggil ibunya.
Walau Azha dan Rinjani tak selalu berada di tangan ibunya. Tetapi, keberadaan Seruni tentu sangat diinginkan kedua anaknya.
"Mami lagi sakit baby, kita doain mami yuk!" ajak Azha pada adiknya.
Bocah itu menekan semua kesedihannya. Samudera menenangkan adik-adiknya yang mendadak rewel.
"Amih anah?" tanya Fael sendu.
"Mami lagi sakit baby, doain mami ya," ujar Maria.
Semua anak jadi murung. Makanan enak yang terhidang tak lagi menarik perhatian mereka.
"Makan ya baby, nanti mami pulang kalian sambut dengan tarian," bujuk Adiba.
Zaa meminta gendong pada wanita muda itu. Adiba mengangkatnya. Zaa langsung menyurukkan kepala di lehernya.
"Uuh ... Sayang," Adiba mengelus punggung bayi cantik itu.
"Tuh udha endog don!" pinta Nisa.
"Sini sama Papa!' Satrio menggendong Nisa kembaran Zaa.
Dav menunggu di rumah sakit, ia sedikit sedih. Pria itu menolak semua makanan yang diberikan Najwa untuknya.
"Makanlah sayang. Mama nggak mau ketika Seruni sembuh malah kamu yang sakit," bujuk Najwa sedih.
"Nak, makan lah!" suruh Leon.
"Dikit aja," pinta Najwa membujuk.
Dav membuka mulut ketika sang ibu sambung menyuapkan sendok berisi nasi dan lauk. Makanan semua ibu memang lezat, Dav menghabiskan makanannya.
"Thanks Ma," ujar pria itu.
Gabe berdecih melihat kelakuan adiknya itu. Ia cemberut.
"Manja!"
"Mama!" rengek Dav.
"Ih, sebel!" sungut Gabe.
"Sayang!" peringat Lastri terkekeh.
Leon dan Frans hanya bisa menghela nafas. Di saat genting seperti ini, dua putra mereka malah saling ledek satu sama lain.
Dua jam berlalu, janin sudah berhasil diangkat. Walau sudah sedikit berbentuk karena memang usianya baru menjelang empat bulan.
"Apa mau dimakamkan Pi?" tanya Nai yang juga ikut menunggu.
"Tapi dia belum bernyawa kan?"
"Memang tapi sudah berbentuk seperti kepala, tangan dan kaki," jawab Nai.
"Kita kuburkan saja sayang," ujar Frans.
"Beri nama juga, dia sudah berbentuk," lanjutnya.
"Kalau dilihat dari bentuk kelaminnya sepertinya laki-laki, pi," jawab Nai.
"Tapi kita akan lihat kromosomnya condong ke mana ya," lanjutnya.
Dav mengangguk, janin belum ia lihat. Saf akan membersihkannya lalu dikafani sesuai syariat Islam.
"Namai dia Jibril nak," ujar Leon.
Dav hanya mengangguk, ia tak bisa berkata apapun. Kini janin itu ada di tangannya. Pria berpangkat mayor itu tak kuat menahan kesedihan luar biasa.
"Nak ... Istirahat lah dengan tenang di sana ya nak ... Huuuu ... Uuuu ... Hiks ... Hiks!"
Frans dan Leon memapah putra mereka. Gabe yang tadi sempat berseteru dengan adik sepupunya itu ikut menangis hingga dua ibu menenangkan pria itu.
Widya dan anak-anak semua ada di villa dekat masjid yang didirikan Virgou. Zhein dan Karina datang bersama anak, menantu dan cucu mereka.
"Ma, apa benar Seruni harus dikeluarkan janinnya?" tanya Karina.
"Iya sayang, mereka sekarang langsung ke pekarangan masjid. Kemungkinan sebentar lagi sampai," jawab Kanya sedih.
Zhein dan Raka langsung menuju belakang halaman masjid. Di sana terdapat kuburan keluarga. Para penggali makam tengah merapikan liang lahat.
"Buat nisannya dengan nama Jibril Dougher Young bin David Sidiq Dougher Young!" pinta pria sejuta pesona itu.
Virgou berkali-kali mengusap air matanya. Ia tak yang tak pernah merasa kehilangan, kini harus merasakannya.
"Kita belum bertemu baby, tapi kamu malah ninggalin kami begitu cepat!"
