THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
RABU CERIA



Pagi hari semua pergi ke sekolah. Tak ada lagi pembicaraan kemarin. Bahkan sebagian orang tidak tau jika Virgou, Herman, Terra dan dua anak kembarnya keluar malam hari.


Hanya Puspita yang tau. Tapi wanita itu memilih diam. Semua perusuh junior juga sudah melupakan apa yang terjadi. Mereka semua amnesia jika telah disuguhi makanan.


"Apan baji Baby Alsh!" panggil Aaima.


"Pa'a Ata'!" sahut bayi tiga tahun itu.


"Atuh beupeltina mensulidai pestuwatu?" ujar balita cantik itu.


"Beumana Ata' sulida pa'a?" tanya Maryam.


"Beulasaan teumalin peulsadhi pestuwatu deh!" ujar Aaima seakan mengingat apa yang terjadi kemarin.


Arsh mengerutkan keningnya. Bayi itu menggosok dagu dan berpikir keras. Tapi seakan semuanya buntu. Ia menghela nafas panjang.


"Apan Baji Baby Alsh pupa Ata'!" jawabnya menyesal.


"Baby ... Nini mau kasih pilihan nih. Kalian sore mau makan mie pangsit atau bakso Malang?" tanya Najwa pada semua bayi.


"Bawu puwa-puwana!" seru Fatih paling keras.


"Nini ... Talow matanan janan panya pe pita teunapa. Tamih atan matan pa'a yan dimasyat!" sahut Fathiyya memutar mata malas.


"Ya sudah, Nini masak mie pangsit aja ya!"


"Teunapa banya talow pudah pawu sawapana!" geleng Zaa menghela nafas.


"Eh ... Baby?!" peringat Terra.


"Ata' Amah ... Tan Zaa beunel!" sahut Zaa merasa tak bersalah.


Terra berdecak, adik bayinya itu memang sangat cerewet dan kritis terhadap semuanya.


Sementara itu di sekolah, semua anak kembali belajar. Ditya telah menyerahkan karya yang diminta oleh kepala sekolah kemarin.


Theo yang memang baru saja bergabung dengan pengawalan anak masih terkaget-kaget.


"Jadi tadi malam, ketua pergi membawa Nona Arraya ke suatu tempat?" tanyanya sangat penasaran.


"Kudengar begitu, tapi aku tak tau jelas ketua!" jawab Ken tak pasti.


"Kenapa sepertinya seru sekali!?" gumamnya sangat penasaran.


Sementara di kelas. Sky, Bomesh dan Arfhan tak belajar. wali kelasnya sedang ikut rapat dan membuat rapem tahunan.


"Jadi kita bebas mau ngapain aja nih?" tanya Bomesh malas.


"Eh ... Kalau kita ke tempat Arfhan dulu bisa nggak sih?" tanya Sky.


"Please Sky. Papa Ken itu sudah tau celah tempat kita kabur!" sahut Arfhan malas.


"Tapi aku lihat yang mengantar kita papa yang baru. Siapa namanya?" tanya Sky.


"Papa Termos?"


"Hush! Nama orang itu!" sergah Arfhan.


"Papa Theo, namanya Ratheo," lanjutnya.


"Kata Papa Ken, papa Theo adalah pengawal terbaik dan ditugaskan di Afrika!" sahut Bomesh.


"Anak-anak kalian boleh pulang ya yang mau pulang!" suruh guru piket.


"Horeee!" pekik semua anak.


Sky, Bomesh dan Arfhan tentu memilih menunggui adik mereka. Tak lama Radit keluar, ia juga tak ada pelajaran.


"Eh ... udah keluar?" tanya Radit pada Sky.


"Iya nih!"


Mereka duduk di teras sekolah. Tak lama Gino keluar. Bocah itu langsung mendatangi empat kakaknya.


"Kak!"


"Baby, sini!"


Gino duduk bersama Sky, Bomesh, Arfhan dan Radit. Mereka bercengkrama sambil tertawa dan bercanda.


"Eh ... Kasus baby Ay udah beres ya?" tanya Sky pada Radit.


"Emang Baby Ay kenapa?" tanya Radit bingung.


"Masalah hantu kemarin!" sahut Sky lagi mengingat.


"Oh, kakak nggak tau baby," jawab Radit.


"Eh, kita ke tempatnya Arfhan kemarin yuk!" ajak Sky.


"Tempat Arfhan?"


"Iya ... Sekalian jalan-jalan!" ujar Sky lagi.


"Sama pengawal?" tanya Gino.


"Nggak lah!" sahut Bomesh lalu ia menutup mulut.


Tak lama Radit keluar kelas. Rupanya bocah dua belas tahun itu juga sudah selesai dengan jam pelajarannya.