Pria itu menoleh, Raka langsung memeluknya. Virgou membalas pelukan itu. Zhein menepuk bahu pria yang selalu hadir membantunya.
"Sudah beres Pak!" ujar penggali makam.
"Ya sudah, kita ke masjid untuk menyolatkan jenazah!" ujar Haidar.
Semua pria pergi ke masjid. Mobil ambulance datang membawa jenazah kecil. Kali ini Frans yang membawanya. Dav tak kuasa menahan tangisan, pria itu menangis di pelukan ayahnya.
"Assalamualaikum!"
Virgou langsung mengambil jenazah kecil di sana. Bentuk kepala, mata dan lainnya telah lengkap, tinggal menghitung minggu janin itu akan diberi nyawa. Tapi sepertinya Allah mengambilnya sebelum jiwa itu menyatu dengan raganya.
Usai disholatkan, Virgou sendiri yang menurunkan janin itu ke liang lahat. Hanya butuh waktu sepuluh menit jasad janin itu telah terkubur.
Dav menaburi gundukan kecil tanah yang masih basah.
"Yang tenang di sana ya Nak, Papi sayang banget sama kamu ... Hiks!"
"Sudah sayang, kamu harus kembali ke rumah sakit. Istrimu juga sangat membutuhkan dirimu," suruh Leon.
Dav mengangguk, pria itu pun menaiki mobil ambulans. Lastri dan Najwa ikut serta. Virgou nyaris roboh jika saja Bart tak berada di sisinya.
"Boy!" pekiknya.
"Daddy!" pekik Raka.
"Ayo bawa dia!" suruh Leon.
Semua memapah pria besar itu. Darren, Rion dan lainnya masih di perusahaan.
Ketika makan siang, villa itu sudah penuh manusia. Seruni dan Dav masih di rumah sakit.
"Mami sama papi masih di rumah sakit?" tanya Azha sedih.
"Mami ... Mawu mami ... Hiks!' isak Rinjani.
"Habis makan nanti jenguk mami ya," ajak Rion.
"Kami boleh ikut?" tanya Harun.
"Kalian di rumah saja dulu ya. Nanti kalau mami sembuh, baru kalian jenguk mami," ujar Rion memberi pengertian.
Harun dan lainnya mengangguk tanda mengerti. Semua masih dalam kesedihan yang dalam. Virgou di tangani oleh Lidya. Hanya wanita itu yang bisa mengobati salah satu ayah kesayangan semua anak-anak.
"Daddy, jangan sedih. Baby kan sudah enak di sana," ujar Lidya yang berbaring di sisi pria sejuta pesona itu.
"Aku tidak apa-apa sayang. Daddy hanya sedikit kelelahan," ujar Virgou.
Rion masuk dan langsung tidur di sebelah ayahnya. Ia memeluk erat pria kesayangannya itu.
"Daddy," rengeknya.
Puspita melihat dua anak kesayangan Virgou ada di tempat tidur. Ia hanya tersenyum.
"Aku harus mengalah jika begini," gumamnya.
Michael menatap Angga yang juga sibuk mengurus anak-anak yang sedikit terlantar akibat para orang tua yang bersedih.
Zora tampak berada dalam gendongan gadis bercadar itu.
"Nona," Anggraini menoleh.
"Pa ...," sahutnya lirih.
"Maaf Nona, saya akan jujur dengan perasaan saya pada Nona. Saya jatuh cinta pada anda Nona Anggraini!" ungkap pria itu tegas.
Anggraini membesarkan matanya. Zora yang mendengar ungkapan salah satu papa pengawalnya langsung menatap pria itu.
"Papa Icel intah amah Anini?" tanyanya dengan suara nyaring.
Bart mendengar itu langsung gusar. Ia baru saja ditinggalkan calon cicitnya. Pria itu hendak menyenggrang Michael.
"Dad!" Lastri menahan laju pria itu.
"Tapi ...."
"Anggraini sudah besar Dad. Dia sudah pantas menikah!" ujar Lastri mengingatkan.
Michael menggubris semuanya. Ia menatap penuh keyakinan pada Anggraini jika niatnya tulus.
"Menikahlah denganku Anggraini Putri Astini!"
"Janan!" pekik Arsyad.
"Ata' Anini bunyah atuh!"
Bersambung.
Lah bocil
next?