"Baby, Kok di luar?" tanyanya.


"Nggak ada pelajaran kak!" jawab semua anak.


"Baby," tolak Ditya.


"Kakak kita mau memperebutkan motor roda tiga yang ditawarkan papi Dav!" ujar Arfhan.


"Iya Kak, kan kata Daddy kita boleh mengerjai pengawal!" sahut Arfhan ikut-ikutan.


Tak lama Harun dan lainnya keluar kelas. Titis memilih pulang.


"Kita kabur dari pengawalan yuk!' ajak Sky langsung.


"Kalau semua ikut ya kita bakal ketangkap mudah kakak!" sahut Harun memutar mata malas.


"Gimana kalau kita bentuk tim?" sahut Ditya yang membuat semua adiknya bersemangat.


"Jadi begini ...."


Sementara di lahan parkir. Pengawal masih memindai sekolah yang masih ramai. Memang sebagian anak-anak pulang. Tapi sebagian lagi belum.


"Titis apa semua temanmu sudah pulang?" tanya Ken pada Titis yang dijemput ayahnya.


"Sebagian memang pulang Om. Tapi sebagian belum. Itu banyak yang pada olah raga!" jawab Titis.


Ken melihat lapangan olah raga yang ada di luar sekolah. Memang beberapa anak kelas enam bermain bola volly.


"Ah ... aku masuk saja!" ujarnya kesal sendiri.


Ken hendak masuk, tapi Salim dan Gino keluar. Dua bocah itu menatap Ken yang hendak masuk.


"Papa mau kemana?" tanya Gino dengan tatapan polos.


"Saudara kalian yang lain mana?" tanya Ken.


"Yang lain masih di kelas pa. Tadi guru suruh bentuk tim untuk acara tujuh belasan!" jawab Gino setengah berbohong.


Memang akan ada acara peringatan hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tapi semua anak tak aga yang ikut jadi panitia.


"Udah pa, Gino lapar. Gino dan Salim itu nggak kepilih jadi panitia!" ujar Salim.


Salim dan Gino menggandeng Ken keluar dari sekolah. Dua anak pun duduk di mobil listrik. Santoso yang membawa mereka pulang.


"Papa tunggu!" teriak Azha dan Arraya.


Tapi mobil listrik yang membawa Gino dan Salim sudah jauh. Akhirnya Lina, Arin dan Dinda yang membawa Azha dan Arraya.


Ken tinggal bersama Theo. Ken sedari tadi gelisah. Ia sangat yakin jika ada konspirasi terselubung yang dilakukan oleh anak-anak.


'Kamu kenapa sih?" tanya Theo kesal.


"Ketua, saya yakin jika Tuan baby Sky dan lainnya sudah pergi lebih dulu dari sekolah ini!" ujar Ken menjawab.


Sementara itu Sky, Arfhan, Harun, Ditya, Bomesh, Sky, Bariana dan Arion sudah keluar dari pintu mang Kusni.


"Pegangan tangan Baby!"


Semua menurut, mereka bergandengan tangan. Sky paling semangat, bibirnya tersenyum lebar.


"Baby!" semua menoleh asal suara.


"Lari!" teriak Bomesh.


Semua anak berlari. Theo dan Ken mengejar mereka. Untuk pertama kalinya jantung Theo berdetak lebih cepat.


"Astaga!"


"Ketua, ambil mobil listriknya. Saya mau kejar mereka!" teriak Ken.


"Itu terlalu jauh!" bentak Theo.


Ditya harus mengejar Bomesh yang berlari paling cepat. Mereka sampai pada jembatan bambu.


"Hati-hati baby!"


Bomesh dengan mudah menyebrangi jembatan. Semua anak bergandengan tangan.


"Hei lihat aku!" teriak Sky.


Sky mengambil galah yang sedikit panjang dan besar. Bocah itu berlari dan menjadikan galah itu sebagai tumpuan melompati sungai kecil.


Theo menahan napas. Matanya membesar. Ken menelepon satuan agar bisa menolong menangkap anak-anak.


Satu jam main kejar-kejaran, mereka semua akhirnya tertangkap. Ditya menunduk di hadapan Virgou.


"Sayang, kau sendiri yang meminta mereka untuk mengelabui semua anak buahmu kan?" peringat Puspita.


"Baiklah kalian berhasil mengecoh semua pengawal!" ujar Virgou yang disoraki semua anak.


"Aypi ... Wayo pita tabun!" teriak Zaa memberi komando.


Semua bayi merangkak cepat. Theo sampai panik dibuat para bayi yang berjalan dengan dengkulnya itu.


"Babies, mie pangsitnya sudah jadi!" teriak Najwa.


Akhirnya semua bayi pun tertangkap dengan mudah.


Bersambung.


Dah seru belum?


Next?